LOGIN“Apa maksudnya ini sekarang?!” teriak Nyonya Levric, Duchess terdahulu keluarga itu, suaranya penuh keterkejutan mendengar ucapan Elyse.
“Astaga! Apa yang dikatakannya?” bisik Duke Levric terdahulu, ayah Jester, sambil menatap putrinya dengan tak percaya.
“Elyse, kau, apakah kau gila?” sahut Jester dengan nada hampir tidak percaya.
“Saya tidak gila,” Elyse membalas dengan tajam. “Seharusnya saya yang menyadarkan anda. Berciuman dengan wanita lain di depan calon istri anda sendiri adalah tindakan yang tidak masuk akal!”
Semua orang membeku, termasuk Jester.
“Elyse, ini tidak seperti-” mulai Jester, namun terhenti.
“Tidak seperti apa?” Elyse memotong. “Anda bahkan tidak melihat saya saat anda mencium wanita lain dengan begitu nyata, di depan kedua mata saya!”
Ruang itu hening. Semua mata menatap Elyse, tak ada seorang pun yang bisa menegur. Kali ini, dia tak mau menahan diri. Ia tak mau lagi menikah dengan bajingan ini.
“Apa maksudnya ini sekarang, Jester?” bentak ayah Jester, suaranya keras namun tegas.
“Elyse, kita harus bicara,” potong Countess, menarik Elyse perlahan menjauh dari situ.
“Ibu, ak-” Elyse mencoba menolak, tapi Countess memandangnya tegas.
“Silahkan duduk sebentar. Permasalahan ini tidak bisa dibiarkan,” ucap Count, mencoba menenangkan keluarga calon besannya. Ia lalu menyusul istrinya dan Elyse.
Jester menatap mereka pergi, kemudian menoleh ke ibunya.
“Jester, apa maksud dari semua ini?” tanya Countess, nada penuh pertanyaan.
“Dia… sepertinya melihat aku berciuman dengan Ivanka,” jawab Jester singkat.
Ibu dan ayahnya menghela napas panjang, hampir bersamaan.
“Jadi begitu,” gumam mereka, nyaris tanpa emosi.
Jester hanya terdiam. Mereka tidak marah, hanya diam. Selama ini, keluarga Levric memang lebih menyukai Ivanka.
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi sekarang, Elyse?” Countess sudah berada di dalam ruangan lain bersama Elyse.
Count masuk dan menutup pintu dengan lembut tapi tegas.
“Aku… aku tidak mau menikah dengan Jester! Aku tidak mau menikahi lelaki yang bahkan mencintai wanita lain!” Elyse hampir berteriak, napasnya tersengal.
“Kau hanya cemburu buta!” ucap Count dengan nada tegas. “Apa kau tidak sadar apa yang kau katakan?”
“Elyse, tidak ada pernikahan dengan cinta dalam tradisi kita,” timpal Countess, berusaha menenangkan sekaligus menegur. “Ini semua pernikahan politik.”
“Pernikahan politik? Apakah selama ini kalian tidak merasa dibodohi?” Elyse membentak, matanya membara.
“Apa maksudmu?” tanya Count, mencoba menenangkan putrinya.
“Segera setelah hasil ujian pemilihan ratu keluar dan nilaiku tinggi di antara yang lain, bisnis ayah bangkrut hingga keluarga ini hampir hancur! Apa ayah masih tidak bisa berpikir?” Elyse tak lagi bisa menahan diri, suaranya meninggi.
“Bisnis ayah bangkrut karena salah perhitungan, Elyse. Keluarga Duke sudah sangat baik mengulurkan tangan membantu,” ucap Count mencoba menjelaskan dengan tenang.
“Ayah salah? Salah hitung?! Yang membuat bisnis ayah hancur adalah Jester! Dia yang melakukannya agar kita tersudut dan menyetujui pernikahan itu, supaya Ivanka bisa menjadi ratu!” Elyse sudah tidak bisa menahan kemarahannya, suaranya nyaris pecah. Semua yang ia dengar malam itu tumpah menjadi kata-kata tajam.
“Elyse, sebenarnya apa yang kau ingin katakan? Kita tidak memiliki hubungan buruk dengan keluarga Duke, apalagi Count Velcross, pamanmu, adalah sahabat lama Duke,” Countess mengingatkan, berusaha menenangkan putrinya.
Elyse menatap kedua orang tuanya dengan mata membara.
“Jangan bicara omong kosong sekarang! Pergi minta maaf pada Duke, dan juga pada Nyonya dan Tuan Levric!” titah Count tegas.
“Ayah, aku tidak mau! Aku tidak mau menikahinya!” teriak Elyse lagi.
“Perbaiki sikapmu sekarang, Elyse! Kalau tidak, aku akan mengurungmu dan tidak membiarkanmu keluar rumah lagi! Bergaul dengan Viona sepertinya membuatmu gila!” Countess membentak, wajahnya memerah.
Elyse terdiam, hatinya hancur. Bahkan orang tuanya tidak membelanya?
“Elyse, rubah sikapmu sekarang juga. Setelah ini, kita akan pergi ke mansion Velcross karena kita diundang sebagai keluarga dan akan bertemu Kaisar!” ucap Count.
Elyse tidak bisa berkata apa pun. Hatinya terasa remuk, bukannya memahami, orang tuanya malah memintanya meminta maaf dan melupakan semuanya begitu saja.
“Elyse, mengingat hubungan Ivanka dan Duke, jelas Duke memiliki hati untuk Ivanka. Namun tetap saja, Duke akan menikah denganmu dan Ivanka akan menjadi ratu. Jangan bersikap kekanak-kanakan seperti ini,” suara Countess menegur dengan nada dingin namun tegas.
“Ibu tidak mengerti apa pun, ya!” teriak Elyse, napasnya tersengal. “Ibu dan ayah malah mendorong harga diri putri kalian diinjak-injak seperti ini?!” Ia tak percaya dirinya harus berada dalam situasi ini.
“Elyse, aku tahu kau cemburu. Tapi dalam pernikahan, cinta saja tidak akan cukup. Apalagi Jester juga sudah berjanji akan memperlakukanmu baik setelah Ivanka menjadi ratu. Jadi, jangan bersikap kekanak-kanakan lagi,” Countess menutup dengan nada menenangkan sekaligus menegur.
Pupus sudah harapan Elyse. Bahkan keluarganya kini bersikap seperti ini padanya.
“Ayo, rapikan wajahmu. Aku akan menemanimu minta maaf pada Duke. Dia pasti akan memaafkanmu,” ucap Countess lembut, tapi tegas.
Elyse tak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Ia hanya mengikuti Countess, seperti boneka yang dikendalikan. Ia tak punya hak untuk menolak, apalagi membatalkan pernikahan itu.
Tanpa sadar, Elyse sudah dibawa ke kediaman Count Velcross. Ia berdiri bersama keluarga, menyambut Kaisar.
Dyall Alexander de Rysvard, Kaisar ke-53 Kekaisaran Heretia, turun dari kereta kekaisaran dengan tegap. Jantung Elyse berdebar kencang saat pandangan mereka bertemu.
“Elyse, menunduk,” bisik Jester di sampingnya.
Elyse membeku, merundukkan pandangannya tepat saat Kaisar melangkah maju, menyapa semua yang menunggunya.
“Selamat datang Yang Mulia, Matahari Kekaisaran Heretia, Kaisar Dyall,” ucap Duke terdahulu, ayah Jester.
“Mengapa paman ada di sini?” tanya Kaisar santai kepada Duke terdahulu.
“Oh, itu karena Jester akan menikah dengan putri Count Leclair. Leclair dan Velcross adalah satu keluarga,” jawab Jasper, ayah Jester.
“Itu bisa dimengerti,” sahut Kaisar singkat. Namun, tatapannya tak lepas dari Elyse.
Elyse yang menunduk kembali melihat kearah kaisar, saat pandangannya bertemu dengan mata Kaisar, jantungnya seketika melonjak. Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu, tidak seperti biasanya.
Apa yang sedang terjadi? Mengapa dia menatapku seperti itu? Pertanyaan itu berputar cepat di benaknya, membuat dada Elyse berdebar tak menentu.
Makan malam berlangsung tenang. Kaisar tidak begitu menyukai kebisingan, terlihat jelas dari wajah dan sikapnya. Rambut hitam dan mata merahnya entah mengapa membuat Elyse teringat pada lelaki bertopeng burung hantu. Namun, yang jelas pria itu pasti bukan Kaisar Dyall.
“Tidak lucu jika yang mengambil keperawananku adalah Kaisar,” batin Elyse, sambil tersenyum getir.
Hingga akhir makan malam, Kaisar meminta waktu untuk berbicara dengan Ivanka.
Ivanka tentu senang, tapi Jester langsung menimpali, “Akan lebih baik kita menghabiskan waktu bersama. Kita bisa merasakan kencan ganda.”
Elyse hanya menghela napas. Jester pasti penasaran setengah mati, karena Ivanka kesayangannya akan menghabiskan waktu bersama Kaisar. Elyse kira Kaisar akan menolak, tapi Kaisar menyetujui dan membuat semua orang tersenyum senang.
Kini, Kaisar, Ivanka, Jester, dan Elyse berada di rumah kaca keluarga Velcross yang mewah. Semua itu berkat tangan Jester. Dua orang itu tampak tak peduli dengan Elyse, fokus pada bunga-bunga yang sedang mereka pilih dan buatkan.
Sementara di sisi lain, Elyse hanya menatap kedua orang itu. Di hadapannya, Kaisar duduk tanpa melepaskan pandangannya dari Elyse.
“Apakah kau tidak suka bunga?” tanya Dyall lembut pada Elyse. Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Elyse sedikit tersentak, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dari kedua orang itu.
“Maaf Yang Mulia, saya tidak suka,” jawab Elyse sambil menunduk.
Kaisar menarik sudut bibirnya sedikit, menatapnya dengan tajam.
“Apakah Anda tidak nyaman bersamaku?” tanyanya lagi.
“Bukan begitu yang mulia,” sahut Elyse, menatap wajah tampan dengan aura dingin, yang membuat siapa pun terpesona.
“Wajahmu terasa sangat familiar,” ucap Dyall, seolah menggoda.
“Tidak mungkin, Yang Mulia. Anda berlebihan,” jawab Elyse cepat.
“Aku serius. Seperti pernah melihatmu di suatu tempat,” sahut Dyall lagi.
“Saya tidak mungkin berada di tempat yang sama dengan anda, Yang Mulia Kaisar,” ucap Elyse mantap.
“Tidak, tentu saja pernah,” sahut Dyall.
Elyse menatapnya, takjub sekaligus cemas.
“Apakah… semalam kau berada di pesta salon Marchioness Elgam?”
Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.Bukan keheningan kosong, melainkan sunyi yang sarat dipenuhi pertimbangan, kecurigaan, dan keputusan yang tak mungkin ditarik kembali. Cahaya lampu kristal memantul lembut di lantai marmer, sementara di balik dinding-dinding tebal gedung pesta itu, dunia luar tetap riuh, tak menyadari bahwa keseimbangan kekuasaan kekaisaran sedang digeser perlahan.Adrien Leuchten menyilangkan kaki, jari-jarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme pelan. Tatapannya menembus Elyse, seolah ingin menguliti setiap lapisan keberanian yang ia tampilkan.“Kenapa kau begitu yakin?” tanyanya akhirnya. “Satu kesalahan saja, dan kau tidak hanya kehilangan posisi kau kehilangan hidupmu.”Elyse tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pela
Elyse melangkah setengah langkah ke depan, lalu membungkuk dengan anggun, sebuah hormat yang sempurna, tidak berlebihan namun cukup dalam untuk menunjukkan rasa hormatnya pada ketiga kepala keluarga itu.“Salam saya,” ucapnya tenang. “Merupakan kehormatan bisa bertemu dengan Anda semua.”Oscar Noctair terkekeh pelan, lalu meletakkan gelasnya di atas meja kecil di samping kursinya. Dengan nada santai namun jelas disengaja, ia berkata,“Dialah yang dengan percaya diri mengatakan demikian. Bahwa dia akan menjadi ratu.”Ucapan itu jatuh begitu saja, ringan namun maknanya berat.Adrien Leuchten menaikkan alisnya, lalu menoleh ke arah Calvin Valkrest. “Berani juga kau,” katanya dengan senyum
Elyse terdiam.Tidak ada keterkejutan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa dikhianati seperti yang seharusnya ia rasakan. Hanya… kepastian dan sungguh, mereka terlalu mudah ditebak.Jika ia masih Elyse yang dulu, mungkin hatinya akan hancur mendengar pengakuan itu. Mungkin ia akan merasa takut, terjebak, tak berdaya. Namun sekarang yang ia rasakan justru sebaliknya. Di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang perlahan mengeras.Jika ini permainan mereka, maka mereka telah lupa satu hal, mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang berdiri di sisi Dyall. Dan itu membuat mereka jauh lebih rapuh daripada yang mereka kira.Elyse pulang lebih cepat dari yang ia perkirakan.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, suasana hangat langs
Suara desahan tertahan terdengar di berbagai sudut aula.Beberapa orang dari faksi lama tampak terkejut, sebagian lainnya jelas tidak senang. Namun tak satu pun berani menyela. Kalimat itu terlalu mutlak. Terlalu jelas.Elyse merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.Menikah dan pewaris.Ia tahu keputusan itu bukan sekadar jawaban atas pemberontakan. Itu adalah peringatan. Ancaman halus. Sekaligus penegasan bahwa Dyall tidak akan lagi membiarkan siapa pun menggiring langkahnya, baik ke medan perang maupun ke arah politik yang mereka inginkan.Dyall menutup pertemuan itu tanpa menunggu persetujuan.“Rapat selesai,” katanya singkat.
Pertanyaan itu membuat Leon terdiam. Ia membuka mulut seolah ingin menjawab, lalu menutupnya kembali. Pada akhirnya, ia hanya menunduk kecil, sebuah sikap pasrah yang sudah menjadi jawabannya sendiri.“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi mohon tetap di dekat saya.”Leon membawa Elyse menyusuri lorong samping yang jarang dilewati orang. Mereka berhenti di balik sekat pilar tinggi, cukup jauh dari pusat aula namun masih memungkinkan untuk melihat apa yang terjadi di dalam tanpa terlihat. Tempat itu aman, terlindung bayangan, tersembunyi dari pandangan para bangsawan yang tengah sibuk dengan kecemasan mereka sendiri.Elyse menahan napas.Di tengah aula, Dyall berdiri diam. Tegak, dingin, dan tak terbaca seperti biasa. Namun Elyse tahu, di balik sikap tenangnya itu, pikirannya sedang bekerja tanpa henti.Suara-suara mulai saling bertindihan.“Perbatasan utara diserang pemberontak!”“Jumlah mereka belum pasti, namun gerakannya terorganisir.”“Jika ini dibiarkan, mereka akan semakin berani!”
Tuan Levric segera menggeleng, seolah kata-kata Dyall barusan terlalu berbahaya untuk dibiarkan menggantung.“Tidak mungkin,” katanya cepat, nadanya ditekan agar terdengar meyakinkan. “Satu-satunya yang bisa menjadi pewaris tahta adalah keturunan Rysvard. Dan hanya Anda seorang yang tersisa, Yang Mulia.”Beberapa bangsawan mengangguk pelan, seakan pernyataan itu adalah kebenaran mutlak yang tak perlu dipertanyakan.Dyall terdiam sejenak.Lalu ia bangkit.Gerakannya tenang, namun saat ia berdiri tegak, aura di aula itu berubah seketika. Kursi tahta di belakangnya seolah kehilangan maknanya karena bahkan tanpa duduk di sana pun, Dyall tetap tampak sebagai pusat kekuasaan.“Jika memang hanya aku,” ucapnya datar namun menggema di seluruh ruangan, “mengapa ada begitu banyak syarat yang harus kupenuhi… hanya agar faksi lama bersedia berdiri di pihakku?”Kata-kata itu jatuh satu per satu, tajam dan terukur.Bukan hanya Tuan Levric yang tertegun.Seluruh aula membeku.Tak ada yang berani menj







