공유

Bab 2

작가: Ajeng padmi
last update 게시일: 2026-05-28 13:00:23

Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya.

Dia hanya coba realistis.

“Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.”

Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga besarnya dan juga mempersiapkan semuanya.

Meski begitu baik bapak atau ibu belum juga beranjak dari duduknya. Ica yang mau permisi ke kamar untuk nangis jadi tertunda.

Lima tahun hubungannya dengan Adam berakhir setragis ini.

Sebenarnya apa salahnya pada Adam hingga pria itu tega berbuat begini?!

“Adam butuh istri yang sederajat, bukan mahasiswi yang belum lulus.”

Kalimat pembuka ibu Adam tadi menamparnya dengan telak, bahkan bapak sudah hampir emosi mendengar itu, untung ibu langsung menenangkannya.

Kalau niatnya kayak gitu, ngapain juga datang melamarnya. Orang aneh.

Belum lagi Adam yang hanya diam saja seolah membenarkan ucapan ibunya.

Ihhh Ica gemes banget pengen menoyor kepala pria itu, siapa tahu dengan begitu otaknya bisa benar lagi.

“Benar, Ca. Kami ingin kamu bahagia dengan pilihanmu bukan menjual kamu. Kasihan Saka.”

Salah lagi, Ica sih tahu kedua orang tuanya sangat ikhlas mengeluarkan biaya untuk pernikahannya, tapi dia hanya ingin menguji keseriusan si om itu. Bisa saja kan dia juga sama nggak bertanggung jawabnya dengan Adam.

Ica nggak muluk-muluk kok kalau mau cari suami, dia hanya ingin menikah dengan orang yang baik, sayang padanya dan orang tuanya serta bertanggung jawab.

Point dua dan tiga ini yang belum yakin meski sudah menyetujui lamarannya.

Kalau tentang dia orang baik atau tidak, tidak mungkin bukan bapaknya bisa berteman dengan orang yang tidak baik.

“Kok Kasihan Saka sih, bu, yang anak ibu aku lho. Aku juga yang ditinggalkan,” jawab Ica.

Ibunya kadang-kadang aneh juga.

“Ya kasihan kalau dia keluar uang banyak tapi kamu menggunakannya hanya untuk menutup malu saja.”

“Ibu ih, itu kan memang tujuan awal.”

Ica menatap kedua orang tuanya dengan gemas. Tapi baik bapak maupun itunya malah melotot tajam padanya.

“Itu yang ibu dan bapak tidak suka! Menikah itu bukan permainan, ibu selalu berdoa supaya kamu dapat jodoh yang baik dan bahagia sampai maut memisahkan.”

“Aminnn...semoga dengan om Saka, bisa jadi doa ibu akan terkabulkan.”

Senyum Ica terkembang sempurna melihat ibu dan bapak menatapnya sampai bengong, akhirnya di antara kejadian buruk hari ini ada juga hal yang baik, ada peningkatan... dia sudah lebih bijak sampai orang tuanya tak bisa berkata-kata.

“Ya sudah, pak. Bu. Ica mau mengambil uang dari atm ini,” kata Ica buru-buru.

Lama-lama di depan ibu dan bapak malah membuat Ica pingin mewek saja. Gara-gara salah pilih calon suami dia jadi membuat mereka kecewa.

“Tunggu, Ca. Biar bapak antar saja.”

Eh...

“Ica bisa sendiri, Pak.”

“Diantar bapak saja, Ca. Pamali calon manten pergi sendiri. Bapak juga harus pastikan kamu tidak kabur.”

“Bapakkk!!!” bapak malah tertawa melihat Ica merengut kesal.

“Sudah...sudah... bapak hanya bercanda, Ca. Sana kamu siap-siap biar diantar bapak.”

Ica sih sudah sering kemana-mana sama bapak, tapi kali ini yah sudahlah... toh nangisnya bisa dipending nanti saja.

“Lho, Pak. Katanya mau ke atm kok belok kesini?”

Ica yang duduk diboncengan motor bapak langsung protes.

“Bapak lapar, Ca. Kita makan bakso dulu.”

Mendengar kata bakso, perut Ica langsung berbunyi dan tak tanggung-tanggung bunyinya keras sekali sampai bapak yang memboncengnya di depan juga mendengar.

“Tuh kan, apa bapak bilang.”

Ica memegang perutnya sendiri, iya sih dia memang lapar.

“Kamu duduk di sana, biar bapak pesankan, kamu bakso seperti biasa kan?”

“Kok di sana,” protes Ica. Banyak tempat kosong di dalam warung bakso, tapi bapak malah memilih arena terbuka nyempil lagi dipojokan.

Masalahnya di sana, posisinya yang sedikit tak terlihat sering terabaikan pelayan.

“Nggak apa-apa sudah sana, bisa sendiri kan nggak perlu bapak gendong.”

“Aku bukan anak kecil lagi,” jawab Ica dengan nada merajuk.

Bapak baru kembali dengan membawa dua mangkok bakso dan es doger.

“Lah kenapa bapak bawa sendiri?”

“Nggak apa-apa pelayannya pada sibuk, seharusnya mereka buka lowongan pelayan lagi. Sudah makin ramai di sini.”

Sambil bicara bapak mengambil satu mangkok dari nampan, memotong-motong bakso menjadi kecil-kecil dan siap makan.

Tidak berubah.

Bapak masih begitu perhatian padanya sama seperti saat dia masih kecil, bahkan jika mereka makan bertiga dengan ibu, bapak juga melakukan hal yang sama pada mangkok ibu, baru beliau makan setelah semua makan dengan tenang.

Ica selalu suka, dulu diam-diam dia selalu berharap akan mendapat pasangan seperti bapak yang memperlakukan ibu dengan penuh perhatian.

Benar sih, Adam juga melakukan hal yang sama untuknya saat mereka makan bersama, tapi bedanya kalau dengan Adam, Ica yang harus bayar semuanya... pakai uang bapak tentunya.

“Kamu baru boleh nangis setelah makan, Ca.”

“Eh??!! Siapa yang mau nangis, Ica sudah nggak cengeng kok.”

Bapak tersenyum sambil memberikan mangkok bakso Ica dan mengambil mangkoknya sendiri.

“Ya sudah makan dulu.”

“Ica nggak nangis ya,” kata Ica tak terima, pasalnya bapak seperti tak percaya, tapi sialnya matanya mulai mengembun. “Ini karena kepedesan saja.”

Bapak tak menjawab, beliau hanya memberikan tisu dan mulai menyuap baksonya dengan nikmat seolah tidak terjadi apapun.

Ica buru-buru mengusap wajahnya dengan tisu.

Dia nggak mau nangis di sini, tapi kok susah sekali.

Akhirnya dia biarkan saja air matanya mengalir sambil makan bakso.

Bapak terlalu mengerti dirinya.

Butuh satu jam mereka di warung bakso, Ica buru-buru cuci muka sebelum keluar warung lalu kembali duduk di boncengan motor bapak.

Kali ini mereka menuju mesi ATM di tengah kota.

Untungnya tak ada antrian di sana, buru-buru Ica masuk tapi tak lama kemudian dia keluar lagi dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.

“Ada apa, Ca. Tidak ada uangnya? Atau mesinnya rusak?”

Bapak menstandartkan motornya dan buru-buru menghampiri Ica.

“Zafran Saka Darmawan.”

“Eh?”

“Itu benar nama om tadi kan, Pak?”

Bapak terlihat bingung tapi masih mencoba menjawab. “Namanya memang Saka, tapi bapak tidak pernah tanya nama lengkapnya. Tapi nama bapaknya benar Darmawan.”

“Bapak yakin?”

“Ada apa sih, Ca?”

Ica menghela napas panjang. “Uang di dalam sini banyak sekali pak, apa bapak yakin dia hanya petani, memangnya bertani apa?”

“Oalah itu, Saka memang pekerja keras, dia juga menjual sendiri hasil kebunnya.”

“Apa yang ditanam pak? Bukan tanaman haram itukan?”

“Sembarangan, Saka itu juragan pete, pelanggannya banyak di kota. Rumah-rumah makan, dia juga punya lapak di pasar.”

Ica menggeleng, meski begitu ini masih tak mungkin, jumlahnya terlalu besar apalagi untuk diberikan padanya semudah itu.

“Memangnya ada berapa uangnya, Ca?” tanya bapak lagi karena Ica hanya diam saja.

Ica menunjukkan struk saat mengecek saldo tadi, mata bapak langsung membelalak.

“Ca, balikin saja ATMnya, jangan ambil uang dari sana. Ayo kita pulang saja.”

“Lho kok-“

“Sudah jangan banyak tanya nanti bapak jelaskan di rumah.

Duh apalagi ini, jangan bilang kalau dugaan Ica benar.

Masak iya dia gagal menikah dua kali dalam waktu satu hari.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 6

    Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pasti segan membangunkannya. Pelan bangettt… Ica melepaskan pelukan ibu, dia ngeriii juga kalau ibu tiba-tiba ketawa kayak mbak kunti setelah menangis sejak tadi. Untung persediaan air minum Ica masih ada. “Bismillahirrohmannirrohim….” Bandel-bandel gini sholat lima waktu Ica nggak pernah bolong, dan yang lebih penting dia hapal surat al-fatihah berserta artinya. Ica meniup air dalam gelasnya tiga kali setelah mengucap amin, lalu mencipratkan ke wajah ibu. “Ca?!!! kamu apa-apaan sih, lihat ini spreimu jadi basah. Ibu sudah susah-susah bawa ke londri malah kamu kotori lagi. Besok kamu mau nikah. Memangnya mau pake sprei buluk.” “Alhamdulillah!” ucap Ica penuh syukur. Kan! Jin pen

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 5

    Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan mengutuk si pengecut itu. Tapi dasarnya setan itu memang tak tahu diri, dia malah datang mendekati Ica yang sedang berdiri di samping motor Tata, sedangkan Tatanya sendiri pamit ke kamar kecil sebentar. Ica ingin pergi menghindar, tapi buat apa coba, dia nggak salah kok lagi pula ini tempat umum bukan punya dia. Meski hatinya masih sakit tapi dia sudah coba ikhlaskan. Anggap saja hama. “Hon.” Itu memang panggilan sayang Adam untuk Ica, tapi karena sekarang Adam tidak ada lagi hubungan dengannya, Ica nggak mau kegeeran itu masih panggilan untuknya. “Ica, honey.” Ica juga belum menoleh dia masih sibuk dengan ponselnya. Baru setelah merasa seseorang memegang pundaknya dia mengangkat kepa

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 4

    Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada bapak juga, tapi bapak malah bilang, “Ya sudah, Ca. turuti saja ibumu. Memang pengantin harusnya dipingit dan mempercantik diri biar suamimu besok pangling.” Tanpa melakukan perawatan apapun, Ica yakin calon suaminya sudah pangling padanya, wong mereka hanya ketemu dua kali, itupun tak sengaja. Belum lagi tambahan ceramah soal menjadi istri yang baik dan penurut pada suami dari ibu. Ica memang tidak bakal menang debat dengan orang tuanya. Dengan hati dongkol Ica mengunci pintu kamarnya. Jendela kamarnya lumayan besar sih. Bisa digunakan untuk kabur kalau dia benar-benar sudah suntuk. Sekarang dia mau nonton film dulu di laptopnya. Tapi bukan kabur dari pernikahan dua hari lagi ya, Ica

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 3

    Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah, Ica??Ya tentu saja ngekorlah….“Bapak mau ke kamar mandi memangnya kamu mau ikut masuk.”Ica cemberut, tapi tetap tak mau pergi dengan patuh dia berdiri di depan pintu kamar mandi. “Ca, sudah pulang? Bapak mana?” “Di dalam.” “Terus kenapa kamu berdiri di situ, kebelet juga? Kan bisa di kamar mandi dapur.”Ih ibunya nggak ngerti sih. “Mau di kamar mandi ini saja, Bu.” Ica menghela napas lega saat seseorang memanggil ibunya. Syukurlah. Dia juga tak yakin harus menjawab apa kalau ibunya bertanya lagi. “Pak, cepetan!!!”Rasanya sudah jamuran Ica menunggu di depan pintu kamar mandi. Beberapa orang yang sedang membantu pesta pernikahannya menatapnya dengan heran. “Kamu ngapain nungguin b

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga besarnya dan juga mempersiapkan semuanya. Meski begitu baik bapak atau ibu belum juga beranjak dari duduknya. Ica yang mau permisi ke kamar untuk nangis jadi tertunda. Lima tahun hubungannya dengan Adam berakhir setragis ini. Sebenarnya apa salahnya pada Adam hingga pria itu tega berbuat begini?!“Adam butuh istri yang sederajat, bukan mahasiswi yang belum lulus.” Kalimat pembuka ibu Adam tadi menamparnya dengan telak, bahkan bapak sudah hampir emosi mendengar itu, untung ibu langsung menenangkannya. Kalau niatnya kayak gitu, ngapain juga datang melamarnya. Orang aneh.Belum lagi Adam yang hanya diam saja seolah membenarkan ucapan ibunya. Ihhh Ica gemes banget pengen menoyor kepala pr

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 1

    “Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mereka bukan terjalin satu-dua tahun. Tapi lima tahun!Memang belum selama KPR rumah yang biasanya lima belas tahun, tapi tetap saja sakitnya itu menancap di hatinya. Apalagi saat Ica melihat ibunya hampir pingsan. Awalnya, Ica kira Adam datang untuk membicarakan mahar pernikahan mereka. Ica bahkan sudah menyiapkan uang tabungannya jika Adam bilang uangnya tidak cukup untuk mahar yang layak.“Tidak perlu, untung saja anak saya tidak jadi beristri perempuan tidak tahu cara menyambut tamu seperti kamu!”Ibu Adam, dengan dandanan menor ala emak-emak sosialita, namun lehernya tetap terlihat hitam itu, mendengus seraya berdiri.Wanita itu pun beranjak seraya mengetuk-ngetukkan sepatu hak tingginya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status