LOGINMenanti Caiden turun dari ruang kerja, Nayara mengambil napas dalam-dalam. Sejak kejadian semalam, suasana di rumah terasa tidak nyaman.
Bahkan ketika Caiden berada di ruangan yang sama dengannya, Nayara selalu merasa harus berhati-hati dalam bergerak, seolah-olah kesalahan kecil saja dapat membuat lelaki itu kembali mengusirnya. Pagi ini, Nayara sengaja menunggu di ruang keluarga. Ia sudah berjanji kepada Louise untuk bertemu di kafe, tetapi sebelum pergi, ia ingin menyelesaikan persoalan semalam. Setidaknya, ia ingin meminta maaf tanpa berusaha membela diri. Ketika pandangannya menangkap Caiden yang sedang menuruni anak tangga, Nayara segera berdiri. “K-Kak Caiden,” panggilan Nayara membuat alis hitam tebal Caiden nyaris bersatu, seolah heran melihat Nayara sengaja menghampiri sosok lelaki itu. Caiden hanya diam, seperti siap mendengar kalimat Nayara yang sudah sangat hafal di luar kepalanya. Pria itu pasti berpikir bagaimana Nayara akan berusaha memasang wajah sedih seakan gadis itu tidak melakukan kesalahan, dan bagaimana gadis itu selalu memiliki seribu pikiran licik untuk dekat dengannya. “A-aku ingin mengucapkan sesuatu tentang kejadian hal yang sudah terjadi semalam,” ujar Nayara lirih. Ia harus tetap bicara, meski Caiden mungkin akan merasa kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya hanya berisi pembelaan diri. Ia tahu Caiden melihat seberapa tidak tahu malu dirinya, tahu seberapa gigih serta egois gadis itu. Nayara menarik napas panjang. Setelah itu, ia menunduk dalam, “Maaf. Maafkan aku.” Mata Caiden menyipit, tatapan seksama masih tertuju pada bola mata Nayara yang jernih. Nayara tahu Caiden tidak akan percaya begitu saja. Akan tetapi, permintaan maafnya kali ini benar-benar tulus. “Aku tahu seberapa besar kesalahanku padamu karena sudah mengganggumu dulu. Sekarang …” ujaran Nayara menggantung saat gadis itu mengambil jeda napas dalam-dalam. “Sekarang, aku adalah adikmu. Bisakah … bisakah kita menjalin hubungan saudara dengan baik kedepannya?” tanya Nayara dengan pandangan yang Caiden sendiri tidak tahu apa tatapan itu. Keheningan hadir sejenak. Caiden membuang napas singkat, raut wajahnya berubah masam, “Jangan ungkit status saudara sialan itu di depanku.” Setelah mengatakan itu, Caiden berlalu pergi meninggalkan Nayara begitu saja dalam kesunyian. Lutut Nayara lemas, ia memejamkan mata saat bersandar pada dinding untuk menelan pil pahit karena kata-kata Caiden. Nayara tahu satu hal. Caiden sangat membencinya, kata sangat sepertinya tak berlebihan. Tak mungkin Caiden sudi menerimanya sebagai saudara. Ya, tidak mungkin! Rasanya dunia Nayara runtuh. Ia tidak memiliki sandaran saat ini, menyakinkan Caiden terasa sangat mustahil. “Tidak apa-apa, Nayara, kamu tidak akan pernah mengganggunya lagi,” gumam Nayara mencoba menenangkan hatinya sendiri, “Sekarang waktunya aku harus menemui Louise. Pasti dia sudah menungguku.” *** Di Cafe Shimpon. Suara percakapan bercampur dengan bunyi sendok yang beradu dengan cangkir menghasilkan suara berisik yang khas. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, membuat Nayara merasa sedikit lebih tenang setelah meninggalkan kediaman Ashford. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan Louise dengan jangkauan matanya. “Nayara!” Suara panggilan yang sedikit berteriak itu membuat beberapa pengunjung menoleh. Begitu juga dengan Nayara, ia membelokkan pandangan ke arah kanan, lalu menemukan Louise sedang melambaikan tangan dari sebuah meja dekat jendela. “Louise?” “Ya, siapa lagi?” Louise membalas sambil menampilkan senyum cerah. Nayara tertawa kecil sebelum menghampirinya. Begitu gadis itu tiba, Louise segera bangkit dan memeluk tubuh ramping Nayara sebentar. Mereka memang tidak benar-benar kehilangan hubungan sejak Nayara pindah. Louise beberapa kali datang ke kota tempat Nayara tinggal, tetapi selalu dalam kurun waktu singkat. Kesibukan pekerjaan membuat keduanya tidak bisa bertemu sesering dulu. “Kita sudah sangat lama tidak berjumpa. Aku benar-benar merindukanmu,” kata Louise berterus terang. Nayara menggeleng sambil tersenyum. Ia meletakkan tas selempangnya di kursi, kemudian duduk berhadapan dengan Louise. Louise sendiri langsung memperhatikan wajah Nayara yang terlihat sedikit lelah. “Kau baik?” “Sangat.” “Benarkah?” Nayara mengangguk menyakinkan. “Bagaimana denganmu?” tanya Nayara balik. Louise mengibaskan tangan. “Lupakan tentang bertanya kepadaku. Memangnya apa yang bisa terjadi padaku? Aku hanya bekerja, pulang, tidur, lalu bekerja lagi. Hidupku membosankan.” “Kau masih bekerja di tempat yang sama?” pertanyaan Nayara terlontar lagi. “Masih, dan atasanku masih sama menyebalkan seperti sebelumnya,” celetuk Louise mengandung umpatan. Nayara tertawa lepas, hanya bersama Louise ia bisa seperti ini. “Seharusnya kau segera menceritakan mengenai keluarga barumu,” imbuh Louise, mengingatkan kembali tujuan pertemuan mereka di kafe ini. “Aku tahu kau sudah mengatakan lewat telepon kalau kepulanganmu ke kota ini karena ibumu menikah lagi. Tapi aku belum mendapatkan cerita lengkapnya.” “Tidak banyak yang bisa diceritakan,” tukas Nayara seakan tidak minat membahas keluarga barunya. “Jangan berbohong. Kau tinggal bersama keluarga barumu. Itu cukup membuatmu berbagi cerita padaku.” Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, memberi jeda obrolan mereka sejenak. Louise segera menarik gelas minumannya, sedangkan Nayara hanya mengambil air putih. “Bagaimana dengan keluarga barumu? Apa mereka baik?” tanya Louise setelah meneguk minumannya. Dia memilih banyak bertanya sebab Nayara sekarang lebih banyak diam, dan Louise tahu alasannya. Benar saja, lagi dan lagi Nayara tersenyum kecil. “Ya. Berita baiknya, suami Mama sangat baik. Dia bahkan sempat menawariku untuk kuliah, tetapi aku menolak.” Louise hampir tersedak karena terperangah. “Menolak? Kenapa?” cerca Louise seakan tidak terima. Melanjutkan kuliah akan baik untuk Nayara di masa mendatang. Dia sangat menyayangkan jika sahabatnya itu harus menolak. “Aku tidak ingin merepotkan mereka.” Louise meletakkan gelas nya sedikit kasar. Wajahnya berubah bersungut tak bersahabat. “Nayara, kau tahu tidak? Kadang-kadang aku benar-benar ingin mengguncang kepalamu.” Bibir Nayara mengerucut sebal, “Kenapa?” “Kau terlalu sering memikirkan apakah orang lain akan merasa terganggu oleh keberadaanmu. Kalau seseorang menawarkan sesuatu yang baik, kau justru sibuk memikirkan bagaimana caranya agar kau tidak merepotkan.” Nayara menunduk sendu, “Itu memang benar kan, aku hanya tidak ingin berhutang terlalu banyak pada orang lain.” “Berhutang?” Louise mengulang kata itu sambil membuka mulut lebar-lebar, “Mana ada berhutang pada keluarga sendiri. Ini kesempatan bagus, kuliah untuk masa depanmu.” “Aku tahu.” “Kalau begitu, kenapa masih menolak?” tuntut Louise, “Jangan katakan kau masih terbayang-bayang tentang masa lalumu itu. Kau berubah banyak sejak kejadian dimana kau di-bully satu sekolah.” Nayara mengusap ujung gelasnya dengan ibu jari, gemetar. “Ya, itu memang kebodohanku, dan karena aku juga tidak yakin semuanya akan berjalan baik. Karena itu aku harus menolak kebaikan Papa tiriku.” Louise mengamati wajah sahabatnya beberapa saat. Ia mengenal Nayara cukup lama untuk mengetahui bahwa jawaban tersebut bukanlah keseluruhan alasan. Dulu Nayara sangat periang, dia suka berbicara panjang lebar seolah memiliki gudang kosa kata tanpa ada habisnya. Namun semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan, semenjak Nayara mendapatkan cemoohan, dan sejak keluarganya benar-benar hancur. Sifat Nayara berubah total. Terkadang Louise tidak mengenali sahabatnya kini. “Apa ada sesuatu hal lain yang mengganggumu?” tanya Louise hati-hati, seketika nada suaranya berubah menjadi rendah dan halus. Nayara mengangkat wajah, bibirnya gemetar lebih dulu sebelum ia berbicara. “Ya. Kau tahu,, ternyata mama menikah dengan seorang duda yang sudah memiliki putra.” “Bagus. Kamu jadi memiliki saudara,” hibur Louise, artinya ada yang menjaga Nayara selain dirinya. Selama ini, hidup Nayara terlalu sepi dan Louise tahu itu. “Dia… lelaki dua tahun lebih tua dariku.” Louise mengangguk-angguk. “Oh, jadi ada kakak laki-laki.” “Ya.” “Namanya siapa?” tanyanya, obrolannya menjadi lebih ringan meski raut sendu Nayara masih tak berubah. Louise bahkan tidak memahami kenapa gadis itu harus memasang wajah murung. Padahal Nayara sendiri yang mengatakan jika dia mendapatkan keluarga yang baik. Kenapa juga gadis itu harus sedih. Louise yang semula hendak mengambil kue di atas piring menghentikan tangannya. Ia menatap Nayara dengan alis terangkat. “Kenapa?” Nayara menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu mengapa menyebutkan nama itu terasa begitu berat, padahal Louise adalah orang yang paling mengenal dirinya. “Namanya Caiden.” Louise baru saja meneguk minumannya. Kalimat itu berhasil membuatnya tersedak. “Uhuk!” Louise langsung menyemburkan sebagian minuman ke arah meja, kemudian buru-buru menutup mulut dengan telapak tangan. “Caiden?” Nayara mengangguk pelan. Louise menatapnya seakan baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. “Caiden?” ulangnya sekali lagi seolah masih menolak percaya. “Hm,” dehem Nayara. “Caiden yang itu?” Tunggu. Ini terlalu tidak masuk akal, pikir Louise. Tapi justru detik berikutnya Louise kembali melihat Nayara mengangguk. Louise mengambil tisu dan membersihkan sudut bibirnya. Wajahnya masih menunjukkan keterkejutan yang belum mereda. “Tidak mungkin,” beo Louise memperlihatkan wajah yang tidak enak dipandang, “Caiden yang kau suka di masa sekolah waktu itu? Di sekolah kita.” pastikannya lagi. “Ya.” Tubuh Louise lunglai, lemas mendadak. Jika tahu Nayara memiliki saudara lelaki yang membuat kepribadian Nayara berubah total, mana mungkin Louise bisa setenang ini!Menanti Caiden turun dari ruang kerja, Nayara mengambil napas dalam-dalam. Sejak kejadian semalam, suasana di rumah terasa tidak nyaman. Bahkan ketika Caiden berada di ruangan yang sama dengannya, Nayara selalu merasa harus berhati-hati dalam bergerak, seolah-olah kesalahan kecil saja dapat membuat lelaki itu kembali mengusirnya.Pagi ini, Nayara sengaja menunggu di ruang keluarga. Ia sudah berjanji kepada Louise untuk bertemu di kafe, tetapi sebelum pergi, ia ingin menyelesaikan persoalan semalam. Setidaknya, ia ingin meminta maaf tanpa berusaha membela diri.Ketika pandangannya menangkap Caiden yang sedang menuruni anak tangga, Nayara segera berdiri. “K-Kak Caiden,” panggilan Nayara membuat alis hitam tebal Caiden nyaris bersatu, seolah heran melihat Nayara sengaja menghampiri sosok lelaki itu. Caiden hanya diam, seperti siap mendengar kalimat Nayara yang sudah sangat hafal di luar kepalanya. Pria itu pasti berpikir bagaimana Nayara akan berusaha memasang wajah sedih seakan gadi
Dulu, semasa SMA, Nayara sering mengalami perundungan dari anak-anak perempuan di angkatannya.Entah sudah berapa kali ia dipojokkan, dilabrak, atau sekadar langkahnya dijegal saat berjalan di koridor.Pernah juga seseorang melemparkan botol yang terbuka hingga menghantam tubuh Nayara. Airnya jatuh berceceran dari seragam hingga tetes demi tetes jatuh mengenang di lantai. Saat itu, Nayara mendelik, dia menatap gadis sebaya yang berdiri di depannya dengan tatapan marah. “Ups, tanganku licin,” katanya dengan wajah tanpa rasa bersalah, “Jika aku mengatakan botol itu melayang sendiri dan tak sengaja menghantammu, apa kamu percaya?”“Kamu pikir aku bodoh?” Nayara melawan.Dia tertawa mengejek, “Jika tidak bodoh berarti murahan.”Gelak tawa mengisi koridor sekolah. Nayara tentu tidak diam saja, ia yang tidak terima hendak menyerang balik gadis itu. Tapi meski begitu, gadis yang menyerang membawa pasukan teman-temannya hingga membuat Nayara tak mampu berkutik. Nayara kalah jumlah begitu m
Malam harinya.Nayara yang kehausan di tengah malam memilih turun ke lantai bawah dari kamar menuju dapur. Langkahnya gontai, berulang kali ia mengucek kelopak matanya yang ingin terpejam. “Sayang, pelankan suaramu!”“Tanggung, Arthur, salahkan dirimu sendiri. Kenapa kau tidak menutup pintunya dengan benar?”“Aku telah menahan selepas dari ruang kerja. Bagaimana bisa aku memperhatikan pintu tertutup dengan benar atau tidak?”“Sekarang, tutup pintunya.”“Ah, nanti saja, sebentar lagi aku ingin keluar.”Suara desah serta hentakan tubuh yang bertabrakan bergema ke seluruh penjuru kamar, bahkan suara tersebut sampai lolos melalui celah pintu yang tak tertutup dengan rapat. Saat di tengah jalan, persis di depan salah satu kamar yang harus dilewati, Nayara mengernyitkan kening keheranan saat indera pendengarannya tidak sengaja mendengar suara aneh yang berasal dari dalam sana. Suara itu, Nayara sangat kenal suara itu—suara milik mamanya.“Ah, kau bilang sebentar. Jangan terlalu kasar, na
Di meja makan, Nayara banyak menunduk, menyimpan sesuatu yang salah dalam batinnya. Hidangan sudah disajikan sejak Nayara datang dan saat ia menarik salah satu kursi untuk duduk di antara mereka. Keluarga Ashford? Nayara tidak mengingat jika Caiden memiliki marga demikian. Dulu mereka tinggal di satu komplek yang sama di sebuah perumahan elit. Mereka bertetangga dengan hanya berjarak dua rumah saja. Namun, keluarga Nayara kemudian goyah dan bercerai, bisnis keluarganya bangkrut, dan Nayara tidak tinggal di sana lagi. Nayara sungguh tidak tahu jika Caiden berasal dari keluarga yang tingkat kekayaannya lebih dari perkiraan. Nayara hanya tahu jika dulunya, saat Caiden menjadi kakak tingkatnya waktu SMA, pemuda itu sangat populer serta banyak diincar. Nayara malu. Namun, itu bukan perasaan malu biasa. Ada rasa sesal saat bertemu dengan Caiden kembali. Ia mengingat jelas bagaimana dulu ia mendekati Caiden secara terang-terangan. Tanpa sadar, Nayara mengingat masa lampau saat ia masih
“Mama akan menikah lagi. Tiga hari nanti, akan ada yang menjemputmu, kau bisa ikut mama ke kota.” Satu baris kalimat itu didengar oleh Nayara tiga hari yang lalu. Kini, dia sedang duduk di dalam kamar yang memiliki luas tak seberapa, merenung dengan tatapan penuh kesedihan yang jatuh pada tas yang terisi pakaian di sampingnya. Nayara tidak tahu harus bagaimana ia merespons perihal pernikahan mamanya yang terjadi untuk kedua kali. Kehidupannya sejak kecil penuh rasa kesepian. Semasa ia masih kecil, ia banyak menyaksikan orang tuanya sering bertengkar tanpa peduli keberadaan anak mereka di sekitar. Saat Nayara remaja, mereka memilih bercerai. Rumah tangga orang tua Nayara memang tidak bahagia sebab mereka tidak saling cinta satu sama lain. Keduanya menikah karena perjodohan yang dipaksakan orang tua masing-masing dengan alasan kesepakatan bisnis. Saat kedua orang tuanya berpisah, Nayara pun terpaksa hidup sendirian. Ayahnya pergi dan menikah lagi. Sedangkan Nayara jatuh ke hak







