LOGINHanya dalam hitungan detik, sentuhan magis Axel sukses membuat daerah sensitifku menghangat. Entah karena ciumannya yang terlalu mahir, atau karena sisa-sisa visual dari video dewasa tadi yang perlahan membuat gairah dalam diriku kian liar.
"Aahhh..." Sebuah desahan samar tanpa sadar lolos dari bibirku saat tangan kekar Axel tanpa sengaja mengusap lembut area dadaku yang tersembunyi di balik kain tipis bernama lingerie itu.Namun, Axel tiba-tiba saja menghentikan ciumannya."Gue minta maaf kalau nggak bisa ngendaliin diri waktu itu," sahut Axel santai seraya meletakkan gitar milik Rayan di atas teras.Ia bangkit berdiri tegak di dekat Rayan, membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya dengan gestur amat tenang. "Tapi gue hilang kendali di acara camping waktu itu..."Axel menjeda kalimatnya sejenak, lalu mendaratkan telunjuknya tepat di dada bidang Rayan dengan intonasi tegas. "...karena lo mencoba merayu Kayla tepat di depan mata gue!"Rayan menepis kasar tangan Axel seraya maju melangkah satu tapak. Raut wajahnya menegang hebat dengan rahang yang mengeras menahan amarah. "Itu karena gue tahu Kayla sudah single dan resmi putus dari Miko!""Kayla itu istri gue!" potong Axel tegas dengan tatapan mata dingin menembus manik mata Rayan. "Gue bicara baik-baik sama lo karena kita berteman dekat, Rayan. Gue nggak mau bermasalah apalagi merusak pertemanan kita."Rayan hembuskan napas kasar seraya
"Emh!" seruku tertahan di tengah paksaan lumatan bibirnya. Kedua tanganku terus bergerak liar, berusaha sekuat tenaga mendorong dada bidang Axel agar menjauh dan memutus tautan sepihak itu.Namun, pria itu justru semakin hilang kendali. Axel bertindak kian agresif, melayangkan ciuman yang jauh lebih panas, dalam, dan mendominasi tanpa memberiku celah untuk bernapas."Emh! Xel!" teriakku histeris seraya mendorong dadanya sekuat tenaga, tepat saat pagutan bibirnya terlepas sedikit."Lo gila, ya?!" bentakku dengan napas tersengal-sengal dan dada kembang kempis.Akan tetapi, Axel hanya menyunggingkan senyum tipis yang amat menyebalkan. Ia melirik santai ke arah luar jendela tempat Rayan berdiri, lalu mengusap bibir bawahnya dengan ibu jari—sebuah gestur sarat kemenangan.Dengan dada yang masih bergemuruh hebat, aku ikut mengalihkan pandangan ke luar jendela. Mataku membulat mendapati Rayan tengah berdiri kaku bagaikan patung, menatap kami berdua dengan wajah pucat pasi.Rasa jengkel yang
Di sore hari, tepat saat bel kantor menandakan jam pulang."Ayo cepat!" pinta Axel seraya menarik pergelangan tanganku masuk menuju mobilnya yang terparkir di pelataran.Aku menahan tumpuan kakiku kuat-kuat agar tak terseret masuk. "Xel... jangan malam ini, ya? Plis..." rengekku seraya melipat kedua tangan di depan dada. "Gue janji bakalan pindah sendiri besok ke apartemen. Janji..."Aku memasang raut wajah semanis mungkin seraya mengangkat dua jari membentuk tanda peace.Axel terdiam sejenak, meneliti raut wajahku dengan tatapan tajam nan penuh selidik. Aku sempat mengira bujuk rayuku akhirnya berhasil menaklukkannya. Namun dugaanku meleset jauh. Tanpa aba-aba, ia justru mendorong tubuhku secara halus namun tegas masuk ke dalam kabin mobil."Nggak ada bantahan. Masuk sekarang!" pintanya seraya memaksaku duduk di kursi penumpang depan. "Gue nggak mau lo kerepotan bawa koper sendirian. Jadi... biar gue yang beresin semuanya."Aku bergegas mencengkeram lengan kokohnya tepat sebelum ia s
Aku hanya bisa meremas kuat sisi rok span-ku mendengar penolakan tajam dari Bude Salma. Dadaku bergemuruh hebat, berbisik pilu dalam batin. Ujian apalagi ini? Mungkinkah... aku dan Axel memang tidak ditakdirkan untuk bersatu? Namun, Axel tiba-tiba menggenggam erat telapak tanganku, memberikan sentuhan hangat yang menenangkan. Tatapannya menghujam lurus pada budenya yang masih berdiri kaku di hadapan kami. "Maaf, Bude. Apa pun alasan Bude untuk menolak pernikahanku dan Kayla, itu tidak akan pernah mengubah keputusanku sedikit pun," tegas Axel mantap tanpa ragu. Aku spontan mendongak, menatap samping wajahnya dengan binar haru. Axel... lo benar-benar pria yang punya pendirian teguh. "Kamu jangan lupa ya, Axel! Semua harta dan jabatan yang kamu miliki sekarang... itu berasal dari peninggalan Mamamu!" desis Bude Salma dengan tatapan penuh ancaman. Namun, Axel menghadapinya dengan begitu tenang, seolah tak terpengaruh sedikit pun oleh gertakan wanita itu. Berbeda dengan Pak De Arga yan
BRAK!Suara pintu yang didorong kasar terhempas ke dinding terdengar nyaring, disusul bentakan lengking seorang wanita yang menggelegar memecah udara. "Aku tidak setuju!"Aku dan Pak De Arga sontak terperanjat kaget, refleks menoleh ke arah pintu secara bersamaan.Ini yang dari tadi sangat kutakutkan! Sosok yang baru saja kubayangkan di dalam hati tiba-tiba muncul di hadapan kami, seolah memiliki keterikatan telepati yang buruk."Mbak?" Pak De Arga spontan berdiri dari sofa, menatap wanita itu dengan mata membulat sempurna. "Apa yang Mbak lakukan di sini?!"Ya, dia adalah Bude Axel—kakak kandung almarhumah ibu Axel.Ia melirik Pak De Arga dengan tatapan menghina dan sinis. "Kamu jangan lupa ya, Arga! Aku masih memiliki porsi saham di perusahaan ini! Dan kamu... seenaknya saja mau membagi aset perusahaan ini dengan keluarga kamu sendiri?!"Pak De Arga menyunggingkan senyum canggung, sangat terlihat kalau beliau sedang salah tingkah dan terdesak. "Apa maksud Mbak? Kayla ini adalah calon
"Awalnya kami semua juga berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana. Karena di tempat sepi itu, kebetulan tidak ada satu pun saksi yang melihat," jelas Pak De Arga dengan raut wajah sangat serius. "Dan Axel yang menjadi satu-satunya saksi mata, justru ikut hilang kesadaran."Keningku berkerut makin dalam. Dadaku berdesir hebat, tak sabar menanti jawaban atas teka-teki besar yang setahun belakangan ini menyiksa batinku.Pak De Arga melayangkan pandangannya ke arah lain, tampak seperti tengah mengingat kembali memori yang teramat berat. "Namun akhirnya kami semua paham apa yang sebenarnya terjadi, tepat setelah Axel sadar lebih dulu dan buru-buru mencari keberadaanmu."Aku masih membeku di tempat, tak berani menyela dan sabar menanti Pak De Arga melanjutkan kisahnya."Dia langsung terbangun kaget di atas ranjang rumah sakit sambil berteriak histeris, 'Peri kecil... di mana kamu?!'," ucap Pak De Arga menirukan kepanikan Axel sewaktu kecil.Aku sempat menyunggingkan senyum







