LOGINAku hanya menundukkan kepala seraya jemariku sibuk menggaruk tepian kuku, tak berani menjawab pertanyaan Mama meski hanya sepatah kata.Axel yang menyadari kecemasanku spontan menggenggam tanganku hangat, menghentikan aktivitas jemariku yang refleks berusaha melukai diri sendiri akibat panik.Kami saling menatap selama beberapa detik. Tatapan Axel padaku seolah menyampaikan satu pesan tegas: Jangan takut, gue ada di sini bersama lo.Aku mengangguk pelan, memasrahkan nasibku sepenuhnya pada Axel."Saya yang meminta Kayla untuk menggambar lagi, Tante..." timpal Axel cepat, memotong tensi dingin dan memasang diri sebagai perisai bagiku.Axel melepas genggaman tangannya dari jemariku, lalu duduk santai seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa."Perusahaan kami sedang sangat membutuhkan talent luar biasa. Para desainer profesional di kantor kami bahkan tidak sanggup memenuhi keinginan detail dari klien," jelas Axel dengan nada mantap, membuat pijar amarah di mata Mama perlahan memu
Aku ikut berdiri, mendongak menatapnya dengan raut wajah memohon. "Beneran untuk desain, Axel... Lagipula untuk apa gue bunuh diri? Kalau gue mati, bagaimana dong nasib suami gue yang ganteng ini...""Oh, iya juga ya..." Axel terkekeh geli, lalu merangkul tubuhku hangat dan manja. "Jadi... lo beneran cuma butuh inspirasi?"Aku mengangguk mantap seraya mengulas senyum lebar."Ya sudah, nanti gue minta tim HRD untuk menyiapkan area khusus di rooftop cuma buat lo."Aku melingkarkan lengan di pinggangnya erat-erat sambil menempelkan wajahku di dada bidangnya. "Terima kasih, Suami... Lo memang yang paling pengertian.""Nah, kalau begitu sekarang waktunya mandi..." Tanpa peringatan, Axel menggendong tubuhku secara bridal style menuju kamar mandi."Axel! Ngapain lo bawa gue juga!" teriakku refleks seraya memberontak minta diturunkan."Mandi berdua lah!""Gue nggak mau!" teriakku pura-pura menolak.Namun Axel tetap memaksaku ikut masuk. Pada akhirnya, kami menikmati waktu mandi pagi
Malam itu, kami tertidur pulas dalam dekapan erat usai mengalami dua kali pelepasan yang begitu melelahkan sekaligus memuaskan. Entah mengapa, tidurku malam ini terasa amat damai dan hangat. Hingga akhirnya aku terbangun tepat di pukul empat dini hari.Perlahan dan serapi mungkin, aku melepas lingkar lengan Axel di pinggangku, lalu beranjak turun dari ranjang agar tak mengusik tidurnya yang lelap.Aku meraih piyama kimono di gantungan baju lalu mengenakannya. Perlahan aku melangkah mendekati meja kerja Axel di sudut kamar, mengambil beberapa lembar kertas putih polos dan pensil, lalu mulai menumpahkan ide sketsa yang mendadak melintas begitu jernih di dalam benakku.Dalam keheningan subuh yang tenang, jemariku seolah begitu mudah mencoretkan sebuah desain busana berkonsep streetwear—gaya urban modern yang teramat kukuasai dan kusukai.Hanya dalam kurun waktu tiga puluh menit, siluet modelnya sudah terlihat sangat berkarakter. Dengan penuh semangat, aku terus menggesekkan mata pensil,
Dalam pengaruh kalimat yang mengejutkan itu, kami berdua masih gemetar hebat dalam cengkeraman orgasme yang memuaskan."Lo... bilang apa barusan, hm?" tanyaku dengan napas tersengal-sengal.Aku memeluk lehernya erat-erat, menyerap sisa-sisa sengatan pelepasan yang perlahan melelehkan kesadaran kami.Axel menyeringai tipis. Ia menjatuhkan kepalanya di ceruk leherku dengan hembusan napas yang bertaut cepat. "Gue... ingin punya anak dari lo, Kayla."Dada Axel naik-turun seirama dengan napasku yang masih berpacu liar. Peluh tipis melapisi kulit kami yang saling menempel rapat, menyerap sisa-sisa sengatan pelepasan pertama yang baru saja membius kesadaran. Namun, aku dibuat terperanjat oleh permintaannya yang tiba-tiba."Lo bercanda, kan? Kita bahkan belum menikah secara hukum di mata negara. Gue belum mau punya anak," tolakku spontan.Kepala Axel mendongak, menatap langsung ke dalam manik mataku dengan dalam. "Tepat setelah ulang tahun lo yang ke-dua puluh nanti, gue akan segera mendaftar
"Lingerie lo seksi banget, Kayla..." pujinya seraya mengecup belahan dadaku, lalu bergerak turun perlahan membasahi area perut yang membuat tubuhku geli dan meliuk liar."Lo pintar banget memilih seragam dinas malam ini, Kay. Bikin gairah gue membumbung tinggi," bisiknya. Wajah tampannya mendongak tepat di bawah tubuhku.Aku tersipu malu seraya menggigit ujung jariku. "Lo... suka?"Axel mengangguk mantap seraya tersenyum lebar. "Suka banget! Rasanya... ingin gue makan habis lo sekarang."Ia kembali mengecup lembut area perutku, lalu meluncur turun melintasi paha. Jemarinya yang panjang mulai bermain liar di balik lingerie tipis yang menutupi area sensitifku."Mmhhh..." desahanku lolos samar. Tubuhku meliuk-liuk bagai cacing kepanasan setiap kali menerima sentuhan jemarinya yang hangat dan panas.Ia menggeser ke sampaing kain tipis yang menutupi lipatan sensitifku itu, lalu mulai menggesek pelan permukannya sudah mulai basah.Sentuhan jemari Axel di daerah intimku itu membuat seluruh s
"Wow... yang ini super seksi, Kay!" takjub Hani seraya menunjuk sebuah set lingerie berwarna merah menyala.Dengan warna merah merona yang menggoda, lingerie tersebut memancarkan kesan berani dan elegan melalui material renda bermotif floral transparan serta detail cut-out yang modern. Desain teddy bodysuit-nya dilengkapi aksen harness berhiaskan ornamen liontin hati di bagian dada, dipadukan dengan garter belt dan tali paha yang mempertegas siluet lekuk tubuh secara menawan.Kalau aku memakai lingerie ini, aku yakin Axel pasti bakal bertekuk lutut."Ya sudah, Mbak. Bungkus yang ini juga ya," pintaku tanpa basa-basi."Baik, Mbak."Aku melangkah menuju kasir untuk melunasi semua lingerie pilihan kami."Berapa semuanya, Mbak?" tanyaku pada sang kasir.Kasir tersebut memindai kode barang pada gaun-gaun tipis tadi. "Totalnya sembilan ratus lima puluh dolar, Mbak."Aku mengulurkan black card pemberian Axel dan sang kasir memproses pembayarannya dengan sigap.Puas berburu lingerie, aku mene







