ホーム / Romansa / OBSESI TUAN STERLING / Bab 84: Jejak yang Dingin

共有

Bab 84: Jejak yang Dingin

作者: Sena
last update 公開日: 2026-02-09 15:05:20

Sore itu, Pak Heru memarkirkan sedan hitam milik keluarga Sterling tepat di posisi biasanya. Ia datang lima menit sebelum bel pulang berbunyi, memastikan sang Tuan Putri tidak perlu menunggu sedetik pun di bawah terik matahari. Namun, saat gerbang sekolah dibuka dan aliran anak-anak mulai menyusut hingga menyisakan kesunyian di halaman sekolah, Alora tidak kunjung terlihat.

Pak Heru keluar dari mobil, melangkah dengan tenang namun waspada menuju pos penjagaan. "Nona Alora belum keluar?"

Satpa
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 144: Om Tunggu Kamu Besar, Sayang

    Aiden meletakkan serbet di atas meja dengan gerakan yang sangat tenang. Ia mengelap sudut bibirnya tanpa sisa, seolah baru saja menyelesaikan tugas formal yang membosankan.“Gue ke toilet sebentar,” ucapnya pendek.Kaelan hanya mengangguk tanpa curiga, kembali larut dalam obrolan bersama Kevin dan Julian. Namun, Aiden tidak melangkah ke arah toilet di lantai bawah. Ia justru berbelok, menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, seperti predator yang sudah hafal setiap jengkal wilayahnya.Tujuannya hanya satu: kamar dengan pintu kayu berukir yang tadi dimasuki oleh Alora.Aiden memutar kenop pintu dengan sangat perlahan. Keadaan di dalam kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur berbentuk awan yang membiaskan cahaya kekuningan. Ia bisa melihat dua sosok kecil di sana; bayi Kevin yang terlelap di boks, dan Alora yang meringkuk tenang di atas tempat tidur besarnya.Aiden melangkah mendekat. Ia tidak duduk di kursi, melainkan langsung di

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 143: Diner

    Halaman luas Sterling Manor malam itu berubah menjadi pameran otomotif dadakan. Deretan mobil mewah terparkir rapi, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di teras belakang yang luas, suasana hangat menyambut siapa pun yang datang.Kevin tampak luwes menggendong putranya yang baru berumur beberapa bulan, sementara Sela, istrinya, asyik tertawa bersama Vera dan Regina di area sofa. Di sudut lain, Julian tak henti-hentinya mengelus perut Regina yang kian membesar, seolah sedang berkomunikasi dengan calon bayi mereka.“Hahaha... memang bagus baju-baju di sana. Kapan-kapan kita harus belanja bareng,” ucap Vera menanggapi cerita Sela.“Nah, itu dia! Tolong bantuin aku belanja perlengkapan bayi dong. Aku bingung mau beli apa saja, si Julian ini nggak paham apa-apa,” keluh Regina sambil menepuk gemas lengan suaminya.“Loh, paham aku, Sayang! Aku ini dokter, ingat?” bela Julian tak mau kalah.Regina mencibir lucu. “Nggak ada hubungannya kamu dokter sama milih motif baju bayi, Jul. Co

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 142: The Gifted Child

    Lampu kristal di ruangan kantor Nyonya Adeline memantulkan cahaya yang elegan, namun atmosfer di sana terasa dingin sebelum Vera meletakkan lembaran sketsa terbarunya di atas meja marmer tersebut. “Saya sudah melihat berbagai macam gambar desain dari karyawan Anda, Nyonya Vera. Dan hasilnya? Tidak ada yang menarik hati saya sedikit pun,” ucap Nyonya Adeline dingin. Ia duduk dengan punggung tegak, menatap Vera dengan tatapan yang menuntut kesempurnaan. Vera tidak gentar. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri, aura profesionalismenya terpancar kuat. “Saya mengerti, Nyonya Adeline. Karena itu, ini adalah gambar desain yang saya rancang sendiri khusus untuk Anda. Silakan dilihat.” Adeline meraih kertas tersebut dengan gerakan anggun. Begitu matanya menangkap detail gaun dengan aksen feathers dan payet yang rumit hasil goresan tangan Vera, sudut bibirnya perlahan terangkat. Keangkuhannya mencair seketika. “Ini... baru yang namanya karya seni. Ini sangat bagus,” gumam A

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 141: Tawaran Honeymoon

    Setelah memastikan Alora masuk ke gedung sekolah dengan aman, Vera tidak langsung pulang. Ia mengarahkan mobilnya membelah kemacetan kota menuju gedung pencakar langit. Begitu langkah kakinya yang beralaskan heels tinggi menyentuh lobi perusahaan, suasana seketika berubah formal dan penuh hormat. "Selamat siang, Bu Vera," sapa para karyawan di sepanjang koridor. Vera hanya memberikan anggukan kecil yang elegan, namun tatapannya tajam menyapu setiap sudut. Ia langsung menuju lantai galeri seni, tempat di mana karya-karya bernilai tinggi dipamerkan dan dipesan oleh para kolektor kelas dunia. "Bagaimana dengan pemesanan bulan ini?" tanya Vera langsung kepada Head of Gallery yang segera menghampirinya dengan tablet di tangan. "Semuanya lancar, Bu. Antusiasme kolektor sangat tinggi, bahkan keuntungan kita hampir melampaui target kuartal ini," lapor manajer tersebut dengan nada bangga. Vera mengangguk puas. Ia berjalan perlahan, memperhatikan beberapa seniman yang sedang fokus menggore

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 140: Pagi yang Sial dan Nikmat

    Cahaya matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik tirai kamar utama Sterling Manor. Vera merasakan beban kecil menindih sisi ranjangnya, diikuti suara tawa renyah yang selalu menjadi alarm alaminya setiap hari. Ia membuka mata perlahan, menemukan Alora sudah duduk manis dengan mata bulatnya yang berbinar.Vera melirik tubuhnya sendiri. Baju tidur satin. Ia tersenyum tipis mengingat siapa yang dengan telaten memakaikan kain itu setelah ia lemas tak berdaya semalam."Pagi, Mama..." sapa Alora ceria."Pagi, Darling. Kamu terlihat bersemangat sekali, ada yang terjadi?" tanya Vera sambil merapikan rambut putrinya yang sedikit berantakan.Alora menggeleng cepat, namun binar di matanya tidak bisa berbohong. Vera yang sudah sangat mengenal gerak-gerik putrinya segera mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada headboard ranjang."Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu, hm?"Alora menghirup napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian. "Mama, Alora mau lanjut sekolah di Paris."Vera

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 139: Terlalu Berisik di Bawah

    Suasana kamar yang tadinya sudah panas kini berubah menjadi liar. Suara kulit yang beradu—PLOK! PLOK!—terdengar ritmis dan berat, mengiringi setiap hantaman Kaelan yang semakin dalam dan tanpa ampun.Vera mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih, tubuhnya terombang-ambing di bawah kuasa suaminya.“Ah... Kaelan, aku mohon... stop... ah!” rintih Vera, suaranya parau, matanya berair karena stimulasi yang sudah melewati batas pertahanannya.Kaelan tidak berhenti. Ia justru membungkuk, menumpu berat tubuhnya dengan lengan yang kokoh, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera. Ia menghisap kulit sensitif di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas.“Tidak akan, Baby,” bisik Kaelan dengan suara bass yang menggetarkan dada Vera. “Kita baru saja mulai.”“Ah... ah... ah!” Vera akhirnya memejamkan mata, melepaskan sisa-sisa perlawanannya. Tubuhnya melunak, membiarkan Kaelan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Namun, bukannya diam pasrah, gairah Vera justru tersulut lebih b

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 4: Kabur kedalam Bahaya

    Ciuman Kaelan di dalam mobil mewah itu bukanlah sebuah gairah; itu adalah hukumanm, deklarasi perang yang meluap-luap. Bibirnya menekan Vera, brutal, dipicu oleh amarah dan kekaguman berbahaya atas keberanian Vera mengorek masa lalunya. Namun, alih-alih panik, duri Vera merespons. Dia tidak memba

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 3: Duri

    Vera terbangun dengan perasaan canggung yang mengancam untuk mencekiknya. Matanya membuka dan disambut oleh pemandangan yang sama dinginnya dengan dinding kamar: Kaelan Sterling. Ia sudah bangun. Posisinya menyamping ke arah Vera, lengannya ditekuk di bawah kepala. Ia tidak tidur; ia mengawasi. T

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 2: Malam Pertama di Neraka

    Mobil Kaelan, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat, meluncur mulus, membelah malam yang sunyi. Di dalamnya, Vera duduk tegak, gaun pengantinnya yang mewah terasa seperti beton yang mengeras. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak ciuman mendominasi Kaelan di altar, tetapi pikiranny

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 1: Ikrar di Bawah Paksaan

    Gaun pengantin ini seharusnya menjadi simbol harapan… omong kosong. Bagi Vera Thorne, gaun satin putih itu hanyalah jerat yang dingin, sangkar emas yang dipaksakan. Dia memandang bayangannya di cermin besar. Bukan air mata yang menghiasi matanya, melainkan api dingin amarah dan perhitungan. Sepul

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status