MasukBolak-balik Ica melirik bu Mirah yang sedang membuat bumbu soto. Hari ini rencananya mereka akan membuat soto ayam, makanan favorit Saka yang lain, tentu saja itu kata bu Mirah, meski dia tidak tahu benar atau salah. Kalau Ica tanya apa makanan favorit Saka, pria itu selalu menjawab aku makan apa saja asal tidak haram dan kotor. Jawaban khas orang yang tidak mau ribet. Awas saja kalau nanti tiba-tiba bilang nggak suka makanan yang dia masak. “Mbak Ica butuh sesuatu?” Ica melongo sejenak tapi kemudian memaksakan sebuah senyum. “Enggak bu, memang kenapa?” “Oh saya kira mau ngomong sesuatu sama saya, mbak Ica sejak tadi lirik-lirik saya. Atau mbak Ica mau coba halusin bumbunya?” tanya bu Mirah sambil menyodorkan cobek dan ulekan di depannya. Ica meringis. Kenapa sih nggak ibunya nggak bu Mirah suka sekali pake ulekan untuk menghaluskan bumbu padahal sudah ada alat namanya blender atau copper yang bisa digunakan untuk menghaluskan bumbu, tanpa perlu capek-capek ngulek tinggal pen
“Kok pintunya kamu kunci, Ca.” Itulah kata pertama yang dikatakan Saka begitu keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ica hanya bisa menahan dongkol. “Lupa.” “Oh tadi aku panggil-panggil nggak bangun.” “Kan sudah tidur.” Kenapa sih Ica harus menjelaskan kayak gini, memangnya Saka nggak ngerti kalau dia ngambek karena ditinggal sendiri. “Oh aku kira marah.” Tuh tahu sebenarnya Cuma pura-pura bego saja. “Marah kenapa?” Ica menoleh saat beberapa saat Saka hanya diam tak menjawab omonganya. Pria itu mengerutkan keningnya, gestur sederhana yang Ica tahu saat suaminya itu sedang berpikir keras. Ishhh kalau sama dia saja sok-sokan nggak peka. “Karena terganggu aku nonton bola dengan pak Sarmin?” tanya pria itu dengan wajah ragu. “Suaranya nggak kedengeran dari sini,” jawab Ica datar. Ica sih memang berharap bisa pillow talk dengan suaminya setiap hari sebelum mereka tidur, tapi nggak gini juga kali modelnya. “Oh iya benar juga.” Ica maunya melengos dan gak peduli lagi pada suamin
Ini sudah hampir tengah malam tapi Saka belum masuk kamar juga. Tadi setelah makan malam Ica memang masuk lebih dulu ke kamar untuk menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Saka entah melakukan apa di luar sana, yang jelas suaminya itu masih ada di dalam rumah, setidaknya selama menjadi suaminya Saka selalu bilang kalau mau pergi kemanapun meski hanya, “Aku pergi.” Gitu saja. Tak ada cium tangan atau pelukan mesra, padahal Ica pingin lho sekali-sekali mengantar suaminya berangkat kerja. Dia cium tangan suaminya lalu dibalas cium kening lalu menyerahkan perlengkapan kerja su-Cium tangan dan cium keningnya memang romantis saat dibayangkan, tapi saat ingat Saka pergi kerja bukan bawa tas tapi bawa sabit rasanya kok agak horor. Masak iya dia harus bawa-bawa sabit buat ngejar suaminya.Ica menendang selimut dan menghambur ke arah pintu kamarnya. Kalau Saka berniat tidur larut malam lagi dia siap-siap dengan segala omelannya. Ngomongnya mau pernikahan mereka langgeng tapi dekat-dekat istr
“Mas mau mandi mau aku siapkan air hangat?” Nah Ica sudah mulai melancarkan aksinya. Bukannya menerima begitu saja kebaikan hati Ica, Saka malah menatap aneh padanya. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan menyentuh dahi Ica. “Nggak demam.” “Ih… aku nawarin mas yang mandi air hangat, ini sudah mau malam.” Ini nih yang bikin Ica gondok. Diperhatikan bukannya terima saja dengan senang hati, suaminya malah menatapnya seolah Ica baru saja kerasukan. Padahal sejak dulu dia juga orangnya baik dan perhatian. Ica melirik jam dinding di ruang tengah, sudah menunjukkan pukul lima lewat. Bahkan bu Mirah sudah kembali ke rumah kecil yang dibangun Saka untuk mereka. Saka yang biasanya siang sudah sampai rumah, karena tadi ada sedikit masalah soal panen petainya terpaksa ke kebun lagi untuk memeriksa, tapi jam segini baru pulang. Memang sih lama-lama dia sudah terbiasa dengan keadaan rumah ini, dan tak takut lagi meski di rumah sendiri, kalau siang hari tapi. “Ini baru mau magr
“Udah bener setelah nikah kamu harusnya bikin anak banyak-banyak, Ca. jangan pikirin yang lain.” Inginnya sih Ica curhat pada orang terpercaya, yang sudah nikah dan tidak akan mengomelinya. Meski syarat pertama terpenuhi, Syarat kedua jelas enggak banget. Ica tahu itu, tapi bodohnya dia tetap saja menelpon dan menceitakan semua ganjalan di hatinya. Temannya memang seuprit dan hanya satu dua orang saja yang bisa dikatakan dekat, tapi yang selalu dia jadikan tong sampah ya Cuma Tata, meski kadang bukan solusi yang dia dapatkan justru malah tambah kesal. “Anak apaan sih aku masih muda, dan masih sibuk skripsi.” “Ya Tuhan yang maha besar. Kok ada wanita dodol kayak kamu ini!!!” Tuh dengerin siapa juga yang nggak godok, belum-belum dia sudah mendapat omelan. Padahal ya Tata saja macaran masih putus nyambung sok sokan nasehatin Ica supaya punya anak banyak. Mulai bikin saja belum. “Ckkk….Ya kan aku nggak mau terlalu tergantung sama suami, kalau nanti ada apa-apa aku masih punya m
“Memangnya mas nggak cemburu? Atau marah?” “Pada siapa?” tanya Saka tenang. Sejak tadi pertanyaan itu sudah ingin Ica katakan tapi dia tidak ingin membuat keributan di kamar rawat Adri. Malu. Jadi sekaranglah saatnya dia mencecar suaminya. oh tidak kalau perlu dia akan mengintrogasinya. Ica hanya tahu Sedikiiit tentang masa lalu suaminya, itupun hanya sepotong-potong dan kebanyakan bukan dari mulut Saka sendiri dan menurut Ica inilah waktu yang tepat saat mereka dalam perjalanan ke hotel tempat mereka menginap dengan Saka yang kembali memegang kemudi. Setelah dari rumah sakit, Saka memang mengajari Ica menyetir sebentar, tentu saja dengan memilih jalanan yang tidak terlalu ramai. Meski agak canggung awalnya tapi Saka ternyata guru yang baik dan telaten, Ica jadi cepat belajar. Meski hanya berani dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam. Tapi bagi orang kayak Ica itu merupakan prestasi tersendiri. “Ya pada mbak Sita.” “Buat apa?” Ica rasanya ingin menggetok kepala pria d
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah







