Share

Chapter 11

Author: Dewa Amour
last update Last Updated: 2025-11-26 12:16:24

Rolls-royce phantom hitam yang dikemudikan oleh Alex, memasuki gerbang gedung apartemen mewah di pusat kota, di mana Griya Tawang miliknya berada di atas puncak bangunan 30 lantai tersebut.

Setelah mesin mobil dimatikan, Alex tidak buru-buru keluar dari mobilnya. Usai melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh, ia menoleh ke arah bungkusan di sampingnya.

Terdengar penuh perhatian, karena dia sudah membelikan banyak buku novel untuk Elsa. Mungkin dia akan serahkan buku-buku itu kepada Rebecc
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 150

    KEDIAMAN DONOVAN – 20:00 PMHujan gerimis membasuh kaca jendela kediaman Komisaris Besar Edward Donovan, menciptakan suasana yang kontras dengan dunia luar yang penuh dengan desing peluru dan intrik politik. Di dalam ruang makan yang hangat, Margaret Donovan sedang menata piring-piring porselen saat putra kesayangannya, Letnan Noah Sky Donovan, melangkah masuk bersama rekannya, Julio."Ah, kalian tepat waktu!" seru Margaret dengan senyum keibuan yang menyejukkan. Edward Donovan, sang Komisaris yang biasanya terlihat kaku di markas, kini hanya mengenakan kemeja santai, bangkit dari kursinya untuk menyapa kedua polisi muda itu dengan jabatan tangan yang kokoh.Di antara mereka, duduk seorang wanita yang kehadirannya terasa ganjil namun memikat. Leah Borne. Rambut pendeknya membingkai wajah campuran Turki-Italia yang kini terlihat lebih lembut tanpa masker taktis. Ia terdiam, jari-jarinya memainkan sendok perak dengan ragu. Dalam benaknya, badai sedang berkecamuk. Ia adalah tentara b

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 149

    QUEEN DE BALERINA - 17:00 PMLangit di atas San Alexandria mulai berubah warna menjadi jingga keunguan, memantulkan cahaya redup pada pilar-pilar megah gedung Queen de Balerina. Suara denting piano yang sayup-sayup terdengar dari ruang latihan perlahan menghilang, digantikan oleh derap langkah kaki para murid yang berhamburan keluar.Di koridor utama, Elsa Wilson berjalan bersisian dengan Tessa. Keduanya masih mengenakan jaket latihan yang menutupi kostum balet mereka. Napas Elsa masih sedikit memburu setelah latihan intensif selama empat jam terakhir."Bagaimana kondisi Tuan Muda Marquez?" tanya Tessa dengan nada khawatir yang tulus. "Berita tentang kecelakaan di San Mitero itu benar-benar mengerikan. Aku melihat foto kudanya yang jatuh ke jurang di surat kabar."Elsa menghela napas panjang, tatapannya sedikit kosong. "Kakak sudah jauh lebih baik. Cederanya mulai pulih, meski dokter bilang dia masih butuh fisioterapi untuk kakinya.""Syukurlah," Tessa tersenyum lega, lalu menyikut l

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 148

    BUNGALOW WILSON – 08:00 AMSatu pekan telah berlalu sejak debu di lintasan San Mitero mengendap, namun bara api dendam justru semakin berkobar di jantung kediaman Wilson. Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela ruang kerja David Wilson terasa dingin dan tajam. BRAKK! David menggebrak meja jati besarnya hingga botol tinta bergetar."Satu pekan, Malik! Satu pekan putraku terbaring di ranjang rumah sakit dengan besi penyangga di kakinya dan perban di kepalanya!" suara David menggelegar, sarat dengan penderitaan seorang ayah yang hancur.Malik menunduk dalam, tangannya tertaut kaku di depan tubuh. "Mohon maaf, Tuan Besar. Insiden itu telah kami selidiki secara menyeluruh. Kuda putih Tuan Muda Marquez memang disuntik dengan senyawa penghancur syaraf sesaat sebelum start."David memutar kursinya, menatap taman melalui kaca besar dengan napas memburu. "Siapa? Aku tidak butuh penjelasan teknis, aku butuh nama!""Bukti-bukti mengarah pada Jeremy Hilton, tangan kanan Alex Parker di Parta

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 147

    LINTASAN PERBUKITAN SAN MITERO – 06:30 AMTerompet panjang menggema, membelah kabut fajar yang masih menyelimuti bukit San Mitero. Debu tanah berterbangan saat kuda-kuda jantan terbaik mulai melesat. Alex Parker, dengan Frenk yang berwarna hitam legam, melesat bagaikan bayangan maut. Penonton bersorak riuh, namun di balik kacamata hitamnya, mata Alex tetap dingin dan hampa. Marquez Wilson menempel ketat di belakangnya, memacu kuda putihnya dengan ambisi yang meluap, sementara Charlie Desmond dari Partai Hitam Putih tampak tertinggal beberapa meter di belakang.Juanito Dolores duduk tenang di kursi penonton, menghisap cerutunya perlahan. Baginya, lintasan ini bukanlah area olahraga, melainkan kuburan massal. Ia telah merancang skenario di mana dua raksasa—Parker dan Wilson—akan berakhir di dasar jurang.Bencana dimulai di tengah lintasan. Frenk tiba-tiba meringkik liar. Otot-otot kuda itu menegang tak wajar, matanya mulai memerah dan busa tipis keluar dari mulutnya. Alex merasakan g

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 146

    PELATARAN BANDARA – 07:00 AMDeru mesin Ferrari merah keluaran terbaru membelah keheningan pagi di sekitar area bandara. Mobil itu berhenti dengan presisi yang arogan. Marquez Wilson keluar dari kabin mewah tersebut, sosoknya dibalut setelan jas abu-abu yang disetrika sempurna, kacamata hitam menyembunyikan tatapan dingin sang CEO Wilson Corporation. Ia bersandar di kap mobilnya, membiarkan angin pagi memainkan rambutnya yang rapi. Pesonanya tak terbantahkan; beberapa wanita yang melintas tak kuasa menahan senyum kagum, namun bagi Marquez, mereka hanyalah dekorasi yang tak berarti.Seorang pria bertopi hitam bernama Bruno muncul dari balik pilar, melangkah tergesa-hampir membungkuk-saat mendekati Sang Putra Mahkota. Marquez tak ingin membuang waktu dalam basa-basi yang tak berguna. Tanpa sepatah kata pun, ia menyodorkan segepok uang tunai dalam ikatan tebal.Sebagai gantinya, Bruno menyerahkan sebuah amplop cokelat besar. Di dalamnya, tersimpan bukti "kemenangan" Marquez: foto-foto

  • OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua    Chapter 145

    PENTHOUSE CAMILA – 09:00 AMKeheningan pagi di penthouse pusat kota itu pecah oleh hantaman keras tangan Camila Palmer ke meja marmernya. Thomas, asisten kepercayaannya, berdiri mematung dengan kepala tertunduk setelah menyampaikan kabar buruk. Fabrizio dan Nacos, dua algojo terbaik yang dikirim untuk mengacaukan teater, kini mendekam di balik jeruji besi Mabes Polri San Alexandria."Sialan!" desis Camila. Ia melangkah cepat menuju balkon, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya yang memerah karena murka. Rencananya hancur berantakan. Ia segera merogoh ponselnya dan menekan nomor Juanito Dolores.Di Salvador Timur, tepatnya di peternakan kuda milik Leonard, Juanito sedang menikmati aroma rumput basah. Ia sedang mengelus seekor kuda pacu jantan milik Alex Parker yang dititipkan di sana—kuda yang akan menjadi kunci sabotase di San Mitero nanti. Malik, tangan kanan Juanito, menghampiri dengan langkah tenang."Madame Camila menelpon, Bos," bisik Malik.Juanito menyeringai. Ia menoleh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status