Share

Bab 254

Author: Millanova
last update publish date: 2026-07-18 10:39:15

Kekacauan di ruang makan perlahan mulai mereda setelah Clarissa dan Dion meninggalkan ruangan dengan wajah menahan malu dan amarah. Para pelayan lain segera bergegas masuk dengan lap dan alat pel, membantu membersihkan tumpahan air es dan memunguti pecahan gelas kristal yang berserakan di atas lantai marmer.

Ratih masih berdiri di samping kursi kehormatan. Tangannya dengan lembut dan penuh perhatian mengusap punggung neneknya yang mulai bernapas dengan normal.

"Eyang sudah tidak apa-apa?" tanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 255

    "Sayang sekali..."Gumam pelan itu memotong makian Clarissa. Suaranya terdengar sangat polos dan nyaris seperti bisikan, namun anehnya mampu membelah ketegangan di ruang makan utama mansion Cokro yang luas tersebut.Kukuh masih menunduk sambil memegang nampan kosong. Ia tidak memohon ampun atau menunjukkan kepanikan seperti pelayan pada umumnya. Ia justru menghela napas pelan, menatap lurus ke perhiasan di dada wanita itu dengan raut wajah prihatin yang dibuat-buat."Nona Clarissa marah-marah karena gaun yang sangat mahal," lanjut Kukuh dengan nada tanpa dosa. "Padahal Tuan Dion baru saja ditipu habis-habisan oleh kolektor itu. Safir hitam yang Nona banggakan itu ternyata cuma barang tambalan."Hening.Ruang makan utama bergaya Eropa klasik itu mendadak senyap. Wajah Clarissa yang tadinya merah padam karena amarah, kini berkerut bingung.Dion mendengus kasar, memaksakan sebuah tawa arogan yang terdengar sumbang. "Apa kau bilang, gembel?! Kau pikir asisten rendahan sepertimu tahu apa s

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 254

    Kekacauan di ruang makan perlahan mulai mereda setelah Clarissa dan Dion meninggalkan ruangan dengan wajah menahan malu dan amarah. Para pelayan lain segera bergegas masuk dengan lap dan alat pel, membantu membersihkan tumpahan air es dan memunguti pecahan gelas kristal yang berserakan di atas lantai marmer.Ratih masih berdiri di samping kursi kehormatan. Tangannya dengan lembut dan penuh perhatian mengusap punggung neneknya yang mulai bernapas dengan normal."Eyang sudah tidak apa-apa?" tanya Ratih dengan nada khawatir yang tulus, memastikan sisa-sisa energi negatif itu tidak lagi menyakiti sang matriark.Sang Eyang menarik napas panjang. Rongga dadanya yang beberapa menit lalu serasa tercekik, kini terasa jauh lebih longgar dan segar."Sudah tidak apa-apa, Tih. Tiba-tiba saja Eyang langsung enakan," jawab Eyang Putri dengan suara yang masih sedikit serak. Mata rentanya yang tajam kemudian melirik ke arah Kukuh yang sedang berjongkok memunguti serpihan kaca dalam diam. "Dan ini... k

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 253

    "Kalian semua benar-benar harus menyempatkan diri mampir ke resor terbaru yang baru saja diresmikan Dion di Seminyak bulan lalu. VVIP lounge-nya didesain khusus oleh arsitek dari Milan. Tentu saja, pelayanan untuk keluarga sendiri pasti akan kami bedakan," suara Clarissa mengalun dengan nada merdu yang sengaja ditinggikan, memastikan setiap pasang telinga menangkap pameran kesuksesannya."Ah, tentu saja, Cla. Nanti paman dan bibi atur jadwal ke Bali kalau urusan bisnis di Jakarta sudah beres," sahut salah satu kerabat dengan senyum basa-basi yang kental akan formalitas."Iya, lagipula Dion kan memang selalu punya selera yang tinggi," timpal kerabat lainnya menyanjung.Ruang makan utama mansion Keluarga Cokro siang itu dipenuhi oleh keriuhan yang elegan. Ruangan raksasa bergaya klasik Eropa tersebut memancarkan kemewahan dari setiap sudutnya. Sebuah meja kayu mahoni panjang yang bisa menampung tiga puluh orang membentang di tengah ruangan, dihiasi oleh peralatan makan perak dan gelas k

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   OFF hingga tanggal 17

    Untuk pembaca saya, update akan OFF hingga tanggal 17 dan akan di update lagi di tanggal 18 Terimakasih.

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 252

    Jumat pagi menjelang akhir pekan, kediaman utama Keluarga Cokro sudah sibuk sejak matahari baru saja terbit. Arisan Keluarga Besar yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukanlah sekadar ajang silaturahmi, melainkan medan pamer kekayaan dan unjuk gigi bagi seluruh cabang silsilah keluarga konglomerat tersebut.Berbagai mobil mewah mulai berbaris memasuki pelataran rumah. Para kerabat jauh, paman, bibi, hingga sepupu-sepupu Ratih yang menetap di luar kota mulai berdatangan untuk menginap.Kukuh, yang menyadari posisinya di mata keluarga besar, memilih mengenakan kemeja rapi yang sederhana. Ia berdiri di dekat pilar garasi bersama Pak Supri, membantu mengarahkan barang bawaan para tamu agar tidak menghalangi jalan.Tak lama kemudian, sebuah sportscar Eropa berwarna merah menyala dengan suara mesin yang memekakkan telinga memasuki pelataran. Pintu mobil terbuka ke atas. Dari kursi penumpang, turunlah Clarissa sepupu Ratih dari cabang keluarga kedua yang terkenal paling suka mencari pe

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 251

    Malam harinya, setelah hiruk-pikuk aktivitas siang yang melelahkan, Kukuh menepati janjinya kepada Pak Supri. Berbekal pakaian kasualnya yang sederhana, Kukuh menemani sopir paruh baya itu menyusuri keramaian Pasar Loak.Lampu-lampu bohlam kuning yang temaram menerangi deretan lapak yang digelar di atas terpal plastik. Udara malam dipenuhi oleh aroma debu, karat, dan suara musik dangdut dari radio usang para pedagang. Pak Supri tampak sangat antusias, matanya berbinar-binar saat ia berjongkok di salah satu lapak untuk menawar sebuah radio kayu antik peninggalan era 80-an."Kuh, kamu lihat-lihat saja dulu di sekitar sini. Bapak mau adu tawar sama pedagang ini, kayaknya radionya masih bisa bunyi!" seru Pak Supri tanpa menoleh, terlalu fokus pada barang buruannya."Siap, Pak. Saya muter di dekat-dekat sini saja," balas Kukuh santai.Kukuh melangkah pelan meninggalkan Pak Supri. Tangannya masuk ke dalam saku jaket. Di tengah tumpukan barang rongsokan dan barang antik palsu yang membanjiri

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 63

    Waktu seakan berhenti merayap. Tanpa ancang-ancang, tubuh rentan Pak Supri melesat ke depan. Bukan lari, bukan pula melompat, melainkan terlempar dengan cara yang sangat menyalahi hukum alam seperti boneka kayu yang talinya disentak paksa oleh dalang gaib. Pria paruh baya itu menerjang udara, rahan

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 59

    Dua jam telah berlalu sejak Long SUV hitam itu melintasi batas dua dunia yang hanya disadari oleh Kukuh. Perjalanan terasa seperti terjebak dalam lorong waktu yang melingkar tanpa henti. Di luar kaca jendela, pemandangan sama sekali tidak berubah; hanya ada deretan batang pohon raksasa yang berkele

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 58

    Setelah merayap pelan meninggalkan titik pertemuan dengan pria misterius berjaket kulit tadi, ketegangan di dalam mobil sedikit mereda meski rasa waspada tetap menggantung di udara. Sekitar lima ratus meter kemudian, sorot lampu kota dari Long SUV hitam itu menabrak sebuah pemandangan yang menandak

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 37

    Ketegangan yang menyelimuti taman belakang itu belum sepenuhnya reda ketika suara hak sandal perlahan berketuk di lantai teras marmer.Ratih baru saja berjalan melewati pintu kaca pembatas taman. Ia mengenakan gaun tidur sutra selutut yang membalut sempurna tubuhnya yang terbentuk bak gitar Spanyol

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status