Share

Bab 9

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-08 22:59:55

Sisa-sisa abu keemasan dari tubuh Prabu Anom telah lenyap ditelan udara malam, namun energi suci yang ditinggalkannya masih menggetarkan ruangan itu. Hawa busuk yang selama puluhan tahun mencekik bangunan itu telah lenyap tak berbekas.

Ujang, penjaga gaib yang kesaktiannya sangat ditakuti, kini beringsut maju. Ia meraih ujung sepatu bot karet Kukuh yang kumal dan menundukkan dahinya hingga mencium lantai kayu! .

"Tuan Muda," isak Ujang, suaranya bergetar oleh kesetiaan mutlak. "Sesuai titah ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 536

    "Jamu kunyit asamnya berapa, Mbak?"Sari Wulan mengangkat wajahnya dari tumbukan jamu. Menatap pembeli yang baru saja bertanya. Pria paruh baya. Kaos lurik. Tangan kasar."Lima ribu, Pak.""Boleh tiga?""Boleh."Sari Wulan mengambil tiga botol jamu dari rak. Menyerahkannya pada pria itu. Menerima uang. Mengangguk. Dan kembali menumbuk kunyit di lesung batu. Pelan. Berirama. Seperti sesuatu yang sudah ia lakukan setiap hari selama dua puluh satu tahun.Kukuh berdiri di depan lapak itu. Tidak langsung bicara. Hanya berdiri. Menatap.Sari Wulan tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang mengerikan. Tidak ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tidak ada gemetar di tangannya. Tidak ada kegelisahan di cara ia duduk atau berdiri atau menumbuk kunyit.Hanya ketenangan.Ketenangan yang berbeda. Bukan ketenangan seseorang yang tidak tahu. Bukan ketenangan seseorang yang tidak peduli. Ketenangan seseorang yang sudah tahu dan sudah memutuskan untuk tidak melawan."Mas dokte

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 535

    "Kuh, kau lihat ini."Bella berdiri di depan lemari arsip Puskesdes. Pintu lemari terbuka. Tangannya memegang sebuah buku besar. Sampulnya sudah pudar. Jilidnya sudah longgar. Seperti buku yang sudah terlalu sering dibuka dan ditutup oleh terlalu banyak tangan selama terlalu banyak tahun.Kukuh berjalan mendekat. "Apa?""Buku catatan kelahiran." Bella menggeser buku itu ke meja. Membuka halaman pertama. "Aku lagi nyari data pasien lama. Dan aku nemu ini di rak paling belakang. Di belakang buku register yang kosong."Kukuh menatap buku itu. Menatap halaman yang terbuka. Dan mengernyit.Catatan kelahiran. Normal. Nama bayi. Tanggal lahir. Jenis kelamin. Berat badan. Nama ibu. Nama ayah. Semua standar. Semua biasa.Tapi ada satu kolom tambahan.Kolom yang tidak ada di catatan kelahiran mana pun yang pernah Kukuh lihat. Kolom yang tidak ada di buku kedokteran mana pun. Kolom yang tidak seharusnya ada di fasilitas kesehatan modern.Neptu."Apa itu?" tanya Kukuh. Meskipun ia sudah tahu. Mes

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 534

    "Kuh, kau nggak takut?"Farhan bertanya dari tempat tidurnya. Suara serak. Setengah sadar. Seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk takut tapi belum cukup lelah untuk tidur.Kukuh berbaring di tempat tidurnya. Mata terbuka. Menatap langit-langit Puskesdes. Tripleks. Noda air. Sarang laba-laba."Nggak.""Gimana bisa nggak takut? Bella nulis nama-nama yang nggak dia kenal. Bangkit lihat sesuatu di setiap fotonya. Aku makan tanah siang tadi. Dan kau cuma bilang nggak?"Kukuh tidak menjawab langsung. Karena jawaban yang jujur bukan sesuatu yang bisa ia ucapkan. Karena jawaban yang jujur melibatkan sesuatu yang sudah terlalu lama ia simpan. Sesuatu yang mengalir di nadinya sejak lahir dan tidak pernah benar-benar bisa ia hilangkan."Karena takut nggak mengubah apa pun, Farhan."Farhan mendengus. "Itu jawaban paling nggak membantu yang pernah aku denger.""Maaf.""Nggak. Aku terima. Kau memang gitu." Farhan menggeliat. Memunggungi Kukuh. Dan dalam tiga puluh detik, dengurnya sudah t

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 533

    Kalau aku nggak motret, aku nggak akan tahu.Bangkit berdiri di tepi sawah. Kamera terangkat. Lensa terarah ke hamparan padi yang menguning di bawah matahari sore. Angin berhembus pelan. Membuat padi bergoyang seperti lautan emas. Normal. Indah. Tenang.Dan Bangkit tahu bahwa di suatu tempat di dalam frame itu, sosok itu ada.Kalau aku motret, aku akan tahu. Dan kalau aku tahu, aku bisa melawan.Bangkit menekan tombol rana.Klik.Foto pertama. Bangkit menurunkan kamera. Menatap layar.Sawah. Padi menguning. Langit jingga. Dan di latar belakang. Di ujung sawah. Di batas antara padi dan hutan.Sosok putih. Berdiri. Jauh. Sekitar seratus meter. Tidak bergerak. Menatap ke arah kamera.Bangkit menelan ludah. Jari-jarinya gemetar di atas kamera. Tapi tidak berhenti. Karena Bangkit sudah memutuskan. Kali ini, Bangkit yang memotret. Bukan sosok itu yang memotret Bangkit. Kali ini, Bangkit yang memegang kendali.Bangkit menggeser posisi. Dua langkah ke kanan. Mengangkat kamera. Mengarahkan ke

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 532

    "Nasi gorengnya satu, Mbak. Pedes. Telurnya dua."Farhan duduk di bangku plastik pasar desa. Tangan kirinya sudah memegang sendok. Tangan kanannya sudah memegang gelas es teh. Dan di depannya, piring nasi goreng yang baru saja diangkat dari wajan. Mengepul. Harum. Normal."Mbak Sumi, gorengannya juga ya. Lima."Mbak Sumi tersenyum. Mengambil lima gorengan dari wajan. Meletakkannya di piring kecil. Menyerahkannya pada Farhan."Silakan, Mas."Farhan tersenyum. Lega. Normal. Setelah tiga malam yang tidak bisa ia jelaskan ..... suara riuh dari bawah tanah, Bella yang menulis nama-nama yang tidak ia ketahui, Bangkit yang tidak bicara dan tidak tidur ..... nasi goreng ini adalah satu-satunya hal yang masih masuk akal.Farhan menyendok nasi goreng. Memasukkannya ke mulut. Mengunyah. Menelan.Enak. Normal. Nyata.Farhan menyendok lagi. Lebih besar kali ini. Mulutnya penuh. Pipinya menggembung. Dan mengunyah.Satu kunyahan.Dua kunyahan.Tiga kunyahan.Dan Farhan berhenti.Bukan karena rasanya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 531

    "Bella."Kukuh mengucapkan nama itu dengan nada yang berbeda. Bukan pertanyaan. Bukan sapaan. Peringatan.Bella tidak menoleh. Masih duduk di meja sudut Puskesdes. Lampu minyak menyala di sampingnya. Meskipun matahari sudah naik. Meskipun seharusnya tidak perlu lampu di siang hari. Bella tidak menyadarinya. Atau tidak peduli."Bella."Tidak ada respons. Pulpen Bella terus bergerak di atas kertas. Cepat. Rapat. Tanpa jeda. Tanpa henti. Seperti mesin yang tidak bisa dimatikan.Kukuh melangkah mendekat. Perlahan. Tidak terburu-buru. Seperti seseorang yang mendekati binatang liar yang sedang minum dan tidak mau mengagetkannya."Bella, kau sudah nulis sejak jam empat pagi."Pulpen itu tidak berhenti."Aku lihat dari kamar. Kau nggak pindah dari meja itu. Nggak makan. Nggak minum. Nggak ngomong."Pulpen itu tidak berhenti.Kukuh berdiri di belakang Bella. Menatap buku catatan yang terbuka di depannya. Dan membaca apa yang Bella tulis.Bukan data pasien. Bukan angka tekanan darah. Bukan hasi

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status