Accueil / Romansa / OBSESI sang Berondong HYPER / KR 102. Yang Ditakutkan Rivan

Partager

KR 102. Yang Ditakutkan Rivan

Auteur: Ziya_Khan21
last update Date de publication: 2026-05-28 22:58:14
Hujan masih terus turun di luar gedung rumah sakit Kyoto. Rintik airnya menghantam kaca jendela lorong dengan bunyi kecil yang berulang—namun malam ini, suara itu justru terasa jauh lebih berat dan menyesakkan daripada biasanya.

Satu kata masih terus berputar di kepala Kania, tak kunjung hilang: Kanker.

Terlalu berat. Terlalu tiba-tiba. Dan anehnya, mengetahui hal itu membuat semua rasa marah dan kecewa yang selama ini ia pendam mendadak terasa kecil dan tak berarti. Wanita yang selama ini i
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (5)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
seburuk apa masa lalu Rivan sampai dia takut dibenci sama Kania..
goodnovel comment avatar
kak ros
kalian hrus bersama ,jdi bisa saling menggenggam untuk menjdi kuat melewati smua nya. keep strong
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
yang penting kalian bersatu biar bisa melewati semua ini
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 128. Kemarahan Kania

    Profesor Surya.Ia kembali berbicara. Namun kali ini, suaranya terdengar jauh lebih dekat dan nyata. Seolah ia sedang berada di dalam gedung yang sama, bukan lagi berbicara dari tempat yang jauh.“Aku sudah menunggu kedatangan kalian sejak lama.”Kelia segera menyalakan senter yang ia bawa. Sinar putihnya menyapu seluruh ruangan yang gelap. Dan tepat saat itu, sebuah pintu baja besar di ujung ruangan perlahan terbuka dengan sendirinya.KREEEKKK…Suara gesekan logam yang panjang dan menyeramkan bergema ke seluruh penjuru.Lalu dari balik kegelapan di balik pintu itu, sesosok tubuh mulai terlihat.Seseorang sedang duduk di atas kursi roda. Kepalanya tertunduk, tubuhnya tampak kurus dan lemah, serta rambutnya telah memutih seluruhnya.Napas Kania seolah berhenti seketika. Ia mengenal sosok itu dengan sangat baik.“Bu Ratih!” serunya dengan suara yang sedikit pecah karena kaget dan cemas.Ia hampir berlari mendekat, namun langkahnya terhenti. Sebab kursi roda itu bergerak maju perlahan, s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 127. Peringatan Raka

    Tiba-tiba gambar di layar itu memperbesar pandangan secara otomatis. Cukup jelas untuk memperlihatkan separuh wajah orang itu.Dan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sepuluh tahun yang panjang, Rivan melihatnya kembali.Bukan di dalam foto.Bukan dalam bayangan ingatan.Bukan pula dalam mimpi.Melainkan wajah yang selama ini terus hidup di dalam pikirannya.Ia tampak lebih tua.Wajahnya tampak jauh lebih lelah dan keras.Ada sebuah bekas luka panjang yang melintang di pelipis kirinya.Namun itu tetaplah orang yang sama persis. Raka Aryawiguna.Dan tepat sebelum layar itu kembali menjadi gelap, pria itu tiba-tiba menatap lurus ke arah lensa kamera seolah tahu persis di mana mereka berada. Lalu dengan suara berat dan jelas, ia mengucapkan satu kalimat pendek.“Bawa Kania keluar dari tempat itu. Sekarang juga.”Ruangan seketika membeku dan hening total.Kalimat itu bukanlah sapaan rindu.Bukan pertemuan yang mengharukan.Dan bukan pula jawaban yang mereka tunggu-tunggu selama sepulu

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 126.

    Keheningan seketika menyelimuti seluruh penjuru Ruang Observasi Ketiga. Tak ada yang berani bersuara, tak ada yang berani bergerak. Sebab satu nama yang baru saja disebutkan kembali menghantam pikiran mereka dengan dahsyat.Raka.Dan kali ini, nama itu bukan lagi sekadar kenangan yang memudar. Bukan sekadar foto lama di dalam bingkai. Bukan pula sebuah misteri yang tak terjawab.Melainkan sosok yang kemungkinan besar sedang berada di dalam gedung yang sama dengan mereka saat ini.“Apa maksudmu sebenarnya?” tanya Rivan dengan suara rendah yang tajam dan penuh ketegangan.Namun Rayhan seolah tidak mendengarnya. Matanya masih terpaku lekat-lekat pada lampu indikator merah yang terus berkedip di atas papan kendali itu. Ia seolah berharap penglihatannya salah, berharap itu hanya kesalahan teknis atau kerusakan sistem biasa, namun ekspresi wajahnya justru mengatakan sebaliknya.“Ini adalah sistem keamanan model lama,” bisiknya dengan suara tertahan. “Sistem rahasia yang hanya diketahui kala

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 125. Petunjuk Baru

    Ruangan Observasi Ketiga kembali tenggelam dalam kegelapan. Seluruh layar monitor yang tadi menyala terang kini mati seketika, menyisakan keheningan yang terasa jauh lebih berat dan menyesakkan dibandingkan sebelumnya.Tak ada yang berani bergerak. Tak ada yang bersuara. Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Profesor Surya masih terus bergaung dan terngiang di dalam kepala mereka.“Sudah waktunya kita bertemu kembali secara langsung.”Dan bagi Rivan, kalimat itu tidak ditujukan untuk mereka semua. Ia tahu betul—kata-kata itu ditujukan khusus kepadanya. Secara pribadi.“Bos…”Suara Kelia akhirnya memecah keheningan yang mencekam, meski terdengar sangat pelan dan ragu.Namun Rivan tidak menjawab. Tatapannya masih terpaku pada layar yang kini gelap gulita itu. Rahangnya mengeras kuat, dan tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di tempat ini, Kania merasa sangat khawatir. Ia mengenali benar ekspresi wajah itu. Ekspresi yang han

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 124. Akhirnya Dia Muncul

    Seluruh Ruang Observasi Ketiga seketika diterangi cahaya yang menyilaukan. Puluhan layar monitor menyala serentak, semuanya menampilkan wajah yang sama persis. Wajah seorang pria tua yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam potongan ingatan yang kabur, berkas arsip lama, dan mimpi buruk mereka. Kini, pria itu ada tepat di hadapan mereka. Nyata. Hidup. Dan sedang tersenyum. “Selamat pagi.” Suara Profesor Surya Mahendra terdengar bergema memenuhi setiap penjuru ruangan. Nada bicaranya begitu tenang, santai, dan ramah, persis seperti seorang dosen tua yang sedang menyapa murid-murid kesayangannya. Namun justru itulah yang membuat suasana ini terasa jauh lebih mengerikan. Tak ada penyesalan sedikit pun di wajah keriput itu. Tak ada rasa bersalah. Tak ada ketakutan. Seolah puluhan tahun penderitaan, kehilangan, dan air mata yang ditinggalkannya hanyalah catatan kecil yang sama sekali t

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 123. Sama-sama Mencari

    Keheningan kembali menyelimuti Ruang Observasi Ketiga. Namun kali ini, keheningan itu bukan lagi tanda kebingungan atau ketakutan, melainkan tanda bahwa sesuatu telah berubah. Sesuatu yang mendasar dan kuat bangkit dari dalam diri Kania.Untuk pertama kalinya sejak segala rahasia masa lalu mulai terkuak, ia tidak lagi merasa seperti anak kecil yang tersesat di dalam labirin gelap. Ia juga tidak lagi merasa hanya sekadar korban yang tak berdaya dan terus-menerus harus mengejar jawaban orang lain.Sebab kini—ia merasa marah.Dan anehnya, kemarahan itulah yang membuat pikirannya menjadi jauh lebih jernih dan tajam daripada sebelumnya."Mereka salah," gumam Kania pelan. Air matanya sudah kering, dan tatapannya kini tertuju lurus pada layar besar di hadapannya. "Mereka salah menilaiku sepenuhnya."Rayhan memperhatikannya dengan lekat. Lama sekali. Lalu perlahan sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum lega milik seseorang yang akhirnya melihat ses

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status