Share

OBSESI KAKAK TIRI
OBSESI KAKAK TIRI
Author: Arga_Re

Bab 1

Author: Arga_Re
last update publish date: 2026-09-16 13:13:25

“Mama akan menikah lagi. Tiga hari nanti, akan ada yang menjemputmu, kau bisa ikut mama ke kota.”

Satu baris kalimat itu didengar oleh Nayara tiga hari yang lalu. Kini, dia sedang duduk di dalam kamar yang memiliki luas tak seberapa, merenung dengan tatapan penuh kesedihan yang jatuh pada tas yang terisi pakaian di sampingnya. 

Nayara tidak tahu harus bagaimana ia merespons perihal pernikahan mamanya yang terjadi untuk kedua kali. 

Kehidupannya sejak kecil penuh rasa kesepian. Semasa ia masih kecil, ia banyak menyaksikan orang tuanya sering bertengkar tanpa peduli keberadaan anak mereka di sekitar. Saat Nayara remaja, mereka memilih bercerai.

Rumah tangga orang tua Nayara memang tidak bahagia sebab mereka tidak saling cinta satu sama lain. Keduanya menikah karena perjodohan yang dipaksakan orang tua masing-masing dengan alasan kesepakatan bisnis. 

Saat kedua orang tuanya berpisah, Nayara pun terpaksa hidup sendirian. Ayahnya pergi dan menikah lagi. Sedangkan Nayara jatuh ke hak asuh ibunya, tapi sering ditinggal pergi keluar kota dengan alasan bekerja. 

Tapi, jangankan berkunjung pulang. Celine, mama Nayara, bahkan jarang sekali mengirim pesan. 

Nayara sudah bersiap dengan kemungkinan buruk jika ia akan tetap hidup sendirian tanpa kedua orang tuanya. Tapi, tiba-tiba pesan dari Celina datang memberi kabar bahwa ia sudah menikah. 

Melihatnya membuat Nayara tercenung. Lagi pula, pernikahan apa lagi yang diharapkan oleh Celine setelah kegagalan yang terjadi?

Pernikahan isinya hanya perbedaan pendapat dan juga saling menyalahkan karena keegoisan mereka masing-masing. 

Orang bilang, rumah adalah tempat singgah paling nyaman. Bagi Nayara, rumah adalah meja perjudian. Jika beruntung, Nayara akan disayang. Jika tidak, ia akan menjadi pelampiasan amarah, bahkan dibuang bak benda tak berharga. 

Tok. Tok. Tok. 

Pintu yang diketuk dari luar membuyarkan lamunan Nayara. Tidak memerlukan waktu lama bagi Nayara untuk melangkah menuju area depan. 

Sejak orang tua bercerai, Nayara tinggal di sebuah rumah sewa yang ia tempati bersama Celine saat ibunya belum memutuskan pergi meninggalkannya. 

Ia membuka pintu, melihat seorang wanita seusia Ibunya sedang berdiri di depan rumah sewa dengan mengenakan blazer rapi. Senyum di bibirnya terlihat jelas penuh formalitas serta keramahan.

“Nona Nayara?”

Nayara hanya mengangguk, masih bingung harus merespons seperti apa saat melihat utusan yang dikirim oleh Celine datang menjemput. 

Melihat tatapan bingung Nayara, wanita tersebut memilih memperkenalkan dirinya lebih dulu, “Ah, perkenalan, saya Stevie, selaku asisten Tuan Arthur. Saya diminta menjemputmu atas perintah dari Nyonya Celine. Mari, Nona, saya akan mengantarkan kamu ke kediaman Ashford.”

“Oh, iya, aku akan mengambil tasku lebih dulu,” jawab Nayara.

Stevie mengangguk dan mempersilahkan. Saat tas milik Nayara sudah masuk ke dalam bagasi, persis saat itu juga mobil mereka membawa Nayara membelah jalanan. 

Awalnya, mereka banyak diam. Nayara memilih membuang pandangan keluar kaca mobil, sedangkan Stevie setia duduk di kursi depan samping sopir. Tiba di jalanan perkotaan, Stevie memilih membuka obrolan. 

“Kamu tahu brand Calvindee?”

Nayara menarik perhatian yang semula tertuju pada gedung-gedung mewah yang dilewati kini berganti menatap ke arah Stevie.

Sebenarnya, hati Nayara bergetar saat melihat pemandangan yang tak asing untuknya. Kota yang sudah lama ditinggalkan oleh Nayara sejak kedua orang tuanya pisah dan ia ikut pindah mengikuti ibunya. Kini, ia kembali lagi. 

“Calvindee? Aku  … seperti pernah mendengar,” balas Nayara lirih. 

“Ya, tentu saja, seharusnya kamu tahu brand Calvindee. Brand tersebut menduduki peringkat pertama serta paling tersohor di dunia ini. Target pasarnya juga tidak main-main, hanya untuk orang-orang kalangan atas. Keluarga barumu adalah pemilik sah brand tersebut.”

Dahi Nayara mengernyit. Ia sempat termenung singkat, berpikir bahwa Celina hanya menikah dengan orang kaya biasa. Tapi, ternyata setelah ini, ia mungkin akan masuk ke dalam keluarga kaya level konglomerat. 

“Oh, pantas saja brand itu tidak asing,” kata Nayara menjawab singkat, hanya karena ia ingin mengapresiasi antusiasme Stevie. 

“Lihat juga salah satu gedung di sana! Hotel terbesar yang berada di sana!” tunjuk Stevie, nada suaranya masih terdengar antusias, tak berubah sama sekali.

Nayara mengikuti jari telunjuk Stevie. 

“Gedung tersebut adalah salah satu bisnis milik keluarga barumu.”

Lagi dan lagi, Nayara hanya menghela napas lirih. Ia jadi merasa terbebani dengan status kemewahan yang dikatakan oleh wanita setengah baya di depannya. 

“Kamu mau tanya tentang sesuatu?”

Nayara mengangguk samar, “Kenapa bukan Mama yang jemput aku langsung?”

“Nyonya Celine menunggu di kediaman Ashford. Beliau sebenarnya ingin ikut, tetapi saat ini mereka masih memiliki agenda perayaan pernikahan dan menyambut sejumlah tamu yang berkunjung,” ujar Stevie menjelaskan. 

Mendengar itu, Nayara pun terdiam. Ia tidak sepenuhnya percaya pada alasan itu. Ia mengenal tabiat mamanya.

Wanita itu pasti memang sibuk dengan pernikahannya yang baru itu, yang dijalani bahkan tanpa mengundang anaknya sendiri. Tentunya ia tidak mau repot-repot menjemput Nayara sendiri.

Tapi tak apa, pikir Nayara. Lagipula, jika sampai Celine yang menjemput secara langsung, maka dengan kekesalan Nayara, mereka pasti akan bertengkar lebih dulu. 

Tak berselang lama, Nayara tiba juga di kediaman barunya. Pandangan Nayara langsung mengitari sekeliling, menatap taman dengan air mancur yang terhiasi di tengah.

Kediaman ini berkali lipat lebih besar dari rumah di perumahan elit tempat tinggalnya dulu. Ia bisa melihat perbedaan dari luas halaman dan juga pilar-pilar yang menjulang tinggi. 

Beberapa penjaga dan juga pelayan berbaris rapi di sana, menunjukkan betapa terisolasi kediaman ini. Akan tetapi, di antara para pelayan dan penjaga yang berbaris menyambut, Nayara tidak kunjung melihat Celine. 

Tatapan Nayara berubah lesu. Memang apa yang bisa diharapkan Nayara dari Celine? Setelah lama Celine meninggalkan Nayara hidup sendirian. Tidak mungkin ibunya tiba-tiba perhatian terhadapnya. 

“Ayo! Aku akan mengantarmu sampai dalam,” suara Stevie menarik perhatian Nayara yang melamun singkat, membuat gadis itu mendesah berat. 

Ketika ia ingin melangkah, sebuah mobil hitam berhenti tepat tak jauh darinya. Beberapa penjaga berlari mendekat mengitari mobil. Salah satu penjaga membuka pintu mobil bagian belakang, menyambut kedatangan tuan rumah. 

Seakan terpaku, Nayara memilih berhenti sejenak, tatapannya otomatis mengarah pada sosok tersebut. Siluet tubuhnya saat menghadap ke depan pintu utama dan saat memunggunginya terlihat tidak asing di penglihatan. 

Didampingi oleh orang kepercayaannya, pria itu berjalan dengan pembawaan yang tenang, kemudian melewati tubuh Nayara begitu saja selepas mata mereka saling beradu satu sama lain. Hanya sebuah tatapan sepersekian detik saja. 

“Dia?” Nayara bergumam lirih. Sontak suhu tubuhnya berubah panas dingin. 

Nayara amat mengenali rupa pria yang baru saja melewati begitu saja. 

“Namanya Caiden,” ujar Stevie, “Caiden Varl Ashford, dia pewaris sah keluarga Ashford. Secara garis besar, dia akan menjadi kakak tirimu mulai detik ini.”

“... Apa?” 

Mata Nayara membelalak. 

“Kenapa kamu terkejut begitu?” Stevie terkekeh pelan mendapati ekspresi lucu Nayara saat sedang terkejut.

 Bukan karena ia bertemu dengan pewaris keluarga Ashford yang membuat Nayara terkejut. 

Melainkan … bagaimana mungkin? 

Dari banyaknya pria di dunia ini, kenapa harus Caiden? 

Sosok pria yang Nayara sukai sejak masa sekolah itu, kini harus menjadi kakak tirinya? 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 5

    Menanti Caiden turun dari ruang kerja, Nayara mengambil napas dalam-dalam. Sejak kejadian semalam, suasana di rumah terasa tidak nyaman. Bahkan ketika Caiden berada di ruangan yang sama dengannya, Nayara selalu merasa harus berhati-hati dalam bergerak, seolah-olah kesalahan kecil saja dapat membuat lelaki itu kembali mengusirnya.Pagi ini, Nayara sengaja menunggu di ruang keluarga. Ia sudah berjanji kepada Louise untuk bertemu di kafe, tetapi sebelum pergi, ia ingin menyelesaikan persoalan semalam. Setidaknya, ia ingin meminta maaf tanpa berusaha membela diri.Ketika pandangannya menangkap Caiden yang sedang menuruni anak tangga, Nayara segera berdiri. “K-Kak Caiden,” panggilan Nayara membuat alis hitam tebal Caiden nyaris bersatu, seolah heran melihat Nayara sengaja menghampiri sosok lelaki itu. Caiden hanya diam, seperti siap mendengar kalimat Nayara yang sudah sangat hafal di luar kepalanya. Pria itu pasti berpikir bagaimana Nayara akan berusaha memasang wajah sedih seakan gadi

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 4

    Dulu, semasa SMA, Nayara sering mengalami perundungan dari anak-anak perempuan di angkatannya.Entah sudah berapa kali ia dipojokkan, dilabrak, atau sekadar langkahnya dijegal saat berjalan di koridor.Pernah juga seseorang melemparkan botol yang terbuka hingga menghantam tubuh Nayara. Airnya jatuh berceceran dari seragam hingga tetes demi tetes jatuh mengenang di lantai. Saat itu, Nayara mendelik, dia menatap gadis sebaya yang berdiri di depannya dengan tatapan marah. “Ups, tanganku licin,” katanya dengan wajah tanpa rasa bersalah, “Jika aku mengatakan botol itu melayang sendiri dan tak sengaja menghantammu, apa kamu percaya?”“Kamu pikir aku bodoh?” Nayara melawan.Dia tertawa mengejek, “Jika tidak bodoh berarti murahan.”Gelak tawa mengisi koridor sekolah. Nayara tentu tidak diam saja, ia yang tidak terima hendak menyerang balik gadis itu. Tapi meski begitu, gadis yang menyerang membawa pasukan teman-temannya hingga membuat Nayara tak mampu berkutik. Nayara kalah jumlah begitu m

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 3

    Malam harinya.Nayara yang kehausan di tengah malam memilih turun ke lantai bawah dari kamar menuju dapur. Langkahnya gontai, berulang kali ia mengucek kelopak matanya yang ingin terpejam. “Sayang, pelankan suaramu!”“Tanggung, Arthur, salahkan dirimu sendiri. Kenapa kau tidak menutup pintunya dengan benar?”“Aku telah menahan selepas dari ruang kerja. Bagaimana bisa aku memperhatikan pintu tertutup dengan benar atau tidak?”“Sekarang, tutup pintunya.”“Ah, nanti saja, sebentar lagi aku ingin keluar.”Suara desah serta hentakan tubuh yang bertabrakan bergema ke seluruh penjuru kamar, bahkan suara tersebut sampai lolos melalui celah pintu yang tak tertutup dengan rapat. Saat di tengah jalan, persis di depan salah satu kamar yang harus dilewati, Nayara mengernyitkan kening keheranan saat indera pendengarannya tidak sengaja mendengar suara aneh yang berasal dari dalam sana. Suara itu, Nayara sangat kenal suara itu—suara milik mamanya.“Ah, kau bilang sebentar. Jangan terlalu kasar, na

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 2

    Di meja makan, Nayara banyak menunduk, menyimpan sesuatu yang salah dalam batinnya. Hidangan sudah disajikan sejak Nayara datang dan saat ia menarik salah satu kursi untuk duduk di antara mereka. Keluarga Ashford? Nayara tidak mengingat jika Caiden memiliki marga demikian. Dulu mereka tinggal di satu komplek yang sama di sebuah perumahan elit. Mereka bertetangga dengan hanya berjarak dua rumah saja. Namun, keluarga Nayara kemudian goyah dan bercerai, bisnis keluarganya bangkrut, dan Nayara tidak tinggal di sana lagi. Nayara sungguh tidak tahu jika Caiden berasal dari keluarga yang tingkat kekayaannya lebih dari perkiraan. Nayara hanya tahu jika dulunya, saat Caiden menjadi kakak tingkatnya waktu SMA, pemuda itu sangat populer serta banyak diincar. Nayara malu. Namun, itu bukan perasaan malu biasa. Ada rasa sesal saat bertemu dengan Caiden kembali. Ia mengingat jelas bagaimana dulu ia mendekati Caiden secara terang-terangan. Tanpa sadar, Nayara mengingat masa lampau saat ia masih

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 1

    “Mama akan menikah lagi. Tiga hari nanti, akan ada yang menjemputmu, kau bisa ikut mama ke kota.” Satu baris kalimat itu didengar oleh Nayara tiga hari yang lalu. Kini, dia sedang duduk di dalam kamar yang memiliki luas tak seberapa, merenung dengan tatapan penuh kesedihan yang jatuh pada tas yang terisi pakaian di sampingnya. Nayara tidak tahu harus bagaimana ia merespons perihal pernikahan mamanya yang terjadi untuk kedua kali. Kehidupannya sejak kecil penuh rasa kesepian. Semasa ia masih kecil, ia banyak menyaksikan orang tuanya sering bertengkar tanpa peduli keberadaan anak mereka di sekitar. Saat Nayara remaja, mereka memilih bercerai. Rumah tangga orang tua Nayara memang tidak bahagia sebab mereka tidak saling cinta satu sama lain. Keduanya menikah karena perjodohan yang dipaksakan orang tua masing-masing dengan alasan kesepakatan bisnis. Saat kedua orang tuanya berpisah, Nayara pun terpaksa hidup sendirian. Ayahnya pergi dan menikah lagi. Sedangkan Nayara jatuh ke hak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status