Share

Bab 2

Penulis: Arga_Re
last update Tanggal publikasi: 2026-09-16 13:14:15

Di meja makan, Nayara banyak menunduk, menyimpan sesuatu yang salah dalam batinnya. Hidangan sudah disajikan sejak Nayara datang dan saat ia menarik salah satu kursi untuk duduk di antara mereka. 

Keluarga Ashford? Nayara tidak mengingat jika Caiden memiliki marga demikian. 

Dulu mereka tinggal di satu komplek yang sama di sebuah perumahan elit. Mereka bertetangga dengan hanya berjarak dua rumah saja. Namun, keluarga Nayara kemudian goyah dan bercerai, bisnis keluarganya bangkrut, dan Nayara tidak tinggal di sana lagi. 

Nayara sungguh tidak tahu jika Caiden berasal dari keluarga yang tingkat kekayaannya lebih dari perkiraan. Nayara hanya tahu jika dulunya, saat Caiden menjadi kakak tingkatnya waktu SMA, pemuda itu sangat populer serta banyak diincar. 

Nayara malu. Namun, itu bukan perasaan malu biasa. Ada rasa sesal saat bertemu dengan Caiden kembali. 

Ia mengingat jelas bagaimana dulu ia mendekati Caiden secara terang-terangan. 

Tanpa sadar, Nayara mengingat masa lampau saat ia masih pelajar SMA.

“Kak Caiden! Ini. Aku membelikan kopi untukmu.” Nayara menghampiri Caiden yang sedang berkumpul bersama temannya, senyum merekah di bibirnya tidak memudar sama sekali. 

“Aku dengar kamu ketiduran di kelas pagi ini. Dengan meminum kopi, kamu pasti lebih semangat! Aku mengantri panjang untuk membelinya,” lanjut Nayara. 

Nayara mengingat momen itu, ia mengesampingkan tindakan yang memalukan karena rasa suka pada Caiden lebih besar. 

Dan, ya … Nayara juga mengingat seberapa datar raut wajah Caiden serta sorot mata dingin yang tak memudar, saat melihat dirinya tak berhenti mengejar-ngejarnya. 

“Sekarang bagaimana? Apa Kak Caiden sudah mau menerima tawaranku untuk menjadikanku sebagai kekasih?”

Suara gelak tawa dari teman-teman Caiden bahkan masih terngiang jelas di telinga Nayara. Setelah itu, yang akan terjadi sebenarnya sangat Nayara tahu, Caiden pasti menolak. 

Penolakan yang terjadi bukan hal yang pertama kali. Nayara sudah biasa ditolak, namun masih bersikeras mengejar Caiden. 

Bahkan saat Caiden menangkis kopi di tangannya hingga jatuh melukis lantai. Nayara masih bisa tersenyum sambil berkata, “Tidak apa. Masih ada hari esok. Aku akan datang lagi dan menanyakan hal yang sama!”

Nayara pergi setelahnya dengan harapan kosong. Caiden bahkan tidak repot-repot mengeluarkan satu kata pun saat menghadapi Nayara. Menganggap gadis itu sebagai butiran yang tak berarti. 

Kepergian Nayara yang ingin kembali ke kelas juga tidak semulus itu. Dia harus dihadang oleh siswi lain. Mereka dengan sengaja mengguyur cup berisi es dingin ke seragam sekolah Nayara. 

“Dasar jal*ng tidak tahu malu. Kau sudah ditolak berulang kali, tapi masih berani dekat Kak Caiden. Cih!”

“Cantik tapi tidak punya moral!”

Ya. Tak mengapa, Nayara sudah terbiasa dengan bully-an mereka. Ia acap kali mendengar makian mereka saat di sekolah karena merasa ia sok dekat dengan Caiden. 

Meski begitu, Nayara tetap gigih mengejar lelaki itu. Sekarang, mengingat-ingat momen masa lalu itu, Nayara merasa sangat malu berhadapan lagi dengan Caiden. 

“Nayara.”

Nayara tersentak saat mendengar suara Celine yang memanggil. Ia menoleh pada Celine yang duduk di sampingnya, namun tak sengaja lirikan Nayara terlempar ke arah Caiden yang juga sedang menatapnya. 

Buru-buru Nayara mengalihkan pandangan. Kemana saja asal tidak bersitatap dengan sorot mata Caiden yang membuat hatinya nyeri. 

“Tidak perlu tegang begitu. Kita bisa mengobrol dengan santai.” Arthur, papa baru Nayara itu, bicara dengan senyum ramah di wajahnya. 

Nayara hanya mengangguk, kedua tangan yang berada di pangkuan saling mencubit pelan. Gugup tanpa tahu harus bagaimana ia bersikap. 

“Ini Arthur, dia papamu. Dan dia Caiden, kakakmu. Ayo sapa mereka!” seru Celine meminta. 

Nayara menatap Arthur penuh kebingungan. Jujur saja, ia merasa serba salah, tentang bagaimana ia harus memanggil Arthur saat ini.

‘Papa’? Panggilan tersebut terlalu aneh menurut Nayara. Apa lagi mereka baru bertemu sekali dengan status yang tak biasa. 

Jika memanggil ‘Om’, apa Arthur tidak akan keberatan? Atau bisa juga pria setengah baya itu akan marah dan menganggap bahwasannya Nayara menolak pernikahan mamanya?

“Ah, Nayara …” panggilan Arthur terdengar halus dan juga lembut secara bersamaan, “Jika kau masih keberatan memanggil dengan sebutan Papa, kau bisa memilih panggilan yang membuatmu nyaman.” 

Kalimatnya terdengar sangat bijak, yang lantas membuat hati Nayara lega. Berbeda dengan Celine yang seakan tidak terima, dia menatap Arthur penuh protes. 

Namun, Arthur mengangguk berulang kali, menyakinkan Celine jika Nayara masih butuh waktu untuk berada di tengah-tengah keluarga ini. 

“T–terima kasih, Om,” balas Nayara mencicit lirih. 

Celine melotot, lalu mendesah panjang. Tapi, Celine menahan protes karena Arthur yang terus menenangkan lewat tatapan matanya. 

Sedangkan Nayara tanpa sadar kembali melirik Caiden. Tapi ia terhenyak.

Sorot mata Caiden, sorot mata benci itu tidak memudar sama sekali. Nayara buru-buru menundukkan pandangan.

“Sapa Caiden juga,” pinta Celine, mengalah perihal panggilan Nayara yang disematkan untuk Arthur. 

Lidah Nayara mendadak kelu. Meski begitu, Nayara memaksa menyapa walau tanpa berani menatap Caiden terang-terangan. 

“K-Kak  Caiden ….” panggil Nayara lirih, begitu lirih kontras dengan keheningan yang hadir beberapa saat. 

Caiden tidak menjawab.

Ya. Nayara pikir Caiden masih sama seperti dulu. Pria yang tumbuh dewasa itu tetap memiliki rasa benci serta jijik terhadapnya. 

Nayara meneguk gumpalan saliva yang seakan menekan tenggorokan. Menenangkan degup jantung yang berdetak dengan hebat. 

Ia berusaha mendoktrin pikiran. Tak mengapa jika Caiden membencinya, Nayara masih memiliki banyak waktu untuk memperbaiki segala hal yang telah terlewat. 

Asal satu hal, Nayara tidak mau lagi hidup sendirian. Hidup sendirian rasanya dia berada di tengah-tengah dunia asing tanpa arah. Hari-hari yang dilewati terasa sakit dan berat.

Asalkan dia bisa tinggal dengan keluarga, Nayara tidak masalah jika Caiden bersikap dingin padanya.

“Mamamu sudah membicarakan banyak hal tentangmu,” ujaran Arthur kembali menarik perhatian Nayara padanya, “Aku dengar kamu tidak melanjutkan kuliah setelah lulus sekolah menengah ke atas. Untuk saat ini, apa kamu tidak ingin melanjutkan kuliah yang tertunda?”

Nayara diam sebentar, lalu ia menggelengkan kepala penuh keraguan.

“Aku belum memikirkan untuk kuliah. Untuk sementara waktu aku akan bekerja.”

“Oh, katakan saja pada Caiden. Kamu bisa meminta bekerja di bagian mana saja yang kamu inginkan. Perusahaan Ashford tersedia untukmu,” kata Arthur, tak memaksa Nayara untuk memilih kuliah jika memang gadis itu enggan. 

Perkataan itu membuat Nayara spontan menoleh kembali pada Caiden. Ia juga dapat melihat sudut bibir Caiden tertarik tipis, sinis. Tatapan matanya mengintimidasi. 

Nayara yakin, Caiden sedang mengejeknya. Pria itu pasti berpikir jika ia hanya sedang bermain tarik ulur agar bisa dekat kembali bersamanya. Kalau begitu, Nayara harus berusaha menolaknya dengan lebih tegas. 

“T-tidak, aku tidak bisa,” tolak Nayara sambil mengibaskan kedua tangan gelagapan, “Maksudku … aku hanya lulusan SMA. Tidak mungkin bisa bekerja di kantor milik Ashford.”

Caiden hanya meliriknya sekilas, ada sedikit keheranan di sorot matanya yang berhasil ditangkap Nayara. 

“Aku akan mencari kerja sesuai dengan kemampuanku. Kebetulan, aku memiliki sahabat disini, kami sudah membicarakan soal pekerjaan sebelumnya,” imbuh Nayara, menjelaskan penolakan agar tidak membuat Arthur tersinggung. 

Arthur mengangguk mengerti, “Baiklah. Anak muda sepertimu memang harus memiliki banyak pengalaman.”

Nayara hanya tersenyum tipis. Merasa tenang akhirnya Arthur mengerti maksudnya. 

“Jangan sungkan jika kamu membutuhkan bantuan. Hubungi Caiden jika memerlukan apa pun,” tambah Arthur. 

Ujaran itu lagi, mau tak mau membuat Nayara melirik ke arah Caiden. Tidak disangka, pria itu juga tengah menatapnya tajam. Seketika membuat Nayara mengalihkan pandangan lagi. 

“Ya,” balas Nayara singkat. 

 Arthur melanjutkan, “Aku juga dengar laporan dari Stevie jika dulunya kalian satu sekolah bersama. Kalian pernah bertemu?”

“Tidak.”

“Ya.”

Jawaban serentak itu membuat keadaan hening berubah sedikit mencekam. Nayara memberikan jawaban ‘tidak’ karena tidak ingin membuat keduanya tahu tingkah Nayara di masa lalu seperti apa, sedangkan Caiden memberikan jawaban ‘iya’. 

Nayara juga tidak tahu kenapa Caiden harus memberikan jawaban demikian. Jika pria itu membencinya, kenapa tidak menggunakan momen ini untuk tidak saling kenal?

“Jadi, kalian saling kenal atau tidak?” tanya Arthur lagi sambil menatap keduanya secara bergantian. 

Tatapan penuh permohonan Nayara tertuju pada Caiden. Memohon pada Caiden agar pria itu tidak menceritakan yang sebenarnya terjadi. 

“Sesekali tak sengaja bertemu,” jawab Caiden acuh tak acuh. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 14

    Hari ini berakhir sangat melelahkan, pekerjaan yang melelahkan sekaligus hati yang terus terpusat pada sesuatu yang seharusnya tak Nayara pikirkan. Beruntungnya hari buruk tersebut berhasil dilewati oleh Nayara dengan susah payah. Kini, malam telah datang akan tetapi naasnya , rasa kantuk tidak kunjung menyerangnya. Dia merasa gelisah, padahal tubuhnya sudah amat lelah. Ia duduk di tepi ranjang dengan handuk masih melilit rambutnya yang basah. Tangan kanannya ia rendam di dalam baskom berisi air hangat yang ia minta dari dapur. Kulit di sela-sela jarinya merekah, memerah, dan perih karena tersiram oleh air panas. Ia menatap tangannya sendiri dengan tatapan kosong. Seharusnya rasa perih itu menyakitkan. Namun entah mengapa, rasa perih di hatinya jauh lebih menyiksa malam ini. Pikiran tentang air jahe yang dibuang beberapa hari yang lalu kembali datang. Tentang bagaimana dulu di masa sekolah Caiden juga selalu membuang bekal buatan Nayara ke tempat sampah di depan matanya

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 13

    Tiba di mansion Ashford. Nayara cepat melepaskan seat belt menyusul Caiden yang sudah lebih dulu keluar dari mobil tanpa mengucapkan satu kata pun. Cepat saja Nayara berjalan di belakang tubuh Caiden. Meski langkah Caiden amat lebar, langkah kecil Nayara tetap berusaha menyeimbangi meski harus sambil setengah berlari. “Masuk kamarmu, lalu bersihkan tubuhmu!” perintah Caiden tanpa nada setelah mereka sudah masuk ke dalam mansion. Setelah sekian lama, Nayara kembali merasakan kehangatan, merasakan bagaimana ada seseorang yang memperdulikannya.Ya, walau Nayara tahu jika apa yang dilakukan Caiden saat ini masih dalam bentuk tanggung jawab atas pesan yang dikatakan oleh Arthur. Tak mengapa.Ini lebih dari cukup bagi Nayara. “Ada apa? Kau tidak mendengar apa yang ku katakan barusan?” tegur Caiden dengan nada rendah. Saat dia melihat Naraya yang masih berdiri di belakangnya tanpa beranjak sedikit saja. Nayara mengangkat wajah, memperlihatkan rambut basah yang terlihat acak bak seekor

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 12 : Kehangatan Dari Sentuhan Tangan

    “Bodoh!” tekan Caiden memaki lewat suara rendahnya, “Apa kau berniat tidur di sini?”Pelupuk mata Nayara berkedip-kedip saat menatap Caiden yang berdiri menjulang tinggi di depannya.“K-kamu … kenapa bisa ada disini?” tanya Nayara kebingungan, bibirnya menggigil sebab terlalu lama berada di luar ruangan dimana hujan terus mengguyur deras. Pertanyaan yang terdengar bodoh untuk diucapkan. “Menurutmu?” Caiden menaikkan satu alisnya intimidatif. Lihatlah! Betapa dingin serta datar sorot mata Caiden seolah ingin menelan mentah-mentah dirinya. Pasti pria itu merasa sangat direpotkan karena ia tidak kunjung kembali ke kediaman Ashford. Menyadarinya, Nayara segera beranjak dari duduk. Naasnya tubuhnya tak seimbang sebab terlalu lama duduk di bawah berselimut udara dingin. Ia segera jatuh jika saja Caiden tidak segera menangkap pinggangnya. Mereka berdua saling bersitatap sepersekian detik. Membiarkan wajah tampan serta rahang Caiden yang mengetat keras karena marah terlihat jelas di pupi

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 11 | Hujan |

    Langit jingga redup gelap. Gerimis datang melanda kota membasahi jalanan kota yang dilalui kendaraan empat. Nayara yang baru pulang kerja, berlari menerobos air hujan menuju halte bus.Hari ini Nayara pulang lebih terlambat dari hari sebelumnya. Senior yang tidak suka terhadapnya sejak awal dia datang, selalu memiliki cara untuk mempersulitnya.“Hari ini, kau tidak boleh pulang lebih awal.”Nayara menatap wanita itu tak mengerti, “Alasannya apa?”“Kau berani membantah!”“Sesuai dengan prosedur kerja. Kamu tidak bisa memberikan jam tambahan kepada saya tanpa alasan yang jelas,” papar Nayara, memberikan protes lewat suara yang masih terdengar lembut. Nayara mendengar satu fakta di tempatnya bekerja. Bahwa wanita yang selalu bersikap semena-mena padanya memiliki hubungan tak biasa dengan pihak manager. Karena itu, wajar saja jika wanita tersebut memiliki sikap yang pongah. Wanita itu mendengus semakin tidak suka, “Lihatlah tumpukan piring di atas wastafel. Kau harus membersihkannya le

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 10 : Sesuatu Yang Terasa Aneh

    Menjelang sore hari, Nayara keluar dari Resto Amoure setelah mengganti pakaian kerja berganti pakaian casual. Ikatan rambut yang sudah tidak rapi itu menampar pelan wajahnya saat tertiup oleh angin. Pandangan Nayara mengarah pada ponsel yang berada di genggaman tangannya. Louise bilang, dia akan menjemputnya. Akan tetapi saat Nayara keluar, Louise tidak kunjung datang. Ia memutuskan berjalan menuju halte. Menunggu Louise menyusul kesana sembari mengirim pesan. Namun baru beberapa langkah saja. “Nayara,” Suara Louise yang memanggil sambil melambaikan tangan menghentikan pergerakan Nayara. Gadis itu mengukir senyum, “Ku pikir kamu tidak jadi menjemputku.”“Mana mungkin,” balasnya sambil mendekat, “Aku sudah bilang akan menjemputmu pulang di hari pertama kali kamu bekerja. Aku tidak mungkin ingkar janji.”Nayara hanya menatap Louise dalam senyum tipis. “Ini!” Louise menyodorkan paper bag berisi makanan kepada Nayara. Dari logo yang tertempel di bungkusnya, Nayara yakin jika itu ada

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 9

    Roti panggang, telur, roti, serta aroma kopi menguar memenuhi udara sejak Nayara menginjakkan kaki di meja makan. Dengan sengaja ia menarik kursi sedikit jauh dari Caiden hanya karena tidak ingin mengganggu pandangan pria itu. Sarapan pagi berlangsung dalam keheningan. Tidak banyak yang Nayara lakukan. Selain fokus dengan sepotong roti dan telur diatas piringnya. Dia bahkan tidak mengangkat wajah, tidak melirik juga ke arah Caiden. Seolah acuh tak acuh padahal sebenarnya jantungnya sudah berdetak dengan hebat. ‘Tenang-lah … kau harus menahan sedikit lagi demi aturan Ashford,’ batin Nayara memberi semangat pada dirinya sendiri saat memotong roti lalu menyuap ke mulutnya. Sedangkan Caiden sendiri, pria itu sedang memutar garpu pelan dalam genggaman tangannya. Garis di dahinya terlihat mengkerut saat mengamati Nayara dalam diam. Kedua alis mata yang hitam tebal nyaris menyatu. Caiden mengenal bagaimana Nayara dulu mengejarnya tanpa kenal situasi. Gadis itu dulunya selalu memanfa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status