LOGIN"Kenapa bisa pas banget gini hujan tiba-tiba turun?"Farhan mengumpat sambil mengusap wajahnya dengan lengan baju yang sudah sama basahnya dengan kulitnya. Air menetes dari ujung rambutnya, dari hidungnya, dari dagunya seolah seluruh tubuhnya sedang menangis dan ia tidak bisa berhenti."Ya mau gimana lagi, Han," balas Bella dari balik tirai hujan, suaranya datar tapi tidak kesal, hanya lelah. "Kita juga nggak akan mati keujanan, kan.""Kalau nggak mati ya masuk angin, Bel. Masuk angin di pelosok tanpa warung, tanpa sinyal, tanpa.....""Farhan.""Apa?""Diam dulu. Aku lagi ngitung."Farhan menoleh ke Bangkit yang duduk paling dekat dengan tiang beton, kamera dipeluk di dada seperti anak kecil memeluk bantal."Jam berapa ini, Kit?"Bangkit mengangkat pergelangan tangannya, menyipitkan mata di balik tirai hujan yang membuat kaca arlojinya berkabut."Jam tiga.""Jam tiga?!""Iya. Masih tiga jaman lagi sampai matahari keluar."Farhan mengerang. Hanya suara panjang yang keluar dari seseoran
"Serius nih, Han? Kita nunggu di sini sampai pagi?"Bangkit berdiri di tepi jalan beraspal, wajah menghadap langit. Angin datang dari arah gunung, membawa bau yang tidak seperti bau hujan tapi sesuatu yang sudah terbakar dan kini ikut terbawa awan."Lihat tuh, kayak mau hujan. Kita berteduh di mana? Ini nggak ada rumah sama sekali."Farhan sudah duduk di tanah, punggung bersandar pada tiang beton tua yang entah sejak kapan berdiri di situ. Tas ranselnya tergeletak di pangkuan. Ia menoleh ke Bella."Bel, kamu ada sinyal nggak? HP-mu?"Bella sudah mengangkat ponselnya setinggi mungkin. Layar menyala, menampilkan kotak kecil di pojok atas: tanpa layanan. Ia menurunkannya, menatap Farhan, dan menghela napas lewat hidung."Ya nggak ada, Han. Kita di pelosok. Mana mungkin ada sinyal."Farhan mengangguk pelan, lalu menatap ke arah hutan di belakang mereka. Hutan yang tidak lagi bersuara. Kukuh tidak bicara.Ia berjalan beberapa langkah menjauh, ke sisi jalan yang lebih gelap, tempat bayanga
Satu jam sudah mereka berjalan. Dan kemudian Bella menoleh.Bukan karena mendengar sesuatu. Karena merasakan sesuatu. Udara di belakang mereka berubah. Membawa bau yang seharusnya tidak ada di hutan pada malam yang tadinya cerah.Bella mengangkat wajahnya ke atas. Ke celah di antara dahan-dahan pohon yang menghalangi langit. Dan melihatnya.Kilatan.Petir menyala di langit di atas mereka. Seperti langit sedang retak dan cahaya putih menyembur dari setiap retakan."Aroma hujan," ucap Bella sambil menghentikan langkahnya. Hidungnya mengembang. Menghirup udara yang tiba-tiba terasa berbeda. Basah. Berat. Penuh. "Secepat itukah hujan datang? Yang tadinya kita melihat ritual itu di bawah bulan purnama?"Kukuh menoleh. Farhan menoleh. Dan di langit yang terlihat dari celah dahan, bulan purnama yang tadi menerangi halaman balai desa sudah hilang. Ditelan oleh awan hitam yang bergerak terlalu cepat untuk menjadi awan biasa. Dan di balik awan itu, petir terus menyala.Bangkit mengangkat tanga
"Kuh," ucap Farhan sambil berjalan di samping Kukuh. Napasnya masih tersengal. Kakinya masih gemetar. Tapi otaknya sudah mulai bekerja lagi. "Kita ambil barang-barang kita di Puskesdes dulu. Sekalian kita turun, kan ini satu arah."Kukuh mengangguk tanpa melambatkan langkah. "Iya, Han. Sekalian kita turun sambil mengemasi barang."Mereka berbelok dari jalan utama desa. Menuju Puskesdes yang berdiri di ujung jalan setapak. Lampu minyak di dalamnya masih menyala. Redup. Kuning. Seperti mata yang setengah terpejam dan menolak untuk benar-benar tidur.Farhan masuk pertama. Langsung ke kamar belakang. Menarik tas ranselnya dari bawah tempat tidur. Membuka resleting. Mengeluarkan tiga bungkus roti yang sudah gepeng dan satu botol air mineral yang tinggal setengah. Memasukkan keduanya ke dalam tas. Menutup resleting."Roti doang?" tanya Bella dari ambang pintu. Alisnya terangkat."Roti, air, sama kaos kaki cadangan," jawab Farhan sambil mengikat tali tasnya. "Sisanya tinggal. Kita nggak butu
"Mas," ucap Sari. Suaranya pelan. Serak. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak bicara dengan suaranya sendiri dan kini harus belajar lagi. "Segera bawa teman-teman Mas turun dari desa ini. Dan pergi. Meninggalkan tempat ini."Kukuh tidak menjawab. Hanya menatap Sari. Menatap perutnya yang masih menganga cairan hitam yang sudah berhenti mengalir tapi belum mengering. "Terima kasih sudah mencoba menolongku, Mas," lanjut Sari. Suaranya turun. Lebih pelan. Lebih berat. Seperti seseorang yang sedang meletakkan sesuatu yang sudah terlalu lama ia pikul dan kini akhirnya bisa bernapas. "Tapi aku ikhlas. Aku akan pergi dengan tanah dan desa ini, Mas Kukuh."Kukuh terdiam.Bukan karena tidak tahu harus berkata apa. Karena kata-kata yang ingin ia ucapkan terlalu besar untuk keluar dari mulutnya. "Tapi Sar," ucap Kukuh. Suaranya turun. Lebih pelan dari biasanya. Lebih berat. Seperti seseorang yang sedang mencoba mengangkat sesuatu yang terlalu berat untuk satu punggung. "Aku bisa me
Kukuh tidak bergerak. Matanya masih terkunci pada sosok kecil yang minum dari dada Sari. Pada cakar-cakar yang mencengkeram kemben robek. Pada perut yang masih menganga dan cairan hitam yang masih menetes ke tanah.Dan di kepalanya, satu pikiran berputar. Pelan. Berat. Tidak bisa dihentikan.Ritual ini bukan paksaan. Bukan penculikan. Bukan kejahatan yang dilakukan oleh segelintir orang terhadap satu korban. Ini kesepakatan. Dua ratus warga. Tujuh generasi. Empat belas nyawa yang sudah dibayar dan empat belas kali panen yang sudah dinikmati. Mereka tahu. Mereka memilih. Dan mereka akan melakukan ini lagi. Sepuluh tahun dari sekarang. Dan sepuluh tahun setelahnya.Kukuh menatap warga yang masih bersujud. Dahi mereka di tanah. Tangan terentang. Bibir bergerak mengucapkan doa yang sama. Dan di mata mereka yang terpejam, tidak ada penyesalan. Tidak ada keraguan. Hanya rasa syukur.Percuma. Kalau aku berdiri sekarang dan berteriak bahwa ini salah, bahwa empat belas wanita sudah mati untuk
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
"Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik







