LOGINAku tertawa singkat sambil menatapnya sinis. "Kenapa lo berubah pikiran? Lo kasihan sama gue? Atau... mau pura-pura jadi anak berbakti?"
Axel menatapku selama beberapa detik dengan wajah datar yang sulit diartikan. Ia melirik ke luar jendela, tepat ke arah Miko yang semakin mendekat, sebelum akhirnya kembali menatapku.
"Gue cuma mau lo."
Tanpa aba-aba, ia tiba-tiba menyambar bibirku dengan penuh gairah.
Ciuman bibir pertama yang aku dapatkan darinya setelah hampir satu tahun pernikahan. Ciuman yang sama sekali berbeda dari yang biasa aku dapatkan saat kami masih kecil dulu.
Kali ini, aku tidak melihat sosok Axel yang biasa aku kenal. Ia tiba-tiba menjelma seperti pria asing yang menuntut sebuah kepemilikan mutlak dariku.
Dan gilanya, jantungku justru berdetak tak karuan. Reaksi tubuh sialan yang sangat aku sangkal keberadaannya. Bahkan Miko saja selalu aku larang untuk menciumku di daerah bibir.
Aku mendorong tubuh atletis Axel sekuat tenaga, lalu menampar pipinya dengan keras.
Plak!
"Lo nggak waras?!" bentakku dengan napas memburu. "Masa percobaan kita sudah hampir selesai, Axel!"
Dada Axel naik turun, tatapan matanya padaku menyala penuh bara. Bersama dengan itu, suara ketukan jendela di sampingku terdengar.
Tok! Tok!
Aku segera menoleh, mendapati Miko sedang berdiri tepat di samping mobil dengan senyum lebar penuh binar.
Dan sungguh tak terduga, Axel kembali memojokkan tubuhku ke sandaran jok. "Gue nggak mau selesai!" desisnya, lalu melumat bibirku dengan gairah yang makin memuncak.
"Mmmhh... Axel!" seruku di sela-sela pagutannya sambil terus mendorong tubuhnya.
Napasku tersengal-sengal, berusaha menahan tubuh kekarnya yang terus menekan tubuhku. "Lo kerasukan?! Ngak biasanya lo kayak gini."
Tok! Tok!
Miko kembali mengetuk jendela sambil berusaha mengintip ke dalam kabin. "Keyla..."
"Gue waras. " Axel melirik Miko di luar mobil dengan napas yang masih memburu di atas bibirku. "Dan gue mau lo putusin dia. Gue cuma ingetin lo sekali."
"Gue nggak mau! Gue sayang sama dia!" tolakku bisik-bisik, sambil terus menahan dadanya yang masih berada tepat di hadapanku.
Ia tersenyum miring. Tangannya meraba tombol jendela, lalu kembali menyambar bibirku dengan gila. Jantungku terasa mau copot saat jemari Axel mulai bergerak untuk menurunkan kaca jendela itu.
"Mmhhh..." seruku dalam lumatan bibirnya.
Aku panik, menahan tangan kekarnya yang hendak membuka kaca. Kalau jendela ini turun, Miko akan melihat semuanya!
"Keyla... kamu masih ngapain di dalam?" panggil Miko dari luar.
Aku berusaha keras melepas pagutan bibir Axel tepat saat jendela mulai sedikit turun. "Gue akan putus! Gue janji bakal putusin dia!" teriakku pasrah dengan napas tersengal-sengal.
Axel menghentikan gerakannya, lalu menyeringai penuh kemenangan. Napasnya yang memburu menyapu hangat kulit wajahku yang sudah berkeringat karena panik setengah mati.
"Gue pegang janji lo."
Ia kemudian kembali duduk tegak di kursi kemudinya dengan wajah tenang, seolah-olah tak pernah terjadi hal gila apa pun di antara kami barusan.
Sialan! Setan apa yang merasukinya? Kenapa Axel tiba-tiba bersikap seaneh dan seposesif ini? Padahal sejak awal dia tahu aku pacaran dengan Miko. Dia juga tidak pernah melarangku saat kami pergi nge-date.
Bagi kami, pernikahan ini hanya permainan untuk memuaskan harapan orang tua kami.
Tetapi, kenapa sekarang sikapnya justru membuatku gila? Aku merasa seperti sedang berhadapan dengan jiwa Axel yang berbeda.
Jangan-jangan dia punya kepribadian ganda!
Aku menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha mengatur emosiku sebelum akhirnya membuka pintu mobil.
"Miko... sorry ya nunggu lama." Aku keluar dari mobil sambil tersenyum lebar, seolah kejadian di dalam kabin barusan tidak pernah terjadi.
Beruntung kaca mobil Rubicon Axel dipasang kaca film yang hanya bisa dilihat dari satu arah. Jadi, Miko tidak mungkin bisa melihat apa yang barusan dilakukan kakak sepupuku itu padaku.
Miko tersenyum lebar sambil menautkan jemarinya di tanganku. "Kamu ngapain, sih? Lama banget." Tatapannya tiba-tiba terfokus pada area bibirku. "Eh, bibir kamu..."
Astaga! Mungkinkah Axel meninggalkan bekas di sana? Dasar Axel sialan! Jantungku rasanya ingin melompat sekarang. Aku bagai seorang pencuri yang sudah tertangkap basah. Tak ada lagi jalan keluar untuk menyelamatkan diri.
Jemari Miko bergerak menyeka lembut garis bibir bawahku. "Kamu habis makan sesuatu? Lipstiknya berantakan, nih."
Aku spontan tertawa palsu untuk menyembunyikan rasa gugup yang memuncak, lalu membersihkan bibirku sendiri dengan ibu jari. "Iya. Tadi di rumah aku gak sempet sarapan, jadi nyemil roti dulu di mobil. Makanya keluar dari mobilnya lama."
Miko tersenyum lembut, lalu menggosok pucuk kepalaku sayang. "Kamu ngapain aja, sih, sampai gak sempet sarapan gitu. Ya udah, ayo aku antar ke kantin."
Ia menarik tanganku, lalu berjalan menjauh dari mobil.
Sambil melangkah, aku menoleh ke belakang untuk memeriksa Axel yang masih di dalam mobil. Ternyata dia sudah menurunkan kaca mobilnya sepenuhnya, sambil menatap punggung kami dengan sorot mata tajam mematikan.
Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku nggak mau putusin Miko. Tapi kalau nggak, Axel pasti bisa berbuat nekat dengan menyebarkan status pernikahan rahasia kami di kampus.
Tepat saat kami sedang asyik berjalan sambil bergandengan tangan di koridor, Axel tiba-tiba berjalan cepat dan menerobos tepat di tengah-tengah kami hingga gandengan tangan kami terlepas kasar.
"Ngalangin jalan aja kalian!" desisnya dengan santai tanpa rasa bersalah.
"Axel!" teriakku geram. Miko juga ikut menghentikan langkahnya dengan dahi berkerut bingung melihat tingkah sepupuku itu.
Axel menghentikan langkahnya beberapa meter di depan kami, lalu berbalik menatapku dan Miko dengan tatapan dingin.
Jemarinya menunjuk ke arahku dengan gaya membentuk pistol sambil menutup sebelah matanya.
"Cuss! Gue udah ingetin lo ya..." ucapnya dingin penuh ancaman, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kami yang mematung.
"Kayla... Apa maksud sepupu kamu itu?" tanya Miko dengan raut wajah penuh curiga.
"Betul. Pak Axel baru saja menjabat sebagai direktur. Beliau adalah putra Pak Arga, komisaris utama perusahaan," jelas staf HRD ramah.Aku membeku selama beberapa detik, seolah aliran darahku berhenti mengalir. Ini sungguh tidak masuk akal. Tidak mungkin aku harus bekerja di perusahaan Pakde Arga, sementara aku sedang bersikeras menunjukkan bahwa aku bisa hidup mandiri!Dan... aku bertugas di area ruangan Axel?! Oh Tuhan... ujian apa lagi ini?! Mana mungkin aku menjadi tukang pembersih di ruangan pria yang sedang kuhindari?!Jika Axel tahu aku adalah petugas kebersihan di ruangannya, entah tindakan konyol atau arogan apa lagi yang akan ia lakukan padaku!"Mbak... Mbak Kayla baik-baik saja?" suara staf HRD membuyarkan lamunanku.Aku menjatuhkan berkas dokumen itu ke pangkuan, lalu mengangkat wajah dengan tatapan lemas. "Mbak... ini nggak salah penempatan perusahaan, kan?""Sama sekali tidak, Mbak. PT. Buana Jaya memang sudah lama
"A-aku... ngekos di sini, Kak," sahutku canggung, sedikit salah tingkah karena tak pernah membayangkan akan bertemu senior kampus di tempat kos yang sama. "Kamu ngekos?" tanya Kak Rayan dengan raut tak percaya. "Bukannya... rumah kamu nggak jauh dari kawasan ini?" Aku menggaruk kepala yang tak gatal, berpikir cepat mencari alasan yang masuk akal. "I-iya, sih. Aku... aku cuma ingin belajar mandiri aja. Nah... iya, itu alasannya." Aku tertawa garing berusaha menutupi raut cemas di wajahku. Kak Rayan hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. "Kak Rayan sendiri... ngapain di sini?" tanyaku balik, berharap dugaanku salah. Aku sungguh tak pernah membayangkan akan bertetangga dengan senior kampus yang gencar mengedekatiku belakangan ini. "Aku... udah hampir empat tahun," sahutnya sembari menunjuk pintu kamar di belakangnya. "Ngekos di sini." Oh tidak! Ternyata benar... dia bakal j
"Sepuluh ribu dolar?!" tanyaku dengan mata membelalak lebar karena terkejut. Gila! Kalau aku sampai kena denda penalti sebesar itu, pakai uang dari mana aku membayarnya?! Bukannya untung, yang ada malah buntung! Aku bergegas bangkit dari kursi, melangkah mendekati staf HRD tersebut. "Mbak... apa saya bisa membatalkan kontrak kerjanya?" tanyaku sembari berusaha mengambil kembali berkas dokumen dalam dekapannya. Namun staf itu hanya tersenyum tenang dan ramah sembari mengibaskan tangannya pelan. "Maaf, Mbak. Tidak bisa... datanya sudah terinput secara otomatis ke sistem." Aku tetap bersikeras merebut file itu kembali. "Tapi Mbak... ini kan baru hitungan menit!" "Kalau Mbak Kayla mendadak membatalkan begini, Mbak bisa membuat Pak Heru kecewa, loh." Mendengar nama Papa Hani disebut, gerakanku seketika terhenti. Aku membeku selama beberapa detik. "T-tapi, Mbak..." "Buka
Aku sengaja mengulas senyum lebar seolah menyambut hangat uluran tangannya. Tepat saat tubuh Miko hampir menjangkauku, aku langsung mengayunkan kaki menendang telak perutnya, disusul satu pukulan keras tepat di wajahnya saat ia menunduk menahan nyeri.Bukh!Tubuh Miko oleng dan limbung ke belakang. Namun hanya dalam hitungan detik, ia berusaha menegakkan kembali tubuhnya sembari menatapku dengan mata membelalak penuh tanya."Kayla...?""Itu ganjaran... karena kamu sudah bertindak bejat menjebakku di hotel!" Aku melangkah mendekatinya dengan tubuh menegang tegang, lalu kembali melayangkan bogem mentah ke wajahnya.Bukh!"Itu hukuman... karena kamu sudah berani merendahkanku dan menginjak-injak harga diriku sebagai wanita!"Miko meringis sembari berusaha berdiri tegak. Namun belum sempat tubuhnya seimbang, aku melayangkan satu tendangan kuat lagi ke arah perutnya hingga ia tersungkur ke lantai."Dan itu... adalah
"Ehem!" goda Hani sembari menahan senyum, membuat aku dan Axel seketika dibuat salah tingkah. "Sekarang Kayla tinggal di rumah aku, Kak," lanjut Hani sembari melangkah berdiri tegak di sampingku. "Owh..." Axel mengusap belakang tengkuknya sembari mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Wajahnya terlihat amat serba salah. "Kalau mau... lo bisa tinggal di apartemen. Gue... udah pindah ke rumah Papa, kok." Oh... jadi dia udah nggak tinggal di apartemen lagi? Syukurlah. Tadinya aku sempat khawatir jika dia harus tidur sendirian di sana. Axel kan punya fobia kegelapan sejak ia terkunci di gudang sewaktu kecil. "Cieee... kayaknya ada yang ngajak rujuk, nih!" goda Hani lagi sembari menyenggol lenganku dengan sikutnya. Aku bergegas mencubit pinggang Hani gemas sembari berbisik tertahan. "Bisa diam nggak, sih?!" "Aduh! Apaan sih..." protes Hani sembari mengusap pinggangnya yang menjadi
"Apa yang lo lakukan, Inez?! Lo mau membunuh Kayla?!" teriak Rayan berang sembari tangannya dengan sigap menyangga tubuhku dari belakang. Aku yang masih membeku hanya bisa menoleh pada Rayan dengan detak jantung bertabuh kencang akibat rasa panik yang luar biasa. Tak berselang lama, derap langkah kaki yang berlari tergesa menaiki anak tangga terdengar riuh. Miko dan Axel tiba-tiba muncul dengan napas tersengal-sengal. Pandangan mata mereka seketika membelalak lebar begitu menangkap posisiku. Aku bergegas menegakkan tubuh, merasa salah tingkah karena situasi ini mendadak mengumpulkan dua cowok yang pernah hadir dalam kisah cintaku di satu tempat yang sama. "Kamu nggak apa-apa, Kay?" tanya Rayan dengan raut wajah amat khawatir. Aku hanya menggeleng pelan tanpa suara, melirik canggung ke arah Axel dan Miko yang masih menatapku tajam. Detik berikutnya, Miko mendadak melangkah menaiki tangga mengham







