Share

Bab 5

Author: Arga_Re
last update publish date: 2026-09-16 13:16:36

Menanti Caiden turun dari ruang kerja, Nayara mengambil napas dalam-dalam. Sejak kejadian semalam, suasana di rumah terasa tidak nyaman. 

Bahkan ketika Caiden berada di ruangan yang sama dengannya, Nayara selalu merasa harus berhati-hati dalam bergerak, seolah-olah kesalahan kecil saja dapat membuat lelaki itu kembali mengusirnya.

Pagi ini, Nayara sengaja menunggu di ruang keluarga. Ia sudah berjanji kepada Louise untuk bertemu di kafe, tetapi sebelum pergi, ia ingin menyelesaikan persoalan semalam. Setidaknya, ia ingin meminta maaf tanpa berusaha membela diri.

Ketika pandangannya menangkap Caiden yang sedang menuruni anak tangga, Nayara segera berdiri. 

“K-Kak Caiden,” panggilan Nayara membuat alis hitam tebal Caiden nyaris bersatu, seolah heran melihat Nayara sengaja menghampiri sosok lelaki itu. 

Caiden hanya diam, seperti siap mendengar kalimat Nayara yang sudah sangat hafal di luar kepalanya. 

Pria itu pasti berpikir bagaimana Nayara akan berusaha memasang wajah sedih seakan gadis itu tidak melakukan kesalahan, dan bagaimana gadis itu selalu memiliki seribu pikiran licik untuk dekat dengannya. 

“A-aku ingin mengucapkan sesuatu tentang kejadian hal yang sudah terjadi semalam,” ujar Nayara lirih.

Ia harus tetap bicara, meski Caiden mungkin akan merasa kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya hanya berisi pembelaan diri. Ia tahu Caiden melihat seberapa tidak tahu malu dirinya, tahu seberapa gigih serta egois gadis itu. 

Nayara menarik napas panjang. Setelah itu, ia menunduk dalam, “Maaf. Maafkan aku.” 

Mata Caiden menyipit, tatapan seksama masih tertuju pada bola mata Nayara yang jernih. 

Nayara tahu Caiden tidak akan percaya begitu saja. Akan tetapi, permintaan maafnya kali ini benar-benar tulus. 

“Aku tahu seberapa besar kesalahanku padamu karena sudah mengganggumu dulu. Sekarang …” ujaran Nayara menggantung saat gadis itu mengambil jeda napas dalam-dalam. 

“Sekarang, aku adalah adikmu. Bisakah … bisakah kita menjalin hubungan saudara dengan baik kedepannya?” tanya Nayara dengan pandangan yang Caiden sendiri tidak tahu apa tatapan itu. 

Keheningan hadir sejenak.

Caiden membuang napas singkat, raut wajahnya berubah masam, “Jangan ungkit status saudara sialan itu di depanku.”

Setelah mengatakan itu, Caiden berlalu pergi meninggalkan Nayara begitu saja dalam kesunyian.

Lutut Nayara lemas, ia memejamkan mata saat bersandar pada dinding untuk menelan pil pahit karena kata-kata Caiden. 

Nayara tahu satu hal. Caiden sangat membencinya, kata sangat sepertinya tak berlebihan. Tak mungkin Caiden sudi menerimanya sebagai saudara.  

Ya, tidak mungkin! 

Rasanya dunia Nayara runtuh. Ia tidak memiliki sandaran saat ini, menyakinkan Caiden terasa sangat mustahil. 

“Tidak apa-apa, Nayara, kamu tidak akan pernah mengganggunya lagi,” gumam Nayara mencoba menenangkan hatinya sendiri, “Sekarang waktunya aku harus menemui Louise. Pasti dia sudah menungguku.”

***

Di Cafe Shimpon.

Suara percakapan bercampur dengan bunyi sendok yang beradu dengan cangkir menghasilkan suara berisik yang khas. 

Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, membuat Nayara merasa sedikit lebih tenang setelah meninggalkan kediaman Ashford.

Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan Louise dengan jangkauan matanya.

“Nayara!” Suara panggilan yang sedikit berteriak itu membuat beberapa pengunjung menoleh.

Begitu juga dengan Nayara, ia membelokkan pandangan ke arah kanan, lalu menemukan Louise sedang melambaikan tangan dari sebuah meja dekat jendela.

“Louise?”

“Ya, siapa lagi?” Louise membalas sambil menampilkan senyum cerah. 

Nayara tertawa kecil sebelum menghampirinya. Begitu gadis itu tiba, Louise segera bangkit dan memeluk tubuh ramping Nayara sebentar.

Mereka memang tidak benar-benar kehilangan hubungan sejak Nayara pindah. Louise beberapa kali datang ke kota tempat Nayara tinggal, tetapi selalu dalam kurun waktu singkat. Kesibukan pekerjaan membuat keduanya tidak bisa bertemu sesering dulu.

 

“Kita sudah sangat lama tidak berjumpa. Aku benar-benar merindukanmu,” kata Louise berterus terang. 

Nayara menggeleng sambil tersenyum. Ia meletakkan tas selempangnya di kursi, kemudian duduk berhadapan dengan Louise.

Louise sendiri langsung memperhatikan wajah Nayara yang terlihat sedikit lelah.

“Kau baik?” 

“Sangat.”

“Benarkah?”

Nayara mengangguk menyakinkan.

“Bagaimana denganmu?” tanya Nayara balik. 

Louise mengibaskan tangan. “Lupakan tentang bertanya kepadaku. Memangnya apa yang bisa terjadi padaku? Aku hanya bekerja, pulang, tidur, lalu bekerja lagi. Hidupku membosankan.”

“Kau masih bekerja di tempat yang sama?” pertanyaan Nayara terlontar lagi.

“Masih, dan atasanku masih sama menyebalkan seperti sebelumnya,” celetuk Louise mengandung umpatan. 

Nayara tertawa lepas, hanya bersama Louise ia bisa seperti ini. 

“Seharusnya kau segera menceritakan mengenai keluarga barumu,” imbuh Louise, mengingatkan kembali tujuan pertemuan mereka di kafe ini. 

“Aku tahu kau sudah mengatakan lewat telepon kalau kepulanganmu ke kota ini karena ibumu menikah lagi. Tapi aku belum mendapatkan cerita lengkapnya.”

“Tidak banyak yang bisa diceritakan,” tukas Nayara seakan tidak minat membahas keluarga barunya. 

“Jangan berbohong. Kau tinggal bersama keluarga barumu. Itu cukup membuatmu berbagi cerita padaku.”

Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, memberi jeda obrolan mereka sejenak. Louise segera menarik gelas minumannya, sedangkan Nayara hanya mengambil air putih.

“Bagaimana dengan keluarga barumu? Apa mereka baik?” tanya Louise setelah meneguk minumannya. 

Dia memilih banyak bertanya sebab Nayara sekarang lebih banyak diam, dan Louise tahu alasannya. 

Benar saja, lagi dan lagi Nayara tersenyum kecil.

“Ya. Berita baiknya, suami Mama sangat baik. Dia bahkan sempat menawariku untuk kuliah, tetapi aku menolak.”

Louise hampir tersedak karena terperangah.

“Menolak? Kenapa?” cerca Louise seakan tidak terima. 

Melanjutkan kuliah akan baik untuk Nayara di masa mendatang. Dia sangat menyayangkan jika sahabatnya itu harus menolak. 

“Aku tidak ingin merepotkan mereka.”

Louise meletakkan gelas nya sedikit kasar. Wajahnya berubah bersungut tak bersahabat. 

“Nayara, kau tahu tidak? Kadang-kadang aku benar-benar ingin mengguncang kepalamu.”

Bibir Nayara mengerucut sebal, “Kenapa?”

“Kau terlalu sering memikirkan apakah orang lain akan merasa terganggu oleh keberadaanmu. Kalau seseorang menawarkan sesuatu yang baik, kau justru sibuk memikirkan bagaimana caranya agar kau tidak merepotkan.”

Nayara menunduk sendu,  “Itu memang benar kan, aku hanya tidak ingin berhutang terlalu banyak pada orang lain.”

“Berhutang?” Louise mengulang kata itu sambil membuka mulut lebar-lebar, “Mana ada berhutang pada keluarga sendiri. Ini kesempatan bagus, kuliah untuk masa depanmu.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu, kenapa masih menolak?” tuntut Louise, “Jangan katakan kau masih terbayang-bayang tentang masa lalumu itu. Kau berubah banyak sejak kejadian dimana kau di-bully satu sekolah.”

Nayara mengusap ujung gelasnya dengan ibu jari, gemetar.

“Ya, itu memang kebodohanku, dan karena aku juga tidak yakin semuanya akan berjalan baik. Karena itu aku harus menolak kebaikan Papa tiriku.”

Louise mengamati wajah sahabatnya beberapa saat. Ia mengenal Nayara cukup lama untuk mengetahui bahwa jawaban tersebut bukanlah keseluruhan alasan.

Dulu Nayara sangat periang, dia suka berbicara panjang lebar seolah memiliki gudang kosa kata tanpa ada habisnya. 

Namun semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan, semenjak Nayara mendapatkan cemoohan, dan sejak keluarganya benar-benar hancur. Sifat Nayara berubah total. 

Terkadang Louise tidak mengenali sahabatnya kini. 

“Apa ada sesuatu hal lain yang mengganggumu?” tanya Louise hati-hati, seketika nada suaranya berubah menjadi rendah dan halus. 

Nayara mengangkat wajah, bibirnya gemetar lebih dulu sebelum ia berbicara. 

“Ya. Kau tahu,, ternyata mama menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki putra.”

“Bagus. Kamu jadi memiliki saudara,” hibur Louise, artinya ada yang menjaga Nayara selain dirinya. Selama ini, hidup Nayara terlalu sepi dan Louise tahu itu. 

“Dia… lelaki dua tahun lebih tua dariku.”

Louise mengangguk-angguk. “Oh, jadi ada kakak laki-laki.”

“Ya.”

“Namanya siapa?” tanyanya, obrolannya menjadi lebih ringan meski raut sendu Nayara masih tak berubah. 

Louise bahkan tidak memahami kenapa gadis itu harus memasang wajah murung. Padahal Nayara sendiri yang mengatakan jika dia mendapatkan keluarga yang baik. 

Kenapa juga gadis itu harus sedih. 

Louise yang semula hendak mengambil kue di atas piring menghentikan tangannya. Ia menatap Nayara dengan alis terangkat.

“Kenapa?”

Nayara menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu mengapa menyebutkan nama itu terasa begitu berat, padahal Louise adalah orang yang paling mengenal dirinya.

“Namanya Caiden.”

Louise baru saja meneguk minumannya. Kalimat itu berhasil membuatnya tersedak. 

“Uhuk!” 

Louise langsung menyemburkan sebagian minuman ke arah meja, kemudian buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan.

“Caiden?”

Nayara mengangguk pelan.

Louise menatapnya seakan baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

“Caiden?” ulangnya sekali lagi seolah masih menolak percaya. 

“Hm,” dehem Nayara. 

“Caiden yang itu?”

Tunggu. Ini terlalu tidak masuk akal, pikir Louise. 

Tapi justru detik berikutnya Louise kembali melihat Nayara mengangguk.

Louise mengambil tisu dan membersihkan sudut bibirnya. Wajahnya masih menunjukkan keterkejutan yang belum mereda.

“Tidak mungkin,” beo Louise memperlihatkan wajah yang tidak enak dipandang, “Caiden yang kau suka di masa sekolah waktu itu? Di sekolah kita.” pastikannya lagi. 

“Ya.”

Tubuh Louise lunglai, lemas mendadak. Jika tahu Nayara memiliki saudara lelaki yang membuat kepribadian Nayara berubah total, mana mungkin Louise bisa setenang ini!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 14

    Hari ini berakhir sangat melelahkan, pekerjaan yang melelahkan sekaligus hati yang terus terpusat pada sesuatu yang seharusnya tak Nayara pikirkan. Beruntungnya hari buruk tersebut berhasil dilewati oleh Nayara dengan susah payah. Kini, malam telah datang akan tetapi naasnya , rasa kantuk tidak kunjung menyerangnya. Dia merasa gelisah, padahal tubuhnya sudah amat lelah. Ia duduk di tepi ranjang dengan handuk masih melilit rambutnya yang basah. Tangan kanannya ia rendam di dalam baskom berisi air hangat yang ia minta dari dapur. Kulit di sela-sela jarinya merekah, memerah, dan perih karena tersiram oleh air panas. Ia menatap tangannya sendiri dengan tatapan kosong. Seharusnya rasa perih itu menyakitkan. Namun entah mengapa, rasa perih di hatinya jauh lebih menyiksa malam ini. Pikiran tentang air jahe yang dibuang beberapa hari yang lalu kembali datang. Tentang bagaimana dulu di masa sekolah Caiden juga selalu membuang bekal buatan Nayara ke tempat sampah di depan matanya

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 13

    Tiba di mansion Ashford. Nayara cepat melepaskan seat belt menyusul Caiden yang sudah lebih dulu keluar dari mobil tanpa mengucapkan satu kata pun. Cepat saja Nayara berjalan di belakang tubuh Caiden. Meski langkah Caiden amat lebar, langkah kecil Nayara tetap berusaha menyeimbangi meski harus sambil setengah berlari. “Masuk kamarmu, lalu bersihkan tubuhmu!” perintah Caiden tanpa nada setelah mereka sudah masuk ke dalam mansion. Setelah sekian lama, Nayara kembali merasakan kehangatan, merasakan bagaimana ada seseorang yang memperdulikannya.Ya, walau Nayara tahu jika apa yang dilakukan Caiden saat ini masih dalam bentuk tanggung jawab atas pesan yang dikatakan oleh Arthur. Tak mengapa.Ini lebih dari cukup bagi Nayara. “Ada apa? Kau tidak mendengar apa yang ku katakan barusan?” tegur Caiden dengan nada rendah. Saat dia melihat Naraya yang masih berdiri di belakangnya tanpa beranjak sedikit saja. Nayara mengangkat wajah, memperlihatkan rambut basah yang terlihat acak bak seekor

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 12 : Kehangatan Dari Sentuhan Tangan

    “Bodoh!” tekan Caiden memaki lewat suara rendahnya, “Apa kau berniat tidur di sini?”Pelupuk mata Nayara berkedip-kedip saat menatap Caiden yang berdiri menjulang tinggi di depannya.“K-kamu … kenapa bisa ada disini?” tanya Nayara kebingungan, bibirnya menggigil sebab terlalu lama berada di luar ruangan dimana hujan terus mengguyur deras. Pertanyaan yang terdengar bodoh untuk diucapkan. “Menurutmu?” Caiden menaikkan satu alisnya intimidatif. Lihatlah! Betapa dingin serta datar sorot mata Caiden seolah ingin menelan mentah-mentah dirinya. Pasti pria itu merasa sangat direpotkan karena ia tidak kunjung kembali ke kediaman Ashford. Menyadarinya, Nayara segera beranjak dari duduk. Naasnya tubuhnya tak seimbang sebab terlalu lama duduk di bawah berselimut udara dingin. Ia segera jatuh jika saja Caiden tidak segera menangkap pinggangnya. Mereka berdua saling bersitatap sepersekian detik. Membiarkan wajah tampan serta rahang Caiden yang mengetat keras karena marah terlihat jelas di pupi

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 11 | Hujan |

    Langit jingga redup gelap. Gerimis datang melanda kota membasahi jalanan kota yang dilalui kendaraan empat. Nayara yang baru pulang kerja, berlari menerobos air hujan menuju halte bus.Hari ini Nayara pulang lebih terlambat dari hari sebelumnya. Senior yang tidak suka terhadapnya sejak awal dia datang, selalu memiliki cara untuk mempersulitnya.“Hari ini, kau tidak boleh pulang lebih awal.”Nayara menatap wanita itu tak mengerti, “Alasannya apa?”“Kau berani membantah!”“Sesuai dengan prosedur kerja. Kamu tidak bisa memberikan jam tambahan kepada saya tanpa alasan yang jelas,” papar Nayara, memberikan protes lewat suara yang masih terdengar lembut. Nayara mendengar satu fakta di tempatnya bekerja. Bahwa wanita yang selalu bersikap semena-mena padanya memiliki hubungan tak biasa dengan pihak manager. Karena itu, wajar saja jika wanita tersebut memiliki sikap yang pongah. Wanita itu mendengus semakin tidak suka, “Lihatlah tumpukan piring di atas wastafel. Kau harus membersihkannya le

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 10 : Sesuatu Yang Terasa Aneh

    Menjelang sore hari, Nayara keluar dari Resto Amoure setelah mengganti pakaian kerja berganti pakaian casual. Ikatan rambut yang sudah tidak rapi itu menampar pelan wajahnya saat tertiup oleh angin. Pandangan Nayara mengarah pada ponsel yang berada di genggaman tangannya. Louise bilang, dia akan menjemputnya. Akan tetapi saat Nayara keluar, Louise tidak kunjung datang. Ia memutuskan berjalan menuju halte. Menunggu Louise menyusul kesana sembari mengirim pesan. Namun baru beberapa langkah saja. “Nayara,” Suara Louise yang memanggil sambil melambaikan tangan menghentikan pergerakan Nayara. Gadis itu mengukir senyum, “Ku pikir kamu tidak jadi menjemputku.”“Mana mungkin,” balasnya sambil mendekat, “Aku sudah bilang akan menjemputmu pulang di hari pertama kali kamu bekerja. Aku tidak mungkin ingkar janji.”Nayara hanya menatap Louise dalam senyum tipis. “Ini!” Louise menyodorkan paper bag berisi makanan kepada Nayara. Dari logo yang tertempel di bungkusnya, Nayara yakin jika itu ada

  • OBSESI KAKAK TIRI    Bab 9

    Roti panggang, telur, roti, serta aroma kopi menguar memenuhi udara sejak Nayara menginjakkan kaki di meja makan. Dengan sengaja ia menarik kursi sedikit jauh dari Caiden hanya karena tidak ingin mengganggu pandangan pria itu. Sarapan pagi berlangsung dalam keheningan. Tidak banyak yang Nayara lakukan. Selain fokus dengan sepotong roti dan telur diatas piringnya. Dia bahkan tidak mengangkat wajah, tidak melirik juga ke arah Caiden. Seolah acuh tak acuh padahal sebenarnya jantungnya sudah berdetak dengan hebat. ‘Tenang-lah … kau harus menahan sedikit lagi demi aturan Ashford,’ batin Nayara memberi semangat pada dirinya sendiri saat memotong roti lalu menyuap ke mulutnya. Sedangkan Caiden sendiri, pria itu sedang memutar garpu pelan dalam genggaman tangannya. Garis di dahinya terlihat mengkerut saat mengamati Nayara dalam diam. Kedua alis mata yang hitam tebal nyaris menyatu. Caiden mengenal bagaimana Nayara dulu mengejarnya tanpa kenal situasi. Gadis itu dulunya selalu memanfa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status