LOGINAku spontan bangkit berdiri, menatap Hani dengan raut wajah panik. "Emm... maksud Rian tuh..." Aku memutar otak secepat kilat mencari alasan yang paling masuk akal. "Karena gue sering bertengkar sama Axel! Nah, iya... gitu maksudnya!"
Aku meloloskan tawa garing demi menutupi kecanggungan. Namun, ternyata tidak semudah itu menipu insting seorang Hani.Ia memicingkan matanya, menatapku dengan sorot mata penuh selidik. "Terus kenapa lo sampai harus minta maaf sama Rian? Seolah"Betul. Pak Axel baru saja menjabat sebagai direktur. Beliau adalah putra Pak Arga, komisaris utama perusahaan," jelas staf HRD ramah.Aku membeku selama beberapa detik, seolah aliran darahku berhenti mengalir. Ini sungguh tidak masuk akal. Tidak mungkin aku harus bekerja di perusahaan Pakde Arga, sementara aku sedang bersikeras menunjukkan bahwa aku bisa hidup mandiri!Dan... aku bertugas di area ruangan Axel?! Oh Tuhan... ujian apa lagi ini?! Mana mungkin aku menjadi tukang pembersih di ruangan pria yang sedang kuhindari?!Jika Axel tahu aku adalah petugas kebersihan di ruangannya, entah tindakan konyol atau arogan apa lagi yang akan ia lakukan padaku!"Mbak... Mbak Kayla baik-baik saja?" suara staf HRD membuyarkan lamunanku.Aku menjatuhkan berkas dokumen itu ke pangkuan, lalu mengangkat wajah dengan tatapan lemas. "Mbak... ini nggak salah penempatan perusahaan, kan?""Sama sekali tidak, Mbak. PT. Buana Jaya memang sudah lama
"A-aku... ngekos di sini, Kak," sahutku canggung, sedikit salah tingkah karena tak pernah membayangkan akan bertemu senior kampus di tempat kos yang sama. "Kamu ngekos?" tanya Kak Rayan dengan raut tak percaya. "Bukannya... rumah kamu nggak jauh dari kawasan ini?" Aku menggaruk kepala yang tak gatal, berpikir cepat mencari alasan yang masuk akal. "I-iya, sih. Aku... aku cuma ingin belajar mandiri aja. Nah... iya, itu alasannya." Aku tertawa garing berusaha menutupi raut cemas di wajahku. Kak Rayan hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. "Kak Rayan sendiri... ngapain di sini?" tanyaku balik, berharap dugaanku salah. Aku sungguh tak pernah membayangkan akan bertetangga dengan senior kampus yang gencar mengedekatiku belakangan ini. "Aku... udah hampir empat tahun," sahutnya sembari menunjuk pintu kamar di belakangnya. "Ngekos di sini." Oh tidak! Ternyata benar... dia bakal j
"Sepuluh ribu dolar?!" tanyaku dengan mata membelalak lebar karena terkejut. Gila! Kalau aku sampai kena denda penalti sebesar itu, pakai uang dari mana aku membayarnya?! Bukannya untung, yang ada malah buntung! Aku bergegas bangkit dari kursi, melangkah mendekati staf HRD tersebut. "Mbak... apa saya bisa membatalkan kontrak kerjanya?" tanyaku sembari berusaha mengambil kembali berkas dokumen dalam dekapannya. Namun staf itu hanya tersenyum tenang dan ramah sembari mengibaskan tangannya pelan. "Maaf, Mbak. Tidak bisa... datanya sudah terinput secara otomatis ke sistem." Aku tetap bersikeras merebut file itu kembali. "Tapi Mbak... ini kan baru hitungan menit!" "Kalau Mbak Kayla mendadak membatalkan begini, Mbak bisa membuat Pak Heru kecewa, loh." Mendengar nama Papa Hani disebut, gerakanku seketika terhenti. Aku membeku selama beberapa detik. "T-tapi, Mbak..." "Buka
Aku sengaja mengulas senyum lebar seolah menyambut hangat uluran tangannya. Tepat saat tubuh Miko hampir menjangkauku, aku langsung mengayunkan kaki menendang telak perutnya, disusul satu pukulan keras tepat di wajahnya saat ia menunduk menahan nyeri.Bukh!Tubuh Miko oleng dan limbung ke belakang. Namun hanya dalam hitungan detik, ia berusaha menegakkan kembali tubuhnya sembari menatapku dengan mata membelalak penuh tanya."Kayla...?""Itu ganjaran... karena kamu sudah bertindak bejat menjebakku di hotel!" Aku melangkah mendekatinya dengan tubuh menegang tegang, lalu kembali melayangkan bogem mentah ke wajahnya.Bukh!"Itu hukuman... karena kamu sudah berani merendahkanku dan menginjak-injak harga diriku sebagai wanita!"Miko meringis sembari berusaha berdiri tegak. Namun belum sempat tubuhnya seimbang, aku melayangkan satu tendangan kuat lagi ke arah perutnya hingga ia tersungkur ke lantai."Dan itu... adalah
"Ehem!" goda Hani sembari menahan senyum, membuat aku dan Axel seketika dibuat salah tingkah. "Sekarang Kayla tinggal di rumah aku, Kak," lanjut Hani sembari melangkah berdiri tegak di sampingku. "Owh..." Axel mengusap belakang tengkuknya sembari mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Wajahnya terlihat amat serba salah. "Kalau mau... lo bisa tinggal di apartemen. Gue... udah pindah ke rumah Papa, kok." Oh... jadi dia udah nggak tinggal di apartemen lagi? Syukurlah. Tadinya aku sempat khawatir jika dia harus tidur sendirian di sana. Axel kan punya fobia kegelapan sejak ia terkunci di gudang sewaktu kecil. "Cieee... kayaknya ada yang ngajak rujuk, nih!" goda Hani lagi sembari menyenggol lenganku dengan sikutnya. Aku bergegas mencubit pinggang Hani gemas sembari berbisik tertahan. "Bisa diam nggak, sih?!" "Aduh! Apaan sih..." protes Hani sembari mengusap pinggangnya yang menjadi
"Apa yang lo lakukan, Inez?! Lo mau membunuh Kayla?!" teriak Rayan berang sembari tangannya dengan sigap menyangga tubuhku dari belakang. Aku yang masih membeku hanya bisa menoleh pada Rayan dengan detak jantung bertabuh kencang akibat rasa panik yang luar biasa. Tak berselang lama, derap langkah kaki yang berlari tergesa menaiki anak tangga terdengar riuh. Miko dan Axel tiba-tiba muncul dengan napas tersengal-sengal. Pandangan mata mereka seketika membelalak lebar begitu menangkap posisiku. Aku bergegas menegakkan tubuh, merasa salah tingkah karena situasi ini mendadak mengumpulkan dua cowok yang pernah hadir dalam kisah cintaku di satu tempat yang sama. "Kamu nggak apa-apa, Kay?" tanya Rayan dengan raut wajah amat khawatir. Aku hanya menggeleng pelan tanpa suara, melirik canggung ke arah Axel dan Miko yang masih menatapku tajam. Detik berikutnya, Miko mendadak melangkah menaiki tangga mengham







