Share

Bab 4

Author: Ajeng padmi
last update publish date: 2026-05-28 13:02:24

Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar.

Padahal itu bukan salah Ica.

Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah.

Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada bapak juga, tapi bapak malah bilang, “Ya sudah, Ca. turuti saja ibumu. Memang pengantin harusnya dipingit dan mempercantik diri biar suamimu besok pangling.”

Tanpa melakukan perawatan apapun, Ica yakin calon suaminya sudah pangling padanya, wong mereka hanya ketemu dua kali, itupun tak sengaja.

Belum lagi tambahan ceramah soal menjadi istri yang baik dan penurut pada suami dari ibu.

Ica memang tidak bakal menang debat dengan orang tuanya.

Dengan hati dongkol Ica mengunci pintu kamarnya. Jendela kamarnya lumayan besar sih. Bisa digunakan untuk kabur kalau dia benar-benar sudah suntuk. Sekarang dia mau nonton film dulu di laptopnya.

Tapi bukan kabur dari pernikahan dua hari lagi ya, Ica hanya butuh sedikit hiburan, mungkin jalan-jalan lihat sawah atau nongkrong di café langganannya pake uang bapak tentunya.

“Icaaaa…icaaaa… main yuk.”

Itu suara Tata. Sahabat itu memang aduhhh…

Dikira mereka masih bocah SD apa, cara manggilnya itu lhooo.

Padahal Ica mau nikah lho rencananya. Bakal punya status baru di KTP dan sudah bisa bikin bocah….

Ica memukul kepalanya sendiri, ini pasti karena tuduhan ibu-ibu tadi yang mengotori pikirannya.

“Icaaaa.”

Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dan suara ibu terdengar. “Ca, ini ada Tata, kamu boleh keluar.”

“Kalau tahu gini, dari tadi Ica sudah seret Tata untuk membawanya keluar rumah.”

“Iya, bu.”

Ibu masuk setelah Ica membuka pintu kamarnya, ibu menatap laptop yang masih menyala, lalu menggeleng sejenak.

“Kamu boleh pergi ke salon sama Tata, tapi segera pulang sebelum jam lima.”

Cinderella saja waktunya sampai jam dua belas malam, Ica cuma sampai jam lima sore.

“Ini uangnya, yang cantik ya, itu badannya dilulur terus rambutnya dikeramas yang wangi jangan dekil begitu.”

Memang rejeki nggak kemana, Ica tersenyum lebar menatap ibu lalu memeluknya dengan erat.

“Sudah sana, itu Tata sudah menunggu.”

Ica mengangguk dan berganti baju secepat mungkin.

“Lama amat, Ca. sudah jamuran aku nunggu di sini,” gerutu Tata begitu Ica menghampirinya.

“Salah sendiri ajak main nggak bilang-bilang.”

“Memang kamu presiden pake bilang sebelumnya segala, sudah yuk.”

***

Ica baru saja menghabiskan setengah gelas jusnya saat menyadari pandangan mata seseorang tak pernah beralih padanya.

“Kamu mau tanya apa?”

Sejak SD, dia sudah berteman dengan Tata dan sudah hapal betul dengan sifat temannya ini, meski Tata sekarang sudah bekerja di kecamatan dan hanya hari libur saja mereka ketemu tapi tetap saja tak bisa melunturkan ikatan persahabatan diantara mereka.

“Hehehe… kamu kok tahu aku mau bertanya sesuatu.”

Ica memutar bola matanya malas, sudah nasibnya mungkin akhir-akhir ini menjadi artis dadakan, banyak orang yang ingin bertanya padanya.

Apalagi muaranya kalau bukan… Adam.

Si biang masalah dari semuanya, pria pengecut yang tiba-tiba saja membatalkan pernikahan mereka dengan alasan konyol.

“Soal pernikahanku kan?” tebak Ica dengan malas.

“Wahhh!!! Aku nggak nyangka temanku ini bisa memprediksi masa depan, jangan bilang kamu dari masa depan, lalu hidup lagi- akhhh.”

Dengan tak sabar Ica menyuapkan kentang goreng ke mulut Tata yang tidak bisa diam. Pusing dia mendengarnya.

Kok bisa sih dia tahan berteman dengan mahluk cerewet kayak gini.

“Caaa!!!”

Ica sih cuek saja menghabiskan minumnya, Tata baru ngomong lagi setelah menelan kentang goreng di mulutnya.

“Teman kejam. Kalau aku mati kesedak bagaimana.”

“Mau lagi.”

Tata langsung melotot tak terima. “Kalau nggak mau ya sudah,” kata Ica memasukkan kentang goreng itu ke mulutnya sendiri.

“Benar kamu selingkuh dengan petani teman bapakmu?”

“Enggak,” jawab Ica tenang.

Gosip yang beredar, dia sudah mendengar semuanya. Ingin sekali Ica ke masjid dan meminjam toa di sana untuk memberi tahu seluruh kampung kalau dia tidak selingkuh.

Baru dua kali bertemu juga itupun karena dulu ibu sedang pergi ke pasar dan bapak memintanya untuk membuatkan minuman dan mengantarkannya ke ruang tamu dan yang kedua adalah kemarin dan itupun kalau dia nggak ngomong ya dikira meja kursi.

“Lalu kok bisa kamu tiba-tiba nikah sama dia? Kamu itu sudah jaman majapahit lho sama Adam.”

Ica mendelik, tak terima dengan ucapan sahabatnya yang lebay ini. “Kamu seharusnya tanya Adam, bukan tanya aku, dia yang tiba-tiba datang membatalkan semuanya.”

“Hah!!! Kok bisa, berita yang beredar katanya-“ pandangan tajam penuh cemoohan Ica membungkam kalimat Tata.

“Terus… terus cerita aslinya bagaimana, aku sebenarnya juga nggak percaya makanya mau tanya kamu langsung. Kamu kan bucin sama Adam.”

“Yeee siapa yang bucin.”

“Kamulah siapa lagi. Apa namanya kalau pacaran selama bertahun-tahun kamu yang biayain padahal dia itu lebih tua lima tahun dari kamu.”

Ica manyun tapi tidak bisa membantah ucapan Tata. Iya sih kok mau-maunya dia setiap keluar sama Adam selalu jadi mesin ATM, belum lagi dulu saat pria itu masih kuliah ada saja alasannya untuk meminjam uang pada Ica dan sampai sekarang jangankan balik, dia ingat saja enggak.

“Ibu Adam bilang aku tak selevel dengan anaknya yang PNS.”

“Hah!!! Nggak selevel bagaimana, kenapa baru sekarang?”

Ica tersenyum kecut. “Ibunya punya calon yang lebih baik katanya.”

“Calon yang lebih baik, itu maksudmu.” Tata menunjuk arah pintu masuk dengan dagunya.

Ica menoleh dan matanya membelalak saat melihat Adam bersama cewek yang sangat dia kenal. Orang bodoh juga pasti tahu kalau mereka memang punya hubungan lebih karena tangan Adam yang melingkar erat di pinggang si cewek. Iyuhhhh.

“Pantas sih kalau kamu dilepeh, Ca. mainnya sama bidan yang sudah bisa cari duit sendiri.”

“Kenapa kesinggung, itu kenyataan kali. Sejak dulu Adam itu pelit nggak modal, kamunya saja yang percaya,” jawab Tata enteng dia masih santai menghabiskan makanannya tak peduli tatapan galak Ica.

“Iya, akunya yang bodoh memang, aku kira nanti kalau dia sudah kerja akan berubah.”

“Iya berubah nggak mau sama kamu.” Ica hanya tersenyum kecut. “Kamu mau ngelabrak dia nggak? Permaluin gitu.”

“Buat apaan, kami sudah tak ada apa-apa.”

“Yaelah, Ca. kamu di sekolah aja pinter tapi masak gini aja kamu nggak ngerti sih.”

“Apa maksudmu?”

“Pernah nggak sih kamu mikir kalau Adam yang mengatur supaya gosip menyebar kalau kamu yang selingkuh bukan dia.”

Ica terdiam sejenak. Apa benar begitu?

“Soalnya aku nggak pernah percaya kalau kamu itu selingkuh. Kamu itu tipe lugu…lugu… bego… mau saja dikadalin sama buaya.”

Suara Tata kembali terdengar tapi masih tak mampu memecah kebisuan Ica.

“Aku temani, deh kalau mau melabrak mereka, nih kebetulan es kopiku masih banyak.”

Ica menggeleng dia meraih ponselnya, lalu memotret mereka dalam beberapa sudut yang jelas lalu senyum kecil terbit di bibirnya.

Tata yang penasaran langsung pindah tempat duduk di samping Ica.

“Itu kamu kirim ke siapa, Ca?”

“Bu RT,” jawab Ica kalem.

“Hah, memang apa hubungannya dengan bu RT?” tanya Tata bingung.

“Biar diupload ke grup RT kalau perlu biar diumumkan waktu arisan RT.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 108

    “Sttt, sayang mama masih bobo bentar adek sama ayah,” suara itu terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Mata Ica mengerjap terbuka saat mendengar itu semua, tangis bayinya tak terdengar lagi, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum. Badannya terasa lelah. Dia ingin tidur lebih lama lagi tapi tanggung jawab barunya sebagai seorang ibu tak bisa dia abaikan begitu saja. Suaminya memang bukan orang yang romantis, tapi lihatlah, pria itu menunjukkan keromantisan dalam tindakan nyata contohnya saat ini. Saka akan dengan sigap mengurus baby Zi, putri mereka yang baru Ica lahirkan sebulan yang lalu. Oh tentu saja Saka dengan senang hati akan memberikan babysister untuk merawat putrinya, tapi dengan tegas Ica menolak. Dia tidak mau sang anak lebih dekat dengan baby sisternya dari pada dengan orang tuanya. Lagi pula, setelah hamil dan menyelesaikan wisudanya, Ica bisa dikatakan hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Bukan dia tidak mau kerja tapi kondisinya belum memungkinkan. Lagian Sa

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 107

    Dulu Ica yakin kalau hanya Adam pria yang dia cintai, bersama pria itu dia yakin akan menjalani sisa hidupnya. Karena itulah dia berusaha keras untuk membantu kesuksesan Adam, baik dengan perbuatan langsung atau doa pada Tuhan, tapi ternyata Tuhan lebih menyayanginya dengan batalnya pernikahannya. Kini tiga bulan dari peristiwa itu dia sangat mensyukurinya. Apalagi dia mendapat pengganti yang lebih baik, yang menikahinya bukan hanya karena kasihan. “Jadi mas menawarkan diri waktu itu memang sudah direncanakan?” tanya Ica. Kali ini ica bertekad untuk mengorek keterangan sejelas-jelasnya dari sang suami, tak peduli apapun konsekuensinya. Ini hidupnya jadi dia harus tahu apa yang terjadi.“Mana bisa aku menebak isi hati mantanmu itu,” jawab Saka lempeng. Hati Ica yang tadinya sudah berbunga-bunga dan bersiap akan berbuah langsung layu seketika. Saka memang sangat ahli menjungkir balikkan perasaannya. “Jadi mas nggak niat waktu ngajak aku nikah?!” tanya Ica sebal. “Kalau nggak nia

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 106

    Seperti saran ibu ica tak langsung bertanya pada Saka. Suaminya baru saja pulang kerja, dia bahkan tak tahu apa yang dihadapi sang suami ditempat kerja, jadi akan lebih bijak jika menunggu beberapa saat dulu dan membuat sang suami nyaman hingga tak segan untuk cerita. Begitulah nasehat ibu untuk Ica, saat dia tak sabar menunggu semua itu, tapi tak mampu juga dia menyembunyikan kegelisahan hatinya, buktinya suaminya yang sangat amat tidak peka saja sampai tahu. “Ada apa? kamu baik-baik saja?” “Iya,” jawab Ica.Wanita itu duduk di kursi meja riasnya, menghadap sang suami yang duduk di atas ranjang sambil menyesal the yang baru saja dia buatkan. “Apa menyenangkan jalan-jalan tadi dengan Tata?” tanya Saka lagi, kali ini dia sudah meletakkan tehnya di atas nakas dan menatap penasaran pada istrinya. “Iya,” jawab Ica singkat, jawaban yang langsug menimbulkan kerutan di kening pria itu. Ica itu cerewet, suka cerita, maunya diperhatikan dan suka cemburu tak jelas, tapi kali ini wanit

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 105

    Ica buru-buru pulang, tapi setelah sampai rumah dia sama sekali tidak mendapati siapapun di sana. Dia lupa kalau bapak dan ibu pergi kondangan dan akan pulang nanti sore sedangkan suaminya, sudah berpamitan akan pergi ke perusahaan milik kakaknya dan mungkin saja akan pulang terlambat. “Memangnya mereka tidak bilang kalau tidak akan ada di rumah?” tanya Tata sambil ngemil keripik pisang buatan ibu yang memang selalu disediakan di meja teras. Gadis itu hanya mengawasi saja Ica yang mondar-mandir sejak tadi. “Kamu nggak capek? Aku sih nggak peduli kalau saja tidak ada dedek di perutmu.” Ica menoleh pada temannya yang mengatakan itu semua dengan wajah polos sambil terus ngemil keripik. “Dia pasti juga pusing di dalam sana,” lanjut Tata cuek. Ica menampilkan wajah cemberut, tapi tak lama dia ikut duduk juga. “Anakku akan baik-baik saja.” “Ya lah terserah saja.” Ica makin kesal dong dengan jawaban Tata, apalagi gadis itu sama sekali tak menghentikan kegiatan makannya. “Kamu makan t

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 104

    “Siapa bilang suamimu nggak romantis, itu tadi apa?” Akhirnya Ica memang keluar sama Tata, tapiiiii… dibuntuti dari belakang sama mobil Saka, dia merasa jadi tahanan saja. Kandungannya baik-baik saja, jadi tidak seharusnya Saka sekawatir itu, tapi saat dia ulang tahun malah suruh beli kado sendiri. “Itu bukan romatis tapi kepo.” Tata menatap sahabatnya sebentar lalu menggelengkan kepala pelan. “Kita duduk di sana saja, kamu mau beli es oyen?” Ica mengangguk. Lalu duduk tenang sambil memainkan ponselnya sambil menunggu Tata memesan untuk mereka. “Nih kita jajan di kasih uang, coba kalau suamimu Adam, boro-boro dikasih uang yang ada uangmu diambil buat kebutuhan dia.” “Yeee ya jangan bandingkan dengan si pengecut itu dong, jelas suamiku lebih baik.” “Alah sekarang saja bilang gitu, dulu coba. Dikadalin Adam juga masih bucin.” Tata itu kalau ngomong memang ceplas ceplos kadang Ica juga sakit hati, tapi tak lama juga sih. Soalnya dia nggak punya teman sebaik Tata. Andai dia pun

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 103

    “Sudah jadi orang kaya beneran sekarang kamu!” “Mau nggak?!” “Nggak nolak dong… tapi ini beneran. Di sana mahal lho.” “Ckkk bawel banget sih, jemput dalam sepuluh menit.” Dengan gemas Ica menutup panggilan teleponnya. Dia baru saja ulang tahun lho, nggak ada gitu keinginan suaminya bersikap manis padanya. Dikiiit saja. Ica nggak menuntut banyak kok. Makan malam mereka kemarin ya berlangsung biasa saja, habis makan. Ica ke kamar diri membersihkan diri lalu tidur dah gitu saja. Dia capek makan hati. Mana sampai sekarang Saka sama sekali tak minat untuk memberinya kado. Iya sih ica sadar kalau uang bulanannya bahkan lebih besar dari pendapatan orang tuanya saat ini, dan itu hanya untuk jajan Ica, sedangkan untuk keperluan rumah Saka langsung memberikan uang cas padanya, tapi masak iya Ica beli kado untuk dirinya sendiri, dibungkus sendiri lalu dia buka lagi bungkusnya. “Mau kemana?” Ica menghela napas, dia lupa sejak tadi suaminya juga ada di kamar ini sedang sibuk dengan pons

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 6

    Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 5

    Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 3

    Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status