LOGINMelihat keteguhan dan sifat nekat Dilan yang tidak bisa dibendung lagi, Pak Hendra dan Nyonya Hendra akhirnya mengalah. Mereka sadar, menahan Dilan yang sedang diselimuti rasa rindu dan penyesalan mendalam hanya akan memicu perdebatan panjang yang tak ada habisnya."Baiklah, kita temui Tiara malam ini. Tapi Mama khawatir dengan kesehatan kamu. kamu kan belum pulih," Cemas Nyonya Hendra."Nggak apa apa Ma. aku sudah baik baik saja. lihat ini!" Seru Dilan sambil berdiri lalu berjalan mondar mandir menunjukkan dirinya sudah baik baik saja. Malam itu juga, tubuh Dilan yang seharusnya masih lemah akibat sisa-sisa efek obat dan demam mendadak seperti mendapat suntikan energi baru. Rasa lelahnya menguap begitu saja digantikan oleh semangat bergelora. "Benar juga. kenapa Tuan Dilan mendadak menjadi pulih sempurna begini?" Sahut Ela merasa heran."Apa mungkin ini karena kekuatan Cinta ya Mbak Ela?" Timpal Olivia."Mungkin iya Non."Dilan tersenyum simpul mendengarnya. sementara Tuan dan Nyo
Di luar dugaan Dilan, Olivia, maupun Ela, hening yang mencekam itu tidak berujung pada ledakan amarah. Pak Hendra menghembuskan napas panjang, mengurut pangkal hidungnya pelan seolah sedang menimbang beban berat di dalam kepalanya.Pria paruh baya yang biasanya sangat keras dan dingin itu menatap Nyonya Hendra sebentar, lalu beralih memandangi putra tunggalnya."Baik," kata Pak Hendra akhirnya dengan suara rendah namun mantap. "Papa setuju."Nyonya Hendra mengangguk pelan menguatkan ucapan suaminya. "Mama juga setuju, Dilan. Sebagai orang tua yang bijak, kalau memang kita sudah berprasangka buruk dan berbuat salah pada Tiara, memang sudah kewajiban kita untuk minta maaf secara langsung padanya."Mendengar jawaban yang sama sekali tidak disangka-sangka itu, Dilan seketika terpaku. Senyum lebar yang tulus perlahan terukir di wajahnya yang masih tampak agak pucat. Rasa gembira yang luar biasa mendadak memenuhi dadanya, membakar habis sisa-sisa rasa sesak yang menghimpitnya sejak tadi
Melihat Dilan yang mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan rahang mengetat kaku, Olivia refleks menggeser duduknya mendekat. Ia memegang jemari kakaknya yang terasa dingin, mengusapnya perlahan untuk meredam amarah yang mulai menyala di dada Dilan."Kak, udah ya... tenang dulu," bisik Olivia lembut, matanya menatap Dilan dengan raut khawatir. "Papa sama Mama kan tidak bilang menolak sama sekali. Cuma butuh waktu biar semuanya bisa diselesaikan baik-baik tanpa bikin masalah baru."Ela, yang baru saja kembali dari arah dapur sambil membawa nampan berisi teh hangat dan air putih, bergegas meletakkan cangkir-cangkir itu di atas meja. Melihat kondisi Dilan yang kembali tegang, Ela ikut berlutut pelan di samping sofa dekat posisi Dilan duduk."Iya, Pak Dilan... tolong jangan emosi dulu," tutur Ela dengan suara yang sangat halus dan menenangkan. "Kondisi tubuh Bapak kan baru saja membaik dari demam tadi. Kalau Bapak stres lagi, nanti badannya panas lagi. Tolong diatur napasnya dulu, Pak."
Belum sempat Dilan membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Ela, langkah kaki Pak Hendra terdengar mendekat dari arah ruang makan utama. Pria paruh baya itu melangkah cepat menghampiri area sofa tempat anak-anaknya berkumpul."Dilan, Oliv," panggil Pak Hendra dengan nada suara yang tertata rapi. "Para tamu di dalam sudah mau berpamitan pulang. Ayo berdiri sebentar, temani Papa dan Mama antar mereka sampai pintu depan."Dilan menghembuskan napas pelan, menekan perasaan kalut di dalam dadanya. Ia membatalkan niatnya menjawab pertanyaan Ela dan perlahan bangkit berdiri. Olivia dengan sigap memegangi lengan kakaknya, ikut melangkah bersama Dilan dan Pak Hendra menuju area foyer utama.Di pintu depan, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sibuk bersalaman serta menyampaikan rasa terima kasih kepada para relasi bisnis mereka. Dilan dan Olivia hanya berdiri mendampingi sambil tersenyum tipis formal. Tak lama kemudian, rombongan tamu tersebut melaju pergi meninggalkan kediaman Dirgantara.Setelah p
Setelah Dita dan Susi diseret keluar oleh petugas keamanan, suasana di ruang tengah perlahan mulai mereda, meski canggung masih terasa sangat pekat di udara.Olivia yang panik melihat kondisi kakaknya langsung memegang lengan Dilan. "Kak, ayo duduk dulu di sofa. Muka Kakak makin pucat, jangan dipaksa berdiri terus."Dengan langkah perlahan, Olivia menuntun Dilan menuju area sofa besar di lantai bawah. Dilan menurut tanpa bersuara, mendudukkan tubuhnya yang terasa kaku dan pening di atas busa empuk. Begitu Dilan duduk, Alena dan Ela yang sejak tadi tidak lepas mengawasi langsung mengambil posisi di sisi kanan dan kiri sofa.Alena tanpa ragu duduk rapat di samping Dilan, tangannya masih memegang kain kompresan hangat yang dibawanya dari atas, sementara matanya terus menatap Dilan dengan raut khawatir yang dibuat-buat. Di sisi lain, Ela duduk sedikit di sudut sofa bagian kiri, menjaga jarak yang sopan namun posisinya cukup dekat untuk tetap sigap melayani jika Dilan membutuhkan sesuat
Melihat tangannya ditepis dan dihalangi oleh tiga wanita sekaligus, Dita bukannya mundur, melainkan makin ngeyel. Dengan mata yang mulai memerah, ia mencoba merangsek naik satu anak tangga lagi."Dilan, tolong dengarkan aku dulu!" seru Dita dengan suara bergetar, mengabaikan tatapan heran dari para tamu bisnis di ruang tengah. "Aku ke sini cuma mau tahu keadaan kamu! Aku khawatir, Dilan! Kenapa kamu malah membiarkan wanita-wanita ini melarang aku mendekat? Aku ini...""Cukup, Dita!"Suara Dilan memotong tajam, memutus kalimat Dita seketika. Suara itu tidak berteriak, namun nada dingin dan ketegasannya membuat seluruh ruangan mendadak hening. Dilan melangkah turun satu anak tangga, menatap Dita lurus-lurus dari ketinggian dengan pandangan tanpa emosi."Pergi dari rumahku sekarang," tegas Dilan, suaranya terdengar sangat jelas. "Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Keputusanku sudah final dan persidangan perceraian kita juga sudah selesai. Jangan pernah datang ke sini lagi."







