Share

Bab 3

Author: Ajeng padmi
last update publish date: 2026-05-28 13:01:23

Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja.

Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini.

Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah,

Ica??

Ya tentu saja ngekorlah….

“Bapak mau ke kamar mandi memangnya kamu mau ikut masuk.”

Ica cemberut, tapi tetap tak mau pergi dengan patuh dia berdiri di depan pintu kamar mandi.

“Ca, sudah pulang? Bapak mana?”

“Di dalam.”

“Terus kenapa kamu berdiri di situ, kebelet juga? Kan bisa di kamar mandi dapur.”

Ih ibunya nggak ngerti sih. “Mau di kamar mandi ini saja, Bu.”

Ica menghela napas lega saat seseorang memanggil ibunya. Syukurlah. Dia juga tak yakin harus menjawab apa kalau ibunya bertanya lagi.

“Pak, cepetan!!!”

Rasanya sudah jamuran Ica menunggu di depan pintu kamar mandi. Beberapa orang yang sedang membantu pesta pernikahannya menatapnya dengan heran.

“Kamu ngapain nungguin bapak di sini, kebelet juga?”

“Bukan-“

Tak sabar Ica menarik tangan bapak dan membawanya ke kamar orang tuanya, kebetulan ibu yang sudah selesai urusannya ikut masuk kamar juga.

“Ada apa lagi? Semuanya baik-baik saja kan?” tanya sang ibu mulai khawatir.

Ica menatap bapak tapi bapak yang malah menatap balik Ica dengan bingung.

Duh ini pasti faktor U, ngomong belum selesai tapi sudah lupa bikin orang penasaran saja.

“Bapak belum menjelaskan apa maksud bapak tadi, uang apa yang diberikan om itu?”

“Memangnya uangnya kenapa?” tanya ibu kini juga ikut penasaran.

Ica tersenyum kecil, kali ini dia akan menuntut penjelasan sejelas-jelasnya, kalau ibu sudah bertanya tak mungkin bapak bisa ngeles. Memangnya mau di suruh tidur di kandang kambing.

“Uang yang ada di ATM Saka ternyata banyak sekali, bapak curiga-“

“Curiga apa?” tanya Ibu dan Ica berbarengan.

“Sebentar tho, bapak belum selesai ngomong jangan disela dulu.”

“Ya udah pak lanjut,” kata Ica tak sabar.

Bapak menarik napas sebentar, menegakkan punggung lalu berdiri dari duduknya dan duduk lagi…ishh!!

“Kayaknya itu uang Saka hasil minjam bank untuk membeli lapaknya pak Amin, itu lho bu, pedagang buah yang istrinya sakit keras.”

“Lho lapak Pak Amin jadi dijual, Pak. Kasihan ya, lalu dia nanti kerja apa?”

“Lha itu masalahnya, Bu. Banyak yang nawar sebenarnya tapi di bawah harga pasar karena tahu pak Amin sedang butuh.”

“Kok begitu, Pak. Kasihan pak Amin sedang kena musibah malah dimanfaatkan.”

“Namanya juga orang beda-beda, bu. Kalau dikasihkan harga segitu ya sah-sah saja.”

Kok malah mereka bahas pak Amin.

“Jadi om Saka mau membeli lapak pak Amin dengan harga murah?” tanya Ica tak sabar.

“Bukan!!!” kata bapak dan ibu kompak.

Lah!!!

“Kamu tidak tahu ceritanya, Ca.”

“Makanya itu, pak ceritakan cepetan biar Ica ngerti,” sahut Ica lama-lama dia gemas sendiri, kedua orang tuanya ini kalau sudah ngobrol serasa dunia milik berdua, Ica saja dianggap patung.

“Bapak yang cerita ke Saka, siapa tahu dia bisa carikan pembeli dengan harga pantas. Tapi kemarin dia bilang pada bapak mau beli sendiri setelah dari bank….mungkin dia menggadaikan kebunnya ke bank.”

“Ya dia mungkin butuh untuk jualan.”

“Dia tidak butuh lapak lagi, Ca. bapak bicara dengannya karena dia sering membantu orang lain, tapi bapak nggak nyangka dia sampai berhutang.”

Kok Ica jadi ngerasa bersalah ya, niatnya hanya ingin membuktikan keseriusan calon suaminya lho. kok malah disuguhi cerita sedih begini.

“Jadi ini harus dibalikin?” tanya Ica dengan tak rela.

“Iya balikin, kamu bisa minta mahar saja yang wajib untuk sekarang. Bapak dan ibu ikhlas kalau hanya untuk pesta pernikahanmu.”

“Baiklah.”

Yah gagal jadi orang kaya dadakan, padahal rencananya dengan uang di ATM ini, Ica ingin mentraktir Tata, sahabatnya di café.

Belum rejeki memang.

“Ya sudah, pak. Aku titip bapak saja.”

“Jangan! besok saja kamu balikin sendiri setelah akad.”

Duh mau bagaimana lagi!

Ica hanya mengangguk lalu keluar kamar, dia butuh udara segar mungkin membantu para ibu membuat jajanan di teras bisa mengobati kekecewaannya.

***

“Oalah…Ca…ca… sudah bagus-bagus mau menikah dengan pacarmu yang PNS itu kok malah milih petani miskin, sudah tua lagi.”

Teras rumah Ica yang tidak begitu luas sudah dihuni oleh ibu-ibu yang sedang membuat jajanan.

Tradisi gotong royong saat ada salah satu warga yang hajatan memang masih sering ditemui, tak heran jika selain saudara yang sudah menginap sejak tiga hari yang lalu, ada juga tetangga yang memenuhi rumahnya.

Berita tentang Adam yang membatalkan pernikahan dengannya langsung tersebar dan tanpa perlu berkabar lagi, semua orang sudah tahu kalau pernikahan tetap dilanjutkan meski pengantin prianya ganti hanya saja…

“Tapi dia ganteng banget mbakyu, badannya juga bagus.”

Ibu yang lain menimpali.

“Halah, ngganteng nggak bisa ditaruh di piring kalau lapar.”

Kata siapa, coba saja dagingnya diiris dan dibuat steak…Astaga kenapa dia jadi ikut gila.

Maksud hati ingin mencari udara segar, apa daya malah harus berhadapan dengan ibu-ibu julid ini, yah sudahlah dari pada makan hati lebih baik dia makan saja kue nagasari yang baru diangkat.

Rasanya enak, lumer dan maniss…

“Kamu selingkuh ya, Ca. makanya calonmu yang PNS itu membatalkan pernikahan kalian?”

“Kamu sudah isi duluan dengan si petani itu?”

Wahai orang-orang! Kalau niat kalian mau nguping yang benar dong!!! Minimal sampai selesai dan pasang kuping baik-baik.

Kalau beritanya nggak bener macam ini kan Ica juga yang repot harus meluruskan.

“Benar, Ca?” tanya ibu yang lain.

Semua orang yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing langsung berhenti dan menatap Ica dengan wajah kepo, bahkan tak sedikit yang terang-terangan meninggalkan apa yang dikerjakan dan mendekati Ica.

“Sudah isi berapa, Ca?”

Ica mengambil satu lagi nagasari dan memakannya dengan nikmat.

“Jalan tiga.”

“Hah!!!” semua orang langsung menatap perut Ica, kali ini cewek itu menggunakan celana pendek dengan kaos oblong yang agak kebesaran membuat keyakinan mereka makin bulat.

“Ohh pantesan.”

“Aku nggak nyangka lho, Ca. kamu kalau mau selingkuh sampai hamil duluan begini kenapa nggak cari yang lebih kaya sih rugi tahu.”

“Siapa yang hamil duluan?!”

Ibu yang baru keluar dari rumah langsung menyahut, dia menatap heran pada orang-orang yang seharusnya membuat kue tapi malah melongo bengong menatap Ica.

Lalu salah satu dari ibu-ibu itu menunjuk Ica.

Wajah ibu langsung pias. “Benar itu, Ca?” tanya ibu dengan suara gemetar, tubuhnya hampir roboh tapi dia kuatkan untuk berjalan mendekati putrinya. “Kurang ajar Adam!!!”

“Lho kok Adam, bukannya sama si petani ganteng itu.”

“Hah!!! Ca! ini maksudnya gimana?” Namun Ica terlihat tak peduli dia masih saja makan kuenya.

“Sekarang sudah jalan empat, mau lanjutin supaya jalan lima perutku sudah kenyang.”

Semua orang langsung melongo bingung menatap Ica, sedangkan yang ditatap santai saja melanjutkan makannya.

“Kok cepat amat, Ca, katamu tadi masih jalan tiga.”

Ica tersenyum dan menunjuk kue nagasari keempat yang masih tinggal sedikit di tangannya. “Iya, kan perutku sudah isi kue nagasari, budhe lihat saja daun bekas bungkusnya di depanku....” Ica menghabiskan kue keempatnya dan menjajar daunya di depan semua orang.

“Tuh empat kan,” katanya sambil tersenyum manis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 104

    “Siapa bilang suamimu nggak romantis, itu tadi apa?” Akhirnya Ica memang keluar sama Tata, tapiiiii… dibuntuti dari belakang sama mobil Saka, dia merasa jadi tahanan saja. Kandungannya baik-baik saja, jadi tidak seharusnya Saka sekawatir itu, tapi saat dia ulang tahun malah suruh beli kado sendiri. “Itu bukan romatis tapi kepo.” Tata menatap sahabatnya sebentar lalu menggelengkan kepala pelan. “Kita duduk di sana saja, kamu mau beli es oyen?” Ica mengangguk. Lalu duduk tenang sambil memainkan ponselnya sambil menunggu Tata memesan untuk mereka. “Nih kita jajan di kasih uang, coba kalau suamimu Adam, boro-boro dikasih uang yang ada uangmu diambil buat kebutuhan dia.” “Yeee ya jangan bandingkan dengan si pengecut itu dong, jelas suamiku lebih baik.” “Alah sekarang saja bilang gitu, dulu coba. Dikadalin Adam juga masih bucin.” Tata itu kalau ngomong memang ceplas ceplos kadang Ica juga sakit hati, tapi tak lama juga sih. Soalnya dia nggak punya teman sebaik Tata. Andai dia pun

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 103

    “Sudah jadi orang kaya beneran sekarang kamu!” “Mau nggak?!” “Nggak nolak dong… tapi ini beneran. Di sana mahal lho.” “Ckkk bawel banget sih, jemput dalam sepuluh menit.” Dengan gemas Ica menutup panggilan teleponnya. Dia baru saja ulang tahun lho, nggak ada gitu keinginan suaminya bersikap manis padanya. Dikiiit saja. Ica nggak menuntut banyak kok. Makan malam mereka kemarin ya berlangsung biasa saja, habis makan. Ica ke kamar diri membersihkan diri lalu tidur dah gitu saja. Dia capek makan hati. Mana sampai sekarang Saka sama sekali tak minat untuk memberinya kado. Iya sih ica sadar kalau uang bulanannya bahkan lebih besar dari pendapatan orang tuanya saat ini, dan itu hanya untuk jajan Ica, sedangkan untuk keperluan rumah Saka langsung memberikan uang cas padanya, tapi masak iya Ica beli kado untuk dirinya sendiri, dibungkus sendiri lalu dia buka lagi bungkusnya. “Mau kemana?” Ica menghela napas, dia lupa sejak tadi suaminya juga ada di kamar ini sedang sibuk dengan pons

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 102

    Kali ini dia mendapat hadiah sebuah tumbler cantik yang memang sudah lama dia inginkan. Sejak hamil dia jadi doyan banget minum air putih. Kalau di rumah sih dia biasa disiapin bu Mirah teko besar, jadi begitu haus langsung tuang, tapi kalau sedang keluar rumah, nggak mungkinkan dia nenteng-nenteng teko begitu. Ica pernah ingin minta tolong pada Saka untuk belikan, tapi ya itu banyak masalah yang terjadi akhir-akhir ini jadi dia lupa. Memang sih bawa air mineral dalam botol menjadi solusinya. Entah bagaimana orang yang orang tuanya katakan sebagai sahabat mereka itu tahu apa yang dibutuhkan Ica. “Wah syukurlah akhirnya aku punya tumbler,” kata Ica sengaja mengeraskan suaranya, dan ekspresi wajahnya juga dibuat seberbinar mungkin. Maksudnya sih mau nyindir suaminya, tapi pria itu mana peka dengan sindiran istrinya. “Mas nggak masalah aku terima hadiah dari pria lain?” tanya Ica yang kecewa dengan reaksi suaminya yang lempeng saja. Selama mereka menikah, dia yang lebih sering

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 101

    Benarkan sesuai prediksi Ica, nasi kuning masih menjadi idola di acara ulang tahunnya. “Katanya nanti mau ajak makan malam.” Ini piring kedua dan isinya bukan ala isi piring model internasiol tapi sama dengan porsi kuli. Luar biasa bukan Ica sejak tadi cemberut karena hari ulang tahunnya tetap tak ada yang istimewa. Tapi nasi kuning ibu memang istimewa sih mau bagaimana lagi. “Ini masih sore, bu. Makan malam ya nanti saat malam,” kata Ica sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. “Ya sudah, nduk. Makan yang banyak. Kamu kan makan untuk dua orang,” kata bapak membela Ica. Sedangkan Saka yang duduk di samping bapak hanya menatap sejenak. “Memangnya kamu nggak ngidam, Ca?” tanya ibu masih takjub dengan porsi makan Ica. Dia tahu Ica memang doyan makan sejak dulu, apalagi masakannya. Tapi kata Saka tadi sejak hamil Ica makannya sulit. “Ngidamnya Ica nggak ngrepotin kok,” jawab ica cuek sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. “Memangnya kamu ngidam apa?” tanya sang ibu. “Marta

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 100

    Ngambek sama Saka itu malah membuatnya cepat tua. Bayangkan saja, ica sudah makan hati eh Saka malah cuek saja seolah tak terjadi apa-apa. “Malam minggu nanti kita nginap di rumah bapak, Ca,” kata Saka tenang seperti biasa, saat Ica yang masih menampilkan wajah kesal duduk di meja makan di samping pria itu. “Ada apa di sana?” tanya Ica datar. Kalau saja tidak ada bu Mirah yang sedang mencuci piring di dapur tentu Ica akan menjawab ucapan suaminya dengan ketus. Tapi jelek-jelek begini dia masih tahu tata krama.Bagaimanapun kesalnya dia pada Saka, pria itu tetap suaminya. kepala keluarga yang harus dia hormati dan juga sayangi. “Kamu lupa itu hari ulang tahunmu.” Ica terdiam. Selama ini hari ulang tahunnya selalu dia lewati dengan… biasa saja. Tidak ada yang istimewa selain dia membantu ibu menyiapkan nasi kuning yang akan mereka bagikan untuk tetangga kanan kiri dan juga makan bersama mereka. Bahkan saat berpacaran dengan Adam, hari ulang tahun tak ada yang berbeda untuknya.

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 99

    Rasanya Saka akan gila. Ica istrinya yang cantik, ceria dan keras kepala kini bersikap seperti patung lilin padanya. Dia tidak tahu apa salahnya. Seingatnya setelah pesta itu mereka tidak bertengkar, meski ica sedikit tak setuju dengan usulnya untuk meminta maaf pada Sita. Akan tetapi setelah dijelaskan, Ica setuju bahkan menemaninya ke rumah Sita. Di sana juga tidak terjadi apa-apa, mereka makan martabak buatan Sita yang enak. Saka memang sengja mengajaknya karena dia ingat Sita pernah bilang membuka warung di depan rumahnya dan salah satunya memjual martabak. Bisa saja sih sebenarnya Saka meminta bu Mirah untuk membuatkannya untuk mereka, tapi pesta kemarin sudah membuat wanita paruh baya itu kelelahan, dia tak sampai hati memberinya pekerjaan lagi. Saka menggeleng. Tak tahu apa yang salah sebenarnya. Ica sempat berteriak tadi yang membuatnya panik, tapi itu karena hanya jarinya yang tak sengaja menyentuh wajan panas dan Ica juga tidak jatuh atau terbentur sesuatu, dia sudah

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 6

    Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 5

    Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 4

    Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status