MasukTanpa berniat membalas sapaan sang terapis, kepalaku justru sedikit miring—mengintip sosok pria yang duduk di samping Cathy sebelum lelaki itu sendiri menolehkan wajahnya padaku."Mbak Kayla?" sapa Beni.Aku menghela napas lega secara samar. Syukurlah, tadinya aku mengira pria yang duduk di samping Cathy itu adalah Axel."Beni? Di mana Axel?""Masih di tempat gym, Mbak," sahut Beni seraya menunjuk ke arah belakang. "Kami juga sedang menunggu Pak Axel untuk latihan."Aku melirik sebentar ke area belakang villa sebelum akhirnya kembali menatap Beni dan Cathy bergantian."Kenapa kamu nggak nemenin dia? Gimana kalau terjadi apa-apa padanya?"Beni hanya tersenyum tipis tanpa guratan rasa bersalah di wajahnya. "Pak Axel tidak pernah berkenan ditemani di tempat gym, Mbak. Di sana adalah wilayah dia untuk menyendiri."Axel butuh tempat khusus untuk menyendiri? Kenapa? Mungkinkah... dia masih tertekan dengan kondisi kakinya?Aku membuang napas panjang, lalu segera berbalik menuju area
Axel menekan tombol kursi rodanya, mendekati ranjang tanpa sedikit pun melepas tautan bibir kami. Ia kemudian mengangkat tubuhku dan merebahkannya di sisi ranjang.Sementara itu, aku hanya bisa tertegun saat ia dengan sigap turun dari kursi roda hanya dengan tumpuan satu kaki, lalu membanting tubuhnya jatuh di atas ranjang tepat di sampingku."Xel... Lo—"Tanpa membiarkanku menyelesaikan kalimat, ia mendorong kedua pundakku ke kasur dan kembali melumat bibirku dengan gairah yang membara."Lo mau?" tanyanya dengan napas memburu setelah melepas tautan bibirnya sesaat.Aku tahu saat ini kami sama-sama diliputi rindu. Namun melakukan hubungan intim di tengah terapi kakinya membuatku terasa tampak egois."Tapi kaki lo?" tanyaku setelah sebelumnya terdiam sejenak, diliputi keraguan. "Gue belum bisa di atas," sahutnya lirih dengan raut wajah penuh penyesalan. "Tapi... gue masih bisa puasin lo dengan gaya women on top."Aku tersenyum geli mendengar jawabannya, lalu merengkuh tubuh Ax
Setelah tiga bulan lamanya, akhirnya aku bisa bersentuhan lagi dengan Axel. Jauh di lubuk hatiku, momen inilah yang paling aku nantikan.Tanpa peduli lagi pada harga diri, kedua tanganku otomatis melingkar mesra di lehernya, lalu membalas setiap lumatan hangat yang Axel berikan.Hanyut dalam kerinduan yang membuncah, tanpa sadar kami saling mengulum dan menghisap dengan gairah panas yang membakar. Sentuhan kami kian intim, sampai akhirnya suara pintu terbuka tiba-tiba memutus atmosfer panas di antara kami.Kriek!"Pak... Nona Cathy—" suara Beni mendadak tercekat.Aku dan Axel spontan melepas tautan bibir kami."Maaf, Pak, mengganggu sebentar," ucap Beni seraya terburu-buru memunggungi kami dengan suara canggung. "Nona Cathy meminta Anda keluar untuk kembali latihan."Aku dan Axel sempat saling melempar pandang sejenak sebelum akhirnya aku memalingkan muka, berpura-pura kesal. "Tuh! Terapis idola lo udah nungguin!"Aku berusaha bangkit dari pangkuan Axel untuk pergi. Namun, ia l
"A-apa? Bagaimana bisa?" tanyanya dengan wajah yang tampak bodoh.Aku membuang napas panjang, meletakkan kedua tangan di pinggang sambil memalingkan muka demi menahan amarah yang memuncak."Ya gak bisalah! Makanya, biarin gue pergi!" bentakku, lalu kembali menyeret koper dan melangkah keluar dari pintu villa.Begitu kulitku tersentuh udara luar, rasa dingin yang menusuk seolah meremas tulang. Kakiku spontan berhenti melangkah; tubuhku kaku membeku di tempat.Sialan! Kenapa udaranya makin dingin gini, sih! rutukku dalam hati sembari mengusap kedua lengan yang mulai merinding."Lo kedinginan, kan?" Suara Axel kembali terdengar dari balik punggungku.Aku spontan menoleh, menatapnya tajam dengan raut ketus. "Nggak!" kelitku seraya menganggkat dagu—berusaha tampil sombong demi mempertahankan harga diri.Namun, semakin lama tubuhku justru semakin menggigil hebat. Tanpa bisa ditahan lagi, kedua tanganku refleks memeluk tubuh sendiri demi mengusir ngilu. "Ssshh... Hahh!""Cih! Tubuh
"K-kenapa lo bisa ada di sini, Kayla?" tanyanya terbata-bata dengan suara bergetar, layaknya seorang pencuri amatiran yang tertangkap basah sedang beraksi.Aku melipat kedua tangan di depan dada sambil memicingkan mata tajam ke arahnya. "Jadi... maksud lo, harusnya gue nggak datang ke sini, gitu?!""Iya. Eh!" Axel refleks membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan seraya memasang raut panik luar biasa. "Maksud gue... harusnya lo ngabarin dulu kalau memang mau datang berkunjung."Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gejolak amarah yang mendidih di dada sambil terus menatap nyalang tangan Axel yang masih merangkul pundak wanita asing tersebut."Biar apa?! Biar lo bisa sembunyi-sembunyi dan leluasa bermesraan dengan terapis cantik ini, hah?!" sindirku tajam dengan mata membelalak penuh cemburu.Axel spontan menoleh panik ke arah sang terapis, lalu melepaskan rangkulannya secara mendadak. Namun, karena koordinasi otot kakinya belum stabil dan kehilangan keseimbangan,
"Ih... Dasar cowok mesum labil!" rutukku pada layar ponsel, seolah-olah benda gepeng itu adalah wajah Axel yang berdiri tepat di hadapanku. "Lo pikir cuma lo aja yang bisa bikin gue cemburu, hah?!"Tanpa niat membalas pesan cemburunya, aku langsung menyelipkan ponsel itu masuk ke dalam tas."Ayo, Kay... Obatnya sudah dapat semua," ajak Mama seraya melangkah cepat menghampiriku."Iya, Ma..."Kami segera melangkah keluar dari area rumah sakit setelah sebelumnya memesan taksi daring melalui ponsel."Jadi kapan kamu berencana berangkat ke Amerika?" tanya Mama saat kami sudah duduk santai di dalam taksi."Lusa, Ma. Ini Kayla lagi pesan tiket pesawatnya," balasku seraya sibuk menggeser layar aplikasi pemesanan tiket di ponsel."Tapi kondisi tubuh kamu sudah benar-benar kuat untuk perjalanan jauh, kan?" tanya Mama dengan raut wajah terpancar cemas."Sudah kuat, kok. Mama nggak usah khawatir berlebihan." Aku menurunkan ponsel, lalu berbalik menatap Mama lurus. "Ma... Tolong jangan boc







