MasukElyse menelan ludah. Jantungnya berdetak terlalu cepat, bukan karena jarak mereka yang begitu dekat, melainkan karena pertanyaan itu, pertanyaan yang terlalu sederhana untuk perasaan yang begitu rumit.
“Menjauhlah,” katanya pelan, suaranya nyaris bergetar meski ia berusaha keras terdengar tenang.
Dyall tidak bergerak. “Jawab aku.”
Elyse terkekeh singkat, tawa tanpa humor. “Apa jawabanku akan mengubah sesuatu?” balasnya. “Atau kau hanya ingin memastikan bahwa perasaan orang lain tidak mengganggu ketenanganmu?”
Tatapan Dyall sedikit berubah, bukan melembut, tapi semakin dalam. “Aku tidak akan bertanya jika aku tidak peduli.”
Kalimat itu justru membuat dada Elyse terasa
“Apa saja yang dikatakan Viona pada Anda?”Nada suaranya tenang, namun justru ketenangan itu yang membuat udara di sekitar mereka terasa menegang. Viona, yang berdiri sedikit di belakang Viscount Katris, refleks mengangkat kepala. Bibirnya terbuka, seolah ingin menjelaskan atau mungkin membela diri.Namun sebelum satu kata pun keluar, Elyse mengangkat tangannya.Gerakan itu tidak kasar. Tidak juga terburu-buru. Hanya satu isyarat sederhana, namun cukup untuk membuat Viona terdiam sepenuhnya. Elyse tidak menoleh. Tatapannya tetap terkunci pada Viscount, seolah dunia di sekelilingnya sudah tidak lagi penting.Viscount memperhatikan itu semua dengan saksama. Ia menghela napas perlahan, lalu menggeleng.“Viona tidak mengat
Ucapan Elyse menggantung lama di udara, seperti membuka kembali luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh.Semua orang terdiam, bukan karena tidak ingin bicara, melainkan karena ingatan itu datang terlalu jelas.Saat di mana dua keluarga besar itu pernah berdiri di sisi yang sama, mereka memiliki hubungan kerja sama antara keluarga Leclair dan Katris dibangun dengan harapan, ambisi, dan janji keuntungan besar.Dan saat di mana semuanya runtuh.Kebangkrutan bisnis Count Leclair datang lebih dulu, disusul kehancuran bisnis Viscount Katris. Sejak hari itu, tudingan saling dilemparkan, kepercayaan berubah menjadi kebencian, dan hubungan yang dulu erat terpecah oleh rasa bersalah yang tak pernah benar-benar diakui.Padahal… Orang yang mendo
Langit di luar mansion tampak muram, seolah ikut menekan suasana di dalam ruangan itu. Elyse masih berdiri di dekat pintu, tubuhnya kaku, ketika kalimat Countess Leclair terus terngiang di kepalanya.Tertangkap basah tidur di kamar yang sama.Kata-kata itu belum sempat ia cerna sepenuhnya ketika pintu mansion kembali terbuka dengan keras, nyaris menghantam dinding.BRAK!Semua kepala menoleh.Viscount Katris masuk dengan langkah panjang dan berat, wajahnya merah padam. Di belakangnya, Viscountess Katris menyusul, biasanya anggun dan tenang, namun kali ini rautnya retak dan mata tajamnya menyimpan campuran amarah, kekecewaan, dan ketakutan yang mendalam.“Viona.” Suara Viscount rendah n
Dyall menatap Elyse tanpa berkedip. Seolah dunia di sekelilingnya menghilang, seolah hanya ada wajah wanita itu pucat, bingung, dan masih berusaha memahami kenyataan yang baru saja dijatuhkan kepadanya.“Jadi…” suara Dyall terdengar lebih rendah dari biasanya, serak namun jelas, “istriku hamil.”Semua orang di ruangan itu menahan napas. Para pelayan tidak berani mengangkat kepala. Dokter berdiri kaku. Elyse merasakan dadanya mengencang ketika tatapan Dyall kembali padanya tatapan yang berbeda dari yang pernah ia lihat sebelumnya. Tidak dingin. Tidak tajam. Ada sesuatu yang bergetar di sana.“Benar, Yang Mulia,” jawab dokter akhirnya. “Usianya kurang dari delapan minggu.”Dyall mengangguk pelan, seolah menghitung sesuatu di dala
Tanpa banyak bicara, Dyall benar-benar menepati ucapannya. Ia mengangkat tubuh Elyse dan membawanya pergi, menjauh dari keramaian, dari cahaya kembang api, dari bisik-bisik yang tak pernah memberi ruang bernapas. Tidak ada penjelasan, tidak ada permintaan hanya langkah yang pasti, seolah keputusan itu sudah lama diambil.Elyse mengikutinya begitu saja. Suara pesta perlahan memudar di belakang mereka, digantikan oleh desir angin malam dan derap langkah yang teratur. Ia bahkan tidak sempat berpikir ke mana mereka akan pergi, yang ia tahu hanyalah perasaan lega yang pelan-pelan merayap di dadanya.Perjalanan berlangsung dalam diam. Kereta kuda melaju menembus malam, dan Elyse menatap keluar jendela, membiarkan gelap menelan sisa-sisa gemerlap yang masih terbayang di matanya. Dyall duduk di seberangnya, tenang seperti biasa, namun kehadirannya terasa lebih nyata,
Seolah satu kalimat itu cukup untuk membekukan udara.Percakapan di sekitar mereka terhenti. Tawa, bisikan, bahkan suara gelas yang beradu mendadak lenyap. Semua mata tertuju pada Elyse.Wajah Elyse seketika memerah, panasnya menjalar hingga ke telinga. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, menunduk seolah lantai jauh lebih menarik daripada tatapan orang-orang. Jantungnya berdetak terlalu cepat, campuran malu, kesal, dan perasaan asing yang tak ingin ia akui.Ivanka membeku. Senyum tipis di wajahnya mengeras, lalu perlahan retak. Ia membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun tak satu pun kata keluar. Untuk pertama kalinya, ia kehabisan respon.Jester terdiam, tangannya mengepal tanpa sadar. Viona menahan napas, sementara Ector mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak m







