LOGINSatu jam sudah mereka berjalan. Dan kemudian Bella menoleh.Bukan karena mendengar sesuatu. Karena merasakan sesuatu. Udara di belakang mereka berubah. Membawa bau yang seharusnya tidak ada di hutan pada malam yang tadinya cerah.Bella mengangkat wajahnya ke atas. Ke celah di antara dahan-dahan pohon yang menghalangi langit. Dan melihatnya.Kilatan.Petir menyala di langit di atas mereka. Seperti langit sedang retak dan cahaya putih menyembur dari setiap retakan."Aroma hujan," ucap Bella sambil menghentikan langkahnya. Hidungnya mengembang. Menghirup udara yang tiba-tiba terasa berbeda. Basah. Berat. Penuh. "Secepat itukah hujan datang? Yang tadinya kita melihat ritual itu di bawah bulan purnama?"Kukuh menoleh. Farhan menoleh. Dan di langit yang terlihat dari celah dahan, bulan purnama yang tadi menerangi halaman balai desa sudah hilang. Ditelan oleh awan hitam yang bergerak terlalu cepat untuk menjadi awan biasa. Dan di balik awan itu, petir terus menyala.Bangkit mengangkat tanga
"Kuh," ucap Farhan sambil berjalan di samping Kukuh. Napasnya masih tersengal. Kakinya masih gemetar. Tapi otaknya sudah mulai bekerja lagi. "Kita ambil barang-barang kita di Puskesdes dulu. Sekalian kita turun, kan ini satu arah."Kukuh mengangguk tanpa melambatkan langkah. "Iya, Han. Sekalian kita turun sambil mengemasi barang."Mereka berbelok dari jalan utama desa. Menuju Puskesdes yang berdiri di ujung jalan setapak. Lampu minyak di dalamnya masih menyala. Redup. Kuning. Seperti mata yang setengah terpejam dan menolak untuk benar-benar tidur.Farhan masuk pertama. Langsung ke kamar belakang. Menarik tas ranselnya dari bawah tempat tidur. Membuka resleting. Mengeluarkan tiga bungkus roti yang sudah gepeng dan satu botol air mineral yang tinggal setengah. Memasukkan keduanya ke dalam tas. Menutup resleting."Roti doang?" tanya Bella dari ambang pintu. Alisnya terangkat."Roti, air, sama kaos kaki cadangan," jawab Farhan sambil mengikat tali tasnya. "Sisanya tinggal. Kita nggak butu
"Mas," ucap Sari. Suaranya pelan. Serak. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak bicara dengan suaranya sendiri dan kini harus belajar lagi. "Segera bawa teman-teman Mas turun dari desa ini. Dan pergi. Meninggalkan tempat ini."Kukuh tidak menjawab. Hanya menatap Sari. Menatap perutnya yang masih menganga cairan hitam yang sudah berhenti mengalir tapi belum mengering. "Terima kasih sudah mencoba menolongku, Mas," lanjut Sari. Suaranya turun. Lebih pelan. Lebih berat. Seperti seseorang yang sedang meletakkan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pikul dan kini akhirnya bisa bernapas. "Tapi aku ikhlas. Aku akan pergi dengan tanah dan desa ini, Mas Kukuh."Kukuh terdiam.Bukan karena tidak tahu harus berkata apa. Karena kata-kata yang ingin ia ucapkan terlalu besar untuk keluar dari mulutnya. "Tapi Sar," ucap Kukuh. Suaranya turun. Lebih pelan dari biasanya. Lebih berat. Seperti seseorang yang sedang mencoba mengangkat sesuatu yang terlalu berat untuk satu punggung. "Aku bisa me
Kukuh tidak bergerak. Matanya masih terkunci pada sosok kecil yang minum dari dada Sari. Pada cakar-cakar yang mencengkeram kemben robek. Pada perut yang masih menganga dan cairan hitam yang masih menetes ke tanah.Dan di kepalanya, satu pikiran berputar. Pelan. Berat. Tidak bisa dihentikan.Ritual ini bukan paksaan. Bukan penculikan. Bukan kejahatan yang dilakukan oleh segelintir orang terhadap satu korban. Ini kesepakatan. Dua ratus warga. Tujuh generasi. Empat belas nyawa yang sudah dibayar dan empat belas kali panen yang sudah dinikmati. Mereka tahu. Mereka memilih. Dan mereka akan melakukan ini lagi. Sepuluh tahun dari sekarang. Dan sepuluh tahun setelahnya.Kukuh menatap warga yang masih bersujud. Dahi mereka di tanah. Tangan terentang. Bibir bergerak mengucapkan doa yang sama. Dan di mata mereka yang terpejam, tidak ada penyesalan. Tidak ada keraguan. Hanya rasa syukur.Percuma. Kalau aku berdiri sekarang dan berteriak bahwa ini salah, bahwa empat belas wanita sudah mati untuk
"Kita tunggu sampai mereka bubar. Sampai desa ini tidur. Dan baru kita....."KRAAAKKK.Suara itu memotong kalimat Kukuh di udara. Bukan suara gamelan. Bukan suara tawa. Bukan suara piring yang jatuh ke tanah.Suara daging yang robek.Dari perut Sari.Kemben batik bermotif gunung itu terbelah dari dalam. Bukan terbuka. Terbelah. Seperti kain yang tidak kuat lagi menahan sesuatu di baliknya. Dan dari celah robekan itu, cairan hitam mengalir. Kental. Lambat. Menetes ke tanah dengan bunyi yang seharusnya tidak terdengar tapi terdengar. Jelas. Di antara semua keheningan yang tiba-tiba menelan halaman balai desa.Dan dari balik robekan itu, tangan kecil muncul.Jari-jarinya kurus. Pucat. Terlalu panjang untuk tangan bayi. Dan di ujung setiap jari, cakar. Hitam. Tajam. Melengkung seperti sabit kecil. Cakar itu mencengkeram tepi robekan. Menarik. Meregangkan kulit yang sudah terlalu tipis untuk menahan apa pun.Bella muntah.Tidak menahan. Tidak memalingkan wajah. Tubuhnya membungkuk dan isi
"Yo iki seng di enteni!" teriak salah satu warga dari lingkaran. Pria tua. Suaranya pecah oleh kegembiraan. Tangannya terangkat. Air matanya mengalir. "Subure lemah deso iki kanggo sepuluh tahun maneh!"Warga lain menyambut. Berseru. Bertepuk tangan. Memukul-mukul tanah dengan telapak tangan mereka. Seperti sedang berterima kasih pada tanah yang sudah terlalu lama memberi dan kini akhirnya meminta imbalan.Farhan menatap perut Sari yang membesar. Mulutnya terbuka. Tangannya mencengkeram tikar di bawahnya. Jari-jarinya menekan terlalu keras. "Kuh... itu... itu nggak mungkin...""Diam," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tajam. Matanya tidak berkedip. Menatap perut Sari. Menatap kain kemben yang semakin menegang. Menatap sesuatu di balik kain itu yang bergerak dan menekan dan meregang.Dan kemudian kemben itu terbuka.Bukan ditarik. Bukan disobek. Terbuka sendiri. Kain itu terlepas dari tubuh Sari seperti kulit yang mengelupas dari buah yang terlalu matang. Dan di balik kain itu, perut Sari
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka







