Share

Bab 93

Author: Millanova
last update publish date: 2026-05-12 20:20:08

Suasana di pendopo taman belakang mendadak hening. Nyonya Dian masih mengatur napasnya sambil bersandar pada tiang, sementara Adiwangsa perlahan bangkit berdiri. Wajah pria paruh baya itu menggelap. Ia menoleh, menatap tajam ke arah sang Kyai yang masih pucat pasi.

"Jadi... kamu membohongi saya, Kyai?" ucap Adiwangsa dengan suara rendah yang mengancam. Urat di lehernya menonjol, pertanda amarahnya siap meledak.

Melihat ancaman di depan mata, sang Kyai yang licik itu menelan ludah dengan susah p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 232

    Kukuh dan Ratih melangkah masuk melewati sepasang pintu ganda yang seharusnya menjadi akses utama menuju ballroom. Namun, begitu mereka melewati ambang pintu, suasana mendadak berubah drastis.Tidak ada alunan musik klasik. Tidak ada dentingan gelas atau suara tawa para tamu. Ruangan luas di hadapan mereka dipenuhi oleh orang-orang berjas dan bergaun mewah, namun semuanya terdiam kaku. Kesunyian yang pekat dan tidak wajar menyelimuti tempat itu, seolah-olah kemeriahan pesta tidak pernah terjadi di sana."Apa kita tidak salah ruangan, Tih?" ucap Kukuh, memecah keheningan yang janggal tersebut. Matanya menyapu sekeliling, melihat sosok-sosok tamu yang tampak buram dan tidak merespons kehadiran mereka.Ratih menghentikan langkahnya. Alisnya berkerut tajam. "Sepertinya ada yang berbeda, Kuh. Hawa di sini... salah.""Ayo kita coba tanya ke resepsionis di depan sana," usul Kukuh, berpura-pura mencari solusi paling logis bagi orang awam."Tunggu dulu," cegah Ratih cepat.Sebagai pewaris dara

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 231

    Kalimat balasan Ratih meluncur dengan sangat mulus, terdengar begitu anggun namun memiliki ketajaman layaknya belati yang menohok telak harga diri Ratna tepat di titik terlemahnya. Angin malam yang berembus di balkon itu seolah ikut membeku mendengar sindiran mematikan sang pewaris utama Keluarga Cokro."Ayo, Kuh, kita masuk ke dalam ballroom saja," ucap Ratih dengan nada suara yang tenang, mengalun lembut namun menyayat.Matanya yang indah melirik sekilas ke arah Ratna dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan, sebuah gestur aristokrat yang sudah mendarah daging dalam dirinya. "Aku khawatir, kalau kita berlama-lama di sini... nanti akan ada yang menangis sedih lagi kalau miliknya terambil olehku secara tidak sengaja."Namun, sebelum Ratna sempat meledak dalam amarah dan membuang martabatnya dengan berteriak, Kukuh sudah lebih dulu mengambil alih situasi. Pemuda itu melangkah pelan, menempatkan dirinya sedikit di depan Ratih sebagai perisai pelindung, lalu menundukkan kepalanya sed

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 230

    Ratih hanya menatap dingin uluran tangan Aryo Lembu Sasmita. Sebagai pewaris Keluarga Cokro yang sudah terbiasa menghadapi ular-ular beracun di dunia bisnis, ia sama sekali tidak berniat merendahkan gengsinya untuk menyentuh tangan bawahan dari musuh masa lalunya.Melihat penolakan Ratih, sorot mata Aryo menajam. Ada kilatan rasa tersinggung yang dengan cepat ia tutupi dengan senyum miring.Namun, sebelum Aryo sempat menarik tangannya kembali, Kukuh melangkah maju menutupi separuh tubuh Ratih. Dengan gerakan yang sangat tenang namun cepat, pemuda itu meraih dan menyambut uluran tangan Aryo."Perkenalkan, saya asisten pribadi Keluarga Cokro. Nama saya Kukuh," ucap Kukuh dengan senyum sopan yang sengaja dibuat-buat.Tepat saat kulit tangan mereka bersentuhan, Kukuh seketika merasakan ada hawa aneh yang menjalar. Sebuah energi gaib yang sangat dingin dan setajam jarum mencoba menembus pori-pori telapak tangannya, merayap naik dengan niat melumpuhkan aliran darahnya.(Jadi begini cara mai

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 229

    Angin malam berembus pelan, membawa keheningan sesaat di antara mereka berdua."Iya, memang penuh sesak di dalam," ucap Kukuh santai, memecah kesunyian sambil menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas balkon. "Orang-orang itu seperti sedang saling bunuh dengan pegangan mereka masing-masing. Auranya berbenturan keras."Mendengar istilah 'pegangan' keluar dari mulut Kukuh, dahi Ratih sedikit berkerut. Namun, sebelum ia sempat menanyakan hal itu, Kukuh sudah menoleh dan menatapnya dengan raut wajah serius."Tih, aku mau tanya," ucap Kukuh tiba-tiba, suaranya merendah. "Sudah diperluas seberapa Rajah Wangi yang kamu miliki?"Ratih tersentak pelan. Matanya melebar sesaat. Jantungnya berdegup lebih kencang. Pertanyaan itu sama sekali bukan sesuatu yang bisa dilemparkan oleh orang awam. Rajah Wangi adalah rahasia darah terdalam Keluarga Cokro yang tidak diketahui oleh sembarang orang, apalagi oleh pria yang selama ini hanya dianggap mantan Office Boy."Apa yang kamu maksud, Kuh?" balas

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 228

    Setelah kepergian Panji dan Kyai Agus, keheningan di meja VVIP itu perlahan mencair, digantikan oleh kasak-kusuk para elit yang masih terheran-heran."Baiklah, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, silakan melanjutkan menikmati hidangan dan acara pesta ini. Saya mohon pamit sebentar," ucap Pak Eko dengan raut wajah sedikit tegang. Tanpa membuang waktu, tuan rumah acara itu bergegas melangkah pergi untuk mengejar Kyai Agus dan sang dewa perbankan.Adiwangsa dan Eyang Putri menatap kepergian Pak Eko dengan raut kekecewaan yang tak bisa ditutupi. Di mata mereka, sebuah peluang emas baru saja terlepas begitu saja dari genggaman.Melihat wajah masam keluarga Cokro, Nyonya Broto tak melewatkan kesempatan untuk kembali memanaskan suasana. Matriark keluarga saingan itu menutup mulutnya dengan kipas lipat dan tertawa pelan."Wah, wah... sayang sekali ya. Ternyata cuma salah orang," sindir Nyonya Broto dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh meja di sekitarnya. "Padahal, kalau sea

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 227

    (Waduh, ini bahaya,) batin Kukuh cepat.Otaknya berputar. Jika identitas aslinya terbongkar di hadapan puluhan konglomerat dan pejabat VVIP ini, tidak hanya rencananya yang akan berantakan, tapi posisi Ratih dan Keluarga Cokro juga akan langsung menjadi sorotan utama musuh-musuhnya di dunia bawah.Dengan ekspresi wajah yang diatur sedatar dan sepolos mungkin, Kukuh menundukkan kepalanya, bersikap layaknya bawahan yang sedang kebingungan."Maaf, Tuan. Sepertinya Anda salah orang," ucap Kukuh dengan nada yang sangat sopan dan merendah. "Saya ini hanya tenaga angkut dan perawat dari Keluarga Adiwangsa. Saya hanya orang biasa yang kebetulan beruntung bisa mengabdi di sini. Tidak mungkin saya ini Tuan Besar yang Anda maksud."Sambil mengucapkan hal itu, pandangan Kukuh melirik tajam ke arah Kyai Agus yang berdiri tak jauh di belakang Panji. Lewat sorot matanya, Kukuh memberikan kode keras: Tarik dia sekarang, atau situasi ini akan memancing bahaya yang lebih besar.Memahami isyarat dari sa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 106

    Mendengar pertanyaan spesifik dari Dokter Harsha, wajah Nyai Janari tertunduk lesu. Helaan napas berat keluar dari bibir keriputnya."Pernah, Dokter. Berkali-kali kami mencoba membangunkannya, namun tidak bisa," jawab Nyai Janari dengan suara parau. "Nyonya Larasati seolah terperangkap dalam keadaa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 105

    Kukuh mengeratkan pelukannya pada kotak kayu jati kelam di dadanya. Saat ia membuka pintu mobil dan melangkah turun, matanya kembali menyapu ke sekeliling pekarangan dan bangunan utama rumah tersebut.(Siapa gerangan orang ini?) batin Kukuh penuh tanda tanya. (Bisa-bisanya mereka memanggil Dokter H

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 103

    Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 100

    (Ini warna rambunya apa ya? Merah atau hijau?) batin Kukuh bimbang, menyipitkan matanya mencoba menembus gumpalan lebah yang menutupi lampu lalu lintas tersebut. Jalanan di pertigaan itu tampak sangat sepi, tidak ada satu pun kendaraan yang terlihat berlalu-lalang dari arah mana pun.Kukuh menghela

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status