เข้าสู่ระบบSepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja.
Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah, Ica?? Ya tentu saja ngekorlah…. “Bapak mau ke kamar mandi memangnya kamu mau ikut masuk.” Ica cemberut, tapi tetap tak mau pergi dengan patuh dia berdiri di depan pintu kamar mandi. “Ca, sudah pulang? Bapak mana?” “Di dalam.” “Terus kenapa kamu berdiri di situ, kebelet juga? Kan bisa di kamar mandi dapur.” Ih ibunya nggak ngerti sih. “Mau di kamar mandi ini saja, Bu.” Ica menghela napas lega saat seseorang memanggil ibunya. Syukurlah. Dia juga tak yakin harus menjawab apa kalau ibunya bertanya lagi. “Pak, cepetan!!!” Rasanya sudah jamuran Ica menunggu di depan pintu kamar mandi. Beberapa orang yang sedang membantu pesta pernikahannya menatapnya dengan heran. “Kamu ngapain nungguin bapak di sini, kebelet juga?” “Bukan-“ Tak sabar Ica menarik tangan bapak dan membawanya ke kamar orang tuanya, kebetulan ibu yang sudah selesai urusannya ikut masuk kamar juga. “Ada apa lagi? Semuanya baik-baik saja kan?” tanya sang ibu mulai khawatir. Ica menatap bapak tapi bapak yang malah menatap balik Ica dengan bingung. Duh ini pasti faktor U, ngomong belum selesai tapi sudah lupa bikin orang penasaran saja. “Bapak belum menjelaskan apa maksud bapak tadi, uang apa yang diberikan om itu?” “Memangnya uangnya kenapa?” tanya ibu kini juga ikut penasaran. Ica tersenyum kecil, kali ini dia akan menuntut penjelasan sejelas-jelasnya, kalau ibu sudah bertanya tak mungkin bapak bisa ngeles. Memangnya mau di suruh tidur di kandang kambing. “Uang yang ada di ATM Saka ternyata banyak sekali, bapak curiga-“ “Curiga apa?” tanya Ibu dan Ica berbarengan. “Sebentar tho, bapak belum selesai ngomong jangan disela dulu.” “Ya udah pak lanjut,” kata Ica tak sabar. Bapak menarik napas sebentar, menegakkan punggung lalu berdiri dari duduknya dan duduk lagi…ishh!! “Kayaknya itu uang Saka hasil minjam bank untuk membeli lapaknya pak Amin, itu lho bu, pedagang buah yang istrinya sakit keras.” “Lho lapak Pak Amin jadi dijual, Pak. Kasihan ya, lalu dia nanti kerja apa?” “Lha itu masalahnya, Bu. Banyak yang nawar sebenarnya tapi di bawah harga pasar karena tahu pak Amin sedang butuh.” “Kok begitu, Pak. Kasihan pak Amin sedang kena musibah malah dimanfaatkan.” “Namanya juga orang beda-beda, bu. Kalau dikasihkan harga segitu ya sah-sah saja.” Kok malah mereka bahas pak Amin. “Jadi om Saka mau membeli lapak pak Amin dengan harga murah?” tanya Ica tak sabar. “Bukan!!!” kata bapak dan ibu kompak. Lah!!! “Kamu tidak tahu ceritanya, Ca.” “Makanya itu, pak ceritakan cepetan biar Ica ngerti,” sahut Ica lama-lama dia gemas sendiri, kedua orang tuanya ini kalau sudah ngobrol serasa dunia milik berdua, Ica saja dianggap patung. “Bapak yang cerita ke Saka, siapa tahu dia bisa carikan pembeli dengan harga pantas. Tapi kemarin dia bilang pada bapak mau beli sendiri setelah dari bank….mungkin dia menggadaikan kebunnya ke bank.” “Ya dia mungkin butuh untuk jualan.” “Dia tidak butuh lapak lagi, Ca. bapak bicara dengannya karena dia sering membantu orang lain, tapi bapak nggak nyangka dia sampai berhutang.” Kok Ica jadi ngerasa bersalah ya, niatnya hanya ingin membuktikan keseriusan calon suaminya lho. kok malah disuguhi cerita sedih begini. “Jadi ini harus dibalikin?” tanya Ica dengan tak rela. “Iya balikin, kamu bisa minta mahar saja yang wajib untuk sekarang. Bapak dan ibu ikhlas kalau hanya untuk pesta pernikahanmu.” “Baiklah.” Yah gagal jadi orang kaya dadakan, padahal rencananya dengan uang di ATM ini, Ica ingin mentraktir Tata, sahabatnya di café. Belum rejeki memang. “Ya sudah, pak. Aku titip bapak saja.” “Jangan! besok saja kamu balikin sendiri setelah akad.” Duh mau bagaimana lagi! Ica hanya mengangguk lalu keluar kamar, dia butuh udara segar mungkin membantu para ibu membuat jajanan di teras bisa mengobati kekecewaannya. *** “Oalah…Ca…ca… sudah bagus-bagus mau menikah dengan pacarmu yang PNS itu kok malah milih petani miskin, sudah tua lagi.” Teras rumah Ica yang tidak begitu luas sudah dihuni oleh ibu-ibu yang sedang membuat jajanan. Tradisi gotong royong saat ada salah satu warga yang hajatan memang masih sering ditemui, tak heran jika selain saudara yang sudah menginap sejak tiga hari yang lalu, ada juga tetangga yang memenuhi rumahnya. Berita tentang Adam yang membatalkan pernikahan dengannya langsung tersebar dan tanpa perlu berkabar lagi, semua orang sudah tahu kalau pernikahan tetap dilanjutkan meski pengantin prianya ganti hanya saja… “Tapi dia ganteng banget mbakyu, badannya juga bagus.” Ibu yang lain menimpali. “Halah, ngganteng nggak bisa ditaruh di piring kalau lapar.” Kata siapa, coba saja dagingnya diiris dan dibuat steak…Astaga kenapa dia jadi ikut gila. Maksud hati ingin mencari udara segar, apa daya malah harus berhadapan dengan ibu-ibu julid ini, yah sudahlah dari pada makan hati lebih baik dia makan saja kue nagasari yang baru diangkat. Rasanya enak, lumer dan maniss… “Kamu selingkuh ya, Ca. makanya calonmu yang PNS itu membatalkan pernikahan kalian?” “Kamu sudah isi duluan dengan si petani itu?” Wahai orang-orang! Kalau niat kalian mau nguping yang benar dong!!! Minimal sampai selesai dan pasang kuping baik-baik. Kalau beritanya nggak bener macam ini kan Ica juga yang repot harus meluruskan. “Benar, Ca?” tanya ibu yang lain. Semua orang yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing langsung berhenti dan menatap Ica dengan wajah kepo, bahkan tak sedikit yang terang-terangan meninggalkan apa yang dikerjakan dan mendekati Ica. “Sudah isi berapa, Ca?” Ica mengambil satu lagi nagasari dan memakannya dengan nikmat. “Jalan tiga.” “Hah!!!” semua orang langsung menatap perut Ica, kali ini cewek itu menggunakan celana pendek dengan kaos oblong yang agak kebesaran membuat keyakinan mereka makin bulat. “Ohh pantesan.” “Aku nggak nyangka lho, Ca. kamu kalau mau selingkuh sampai hamil duluan begini kenapa nggak cari yang lebih kaya sih rugi tahu.” “Siapa yang hamil duluan?!” Ibu yang baru keluar dari rumah langsung menyahut, dia menatap heran pada orang-orang yang seharusnya membuat kue tapi malah melongo bengong menatap Ica. Lalu salah satu dari ibu-ibu itu menunjuk Ica. Wajah ibu langsung pias. “Benar itu, Ca?” tanya ibu dengan suara gemetar, tubuhnya hampir roboh tapi dia kuatkan untuk berjalan mendekati putrinya. “Kurang ajar Adam!!!” “Lho kok Adam, bukannya sama si petani ganteng itu.” “Hah!!! Ca! ini maksudnya gimana?” Namun Ica terlihat tak peduli dia masih saja makan kuenya. “Sekarang sudah jalan empat, mau lanjutin supaya jalan lima perutku sudah kenyang.” Semua orang langsung melongo bingung menatap Ica, sedangkan yang ditatap santai saja melanjutkan makannya. “Kok cepat amat, Ca, katamu tadi masih jalan tiga.” Ica tersenyum dan menunjuk kue nagasari keempat yang masih tinggal sedikit di tangannya. “Iya, kan perutku sudah isi kue nagasari, budhe lihat saja daun bekas bungkusnya di depanku....” Ica menghabiskan kue keempatnya dan menjajar daunya di depan semua orang. “Tuh empat kan,” katanya sambil tersenyum manis.“Icaaa!!!”Ica melotot galak pada temannya itu. Kok bisa ya, dia punya teman suaranya mirip toa begini, mana sekarang sedang hening, persiapan mau acara ijab qobul. Ica memang tak langsung keluar, dia akan menunggu di kamar sampai kata “Sah” terucap baru dia bisa menemui suaminya. “Diam kenapa sih, Ta. Itu tenggorokan nggak sakit kamu buat teriak-teriak terus.” “Eh kok kamu sewot sih Ca. grogi ya,” godanya sambil menaik turunkan alis. Ica menunjukkan tatapan paling tajam untuk Tata, tapi yang namanya Tata mana mempan dikasih peringatan kayak gitu, itu anak malah nyerocos. “Tahu nggak, Ca.” “Nggak,” jawab Ica ketus. Tuh kan, dikira Ica peramal, tahu apa yang belum dia katakan. “Idih manten apaan mukanya manyun gitu, kalau orang lihat pasti dikira kamu belum bisa move on dari si Adam.” “Siapa tuh Adam. Nggak kenal.” “Eleh lagakmu, pasti kamu sakit hati banget ya, tapi tenang kamu dapat yang lebih baik kok aku sudah lihat fotonya.” “Hah!!! Foto apa?”Tata mengotak-atik ponse
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pasti segan membangunkannya. Pelan bangettt… Ica melepaskan pelukan ibu, dia ngeriii juga kalau ibu tiba-tiba ketawa kayak mbak kunti setelah menangis sejak tadi. Untung persediaan air minum Ica masih ada. “Bismillahirrohmannirrohim….” Bandel-bandel gini sholat lima waktu Ica nggak pernah bolong, dan yang lebih penting dia hapal surat al-fatihah berserta artinya. Ica meniup air dalam gelasnya tiga kali setelah mengucap amin, lalu mencipratkan ke wajah ibu. “Ca?!!! kamu apa-apaan sih, lihat ini spreimu jadi basah. Ibu sudah susah-susah bawa ke londri malah kamu kotori lagi. Besok kamu mau nikah. Memangnya mau pake sprei buluk.” “Alhamdulillah!” ucap Ica penuh syukur. Kan! Jin pen
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan mengutuk si pengecut itu. Tapi dasarnya setan itu memang tak tahu diri, dia malah datang mendekati Ica yang sedang berdiri di samping motor Tata, sedangkan Tatanya sendiri pamit ke kamar kecil sebentar. Ica ingin pergi menghindar, tapi buat apa coba, dia nggak salah kok lagi pula ini tempat umum bukan punya dia. Meski hatinya masih sakit tapi dia sudah coba ikhlaskan. Anggap saja hama. “Hon.” Itu memang panggilan sayang Adam untuk Ica, tapi karena sekarang Adam tidak ada lagi hubungan dengannya, Ica nggak mau kegeeran itu masih panggilan untuknya. “Ica, honey.” Ica juga belum menoleh dia masih sibuk dengan ponselnya. Baru setelah merasa seseorang memegang pundaknya dia mengangkat kepa
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada bapak juga, tapi bapak malah bilang, “Ya sudah, Ca. turuti saja ibumu. Memang pengantin harusnya dipingit dan mempercantik diri biar suamimu besok pangling.” Tanpa melakukan perawatan apapun, Ica yakin calon suaminya sudah pangling padanya, wong mereka hanya ketemu dua kali, itupun tak sengaja. Belum lagi tambahan ceramah soal menjadi istri yang baik dan penurut pada suami dari ibu. Ica memang tidak bakal menang debat dengan orang tuanya. Dengan hati dongkol Ica mengunci pintu kamarnya. Jendela kamarnya lumayan besar sih. Bisa digunakan untuk kabur kalau dia benar-benar sudah suntuk. Sekarang dia mau nonton film dulu di laptopnya. Tapi bukan kabur dari pernikahan dua hari lagi ya, Ica
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah, Ica??Ya tentu saja ngekorlah….“Bapak mau ke kamar mandi memangnya kamu mau ikut masuk.”Ica cemberut, tapi tetap tak mau pergi dengan patuh dia berdiri di depan pintu kamar mandi. “Ca, sudah pulang? Bapak mana?” “Di dalam.” “Terus kenapa kamu berdiri di situ, kebelet juga? Kan bisa di kamar mandi dapur.”Ih ibunya nggak ngerti sih. “Mau di kamar mandi ini saja, Bu.” Ica menghela napas lega saat seseorang memanggil ibunya. Syukurlah. Dia juga tak yakin harus menjawab apa kalau ibunya bertanya lagi. “Pak, cepetan!!!”Rasanya sudah jamuran Ica menunggu di depan pintu kamar mandi. Beberapa orang yang sedang membantu pesta pernikahannya menatapnya dengan heran. “Kamu ngapain nungguin b
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga besarnya dan juga mempersiapkan semuanya. Meski begitu baik bapak atau ibu belum juga beranjak dari duduknya. Ica yang mau permisi ke kamar untuk nangis jadi tertunda. Lima tahun hubungannya dengan Adam berakhir setragis ini. Sebenarnya apa salahnya pada Adam hingga pria itu tega berbuat begini?!“Adam butuh istri yang sederajat, bukan mahasiswi yang belum lulus.” Kalimat pembuka ibu Adam tadi menamparnya dengan telak, bahkan bapak sudah hampir emosi mendengar itu, untung ibu langsung menenangkannya. Kalau niatnya kayak gitu, ngapain juga datang melamarnya. Orang aneh.Belum lagi Adam yang hanya diam saja seolah membenarkan ucapan ibunya. Ihhh Ica gemes banget pengen menoyor kepala pr







