LOGINDulu, semasa SMA, Nayara sering mengalami perundungan dari anak-anak perempuan di angkatannya.
Entah sudah berapa kali ia dipojokkan, dilabrak, atau sekadar langkahnya dijegal saat berjalan di koridor. Pernah juga seseorang melemparkan botol yang terbuka hingga menghantam tubuh Nayara. Airnya jatuh berceceran dari seragam hingga tetes demi tetes jatuh mengenang di lantai. Saat itu, Nayara mendelik, dia menatap gadis sebaya yang berdiri di depannya dengan tatapan marah. “Ups, tanganku licin,” katanya dengan wajah tanpa rasa bersalah, “Jika aku mengatakan botol itu melayang sendiri dan tak sengaja menghantammu, apa kamu percaya?” “Kamu pikir aku bodoh?” Nayara melawan. Dia tertawa mengejek, “Jika tidak bodoh berarti murahan.” Gelak tawa mengisi koridor sekolah. Nayara tentu tidak diam saja, ia yang tidak terima hendak menyerang balik gadis itu. Tapi meski begitu, gadis yang menyerang membawa pasukan teman-temannya hingga membuat Nayara tak mampu berkutik. Nayara kalah jumlah begitu mereka memojokkannya. Rambutnya ditarik secara kasar, tubuhnya didorong tanpa ampun. “Dasar tidak tahu malu. Kau sudah ditolak Caiden berulang kali. Kemarin kau memberi dia kopi, sekarang kue, bahkan jalang lebih berharga dibanding kau yang murahan,” maki mereka tanpa henti. Tubuh Nayara terhuyung ke kanan dan kiri. Ketika pandangan Nayara mengarah pada Caiden yang berjalan tak jauh darinya, Nayara langsung menyentak tubuh mereka, bergegas berlari ke arah Caiden. “Caiden! Katakan pada mereka jika kamu tidak masalah saat aku mengejarmu.” Mungkin Nayara bodoh, jelas ia akan ditolak mentah-mentah namun, masih keras kepala meminta pertolongan pada Caiden. Caiden melirik tangan Nayara yang memegang pergelangan tangannya, sementara kedua tangan Caiden berada di saku celana. “Caiden…” panggil Nayara lagi sebab Caiden hanya diam saja. Caiden mundur selangkah, membiarkan pegangan Nayara terlepas. Tatapan Nayara berubah nanar, dia menatap getir tangannya yang kosong. “Jauhkan tangan kotormu dari tubuhku,” ucapnya datar, nyaris tanpa nada. Hati Nayara tercubit mendengarnya, disusul oleh gelak tawa yang terdengar mencemoohnya. Mata Nayara sedikit berair, bukan karena suara tawa yang meledeknya, melainkan karena Caiden yang menatapnya seperti sampah. Tapi, meski begitu, ia tidak mau melepaskan Caiden. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Caiden sejak lelaki itu menyelamatkannya dari kejaran orang-orang berbahaya di saat pertama mereka bertemu. “Jika kamu tidak tertarik padaku, kenapa kamu menyelamatkanku malam itu?” Caiden menoleh, mata menyipit, “Kau berpikir aku menyelamatkanmu karena aku tertarik padamu?” Nayara tertegun. “Menyedihkan,” desis Caiden menatap remeh Nayara , “Jika tahu akan seperti ini, lebih baik aku membiarkanmu dihabisi oleh mereka.” Hati Nayara sakit bukan main. Udara yang masuk melalui hidungnya seakan menumpuk di dada, hingga membuat hidungnya terasa perih akibat menahan tangis. Saat Caiden naik ke anak tangga untuk pergi. Nayara memanggil dengan segala keyakinan di hatinya. “Caiden,” panggil Nayara, suaranya gemetar namun terdengar jelas. Caiden hanya melirik melalui ekor matanya, tidak juga berbalik melihat gadis yang basah itu. “Tak mengapa,” katanya dengan bibir gemetar, “Secara tidak langsung kamu sudah menyelamatkan hidupku. Aku akan tetap mencintaimu sebagai penyelamatku.” Semua orang diam tidak habis pikir dengan cara otak Nayara bekerja. Jika cinta itu buta, maka Nayara sedang jatuh cinta di tahap yang sangat gelap dan hilang akal. “Dia benar-benar tidak tertolong.” gumam semua siswa hingga menciptakan gemuruh penuh cemoohan. Masa lalu itu datang menjadi mimpi buruk Nayara setiap malam. Kini, ia sudah dewasa. Otaknya sudah berkembang dan memiliki kemampuan bisa berpikir lebih jernih. Tapi, memori memalukan itu tetap menghantuinya. Nayara tersentak dari tidur lelapnya. Pagi sudah datang. Pupil matanya bergerak ke sana-kemari, linglung sementara, lalu baru menyadari saat melihat sinar mentari yang menerobos masuk ke dalam kamar melalui celah gorden. Nayara mengambil napas dalam-dalam, mengusir benak yang sudah dikubur sejak lama. Ia sudah melalui hidup menyedihkan lebih dari ini, saat ini ia hanya ingin hidup tenang. Nayara meraup kasar wajah kusut dan sedikit pucat dengan kedua tangannya. Kemudian memilih turun dari ranjang untuk pergi ke dalam kamar mandi. Air dingin dari wastafel diputar. Nayara menampung air yang mengalir pada kedua telapak tangannya, lalu menamparkan air dingin ke permukaan wajah. Rasa dingin yang segar menyebar ke seluruh pori-pori. Mengantarkan rasa tenang dari sesaknya pikiran. Tak butuh waktu lama bagi Nayara membersihkan diri. Hari ini ia memiliki janji bertemu dengan Louise, satu-satunya orang yang mau berteman dengannya di masa sekolah setelah ia banyak dirundung karena berusaha mengejar Caiden. Louise, satu-satunya sahabat lelaki Nayara. Ia tidak ada teman lain selain Louise. [Kau yakin tidak ingin dijemput? Takutnya kau akan tersesat.] pesan yang dikirim oleh Louise menghiasi layar ponselnya. Nayara tersenyum kecil, sebelum jari-jarinya berselancar untuk membalas, [Tidak perlu. Aku hanya pindah kota saja, jalanan di sini aku sangat hafal. Tunggu saja di cafe biasa kita bertemu.] Setelah mengirim pesan balasan untuk Louise, ia baru turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama. Keadaan meja makan sama seperti semalam. Arthur terus berusaha memecah situasi hening dan Caiden duduk diam di tempatnya bak robot yang tak memiliki ekspresi. Sesekali obrolan mengarah ke bisnis yang tidak dimengerti oleh Nayara. Saat itu, Caiden baru berbicara dengan wajah yang serius. “Oh ya, aku hampir melupakan sesuatu,” Celine menyahut berbicara, “Arthur harus mengurus bisnis cabang di negara lain, dan aku akan ikut. Kami tidak bisa menetap di sini. Untuk sementara waktu, Nayara, kamu akan dititipkan bersama Caiden.” Gerakan sendok Nayara terhenti di udara. Baru saja kemarin bertemu setelah sekian lama. Sekarang ibunya sudah mau pergi lagi. Apa ini rasanya diasingkan dan tak dibutuhkan? Dititipkan? Nayara merasa lucu mendengar kata demikian. Jelas sekali jika Celine tidak ingin diganggu setelah pernikahan yang terjadi. Setelah dititipkan oleh Celine pada Caiden, apa setelah ini dia hanya bisa bergantung pada Caiden jika memerlukan sesuatu? Padahal, jelas-jelas Caiden tidak suka terhadapnya. Rasa sedih kembali menggerogoti Nayara. Ia mencoba melirik Caiden, mencoba melihat respons pria itu. Tapi Caiden hanya diam, tidak menolak namun tidak juga menyatakan persetujuan. “Atau jika tidak, Om bisa saja mengurus kepindahanmu agar kamu bisa tinggal bersama mamamu,” timpal Arthur, mencoba memberi penawaran saat melihat raut wajah Nayara berubah merenung. Nayara segera menggeleng. Pindah ke kota yang asing? Nayara tidak menginginkan itu terjadi. Setidaknya di kota ini, meski banyak kenangan buruk, tetap ada Louise, satu-satunya teman yang menemani. “Aku di sini saja.” Arthur hanya angguk-angguk kepala. Tidak bisa memaksa, sebab tidak ingin membuat anak gadis itu semakin merasa tidak nyaman. Sarapan pagi bersama itu berlangsung lebih cepat sebab Celine harus pergi bersama Arthur pagi ini. Sedangkan Nayara berdiri di anak tangga. Menanti Caiden yang semula sedang berada di ruang kerja. Ada hal yang ingin Nayara obrolkan dengan Caiden. Ini, menyangkut kejadian semalam.Hari ini berakhir sangat melelahkan, pekerjaan yang melelahkan sekaligus hati yang terus terpusat pada sesuatu yang seharusnya tak Nayara pikirkan. Beruntungnya hari buruk tersebut berhasil dilewati oleh Nayara dengan susah payah. Kini, malam telah datang akan tetapi naasnya , rasa kantuk tidak kunjung menyerangnya. Dia merasa gelisah, padahal tubuhnya sudah amat lelah. Ia duduk di tepi ranjang dengan handuk masih melilit rambutnya yang basah. Tangan kanannya ia rendam di dalam baskom berisi air hangat yang ia minta dari dapur. Kulit di sela-sela jarinya merekah, memerah, dan perih karena tersiram oleh air panas. Ia menatap tangannya sendiri dengan tatapan kosong. Seharusnya rasa perih itu menyakitkan. Namun entah mengapa, rasa perih di hatinya jauh lebih menyiksa malam ini. Pikiran tentang air jahe yang dibuang beberapa hari yang lalu kembali datang. Tentang bagaimana dulu di masa sekolah Caiden juga selalu membuang bekal buatan Nayara ke tempat sampah di depan matanya
Tiba di mansion Ashford. Nayara cepat melepaskan seat belt menyusul Caiden yang sudah lebih dulu keluar dari mobil tanpa mengucapkan satu kata pun. Cepat saja Nayara berjalan di belakang tubuh Caiden. Meski langkah Caiden amat lebar, langkah kecil Nayara tetap berusaha menyeimbangi meski harus sambil setengah berlari. “Masuk kamarmu, lalu bersihkan tubuhmu!” perintah Caiden tanpa nada setelah mereka sudah masuk ke dalam mansion. Setelah sekian lama, Nayara kembali merasakan kehangatan, merasakan bagaimana ada seseorang yang memperdulikannya.Ya, walau Nayara tahu jika apa yang dilakukan Caiden saat ini masih dalam bentuk tanggung jawab atas pesan yang dikatakan oleh Arthur. Tak mengapa.Ini lebih dari cukup bagi Nayara. “Ada apa? Kau tidak mendengar apa yang ku katakan barusan?” tegur Caiden dengan nada rendah. Saat dia melihat Naraya yang masih berdiri di belakangnya tanpa beranjak sedikit saja. Nayara mengangkat wajah, memperlihatkan rambut basah yang terlihat acak bak seekor
“Bodoh!” tekan Caiden memaki lewat suara rendahnya, “Apa kau berniat tidur di sini?”Pelupuk mata Nayara berkedip-kedip saat menatap Caiden yang berdiri menjulang tinggi di depannya.“K-kamu … kenapa bisa ada disini?” tanya Nayara kebingungan, bibirnya menggigil sebab terlalu lama berada di luar ruangan dimana hujan terus mengguyur deras. Pertanyaan yang terdengar bodoh untuk diucapkan. “Menurutmu?” Caiden menaikkan satu alisnya intimidatif. Lihatlah! Betapa dingin serta datar sorot mata Caiden seolah ingin menelan mentah-mentah dirinya. Pasti pria itu merasa sangat direpotkan karena ia tidak kunjung kembali ke kediaman Ashford. Menyadarinya, Nayara segera beranjak dari duduk. Naasnya tubuhnya tak seimbang sebab terlalu lama duduk di bawah berselimut udara dingin. Ia segera jatuh jika saja Caiden tidak segera menangkap pinggangnya. Mereka berdua saling bersitatap sepersekian detik. Membiarkan wajah tampan serta rahang Caiden yang mengetat keras karena marah terlihat jelas di pupi
Langit jingga redup gelap. Gerimis datang melanda kota membasahi jalanan kota yang dilalui kendaraan empat. Nayara yang baru pulang kerja, berlari menerobos air hujan menuju halte bus.Hari ini Nayara pulang lebih terlambat dari hari sebelumnya. Senior yang tidak suka terhadapnya sejak awal dia datang, selalu memiliki cara untuk mempersulitnya.“Hari ini, kau tidak boleh pulang lebih awal.”Nayara menatap wanita itu tak mengerti, “Alasannya apa?”“Kau berani membantah!”“Sesuai dengan prosedur kerja. Kamu tidak bisa memberikan jam tambahan kepada saya tanpa alasan yang jelas,” papar Nayara, memberikan protes lewat suara yang masih terdengar lembut. Nayara mendengar satu fakta di tempatnya bekerja. Bahwa wanita yang selalu bersikap semena-mena padanya memiliki hubungan tak biasa dengan pihak manager. Karena itu, wajar saja jika wanita tersebut memiliki sikap yang pongah. Wanita itu mendengus semakin tidak suka, “Lihatlah tumpukan piring di atas wastafel. Kau harus membersihkannya le
Menjelang sore hari, Nayara keluar dari Resto Amoure setelah mengganti pakaian kerja berganti pakaian casual. Ikatan rambut yang sudah tidak rapi itu menampar pelan wajahnya saat tertiup oleh angin. Pandangan Nayara mengarah pada ponsel yang berada di genggaman tangannya. Louise bilang, dia akan menjemputnya. Akan tetapi saat Nayara keluar, Louise tidak kunjung datang. Ia memutuskan berjalan menuju halte. Menunggu Louise menyusul kesana sembari mengirim pesan. Namun baru beberapa langkah saja. “Nayara,” Suara Louise yang memanggil sambil melambaikan tangan menghentikan pergerakan Nayara. Gadis itu mengukir senyum, “Ku pikir kamu tidak jadi menjemputku.”“Mana mungkin,” balasnya sambil mendekat, “Aku sudah bilang akan menjemputmu pulang di hari pertama kali kamu bekerja. Aku tidak mungkin ingkar janji.”Nayara hanya menatap Louise dalam senyum tipis. “Ini!” Louise menyodorkan paper bag berisi makanan kepada Nayara. Dari logo yang tertempel di bungkusnya, Nayara yakin jika itu ada
Roti panggang, telur, roti, serta aroma kopi menguar memenuhi udara sejak Nayara menginjakkan kaki di meja makan. Dengan sengaja ia menarik kursi sedikit jauh dari Caiden hanya karena tidak ingin mengganggu pandangan pria itu. Sarapan pagi berlangsung dalam keheningan. Tidak banyak yang Nayara lakukan. Selain fokus dengan sepotong roti dan telur diatas piringnya. Dia bahkan tidak mengangkat wajah, tidak melirik juga ke arah Caiden. Seolah acuh tak acuh padahal sebenarnya jantungnya sudah berdetak dengan hebat. ‘Tenang-lah … kau harus menahan sedikit lagi demi aturan Ashford,’ batin Nayara memberi semangat pada dirinya sendiri saat memotong roti lalu menyuap ke mulutnya. Sedangkan Caiden sendiri, pria itu sedang memutar garpu pelan dalam genggaman tangannya. Garis di dahinya terlihat mengkerut saat mengamati Nayara dalam diam. Kedua alis mata yang hitam tebal nyaris menyatu. Caiden mengenal bagaimana Nayara dulu mengejarnya tanpa kenal situasi. Gadis itu dulunya selalu memanfa







