MasukDORRR...!!!Suara letusan peluru yang memekakkan telinga memecah keheningan pagi di lereng Gunung Kawi.Timah panas itu melesat cepat dan menghantam tepat di kening Kukuh. Pemuda itu terhuyung ke belakang, lalu ambruk menghantam tanah berdebu."Hahaha! Lihatlah sampah yang mencoba menjadi pahlawan ini!" ejek Pak Rio dengan mata terbelalak bangga, menatap tubuh Kukuh yang terkapar. "Mati mengenaskan hanya dengan satu timah panas! Kalian pikir "Ucapannya terhenti di kerongkongan. Tawa para ajudan itu mendadak mati."A apa... monster apa kau ini?!" jerit ajudan yang menembaknya, kakinya bergetar hebat hingga pistol di tangannya nyaris terjatuh.Dipenuhi amarah murni yang membangkitkan kebuasan purba di dalam nadinya, Kukuh melesat maju bak kilatan bayangan. Tangan pemuda itu merampas pistol dari tangan sang ajudan dengan tenaga yang meremukkan tulang pergelangan tangan pria kekar tersebut.Kukuh memutar moncong pistol baja itu, menempelkannya tepat di pelipisnya sendiri, lalu menarik pe
"Loh... Mas... Mas...!"Sebuah tepukan kasar di bahu membuyarkan ketegangan Kukuh. Pemuda itu tersentak dan menoleh ke belakang. Salah satu ajudan Pak Rio yang bertubuh kekar kini sudah berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh keheranan bercampur geli."Mas, cepet pakai bajunya, Mas! Di sini dingin sekali, ngapain Sampean lepas baju di tengah acara begini?" tegur ajudan itu sambil menyodorkan kemeja Kukuh yang tergeletak di tanah.Kukuh terkesiap. Wajahnya seketika memerah menahan malu.(Sial! Kenapa ajudan ini bisa melihatku?!) rutuk Kukuh dalam hati. (Oh, bodohnya aku! Dokter Harsha tadi melepaskan sukma raganya menuju dimensi gaib, makanya wujud fisiknya tidak terlihat oleh manusia biasa. Sedangkan aku... aku cuma melepas baju secara fisik supaya auraku tidak terdeteksi oleh lelembut! Jelas saja manusia normal masih bisa melihatku berkeliaran pakai celana dalam!)Otak Kukuh berputar cepat mencari alasan. Ia segera memejamkan mata sejenak, lalu membukanya dengan pandangan linglung
(Ke mana Dokter Harsha? Kenapa lama sekali? Sudah hampir setengah jam dia tidak kembali...) batin Kukuh gelisah.Tubuh pemuda itu masih menegang kaku di atas kursinya. Matanya tak lepas dari sosok mengerikan Giman yang sedang berdiri meneteskan liur berbau bangkai tepat di depan wajah Dita. Waktu terasa berjalan sangat lambat, mencekik setiap helaan napasnya.Tiba-tiba, dari arah sudut kanan panggung yang tertutup bayang-bayang gelap, sebuah siluet melangkah maju.Kukuh memicingkan mata, dan napasnya nyaris tercekat karena keheranan. Siluet itu adalah Dokter Harsha. Namun, penampilannya benar-benar berbeda. Pria sepuh itu kini bertelanjang dada, tanpa alas kaki, dan hanya mengenakan celana pendek selutut! Jubah kebesarannya, kemejanya, dan seluruh atribut modernnya telah ia tinggalkan di kegelapan.Kukuh buru-buru menoleh ke kiri dan ke kanan, mengamati reaksi Pak Rio dan para ajudannya.Lagi-lagi, keganjilan absolut terjadi. Pak Rio, Silvi, dan semua orang yang duduk di kursi penonto
(Apakah ini perewangan dari Pak Rio? Apakah mereka semua adalah Kolo?) batin Kukuh panik. Keringat dingin membanjiri punggungnya.Ia melirik cepat ke arah Pak Rio. Betapa terkejutnya Kukuh saat melihat konglomerat itu masih duduk dengan santai, memangku putrinya sambil tersenyum menatap panggung yang kosong akibat berhentinya sang dalang. Para ajudannya pun tampak biasa-biasa saja. Rupanya, tabir gaib malam itu begitu tebal hingga hanya Kukuh dan Dokter Harsha yang bisa melihat lautan entitas kelaparan yang sedang menatap rakus ke arah mereka.Di saat nyawa mereka terasa berada di ujung tanduk, dari balik layar kain kafan itu, suara serak Pak Ronggo kembali memecah keheningan dengan lantang."Swuh rep purna sanyata. Kasenandhan ing madyaning wana Dhandhaka, katon remeng-remeng kawuryan megahing raras. Nalika samana, Sang Dewi Sinta, garwanira Raden Permadi utawi Sri Ramawijaya, nembe mriksani sesawangan ingkang asri..."Alunan suluk itu kembali mengudara, diiringi tabuhan gamelan yang
Dokter Harsha tidak menoleh sedikit pun. Pria sepuh itu hanya mengangkat tangan kanannya yang keriput, menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. Sebuah isyarat mutlak bagi asistennya untuk diam dan membiarkan semuanya terjadi. Kukuh langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, membiarkan Mata Batin-nya yang mengambil alih penglihatan.(Apakah dia orang desa dari lereng bawah?) batin Kukuh, matanya menyipit saat melihat sesosok pria tiba-tiba berjalan gontai ke arah depan geber (layar panggung) dan duduk bersimpuh di atas tanah basah. (Mungkin dia mendengar alunan gamelan tadi, makanya dia mencari sumber suaranya ke mari. Tapi... tunggu dulu. Kenapa dia tidak menggunakan alas kaki sama sekali di tengah hutan bersuhu sedingin ini?)Belum tuntas keheranan Kukuh, dari balik sela-sela kabut tebal yang menyelimuti pekarangan, muncul lagi dua sosok laki-laki. Penampilan mereka jauh lebih ganjil. Yang satu berambut panjang dan diikat gelung kuno layaknya abdi dalem keraton masa lampau sedangkan yan
Nang... ning... nong... neng...Suara gamelan mulai ditabuh memecah keheningan lereng Gunung Kawi. Awalnya pelan, mengalun penuh mistis, lalu perlahan temponya menanjak naik dan semakin kencang. Bayangan gunungan (kayon) dari kulit sapi itu kini menari-nari di atas geber kain kafan, disorot oleh cahaya kuning keemasan dari api blencong yang bergoyang tertiup angin malam.Kukuh yang duduk di barisan penonton merasakan bulu kuduknya meremang."Kuh..." bisik Dokter Harsha tanpa menoleh, matanya tetap menatap lurus ke arah panggung layar putih itu. "Ini sudah dimulai. Kamu harus waspada, dan jangan bingung atau panik dengan apa pun yang kamu lihat nanti.""Baik, Dokter," jawab Kukuh dengan nada mantap, mengumpulkan konsentrasi penuh pada Mata Batin-nya.Di kursi sebelah Dokter Harsha, Pak Rio tampak menyunggingkan senyum lebar. Konglomerat itu terlihat sangat puas dan menikmati alunan gamelan saat Pak Ronggo menancapkan gunungan ke gedebog pisang, menandakan lakon Kidang Kencana resmi dib
Mendengar bantahan polos dari Kukuh, senyum di wajah Dokter Harsha tidak memudar, melainkan semakin mengembang. Pria tua yang sarat akan kebijaksanaan itu menatap Kukuh dengan tatapan yang sangat teduh, namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan."Begini, Nak Kukuh," ucap Dokter Harsha pelan,
Di atas ranjang bambu kuning itu, Ratih tak lagi merintih. Tarikan napasnya panjang dan damai. Kutukan Areng yang tadi menggurita di bawah kulit lehernya telah lenyap tak berbekas, menyisakan permukaan pualam yang bersih tanpa cacat. Alkimia darah sang dewa medis bekerja dengan kemutlakan yang meng
Kukuh duduk bersandar kaku di atas sofa jati ukir. Sepasang mata elangnya memicing, mengunci setiap inci pergerakan di depan matanya. Baginya, ini bukan sekadar prosedur medis; ini adalah demonstrasi kekuasaan mutlak dari sang legenda.Tidak ada kemenyan, kembang setaman, atau rapalan mantra berbah
Di dalam ruang rahasia yang luas itu, Dokter Harsha melangkah perlahan mendekati kursi roda Ratih. Matanya yang setajam elang menelisik sisa-sisa luka melepuh di leher dan lengan wanita cantik tersebut."Sejak kapan Ratih terkena penyakit seperti ini, Nak Kukuh?" tanya Dokter Harsha, suaranya berat







