LOGIN"A-apa? Bagaimana bisa?" tanyanya dengan wajah yang tampak bodoh.Aku membuang napas panjang, meletakkan kedua tangan di pinggang sambil memalingkan muka demi menahan amarah yang memuncak."Ya gak bisalah! Makanya, biarin gue pergi!" bentakku, lalu kembali menyeret koper dan melangkah keluar dari pintu villa.Begitu kulitku tersentuh udara luar, rasa dingin yang menusuk seolah meremas tulang. Kakiku spontan berhenti melangkah; tubuhku kaku membeku di tempat.Sialan! Kenapa udaranya makin dingin gini, sih! rutukku dalam hati sembari mengusap kedua lengan yang mulai merinding."Lo kedinginan, kan?" Suara Axel kembali terdengar dari balik punggungku.Aku spontan menoleh, menatapnya tajam dengan raut ketus. "Nggak!" kelitku seraya menganggkat dagu—berusaha tampil sombong demi mempertahankan harga diri.Namun, semakin lama tubuhku justru semakin menggigil hebat. Tanpa bisa ditahan lagi, kedua tanganku refleks memeluk tubuh sendiri demi mengusir ngilu. "Ssshh... Hahh!""Cih! Tubuh
"K-kenapa lo bisa ada di sini, Kayla?" tanyanya terbata-bata dengan suara bergetar, layaknya seorang pencuri amatiran yang tertangkap basah sedang beraksi.Aku melipat kedua tangan di depan dada sambil memicingkan mata tajam ke arahnya. "Jadi... maksud lo, harusnya gue nggak datang ke sini, gitu?!""Iya. Eh!" Axel refleks membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan seraya memasang raut panik luar biasa. "Maksud gue... harusnya lo ngabarin dulu kalau memang mau datang berkunjung."Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gejolak amarah yang mendidih di dada sambil terus menatap nyalang tangan Axel yang masih merangkul pundak wanita asing tersebut."Biar apa?! Biar lo bisa sembunyi-sembunyi dan leluasa bermesraan dengan terapis cantik ini, hah?!" sindirku tajam dengan mata membelalak penuh cemburu.Axel spontan menoleh panik ke arah sang terapis, lalu melepaskan rangkulannya secara mendadak. Namun, karena koordinasi otot kakinya belum stabil dan kehilangan keseimbangan,
"Ih... Dasar cowok mesum labil!" rutukku pada layar ponsel, seolah-olah benda gepeng itu adalah wajah Axel yang berdiri tepat di hadapanku. "Lo pikir cuma lo aja yang bisa bikin gue cemburu, hah?!"Tanpa niat membalas pesan cemburunya, aku langsung menyelipkan ponsel itu masuk ke dalam tas."Ayo, Kay... Obatnya sudah dapat semua," ajak Mama seraya melangkah cepat menghampiriku."Iya, Ma..."Kami segera melangkah keluar dari area rumah sakit setelah sebelumnya memesan taksi daring melalui ponsel."Jadi kapan kamu berencana berangkat ke Amerika?" tanya Mama saat kami sudah duduk santai di dalam taksi."Lusa, Ma. Ini Kayla lagi pesan tiket pesawatnya," balasku seraya sibuk menggeser layar aplikasi pemesanan tiket di ponsel."Tapi kondisi tubuh kamu sudah benar-benar kuat untuk perjalanan jauh, kan?" tanya Mama dengan raut wajah terpancar cemas."Sudah kuat, kok. Mama nggak usah khawatir berlebihan." Aku menurunkan ponsel, lalu berbalik menatap Mama lurus. "Ma... Tolong jangan boc
Aku mengakhiri panggilan dengan Beni secara sepihak, lalu membanting ponselku ke atas kasur dengan penuh kekesalan."Dasar tikus got sialan! Berani-beraninya lo cuekin telepon gue cuma gara-gara sibuk sama cewek lain!" gerutuku dengan napas memburu dan dada naik-turun.Kedua tanganku mengepal erat di atas seprai karena rasa geram yang menguasai diri. "Lihat saja nanti pembalasan gue!"Beberapa hari kemudian, setelah kondisi tubuhku dinyatakan jauh lebih stabil, aku kembali mengunjungi rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rutin kandungan didampingi oleh Mama."Wah... puji Tuhan, perkembangan janinnya sangat sehat dan aktif bergerak," jelas sang dokter seraya menggerakkan transduser USG di area perut bagian bawahku."Apa... cucu saya sudah dinyatakan benar-benar sehat dan kuat, Dok?" tanya Mama cemas sambil mengamati layar monitor LCD di hadapan kami.Dokter wanita itu tersenyum ramah seraya mengklik gambar kepala bayi untuk mengukur lingkar kepalanya. "Tentu saja. Bayinya sud
Suara Mama di luar terdengar hening sejenak. Mungkinkah... Mama akhirnya luluh oleh jurus tangisan drama Lintang?Tak berselang lama, pintu kamarku terdorong terbuka. Mama masuk terburu-buru dengan raut wajah panik yang heboh."Kayla... Di luar ada Lintang. Dia menangis terisak-isak memohon agar diberikan maaf olehmu," bisiknya dengan napas tersengal-sengal.Aku mencebikkan bibir seraya memalingkan wajah sejenak. "Mama akhirnya luluh juga, nih, sama Lintang?"Mama menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan wajah frustrasi. "Ya... bagaimana, dong? Dia sampai berlutut sambil bersimpuh dan menangis minta dipertemukan sama kamu."Aku mengembuskan napas kasar, lalu kembali menggoreskan pensil ke atas buku sketsa dengan santai. "Kayak nggak tahu drama Lintang aja, Ma."Wajah Mama seketika berubah terkejut. Ia mencondongkan tubuhnya seraya memicingkan mata curiga. "Jadi... maksudmu Lintang tidak benar-benar menyesali perbuatannya?" bisiknya.Aku menggeleng pelan.Mama kembali menegak
"Axel... tolong. Pikirin kesehatan lo di sana..." pintaku dengan mata berkaca-kaca menahan leleh bening yang hampir jatuh. "Di sini banyak orang yang menjaga gue. Sementara lo di sana hanya sama Beni...""Meski lo dikelilingi banyak orang yang menjaga, tapi kenyataannya nggak ada satu orang pun yang becus melindungi lo dari kejahatan Lintang!" potong Axel dengan intonasi tajam dan menusuk.Mendengar kalimat Axel, mataku seketika membelalak lebar. "D-dari mana lo tahu?!""Karena nggak ada satu orang pun di kantor yang berani menyentuh lo selain Lintang dan mamanya," ucapnya dengan suara dingin yang membekukan udara.Sedetik kemudian, raut wajah Axel di balik layar ponsel berubah menjadi redup dan sendu—sarat akan rasa keputusasaan serta penderitaan batin atas keterbatasan fisiknya. "Beritahu gue... bagaimana kondisi calon bayi kita yang sebenarnya?" tanyanya lirih.Aku tidak langsung sanggup menjawab. Jemariku meremas kuat kain selimut rumah sakit yang kaku, mengumpulkan sisa keb







