Beranda / Romansa / OBSESI sang Berondong HYPER / KR 103. Saat Semuanya Terkuak

Share

KR 103. Saat Semuanya Terkuak

Penulis: Ziya_Khan21
last update Tanggal publikasi: 2026-05-29 03:00:57

Hujan di Kyoto turun semakin deras. Air menetes perlahan di kaca jendela rumah sakit, membentuk garis-garis panjang yang tampak buram di bawah cahaya lampu kota yang remang. Langit malam terlihat begitu gelap dan berat, seolah alam semesta pun ikut menanggung beban rahasia yang terlalu lama dipendam.

Di dalam ruang rawat yang hangat itu, Kania justru merasa tubuhnya semakin mendingin.

"Kebakaran itu... apakah memang disen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
siapa tuh yg muncul.. si dalang utama kah?
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
Duh suara siapa itu ya
goodnovel comment avatar
kak ros
siapa itu???? makin tegang aja huaaaaaaaa
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 132. Kenangan yang Tidak Boleh Hilang

    Raka bergerak paling cepat. Bukan menuju pintu, bukan pula ke layar monitor, melainkan langsung menghampiri Bu Ratih. Langkahnya tergesa—terlalu tergesa untuk seseorang yang baru saja bertemu kembali dengan adiknya setelah sepuluh tahun terpisah. Dan justru hal itu membuat semua orang sadar: situasinya jauh lebih buruk daripada yang mereka duga."Kak?" panggil Rayhan sambil ikut mendekat, wajahnya tampak tegang.Raka tidak menjawab. Tangannya sudah terulur memegang pergelangan tangan Bu Ratih, memeriksa gelang identifikasi yang melingkar di sana. Begitu melihat data yang tertera, wajahnya langsung mengeras."Sial," bisiknya pelan, namun cukup terdengar dan membuat suasana terasa semakin berat."Kakak."Suara Rivan terdengar dari belakang. Kali ini tidak ada nada marah, tidak ada teriakan—hanya ketenangan yang justru terasa lebih menekan. Dan itu membuat Raka menoleh, karena ia mengenali nada bicara itu: tanda bahwa adiknya sedang benar-benar cemas dan takut.Raka mengembuskan napas pa

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 131. Protokol yang Tidak lagi Aktif

    Keheningan langsung menyelimuti ruangan. Semua mata tertuju pada Raka. Untuk pertama kalinya sejak pria itu muncul, ketenangannya benar-benar retak—dan justru hal itu terasa jauh lebih menakutkan daripada kemarahan apa pun.“Dia telah mengaktifkan Protokol Elysium.”Nama itu menggantung berat di udara. Asing, namun cara Raka mengucapkannya membuat bulu kuduk semua orang meremang.“Kak,” panggil Rayhan pelan dengan nada tegang. “Aku kira seluruh data tentang Elysium sudah dihancurkan sepuluh tahun lalu.”Raka tertawa pendek, tanpa ada sedikit pun nada humor. “Itu juga yang aku pikirkan.”Ia menoleh ke layar monitor, menatap angka hitung mundur berwarna merah yang terus berkurang:09:3709:3609:35Dan wajahnya terlihat semakin memburuk.“Ada yang mau menjelaskan?”Suara Kelia akhirnya memecah keheningan. “Apa sebenarnya Elysium itu?”Tidak ada yang langsung menjawab. Bahkan Rayhan pun terlihat enggan berbicara, seolah sekadar mengingat nama itu saja sudah cukup menimbulkan rasa sakit.

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 130. Pertemuan yang Tertunda

    Layar monitor masih menampilkan sosok yang berjalan di lorong. Langkahnya tenang, stabil, dan tanpa keraguan—seolah seluruh fasilitas ini adalah rumahnya sendiri. Dan mungkin memang begitu.Setiap pintu yang dilewatinya terbuka secara otomatis. Tidak ada bunyi alarm, tidak ada sistem keamanan yang berusaha menghentikannya, tidak ada apa pun. Seolah bangunan tua itu masih mengenali pemilik akses tertingginya.“Kak Raka…” bisik Rayhan pelan, nyaris seperti seseorang yang baru melihat sesuatu yang tidak disangka-sangka.Sementara di sampingnya, Rivan berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun. Tatapannya terpaku lekat-lekat pada layar, pada sosok yang selama sepuluh tahun hanya hidup dalam ingatan dan mimpinya.DUM…Pintu baja besar di ujung Ruang Observasi Ketiga akhirnya terbuka perlahan. Bergerak berat, disertai suara decitan logam yang panjang dan menyeramkan.Semua orang seketika menoleh. Bukan lagi ke layar monitor, melainkan langsung ke pintu itu—ke dunia nyata, ke tempat seseorang y

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 129. Ingatan yang sedang Dirampas

    Lampu merah kecil yang terpasang pada gelang identifikasi di pergelangan tangan Bu Ratih tiba-tiba berkedip lebih cepat dari sebelumnya. Sekali, dua kali, tiga kali—lalu berubah menjadi menyala terus tanpa berkedip.Suasana di dalam ruangan seketika terasa jauh lebih dingin dan menyesakkan."Kelia."Suara Rayhan berubah menjadi tegang dan serius. "Coba lepaskan gelang itu sekarang juga.""Apa?" tanya Kelia bingung."Kita tidak punya banyak waktu," jawab Rayhan cepat. Tatapannya kini terpaku pada layar monitor yang baru saja menyala sendiri secara otomatis.Di layar itu muncul berbagai grafik dan garis-garis yang terus bergerak cepat. Terdapat data aktivitas otak, tekanan saraf, hingga gelombang ingatan. Dan semuanya menunjukkan perubahan yang sangat drastis dan tidak wajar."Ini tandanya prosesnya sudah dimulai," bisik Rayhan pelan, seolah sedang melihat mimpi buruk yang kembali menjadi kenyataan."Proses apa?" tanya Kania, meskipun di dalam hatinya ia sudah mulai menebak jawabannya—

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 128. Kemarahan Kania

    Profesor Surya.Ia kembali berbicara. Namun kali ini, suaranya terdengar jauh lebih dekat dan nyata. Seolah ia sedang berada di dalam gedung yang sama, bukan lagi berbicara dari tempat yang jauh.“Aku sudah menunggu kedatangan kalian sejak lama.”Kelia segera menyalakan senter yang ia bawa. Sinar putihnya menyapu seluruh ruangan yang gelap. Dan tepat saat itu, sebuah pintu baja besar di ujung ruangan perlahan terbuka dengan sendirinya.KREEEKKK…Suara gesekan logam yang panjang dan menyeramkan bergema ke seluruh penjuru.Lalu dari balik kegelapan di balik pintu itu, sesosok tubuh mulai terlihat.Seseorang sedang duduk di atas kursi roda. Kepalanya tertunduk, tubuhnya tampak kurus dan lemah, serta rambutnya telah memutih seluruhnya.Napas Kania seolah berhenti seketika. Ia mengenal sosok itu dengan sangat baik.“Bu Ratih!” serunya dengan suara yang sedikit pecah karena kaget dan cemas.Ia hampir berlari mendekat, namun langkahnya terhenti. Sebab kursi roda itu bergerak maju perlahan, s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 127. Peringatan Raka

    Tiba-tiba gambar di layar itu memperbesar pandangan secara otomatis. Cukup jelas untuk memperlihatkan separuh wajah orang itu.Dan untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sepuluh tahun yang panjang, Rivan melihatnya kembali.Bukan di dalam foto.Bukan dalam bayangan ingatan.Bukan pula dalam mimpi.Melainkan wajah yang selama ini terus hidup di dalam pikirannya.Ia tampak lebih tua.Wajahnya tampak jauh lebih lelah dan keras.Ada sebuah bekas luka panjang yang melintang di pelipis kirinya.Namun itu tetaplah orang yang sama persis. Raka Aryawiguna.Dan tepat sebelum layar itu kembali menjadi gelap, pria itu tiba-tiba menatap lurus ke arah lensa kamera seolah tahu persis di mana mereka berada. Lalu dengan suara berat dan jelas, ia mengucapkan satu kalimat pendek.“Bawa Kania keluar dari tempat itu. Sekarang juga.”Ruangan seketika membeku dan hening total.Kalimat itu bukanlah sapaan rindu.Bukan pertemuan yang mengharukan.Dan bukan pula jawaban yang mereka tunggu-tunggu selama sepulu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status