Share

Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!
Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!
Penulis: Raisaa

1. Pemburu ONS

Penulis: Raisaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-27 08:19:57

"Elyse, hentikan! Ini sudah gelas keberapa? Kalau kau terus minum seperti ini, kau akan pingsan!" 

Nada suara Viona tidak membuat Elyse berhenti menenggak isi gelasnya, gelas keempat, atau mungkin kelima, ia sudah tidak peduli.

"Viona… lepaskan aku." Elyse menepis tangan temannya dengan gerakan putus asa.

Mereka duduk di sebuah sofa beludru hitam di dalam Salon, pesta rahasia yang hanya diakses oleh bangsawan kelas tertinggi, tempat mereka melampiaskan hasrat terpendam. 

Seharusnya Elyse tidak ada di sini. Jika sang ayah tahu, sudah dipastikan dirinya akan mendapatkan hukuman yang mengerikan.

Tapi, pagi ini Elyse mendengar calon suaminya, Jester, Duke Levric, terang-terangan berkata ia menikahi Elyse agar wanita yang ia cintai bisa menjadi Ratu. Dan yang lebih parahnya lagi, wanita itu adalah Ivanka, sepupunya sendiri!

"Aku tidak pernah mencintai Elyse, aku hanya menikahinya agar posisi ratu dimiliki Ivanka. Hanya Ivanka yang pantas. Dan aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan wanita yang kucintai."

Kalimat menyakitkan itu terucap dari mulut Jester. Betapa bodoh dirinya mengira selama ini pria itu mencintainya juga. 

Namun siapa sangka, cinta yang selama ini ia harapkan ternyata Jester berikan pada sepupunya sendiri! Yang lebih menyedihkan lagi, selama ini keduanya sering bertemu dan bermesraan di belakangnya.

"Cukup, Elyse! Kalau kau mabuk seperti ini, bagaimana aku bisa mencari lelaki?"

"Pergilah, Viona. Aku tidak masalah minum sendiri." Elyse membalas tanpa menatapnya.

Viona terdiam, sedikit ragu meninggalkan wanita itu sendirian di tengah kekacauannya ini.

“Aku mengerti kau patah hati, tapi sebaiknya kau tetap menahan dirimu,” suara Viona melemah. “Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan Elyse, kalau Duke Levric tahu kau ada di pesta seperti ini, apalagi aku yang mengajakmu, dia mungkin akan-”

“Memenggalmu?” Elyse menyelesaikan kalimat itu sambil tersenyum kecil, senyum yang tidak mengandung humor. “Dia tidak peduli. Dia bahkan pergi bersama Ivanka.”

Viona terpaku beberapa detik, sebelum akhirnya ia menyerah.

“Baiklah. Aku pergi dulu. Tetaplah di sini sampai aku kembali lagi.”

Elyse tidak memberi respons. Ia berdiri, pelan, goyah, dan meraih gelas lainnya sebelum berjalan menuju balkon besar.

Sesampainya di sana, tubuhnya terbentur pembatas balkon.

Bugh.

Dan kemudian,

Uekk.

Ia memuntahkan semua alkohol yang ia telan tadi. Rasanya lebih lega, meski pikiran dan hatinya tetap sesak.

"Bajingan kau, Jester!" teriaknya ke arah malam yang sunyi. Suaranya pecah, namun ia tidak peduli. Tidak ada orang lain di balkon itu. Ia sudah memastikan.

"Hiks..." tangisnya mulai pecah, air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.

“Dasar bajingan…” gumam Elyse pelan.

“Siapa yang bajingan?”

Deg!

Elyse mengangkat kepalanya. Di depannya berdiri seorang pria bertubuh tinggi, mengenakan topeng hitam. Sosoknya terlihat samar dalam cahaya bulan yang remang, tapi cukup untuk membuatnya terlihat mencolok dan misterius.

“Siapa Anda?” tanya Elyse dengan suara serak.

“Hanya orang lewat yang tidak sengaja mendengar teriakan Anda,” jawabnya santai.

Elyse menghapus air matanya dengan gerakan kasar sebelum kembali menatap pria itu.

“Apakah Anda pemburu cinta satu malam?” tanyanya tiba-tiba.

Pria itu tidak langsung menjawab, hanya melangkah sedikit mendekat. Balkon itu cukup gelap, sehingga Elyse tidak benar-benar bisa melihat ekspresinya, hanya siluet dan cahaya bulan yang memantul di topengnya.

“Anda juga?” tanyanya, kali ini berjongkok di hadapan Elyse.

“Ya,” jawab Elyse datar.

“Mau mencoba dengan saya?” tanyanya tanpa basa-basi, nada suaranya terdengar enteng namun ada sesuatu yang tajam di baliknya.

Elyse mengangguk.

“Sepertinya tidak buruk. Keberuntungan berpihak pada saya malam ini, nona topeng kelinci.”

Elyse membalas. “Benar… tuan burung hantu.”

Mereka saling menyebutkan jenis topeng yang dikenakan, keduanya sama-sama menyembunyikan identitas.

“Kalau begitu,” ucap pria itu sambil mengulurkan tangan.

Elyse menatap tangan itu lama. Lalu menatap pemiliknya. Jika ia meraih tangan tersebut, maka tidak ada jalan kembali. Namun… mungkin ini lebih baik. Mungkin ini cara termudah untuk mempermalukan Jester, pria brengsek yang telah menghancurkan harga dirinya.

Elyse tersenyum kecil. Jester selalu mengatakan bahwa Elyse tidak akan bisa tanpanya, bahwa semua orang tahu Elyse akan selalu kembali padanya.

Namun malam ini, tidak lagi.

Ia meraih tangan pria itu.

Tangan besar, kokoh, dengan kapalan kasar seperti seseorang yang terbiasa memegang pedang. Tubuhnya atletis. Mungkin seorang ksatria… atau seseorang dengan profesi berbahaya.

Ah, siapa peduli. Di pesta Salon, tidak ada informasi pribadi yang boleh ditanyakan.

Brugh.

Jika pria itu tidak menahannya, Elyse pasti sudah jatuh. Sekarang tubuh mereka saling menempel, dan Elyse bisa mencium aroma parfumnya, mahal, mewah, berkelas. Mirip aroma Jester, namun dengan karakter yang berbeda. Lebih gelap. Lebih dewasa.

“Anda sudah mabuk?” tanyanya pelan, suaranya tepat di samping telinga Elyse, terlalu dekat, terlalu lembut.

“Tidak. Apakah anda tidak suka wanita mabuk?” Elyse membalas.

“Tidak masalah. Kadang justru membuat segalanya lebih… santai.” jawabnya.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, pria itu mengangkat Elyse begitu saja, tanpa ragu, tanpa tanya, tanpa sopan santun.

Seolah tubuh Elyse tidak lebih berat dari selembar kain.

Dan dengan tenang, ia membawa Elyse pergi dari balkon itu.

Di dalam ruang pribadi yang tidak dikenalnya, Elyse bahkan tidak tahu siapa pemiliknya. Yang jelas, pria di depannya bertindak seolah dia menguasai segalanya.

Mereka berciuman, panas, dalam, dan tanpa jeda.

“Tidak buruk,” gumam pria itu ketika bibir mereka terpisah.

Elyse menelan ludah. “A-apa… apa rasanya akan sakit?”

Pria itu hanya tersenyum samar, lalu mengambil gelas dari nakas dan menyodorkannya.

“Minum.”

Elyse meneguk isinya dalam sekali minum, lalu sebelum sempat bertanya lagi, bibirnya kembali ditangkap. Kali ini lebih menuntut, hangat, kuat, dan bercampur rasa wine.

Elyse masih berusaha mencari matanya dalam gelap, namun pandangannya mulai kabur.

“Buat aku tahu rasa surga dunia tanpa sakit.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Mommy Lily
habis baca cerita Dirian yg muter2 nyari penyihir eh ternyata penyihirnya SDH metong langsung mampir kesini aja deh semoga aja ceritanya si nyonya Elyse gak kalah seru sama nyonya Selene
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   166. Kabur

    Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.Bukan keheningan kosong, melainkan sunyi yang sarat dipenuhi pertimbangan, kecurigaan, dan keputusan yang tak mungkin ditarik kembali. Cahaya lampu kristal memantul lembut di lantai marmer, sementara di balik dinding-dinding tebal gedung pesta itu, dunia luar tetap riuh, tak menyadari bahwa keseimbangan kekuasaan kekaisaran sedang digeser perlahan.Adrien Leuchten menyilangkan kaki, jari-jarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme pelan. Tatapannya menembus Elyse, seolah ingin menguliti setiap lapisan keberanian yang ia tampilkan.“Kenapa kau begitu yakin?” tanyanya akhirnya. “Satu kesalahan saja, dan kau tidak hanya kehilangan posisi kau kehilangan hidupmu.”Elyse tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pela

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   165. Kubu Ketiga

    Elyse melangkah setengah langkah ke depan, lalu membungkuk dengan anggun, sebuah hormat yang sempurna, tidak berlebihan namun cukup dalam untuk menunjukkan rasa hormatnya pada ketiga kepala keluarga itu.“Salam saya,” ucapnya tenang. “Merupakan kehormatan bisa bertemu dengan Anda semua.”Oscar Noctair terkekeh pelan, lalu meletakkan gelasnya di atas meja kecil di samping kursinya. Dengan nada santai namun jelas disengaja, ia berkata,“Dialah yang dengan percaya diri mengatakan demikian. Bahwa dia akan menjadi ratu.”Ucapan itu jatuh begitu saja, ringan namun maknanya berat.Adrien Leuchten menaikkan alisnya, lalu menoleh ke arah Calvin Valkrest. “Berani juga kau,” katanya dengan senyum

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   164. Wanita yang akan menjadi ratu

    Elyse terdiam.Tidak ada keterkejutan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa dikhianati seperti yang seharusnya ia rasakan. Hanya… kepastian dan sungguh, mereka terlalu mudah ditebak.Jika ia masih Elyse yang dulu, mungkin hatinya akan hancur mendengar pengakuan itu. Mungkin ia akan merasa takut, terjebak, tak berdaya. Namun sekarang yang ia rasakan justru sebaliknya. Di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang perlahan mengeras.Jika ini permainan mereka, maka mereka telah lupa satu hal, mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang berdiri di sisi Dyall. Dan itu membuat mereka jauh lebih rapuh daripada yang mereka kira.Elyse pulang lebih cepat dari yang ia perkirakan.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, suasana hangat langs

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   163. Jangan sampai bocor

    Suara desahan tertahan terdengar di berbagai sudut aula.Beberapa orang dari faksi lama tampak terkejut, sebagian lainnya jelas tidak senang. Namun tak satu pun berani menyela. Kalimat itu terlalu mutlak. Terlalu jelas.Elyse merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.Menikah dan pewaris.Ia tahu keputusan itu bukan sekadar jawaban atas pemberontakan. Itu adalah peringatan. Ancaman halus. Sekaligus penegasan bahwa Dyall tidak akan lagi membiarkan siapa pun menggiring langkahnya, baik ke medan perang maupun ke arah politik yang mereka inginkan.Dyall menutup pertemuan itu tanpa menunggu persetujuan.“Rapat selesai,” katanya singkat.

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   162. Pewaris

    Pertanyaan itu membuat Leon terdiam. Ia membuka mulut seolah ingin menjawab, lalu menutupnya kembali. Pada akhirnya, ia hanya menunduk kecil, sebuah sikap pasrah yang sudah menjadi jawabannya sendiri.“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi mohon tetap di dekat saya.”Leon membawa Elyse menyusuri lorong samping yang jarang dilewati orang. Mereka berhenti di balik sekat pilar tinggi, cukup jauh dari pusat aula namun masih memungkinkan untuk melihat apa yang terjadi di dalam tanpa terlihat. Tempat itu aman, terlindung bayangan, tersembunyi dari pandangan para bangsawan yang tengah sibuk dengan kecemasan mereka sendiri.Elyse menahan napas.Di tengah aula, Dyall berdiri diam. Tegak, dingin, dan tak terbaca seperti biasa. Namun Elyse tahu, di balik sikap tenangnya itu, pikirannya sedang bekerja tanpa henti.Suara-suara mulai saling bertindihan.“Perbatasan utara diserang pemberontak!”“Jumlah mereka belum pasti, namun gerakannya terorganisir.”“Jika ini dibiarkan, mereka akan semakin berani!”

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   161. Keturunan Rysvard yang tersisa

    Tuan Levric segera menggeleng, seolah kata-kata Dyall barusan terlalu berbahaya untuk dibiarkan menggantung.“Tidak mungkin,” katanya cepat, nadanya ditekan agar terdengar meyakinkan. “Satu-satunya yang bisa menjadi pewaris tahta adalah keturunan Rysvard. Dan hanya Anda seorang yang tersisa, Yang Mulia.”Beberapa bangsawan mengangguk pelan, seakan pernyataan itu adalah kebenaran mutlak yang tak perlu dipertanyakan.Dyall terdiam sejenak.Lalu ia bangkit.Gerakannya tenang, namun saat ia berdiri tegak, aura di aula itu berubah seketika. Kursi tahta di belakangnya seolah kehilangan maknanya karena bahkan tanpa duduk di sana pun, Dyall tetap tampak sebagai pusat kekuasaan.“Jika memang hanya aku,” ucapnya datar namun menggema di seluruh ruangan, “mengapa ada begitu banyak syarat yang harus kupenuhi… hanya agar faksi lama bersedia berdiri di pihakku?”Kata-kata itu jatuh satu per satu, tajam dan terukur.Bukan hanya Tuan Levric yang tertegun.Seluruh aula membeku.Tak ada yang berani menj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status