LOGIN"Kau berada di pesta semalam kan?"
Elyse membeku seketika saat Dyall mengulang perkataannya. Tubuhnya seolah tak bisa bergerak, tatapannya tetap terpaku pada Dyall, yang menatapnya dengan tenang, seolah semua itu bukan hal besar.
“Anda-” suara Elyse nyaris tercekat. Tidak mungkin Kaisar Dyall adalah pria bertopeng burung hantu yang menghabiskan malam bersamanya di pesta itu!
“Ya, aku topeng burung hantu,” jujur Dyall tanpa ragu.
Deg.
Elyse menutup mulutnya rapat-rapat. Dia hampir berteriak jika logikanya tak bekerja. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya memerah, dan rasa malu bercampur marah menimpa dirinya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Dyall, melihat perubahan wajah Elyse.
“Bagaimana saya bisa baik-baik saja di depan orang yang… meniduri saya dan memperlakukan saya seperti pelacur?” ketus Elyse, berusaha menahan teriak.
Bagaimana tidak? Setelah tidur dengan lelaki ini yang ternyata adalah seorang Kaisar, Elyse diberi sekantung uang dan diperlakukan layaknya pelacur. Ia ingin melempar, memukul, menjambak pria di hadapannya, tapi menahan diri. Pria itu adalah seorang Kaisar! Satu kesalahan saja, kepalanya akan langsung terpisah dari tubuhnya.
“Apa maksudmu?” tanya Dyall bingung.
“Maksud… seperti apa, Yang Mulia? Bukankah jelas kiita tidur bersama, dan Anda meninggalkan uang sebagai bayaran atas tubuh saya?” ketus Elyse, sambil menoleh sekilas melihat Jester dan Ivanka memastikan mereka tidak mendengarnya.
“Siapa yang menidurimu?” tanya Dyall lagi, kini mulai serius.
Elyse menoleh tajam, matanya menatap Dyall seolah ingin mengulitinya.
“Setelah apa yang terjadi… Anda tidak mengakuinya?” suara Elyse bergetar tak percaya.
“Kita tidak melakukan apapun,” sahut Dyall, menyadari bahwa Elyse salah paham.
Elyse hampir tidak bisa menahan mulutnya, matanya membola mendengar jawaban itu.
“A-apa maksud Anda?”
“Tidak… aku tidak menidurimu, karena kau langsung pingsan setelah ciuman itu,” jelas Dyall dengan tenang.
Doengg.
Mati aku, batin Elyse.
“Apakah Anda membohongi saya hanya karena tidak ingin mengakuinya?” tanyanya, suaranya nyaris bergetar.
“Untuk apa aku berbohong?” jawab Dyall tenang.
“Tapi… Anda meninggalkan uang,” sahut Elyse, masih setengah ragu.
“Yah… aku tidak memiliki hadiah lain, jadi aku hanya meninggalkan uang itu,” jelas Dyall jujur.
Elyse menunduk, lebih malu daripada sebelumnya. Ia baru saja mengatakan hal yang kurang ajar di depan Kaisar, yang seharusnya dihormatinya.
“Tapi… bagaimana Anda bisa tahu itu saya?” tanyanya pelan.
“Aku membuka topengmu,” jawab Dyall dengan jujur.
“Anda benar-benar sangat jujur,” gumam Elyse, tak bisa menahan rasa kagum dan malu sekaligus.
Dyall menatap wanita di depannya sejenak, lalu matanya melirik ke arah Jester.
“Apa dia… bajingan yang kau teriaki semalam?” tanyanya, nada suaranya datar tapi penasaran.
Elyse menghela napas panjang. “Saya mabuk… dan apapun yang Anda dengar itu hanya ucapan orang mabuk,” ucapnya, berusaha menahan rasa malu.
Dyall diam beberapa saat.
"Saya minta maaf atas semua perkataan saya pada anda, Yang Mulia." ucap Elyse tulus dengan membungkuk.
"Tidak masalah, tapi lain kali berpikirlah dengan baik sebelum bicara agar kau tidak terlihat bodoh." sahut Dyall
Elyse akan menjawab namun Ivanka dan Jester kembali dengan Ivanka yang memegang buket bunga untuk Dyall.
“Yang Mulia, ini semua adalah bunga dari rumah kaca kami. Saya harap Anda menyukainya,” ucap Ivanka tersenyum lebar.
“Itu bagus, terima kasih,” jawab Dyall datar sambil mengangkat tangannya. Seorang pelayan dewasa yang sejak tadi berdiri segera menghampiri dan mengambil buket bunga itu dari Ivanka.
Ivanka tersenyum lebar, benar-benar terlihat senang. Namun, saat Elyse melirik Jester, tatapan lelaki itu suram dan penuh amarah.
“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali,” ucap Dyall sambil berdiri.
“Saya akan mengantar Anda ke depan, Yang Mulia,” sahut Ivanka sopan.
“Tentu,” jawab Dyall, mengulurkan tangan dengan kesopanan yang menonjolkan aura Kaisar.
Elyse dan Jester juga berdiri. Jester benar-benar tak bisa menutupi perasaan bencinya, yang jelas terlihat, namun ia tahu Dyall bukan tandingannya, apalagi ketika Ivanka meraih tangan Dyall, dan mereka berjalan bersama, meninggalkan Jester dengan rasa frustrasi yang membara.
“Jika anda begitu mencintainya, seharusnya anda menikahinya saja, bukan menikahi wanita lain yang bahkan tidak anda cintai, Duke” ucap Elyse dingin, matanya tak berpaling dari wajah Jester.
Jester mengepalkan rahangnya. “Tutup mulutmu, Elyse. Kau tidak tahu apa pun.”
“Oh saya tahu,” Elyse tertawa singkat, sinis. “Saya tahu anda memanfaatkan saya hanya untuk memastikan wanita yang anda idolakan itu naik menjadi ratu.”
Mata Jester menggelap. “Elyse-”
“Anda heran saya tahu?” Elyse memotong cepat sebelum suaranya melemah. Tapi ia tak membiarkan dirinya goyah, bukan lagi. “Jangan bertingkah seolah anda korban dalam cerita ini.”
Jester menarik napas tajam, berusaha menahan amarah. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau seharusnya berpikir sebelum bicara dan tidak hanya menyalahkan orang lain.”
“Saya?” Elyse menunjuk dirinya sendiri, matanya membara. “Menyalahkan orang lain?”
Ia mendekat selangkah, suaranya menurun menjadi bisikan tajam, lebih menyakitkan daripada teriakan.
“Lalu ini apa? Kau pikir kau tidak bersalah?”
Elyse tak menjawab, air matanya tidak jatuh, tapi hatinya jelas berantakan. Elyse mengembuskan napas pelan namun penuh luka.
“Satu-satunya kesalahanku adalah… mencintaimu.”
Langkah Elyse mundur menjauh, seolah tiap jarak yang bertambah adalah tali yang ia putuskan sendiri dari lehernya.
“Elyse-” suara Jester terdengar parau, seperti seseorang yang baru menyadari kehilangan yang terlambat.
Namun Elyse tak memberinya waktu.
“Batalkan pernikahan ini,” ujarnya tegas, “atau saya akan memastikan anda malu seumur hidup anda.”
Mata Jester membelalak, tak percaya. “Kau… kau berani mengancamku?”
“Ya,” Elyse menatapnya terakhir kali, tanpa cinta, tanpa rindu, hanya dingin.
“Saya tidak mau menikah dengan bajingan seperti anda, Duke!”Dengan itu, ia berbalik dan pergi tanpa menoleh.
Jester menatap punggungnya yang menjauh, dadanya naik turun penuh kemarahan dan rasa tak rela.
“Baik!” teriaknya akhirnya, suaranya memantul di lorong kosong.
“Lihat saja, Elyse!”Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.Bukan keheningan kosong, melainkan sunyi yang sarat dipenuhi pertimbangan, kecurigaan, dan keputusan yang tak mungkin ditarik kembali. Cahaya lampu kristal memantul lembut di lantai marmer, sementara di balik dinding-dinding tebal gedung pesta itu, dunia luar tetap riuh, tak menyadari bahwa keseimbangan kekuasaan kekaisaran sedang digeser perlahan.Adrien Leuchten menyilangkan kaki, jari-jarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme pelan. Tatapannya menembus Elyse, seolah ingin menguliti setiap lapisan keberanian yang ia tampilkan.“Kenapa kau begitu yakin?” tanyanya akhirnya. “Satu kesalahan saja, dan kau tidak hanya kehilangan posisi kau kehilangan hidupmu.”Elyse tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pela
Elyse melangkah setengah langkah ke depan, lalu membungkuk dengan anggun, sebuah hormat yang sempurna, tidak berlebihan namun cukup dalam untuk menunjukkan rasa hormatnya pada ketiga kepala keluarga itu.“Salam saya,” ucapnya tenang. “Merupakan kehormatan bisa bertemu dengan Anda semua.”Oscar Noctair terkekeh pelan, lalu meletakkan gelasnya di atas meja kecil di samping kursinya. Dengan nada santai namun jelas disengaja, ia berkata,“Dialah yang dengan percaya diri mengatakan demikian. Bahwa dia akan menjadi ratu.”Ucapan itu jatuh begitu saja, ringan namun maknanya berat.Adrien Leuchten menaikkan alisnya, lalu menoleh ke arah Calvin Valkrest. “Berani juga kau,” katanya dengan senyum
Elyse terdiam.Tidak ada keterkejutan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa dikhianati seperti yang seharusnya ia rasakan. Hanya… kepastian dan sungguh, mereka terlalu mudah ditebak.Jika ia masih Elyse yang dulu, mungkin hatinya akan hancur mendengar pengakuan itu. Mungkin ia akan merasa takut, terjebak, tak berdaya. Namun sekarang yang ia rasakan justru sebaliknya. Di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang perlahan mengeras.Jika ini permainan mereka, maka mereka telah lupa satu hal, mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang berdiri di sisi Dyall. Dan itu membuat mereka jauh lebih rapuh daripada yang mereka kira.Elyse pulang lebih cepat dari yang ia perkirakan.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, suasana hangat langs
Suara desahan tertahan terdengar di berbagai sudut aula.Beberapa orang dari faksi lama tampak terkejut, sebagian lainnya jelas tidak senang. Namun tak satu pun berani menyela. Kalimat itu terlalu mutlak. Terlalu jelas.Elyse merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.Menikah dan pewaris.Ia tahu keputusan itu bukan sekadar jawaban atas pemberontakan. Itu adalah peringatan. Ancaman halus. Sekaligus penegasan bahwa Dyall tidak akan lagi membiarkan siapa pun menggiring langkahnya, baik ke medan perang maupun ke arah politik yang mereka inginkan.Dyall menutup pertemuan itu tanpa menunggu persetujuan.“Rapat selesai,” katanya singkat.
Pertanyaan itu membuat Leon terdiam. Ia membuka mulut seolah ingin menjawab, lalu menutupnya kembali. Pada akhirnya, ia hanya menunduk kecil, sebuah sikap pasrah yang sudah menjadi jawabannya sendiri.“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi mohon tetap di dekat saya.”Leon membawa Elyse menyusuri lorong samping yang jarang dilewati orang. Mereka berhenti di balik sekat pilar tinggi, cukup jauh dari pusat aula namun masih memungkinkan untuk melihat apa yang terjadi di dalam tanpa terlihat. Tempat itu aman, terlindung bayangan, tersembunyi dari pandangan para bangsawan yang tengah sibuk dengan kecemasan mereka sendiri.Elyse menahan napas.Di tengah aula, Dyall berdiri diam. Tegak, dingin, dan tak terbaca seperti biasa. Namun Elyse tahu, di balik sikap tenangnya itu, pikirannya sedang bekerja tanpa henti.Suara-suara mulai saling bertindihan.“Perbatasan utara diserang pemberontak!”“Jumlah mereka belum pasti, namun gerakannya terorganisir.”“Jika ini dibiarkan, mereka akan semakin berani!”
Tuan Levric segera menggeleng, seolah kata-kata Dyall barusan terlalu berbahaya untuk dibiarkan menggantung.“Tidak mungkin,” katanya cepat, nadanya ditekan agar terdengar meyakinkan. “Satu-satunya yang bisa menjadi pewaris tahta adalah keturunan Rysvard. Dan hanya Anda seorang yang tersisa, Yang Mulia.”Beberapa bangsawan mengangguk pelan, seakan pernyataan itu adalah kebenaran mutlak yang tak perlu dipertanyakan.Dyall terdiam sejenak.Lalu ia bangkit.Gerakannya tenang, namun saat ia berdiri tegak, aura di aula itu berubah seketika. Kursi tahta di belakangnya seolah kehilangan maknanya karena bahkan tanpa duduk di sana pun, Dyall tetap tampak sebagai pusat kekuasaan.“Jika memang hanya aku,” ucapnya datar namun menggema di seluruh ruangan, “mengapa ada begitu banyak syarat yang harus kupenuhi… hanya agar faksi lama bersedia berdiri di pihakku?”Kata-kata itu jatuh satu per satu, tajam dan terukur.Bukan hanya Tuan Levric yang tertegun.Seluruh aula membeku.Tak ada yang berani menj






