LOGINElyse tidak kembali ke rumah keluarga Leclair malam itu.
Kereta kudanya justru melaju lurus menuju istana.
Langkahnya tergesa saat ia masuk ke aula dalam, tanpa peduli pada tatapan para pelayan yang terkejut melihatnya datang dengan wajah pucat dan mata yang masih basah. Saat itu Dyall tengah berbicara dengan Edwin, Leon, dan beberapa pengawal kepercayaannya.
Tanpa sedikit pun perlawanan, Caius melangkah masuk ke dalam lorong gelap itu.Rantai di pergelangan tangannya berderak pelan setiap kali ia bergerak. Tubuhnya kurus, bahunya turun, seolah seluruh beban dunia telah diletakkan di sana. Ia tidak menoleh ke belakang. Tidak mencari siapa pun. Tidak berharap pada apa pun.Dalam beberapa langkah saja, siluetnya telah ditelan oleh kegelapan tambang seolah dunia benar-benar menghapus keberadaannya dari cahaya matahari.Ia tidak lagi menjadi kekasih putra mahkota. Tidak lagi menjadi orang kepercayaan Riaven. Kini ia hanya seorang tahanan, menuju liang panjang yang akan menjadi hidupnya.Berbeda dengan Caius yang berjalan pasrah, Ingrid dan Jefrey masih berteriak.“Lepaskan aku!” jerit Ingrid dengan suara serak. “Aku tidak akan masuk ke tempat terkutuk itu!”Ia meronta dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Gaun mahal yang dulu menjadi simbol kemewahan kini terseret di tanah berdebu. Rambutnya kusut, wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Di
Ia menunduk, suaranya menjadi lebih dalam.“Penjara ini… adalah harga dari kesetiaanku yang salah arah. Dan aku menerimanya.”Ivanka menatap Caius lama.Di satu sisi kereta, ada seseorang yang menerima hukuman sebagai penebusan. Di sisi lain, ada ibu dan anak yang terjerat dalam kebencian karena janji yang dikhianati.Kereta terus bergerak.Meninggalkan dunia yang pernah memanggil mereka bangsawan. Meninggalkan nama besar Duke Levric. Meninggalkan Riaven yang telah mati di altar penggal.Menuju tempat di mana tidak ada gelar. Tidak ada intrik. Hanya dinding batu dan hari-hari panjang tanpa kepastian. Dan di antara jeruji besi itu, tiga cara menghadapi kehancuran terlihat jelas yaitu Caius memilih menerima, Ingrid memilih mengutuk dan Jefrey memilih membenci.Sementara Ivanka… hanya bisa menatap ke depan, bertanya dalam diam apakah penjara akan mengurung tubuh mereka saja atau juga sisa hati yang belum sempat berdamai dengan masa lalu?Gerbang besi itu terbuka perlahan dengan suara pa
Kereta kurungan itu melaju perlahan menembus gerbang kota yang dahulu selalu terbuka bagi mereka dengan penuh hormat.Kini gerbang itu menutup di belakang mereka dengan bunyi berat seperti palu yang memakukan masa lalu ke tanah. Roda besi berderit di atas jalan berbatu, menciptakan suara panjang yang menyerupai ratapan. Angin sore menerobos masuk melalui celah-celah jeruji, membawa debu dan aroma kebebasan yang tidak lagi bisa mereka sentuh.Di dalam kereta, duduk mereka yang dulu disebut bangsawan.Count Levric bersandar di dinding besi, wajahnya pucat dan matanya kosong, seakan seluruh sisa kebanggaan telah terkikis bersama pedang algojo yang memenggal putranya. Tidak ada lagi sikap angkuh seorang duke. Yang tersisa hanyalah seorang pria tua yang kehilangan segalanya.Tak jauh darinya, Ingrid istri simpanan Duke Levric memeluk tubuhnya sendiri, jari-jarinya gemetar di balik kain gaun yang kini kusam. Jefrey, putranya, duduk meringkuk di samping sang ibu, menahan tangis yang tak lagi
Istana terasa berbeda setelah darah tumpah di alun-alun.Lorong-lorong marmer yang biasanya dipenuhi suara langkah para pelayan kini sunyi, hanya gema sepatu Dyall dan Elyse yang terdengar pelan saat mereka berjalan berdampingan menuju ruang dalam. Tirai-tirai tinggi bergoyang perlahan tertiup angin senja, membawa masuk cahaya jingga yang pucat, seolah matahari sendiri enggan menyinari hari yang baru saja menyelesaikan hukuman.Elyse tidak berkata apa-apa sejak mereka meninggalkan balkon eksekusi.Jubah kerajaannya masih terpasang rapi, mahkota kecil di kepalanya masih berkilau, namun bahunya tampak lebih berat dari biasanya. Ia berjalan dengan punggung tegak seperti ratu yang harus dilihat dunia namun di dalam dadanya, langkah-langkah itu terasa seperti menyeret beban yang tak kasatmata.Dyall memperhatikannya dari samping.Ia mengenal perempuan itu terlalu lama untuk tidak menyadari perbedaan kecil: cara Elyse menggenggam ujung jubahnya lebih erat, cara matanya tidak lagi menatap lu
Suara itu tidak keras.Namun di tengah keheningan lapangan eksekusi, suara Duke Levric terdengar jelas, menembus udara yang berat dan dipenuhi bau besi serta debu.“Aku memilih kekuasaan… dan kehilangan segalanya.”Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam dada mereka yang mendengarnya.Jester berdiri kaku.Untuk sesaat, ia merasa kakinya kehilangan kekuatan. Lelaki yang pernah ia anggap sebagai guru, sebagai figur yang hampir menyerupai ayah, kini berlutut di hadapan altar penggal bukan sebagai bangsawan agung, melainkan sebagai seorang pria tua yang kalah oleh ambisinya sendiri.Di sampingnya, Seraphina menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya melebar, lalu bergetar. Ia tidak menangis, seolah air mata itu bahkan tidak sanggup keluar menghadapi kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.Levric menghela napas panjang.Tarikan napas itu terdengar seperti napas terakhir dari sebuah masa lalu.Matanya masih tertuju pada Jester dan Seraphina, seakan seluruh dunia telah lenyap, dan yan
Hari itu, seluruh kekaisaran seakan menahan napas.Tanah lapang di luar ibu kota kembali dibuka setelah lebih dari dua puluh tahun tertutup debu dan rumput liar. Di sanalah, pada masa lalu, hukuman penggal sering dijalankan tempat di mana keadilan dan ketakutan pernah berdiri berdampingan. Bertahun-tahun lamanya, tempat itu dibiarkan sunyi, seolah dunia ingin melupakan darah yang pernah meresap ke tanahnya.Namun pagi itu, altar penggal kembali berdiri.Kayunya baru, tetapi bentuknya sama seperti dulu. Tinggi, kaku, dan tanpa belas kasihan.Tiang bendera berkibar di sekeliling lapangan. Pasukan berdiri berbaris rapi dengan tombak terangkat, membentuk lingkaran besar yang memisahkan rakyat dari panggung eksekusi. Di balik barisan itu, manusia berkumpul seperti lautan bangsawan dengan jubah panjang, rakyat dengan pakaian sederhana, semuanya menyatu dalam satu ketegangan yang sama: menunggu akhir dari Duke Levric dan Riaven.Bisik-bisik mengalir seperti angin.“Hari ini mereka mati…”“Pe







