LOGINMalam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eyang Putri mereka! .Di tengah gelimang harta para bangsawan itu, Kukuh berdiri di sudut. Ia memakai seragam pelayan hitam putih, memegang nampan perak berisi gelas kotor . Di atas kertas ia adalah suami Ratih, tapi di ruangan ini ia tak lebih dari babu yang membersihkan sisa makanan .Handoko menenggak anggurnya dengan dada membusung. Mengingat kejadian tadi siang, darah arogannya mendidih. Ia sengaja mengeraskan suara agar seisi ruangan mendengarnya."Tante Dian!" panggil Handoko licik, menunjuk lurus ke arah Kukuh. "Aku benar-benar mual! Bagaimana bisa perempuan sekelas Ratih bersanding dengan gembel ini?! Ini penghinaan kasta, Tante!" .Ruangan mendadak senyap. Semua bangsawan menatap pemu
Sisa-sisa abu keemasan dari tubuh Prabu Anom telah lenyap ditelan udara malam, namun energi suci yang ditinggalkannya masih menggetarkan ruangan itu. Hawa busuk yang selama puluhan tahun mencekik bangunan itu telah lenyap tak berbekas.Ujang, penjaga gaib yang kesaktiannya sangat ditakuti, kini beringsut maju. Ia meraih ujung sepatu bot karet Kukuh yang kumal dan menundukkan dahinya hingga mencium lantai kayu! ."Tuan Muda," isak Ujang, suaranya bergetar oleh kesetiaan mutlak. "Sesuai titah terakhir Gusti Prabu, raga dan nyawa hamba kini adalah tameng Anda. Izinkan hamba mengikuti Anda ke ibu kota!".Kukuh buru-buru menarik kakinya. Perutnya mulas. Sepanjang hidupnya ia hanya diinjak-injak, tiba-tiba disembah oleh ahli ilmu gaib membuatnya merinding ."Berdiri, Pak Ujang!" perintah Kukuh sambil memegang bahu pria tua itu. "Bapak tidak usah ikut ke Jakarta. Saya di sana cuma kuli bersih-bersih. Kalau tiba-tiba punya pengawal, identitas saya terbongkar!" .Ujang menggeleng keras, rahang
Air mata pria tua itu mengalir membasahi wajah keriputnya. Ia terisak penuh haru, melepaskan penderitaan tak terbayangkan yang telah menyiksanya selama puluhan tahun .Di depan ranjang, Kukuh masih bersujud kaku, terus memainkan perannya sebagai pemuda desa yang panik . Sementara itu, Supri mematung seperti orang bodoh. Mulut sopir tua itu terbuka lebar. Logikanya benar-benar hancur lebur!Bagaimana mungkin?! Darah seorang OB rendahan bisa menghancurkan kutukan tingkat tinggi keluarga Aji Saka?! Siapa sebenarnya anak ini?! batin Supri menjerit histeris .Hanya dalam hitungan menit, keajaiban gaib terjadi. Bau busuk daging mati yang selama ini mencekik ruangan itu lenyap tak berbekas! Sebagai gantinya, udara dipenuhi aroma tanah basah dan semerbak bunga kantil murni yang sangat menenangkan—ini adalah wujud dari Rajah Wangi yang sesungguhnya."Bangunlah... kalian berdua," ucap pria tua itu dengan suara jernih dan berwibawa. "Duduklah. Biar mata tuaku ini melihat siapa pahlawan yang diki
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, menghalangi cahaya bulan hingga semuanya tampak segelap tinta. Hawa dingin yang sangat tidak wajar merembes masuk ke dalam kabin.Kukuh menoleh ke arah Supri. Wajah sopir tua itu tegang dan pucat pasi. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih . Supri berkeringat dingin, ketakutan setengah mati!"Pak Supri," panggil Kukuh memecah keheningan. "Bapak tidak takut masuk ke hutan ini sendirian?" ."Takut itu cuma buat orang yang masih punya pilihan, Le," jawab Supri parau. "Di keluarga Aji Saka, ada hal-hal gaib yang jauh lebih mengerikan daripada mati di tengah hutan!" .Tepat saat jam berganti menjadi tengah malam, kabut putih setebal kapas turun menggulung jalanan . Di balik kab
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura-pura menjadi manusia lemah. Ia harus menyembunyikan fakta bahwa setiap kali duri tanaman mengoyak tangannya, luka itu akan menutup rapat tanpa bekas dalam hitungan detik .Kamis sore itu, langit Jakarta mulai berubah jingga pekat. Kukuh baru saja menyandarkan sapunya ketika Supri, sopir senior keluarga, berlari menghampirinya dengan napas memburu. Wajah pria tua itu pucat pasi.Ia menyodorkan layar ponsel yang menampilkan sebuah titik lokasi di peta. "Kuh, temani aku sekarang. Kita harus antar barang ke titik ini," bisik Supri tegang . Lokasinya berada di pelosok hutan pedalaman Jawa Barat, sangat jauh dari peradaban.Kukuh mengernyit bingung. "Boleh saya keluar gerbang, Pak? Di kontrak say
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul karung beras puluhan kilo, mengupas berkeranjang-keranjang bawang, dan mengepel lantai marmer hingga mengilap. Tidak ada yang peduli bahwa di atas kertas, pemuda itu adalah suami sah sang pewaris tahta. Di ruangan ini, ia adalah kasta terendah.Semua pekerjaannya diawasi ketat oleh Pak Rustam, kepala juru masak bertubuh gempal yang sombongnya selangit.Dasar gembel bau selokan, maki Rustam dalam hati. Beraninya sampah dari kantor pusat masuk ke dapur eklsklusifku! Akan kubuat dia cacat supaya tahu diri! ."Heh, Bocah Miskin! Matamu buta?!" bentak Rustam parau, suaranya nyaris mengalahkan desis minyak panas. "Air di kuali raksasa itu sudah mendidih! Angkat sekarang! Nyonya Dian benci teh yang d







