MasukIvanka dan Jester bereaksi hampir bersamaan terlalu cepat, terlalu panik untuk terlihat wajar.
“Jangan bicara sembarangan, Elyse!” Ivanka berseru, suaranya meninggi tanpa ia sadari. Tangannya mengepal di sisi gaun, wajahnya memucat lalu memerah. “Aku masih suci.”
“Benar,” Jester menyela cepat, berdiri setengah langkah di depan Ivanka seolah melindunginya. “Jangan mengatakan hal seperti itu. Kau akan membuat orang salah paham.”
Elyse menatap mereka berdua. Lama. Hening di lorong itu terasa menekan, seolah dinding-dinding kastil ikut menunggu jawabannya. Tidak ada kemarahan meledak di wajah Elyse, yang ada justru ketenangan yang dingin, membuat kata-katanya terdengar jauh lebih tajam.
“Tidak ada seorang pun,” ucapnya perlahan,
Tanpa banyak bicara, Dyall benar-benar menepati ucapannya. Ia mengangkat tubuh Elyse dan membawanya pergi, menjauh dari keramaian, dari cahaya kembang api, dari bisik-bisik yang tak pernah memberi ruang bernapas. Tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan hanya langkah yang pasti, seolah keputusan itu sudah lama diambil.Elyse mengikutinya begitu saja. Suara pesta perlahan memudar di belakang mereka, digantikan oleh desir angin malam dan derap langkah yang teratur. Ia bahkan tidak sempat berpikir ke mana mereka akan pergi, yang ia tahu hanyalah perasaan lega yang pelan-pelan merayap di dadanya.Perjalanan berlangsung dalam diam. Kereta kuda melaju menembus malam, dan Elyse menatap keluar jendela, membiarkan gelap menelan sisa-sisa gemerlap yang masih terbayang di matanya. Dyall duduk di seberangnya, tenang seperti biasa, namun kehadirannya terasa lebih nyata,
Seolah satu kalimat itu cukup untuk membekukan udara.Percakapan di sekitar mereka terhenti. Tawa, bisikan, bahkan suara gelas yang beradu mendadak lenyap. Semua mata tertuju pada Elyse.Wajah Elyse seketika memerah, panasnya menjalar hingga ke telinga. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, menunduk seolah lantai jauh lebih menarik daripada tatapan orang-orang. Jantungnya berdetak terlalu cepat, campuran malu, kesal, dan perasaan asing yang tak ingin ia akui.Ivanka membeku. Senyum tipis di wajahnya mengeras, lalu perlahan retak. Ia membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tak satu pun kata keluar. Untuk pertama kalinya, ia kehabisan respon.Jester terdiam, tangannya mengepal tanpa sadar. Viona menahan napas, sementara Ector mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak m
Elyse menelan ludah. Jantungnya berdetak terlalu cepat, bukan karena jarak mereka yang begitu dekat, melainkan karena pertanyaan itu, pertanyaan yang terlalu sederhana untuk perasaan yang begitu rumit.“Menjauhlah,” katanya pelan, suaranya nyaris bergetar meski ia berusaha keras terdengar tenang.Dyall tidak bergerak. “Jawab aku.”Elyse terkekeh singkat, tawa tanpa humor. “Apa jawabanku akan mengubah sesuatu?” balasnya. “Atau kau hanya ingin memastikan bahwa perasaan orang lain tidak mengganggu ketenanganmu?”Tatapan Dyall sedikit berubah, bukan melembut, tapi semakin dalam. “Aku tidak akan bertanya jika aku tidak peduli.”Kalimat itu justru membuat dada Elyse terasa
Ivanka tampak tersadar bahwa ia telah melangkah terlalu jauh. Dengan cepat ia meluruskan sikap, senyumnya kembali dipoles rapi, suaranya diturunkan menjadi lebih lembut.“Saya hanya ingin tahu saja, Yang Mulia,” katanya seolah tak bersalah. “Tidak ada maksud untuk mengatakan sesuatu yang tidak pantas.”Dyall menatapnya sekilas, lalu mengangguk tipis. “Tidak masalah,” jawabnya datar. “Lagipula, tempat ini memang dibuat untuk bersenang-senang.”Ivanka seketika mengangguk, seolah mendapat izin yang ia tunggu-tunggu. “Kalau begitu,” katanya cepat, matanya berbinar, “apakah kali ini kita bisa menikmati acara ini bersama, Yang Mulia?”Ada jeda singkat sebelum Dyall menjawab. “Tentu,” katanya akhirnya. &ldqu
Sunyi kembali menyelimuti dan di lorong, Elyse akhirnya menghela napas panjang. Bukan napas lega dan bukan pula napas marah. Melainkan napas seseorang yang akhirnya memahami betapa kotor dan berbahayanya permainan yang sedang berlangsung.Ia tidak merasa cemburu, walaupun hatinya merasakan sesuatu yang aneh yang membuatnya sedikit kesal.Dia juga merasakan perasaan lebih dari sesuatu yang jauh lebih dingin, kesadaran bahwa Kaisar suaminya telah dijadikan umpan, alat, bahkan eksperimen, oleh orang-orang yang berdiri terlalu dekat dengannya.Pintu ruangan itu terbuka perlahan, disertai suara engsel yang berdecit pelan namun bagi Elyse, bunyinya terdengar jauh lebih nyaring daripada seharusnya.Jester dan Ivanka keluar lebih dulu, diikuti Tuan dan Nyonya Levric. Wajah keem







