MasukIca sih bukan cewek yang matre-matre amat ya.
Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga besarnya dan juga mempersiapkan semuanya. Meski begitu baik bapak atau ibu belum juga beranjak dari duduknya. Ica yang mau permisi ke kamar untuk nangis jadi tertunda. Lima tahun hubungannya dengan Adam berakhir setragis ini. Sebenarnya apa salahnya pada Adam hingga pria itu tega berbuat begini?! “Adam butuh istri yang sederajat, bukan mahasiswi yang belum lulus.” Kalimat pembuka ibu Adam tadi menamparnya dengan telak, bahkan bapak sudah hampir emosi mendengar itu, untung ibu langsung menenangkannya. Kalau niatnya kayak gitu, ngapain juga datang melamarnya. Orang aneh. Belum lagi Adam yang hanya diam saja seolah membenarkan ucapan ibunya. Ihhh Ica gemes banget pengen menoyor kepala pria itu, siapa tahu dengan begitu otaknya bisa benar lagi. “Benar, Ca. Kami ingin kamu bahagia dengan pilihanmu bukan menjual kamu. Kasihan Saka.” Salah lagi, Ica sih tahu kedua orang tuanya sangat ikhlas mengeluarkan biaya untuk pernikahannya, tapi dia hanya ingin menguji keseriusan si om itu. Bisa saja kan dia juga sama nggak bertanggung jawabnya dengan Adam. Ica nggak muluk-muluk kok kalau mau cari suami, dia hanya ingin menikah dengan orang yang baik, sayang padanya dan orang tuanya serta bertanggung jawab. Point dua dan tiga ini yang belum yakin meski sudah menyetujui lamarannya. Kalau tentang dia orang baik atau tidak, tidak mungkin bukan bapaknya bisa berteman dengan orang yang tidak baik. “Kok Kasihan Saka sih, bu, yang anak ibu aku lho. Aku juga yang ditinggalkan,” jawab Ica. Ibunya kadang-kadang aneh juga. “Ya kasihan kalau dia keluar uang banyak tapi kamu menggunakannya hanya untuk menutup malu saja.” “Ibu ih, itu kan memang tujuan awal.” Ica menatap kedua orang tuanya dengan gemas. Tapi baik bapak maupun itunya malah melotot tajam padanya. “Itu yang ibu dan bapak tidak suka! Menikah itu bukan permainan, ibu selalu berdoa supaya kamu dapat jodoh yang baik dan bahagia sampai maut memisahkan.” “Aminnn...semoga dengan om Saka, bisa jadi doa ibu akan terkabulkan.” Senyum Ica terkembang sempurna melihat ibu dan bapak menatapnya sampai bengong, akhirnya di antara kejadian buruk hari ini ada juga hal yang baik, ada peningkatan... dia sudah lebih bijak sampai orang tuanya tak bisa berkata-kata. “Ya sudah, pak. Bu. Ica mau mengambil uang dari atm ini,” kata Ica buru-buru. Lama-lama di depan ibu dan bapak malah membuat Ica pingin mewek saja. Gara-gara salah pilih calon suami dia jadi membuat mereka kecewa. “Tunggu, Ca. Biar bapak antar saja.” Eh... “Ica bisa sendiri, Pak.” “Diantar bapak saja, Ca. Pamali calon manten pergi sendiri. Bapak juga harus pastikan kamu tidak kabur.” “Bapakkk!!!” bapak malah tertawa melihat Ica merengut kesal. “Sudah...sudah... bapak hanya bercanda, Ca. Sana kamu siap-siap biar diantar bapak.” Ica sih sudah sering kemana-mana sama bapak, tapi kali ini yah sudahlah... toh nangisnya bisa dipending nanti saja. “Lho, Pak. Katanya mau ke atm kok belok kesini?” Ica yang duduk diboncengan motor bapak langsung protes. “Bapak lapar, Ca. Kita makan bakso dulu.” Mendengar kata bakso, perut Ica langsung berbunyi dan tak tanggung-tanggung bunyinya keras sekali sampai bapak yang memboncengnya di depan juga mendengar. “Tuh kan, apa bapak bilang.” Ica memegang perutnya sendiri, iya sih dia memang lapar. “Kamu duduk di sana, biar bapak pesankan, kamu bakso seperti biasa kan?” “Kok di sana,” protes Ica. Banyak tempat kosong di dalam warung bakso, tapi bapak malah memilih arena terbuka nyempil lagi dipojokan. Masalahnya di sana, posisinya yang sedikit tak terlihat sering terabaikan pelayan. “Nggak apa-apa sudah sana, bisa sendiri kan nggak perlu bapak gendong.” “Aku bukan anak kecil lagi,” jawab Ica dengan nada merajuk. Bapak baru kembali dengan membawa dua mangkok bakso dan es doger. “Lah kenapa bapak bawa sendiri?” “Nggak apa-apa pelayannya pada sibuk, seharusnya mereka buka lowongan pelayan lagi. Sudah makin ramai di sini.” Sambil bicara bapak mengambil satu mangkok dari nampan, memotong-motong bakso menjadi kecil-kecil dan siap makan. Tidak berubah. Bapak masih begitu perhatian padanya sama seperti saat dia masih kecil, bahkan jika mereka makan bertiga dengan ibu, bapak juga melakukan hal yang sama pada mangkok ibu, baru beliau makan setelah semua makan dengan tenang. Ica selalu suka, dulu diam-diam dia selalu berharap akan mendapat pasangan seperti bapak yang memperlakukan ibu dengan penuh perhatian. Benar sih, Adam juga melakukan hal yang sama untuknya saat mereka makan bersama, tapi bedanya kalau dengan Adam, Ica yang harus bayar semuanya... pakai uang bapak tentunya. “Kamu baru boleh nangis setelah makan, Ca.” “Eh??!! Siapa yang mau nangis, Ica sudah nggak cengeng kok.” Bapak tersenyum sambil memberikan mangkok bakso Ica dan mengambil mangkoknya sendiri. “Ya sudah makan dulu.” “Ica nggak nangis ya,” kata Ica tak terima, pasalnya bapak seperti tak percaya, tapi sialnya matanya mulai mengembun. “Ini karena kepedesan saja.” Bapak tak menjawab, beliau hanya memberikan tisu dan mulai menyuap baksonya dengan nikmat seolah tidak terjadi apapun. Ica buru-buru mengusap wajahnya dengan tisu. Dia nggak mau nangis di sini, tapi kok susah sekali. Akhirnya dia biarkan saja air matanya mengalir sambil makan bakso. Bapak terlalu mengerti dirinya. Butuh satu jam mereka di warung bakso, Ica buru-buru cuci muka sebelum keluar warung lalu kembali duduk di boncengan motor bapak. Kali ini mereka menuju mesi ATM di tengah kota. Untungnya tak ada antrian di sana, buru-buru Ica masuk tapi tak lama kemudian dia keluar lagi dengan wajah pucat dan tubuh gemetar. “Ada apa, Ca. Tidak ada uangnya? Atau mesinnya rusak?” Bapak menstandartkan motornya dan buru-buru menghampiri Ica. “Zafran Saka Darmawan.” “Eh?” “Itu benar nama om tadi kan, Pak?” Bapak terlihat bingung tapi masih mencoba menjawab. “Namanya memang Saka, tapi bapak tidak pernah tanya nama lengkapnya. Tapi nama bapaknya benar Darmawan.” “Bapak yakin?” “Ada apa sih, Ca?” Ica menghela napas panjang. “Uang di dalam sini banyak sekali pak, apa bapak yakin dia hanya petani, memangnya bertani apa?” “Oalah itu, Saka memang pekerja keras, dia juga menjual sendiri hasil kebunnya.” “Apa yang ditanam pak? Bukan tanaman haram itukan?” “Sembarangan, Saka itu juragan pete, pelanggannya banyak di kota. Rumah-rumah makan, dia juga punya lapak di pasar.” Ica menggeleng, meski begitu ini masih tak mungkin, jumlahnya terlalu besar apalagi untuk diberikan padanya semudah itu. “Memangnya ada berapa uangnya, Ca?” tanya bapak lagi karena Ica hanya diam saja. Ica menunjukkan struk saat mengecek saldo tadi, mata bapak langsung membelalak. “Ca, balikin saja ATMnya, jangan ambil uang dari sana. Ayo kita pulang saja.” “Lho kok-“ “Sudah jangan banyak tanya nanti bapak jelaskan di rumah. Duh apalagi ini, jangan bilang kalau dugaan Ica benar. Masak iya dia gagal menikah dua kali dalam waktu satu hari.Bolak-balik Ica melirik bu Mirah yang sedang membuat bumbu soto. Hari ini rencananya mereka akan membuat soto ayam, makanan favorit Saka yang lain, tentu saja itu kata bu Mirah, meski dia tidak tahu benar atau salah. Kalau Ica tanya apa makanan favorit Saka, pria itu selalu menjawab aku makan apa saja asal tidak haram dan kotor. Jawaban khas orang yang tidak mau ribet. Awas saja kalau nanti tiba-tiba bilang nggak suka makanan yang dia masak. “Mbak Ica butuh sesuatu?” Ica melongo sejenak tapi kemudian memaksakan sebuah senyum. “Enggak bu, memang kenapa?” “Oh saya kira mau ngomong sesuatu sama saya, mbak Ica sejak tadi lirik-lirik saya. Atau mbak Ica mau coba halusin bumbunya?” tanya bu Mirah sambil menyodorkan cobek dan ulekan di depannya. Ica meringis. Kenapa sih nggak ibunya nggak bu Mirah suka sekali pake ulekan untuk menghaluskan bumbu padahal sudah ada alat namanya blender atau copper yang bisa digunakan untuk menghaluskan bumbu, tanpa perlu capek-capek ngulek tinggal pen
“Kok pintunya kamu kunci, Ca.” Itulah kata pertama yang dikatakan Saka begitu keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ica hanya bisa menahan dongkol. “Lupa.” “Oh tadi aku panggil-panggil nggak bangun.” “Kan sudah tidur.” Kenapa sih Ica harus menjelaskan kayak gini, memangnya Saka nggak ngerti kalau dia ngambek karena ditinggal sendiri. “Oh aku kira marah.” Tuh tahu sebenarnya Cuma pura-pura bego saja. “Marah kenapa?” Ica menoleh saat beberapa saat Saka hanya diam tak menjawab omonganya. Pria itu mengerutkan keningnya, gestur sederhana yang Ica tahu saat suaminya itu sedang berpikir keras. Ishhh kalau sama dia saja sok-sokan nggak peka. “Karena terganggu aku nonton bola dengan pak Sarmin?” tanya pria itu dengan wajah ragu. “Suaranya nggak kedengeran dari sini,” jawab Ica datar. Ica sih memang berharap bisa pillow talk dengan suaminya setiap hari sebelum mereka tidur, tapi nggak gini juga kali modelnya. “Oh iya benar juga.” Ica maunya melengos dan gak peduli lagi pada suamin
Ini sudah hampir tengah malam tapi Saka belum masuk kamar juga. Tadi setelah makan malam Ica memang masuk lebih dulu ke kamar untuk menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Saka entah melakukan apa di luar sana, yang jelas suaminya itu masih ada di dalam rumah, setidaknya selama menjadi suaminya Saka selalu bilang kalau mau pergi kemanapun meski hanya, “Aku pergi.” Gitu saja. Tak ada cium tangan atau pelukan mesra, padahal Ica pingin lho sekali-sekali mengantar suaminya berangkat kerja. Dia cium tangan suaminya lalu dibalas cium kening lalu menyerahkan perlengkapan kerja su-Cium tangan dan cium keningnya memang romantis saat dibayangkan, tapi saat ingat Saka pergi kerja bukan bawa tas tapi bawa sabit rasanya kok agak horor. Masak iya dia harus bawa-bawa sabit buat ngejar suaminya.Ica menendang selimut dan menghambur ke arah pintu kamarnya. Kalau Saka berniat tidur larut malam lagi dia siap-siap dengan segala omelannya. Ngomongnya mau pernikahan mereka langgeng tapi dekat-dekat istr
“Mas mau mandi mau aku siapkan air hangat?” Nah Ica sudah mulai melancarkan aksinya. Bukannya menerima begitu saja kebaikan hati Ica, Saka malah menatap aneh padanya. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan menyentuh dahi Ica. “Nggak demam.” “Ih… aku nawarin mas yang mandi air hangat, ini sudah mau malam.” Ini nih yang bikin Ica gondok. Diperhatikan bukannya terima saja dengan senang hati, suaminya malah menatapnya seolah Ica baru saja kerasukan. Padahal sejak dulu dia juga orangnya baik dan perhatian. Ica melirik jam dinding di ruang tengah, sudah menunjukkan pukul lima lewat. Bahkan bu Mirah sudah kembali ke rumah kecil yang dibangun Saka untuk mereka. Saka yang biasanya siang sudah sampai rumah, karena tadi ada sedikit masalah soal panen petainya terpaksa ke kebun lagi untuk memeriksa, tapi jam segini baru pulang. Memang sih lama-lama dia sudah terbiasa dengan keadaan rumah ini, dan tak takut lagi meski di rumah sendiri, kalau siang hari tapi. “Ini baru mau magr
“Udah bener setelah nikah kamu harusnya bikin anak banyak-banyak, Ca. jangan pikirin yang lain.” Inginnya sih Ica curhat pada orang terpercaya, yang sudah nikah dan tidak akan mengomelinya. Meski syarat pertama terpenuhi, Syarat kedua jelas enggak banget. Ica tahu itu, tapi bodohnya dia tetap saja menelpon dan menceitakan semua ganjalan di hatinya. Temannya memang seuprit dan hanya satu dua orang saja yang bisa dikatakan dekat, tapi yang selalu dia jadikan tong sampah ya Cuma Tata, meski kadang bukan solusi yang dia dapatkan justru malah tambah kesal. “Anak apaan sih aku masih muda, dan masih sibuk skripsi.” “Ya Tuhan yang maha besar. Kok ada wanita dodol kayak kamu ini!!!” Tuh dengerin siapa juga yang nggak godok, belum-belum dia sudah mendapat omelan. Padahal ya Tata saja macaran masih putus nyambung sok sokan nasehatin Ica supaya punya anak banyak. Mulai bikin saja belum. “Ckkk….Ya kan aku nggak mau terlalu tergantung sama suami, kalau nanti ada apa-apa aku masih punya m
“Memangnya mas nggak cemburu? Atau marah?” “Pada siapa?” tanya Saka tenang. Sejak tadi pertanyaan itu sudah ingin Ica katakan tapi dia tidak ingin membuat keributan di kamar rawat Adri. Malu. Jadi sekaranglah saatnya dia mencecar suaminya. oh tidak kalau perlu dia akan mengintrogasinya. Ica hanya tahu Sedikiiit tentang masa lalu suaminya, itupun hanya sepotong-potong dan kebanyakan bukan dari mulut Saka sendiri dan menurut Ica inilah waktu yang tepat saat mereka dalam perjalanan ke hotel tempat mereka menginap dengan Saka yang kembali memegang kemudi. Setelah dari rumah sakit, Saka memang mengajari Ica menyetir sebentar, tentu saja dengan memilih jalanan yang tidak terlalu ramai. Meski agak canggung awalnya tapi Saka ternyata guru yang baik dan telaten, Ica jadi cepat belajar. Meski hanya berani dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam. Tapi bagi orang kayak Ica itu merupakan prestasi tersendiri. “Ya pada mbak Sita.” “Buat apa?” Ica rasanya ingin menggetok kepala pria d
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah







