Share

Bab 5

Author: Ajeng padmi
last update publish date: 2026-05-28 13:03:14

Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan.

Ica baru saja membuktikannya.

Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café.

Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan mengutuk si pengecut itu. Tapi dasarnya setan itu memang tak tahu diri, dia malah datang mendekati Ica yang sedang berdiri di samping motor Tata, sedangkan Tatanya sendiri pamit ke kamar kecil sebentar.

Ica ingin pergi menghindar, tapi buat apa coba, dia nggak salah kok lagi pula ini tempat umum bukan punya dia.

Meski hatinya masih sakit tapi dia sudah coba ikhlaskan. Anggap saja hama.

“Hon.”

Itu memang panggilan sayang Adam untuk Ica, tapi karena sekarang Adam tidak ada lagi hubungan dengannya, Ica nggak mau kegeeran itu masih panggilan untuknya.

“Ica, honey.”

Ica juga belum menoleh dia masih sibuk dengan ponselnya. Baru setelah merasa seseorang memegang pundaknya dia mengangkat kepala.

“Apa?” tanya Ica datar saja.

Baru tadi pagi pria ini datang ke rumahnya untuk membatalkan pernikahan mereka, dan sekarang seolah merasa tak bersalah menghampirinya dan mengesankan mereka masih memiliki hubungan seperti dulu.

Tak salah sih kalau Tata mengatainya lugu-lugu bego, dulu dia memang sebuta itu.

Anehnya Adam sendirian sekarang, dimana cewek yang dia rangkul itu?

“Ca, benar kamu mau menikah dengan petani pete teman bapakmu?”

Ica tak menjawab, tapi pandangan matanya dari atas ke bawah mengesankan dia sedang berkata, ‘apa hubungannya denganmu.’

Dengan salah tingkah Adam berdehem. “Aku masih mencintaimu, Ca. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Aku melakukannya karena ibu yang memaksaku.”

Ica menyesal tadi tidak membungkus sambel di dalam. Lumayan untuk membungkam mulut Adam.

“Ca, jangan menikah dengannya karena kecewa padaku, aku akan mencari cara supaya kita bisa-“

“ Adam, aku cari-cari juga kenapa di sana! Lho Ica! Ngapain kamu dengan pacarku?”

Ica menaikkan alisnya mendengar itu.

Nova Elera.

Anak pak Mamat yang rumahnya di ujung jalan, usianya dua tahun di atas Adam dan tahun lalu baru lulus jadi bidan PNS di salah satu puskesmas di kecamatan sebelah.

Seingatnya dia sama sekali tak ada dendam dengan Nova, dan cewek ini jelas tahu kalau Adam menjalin hubungan dengannya, bahkan ibu cewek ini juga datang saat acara lamarannya dengan Adam waktu itu.

“Ooo pacar ya mbak, selamat ya, jaga pacarnya agar tidak mendekati mantan. Risih tahu.”

“Halah, jangan sok, Ca. kamu pasti sedang merayu Adam untuk balikan lagi. Kalian itu nggak level tahu nggak.”

“Ya jelaslah, mbak. Adam nggak selevel sama Ica. Dia hanya parasit. Yuk, Ca. kita ke salon perawatan manja dulu.”

Tata tiba-tiba muncul menarik Ica duduk di motornya, apalagi orang-orang sudah pada keluar melihat keributan ini, beberapa juga menyalakan ponselnya siap live berita.

“Kayaknya aku kasih tahu bu RT nggak perlu upload foto di group,” kata Ica di tengah deru mesin motor Tata.

“Kenapa?!” tanya Tata.

“Banyak yang live tadi aku nggak perlu ikut campur dan di sana juga ada mbk Jum tadi, kamu tahukan tukang gosip kampung,” sahut Ica tenang.

Tata tak menjawab tapi tawa kencangnya sudah cukup menjelaskan semua.

***

Ica mengibaskan rambutnya yang sudah harum. Tubuhnya juga jadi lebih rileks setelah dipijat di salon tadi.

Hatinya boleh panas setelah bertemu mantan, tapi dia tidak boleh mengabaikan perintah ibunya, bisa dikutuk nanti kalau tidak nurut.

“Benar kan apa kata ibu, kamu lebih cantik dan segar sekarang,” kata ibu sambil mengelus rambut Ica.

“Harusnya tadi ibu juga ikut.”

“Wong ibu nggak dandan saja bapakmu sudah nempel terus apalagi ibu dandan, sudah kamu tidur dulu besok masih banyak acara.”

Begitu Ibu menutup pintu dan mematikan lampu, pandangan mata Ica menerawang, air mata yang sejak tadi mati-matian dia tahan akhirnya mengalir juga.

Dia juga manusia, punya rasa sakit hati, apalagi sudah diperlakukan setidak adil ini.

Ica sudah berkali-kali membujuk hatinya, kalau om Saka, jauh lebih baik dari pada Adam. Dia percaya dengan penilaian ibu dan bapak, tapi tetap saja semuanya runtuh saat Adam dengan tak tahu malu menggandeng wanita lain disaat seharusnya mereka akan menikah.

Sakit banget rasanya.

Ingin rasanya Ica tadi membuat Adam babak belur, setidaknya dia bisa melampiaskan rasa sakit hatinya pada orang yang tepat, untungggg saja akal sehat Ica masih jalan.

Tok…tok…tok…

Ica menoleh ke arah pintu kamarnya. Bukan… ini bukan bunyi ketukan kamarnya ini bunyi…

“Siapa?!” tanyanya agak takut.

Ini sudah malam, meski banyak saudara yang menginap tapi sebagian besar sudah tidur, hanya para bapak yang ada di teras depan sedang nonton bola, masalahnya letak kamarnya yang di belakang.

“Ica, honey.”

Ica langsung bangun mendengar suara itu, apa dia sedang berhalusinasi saking kesalnya pada Adam.

“Ca, tolong buka jendelanya sebentar aku perlu bicara denganmu.”

Ica menggosok telinganya, ternyata dia memang tidak salah dengar. Setelah apa yang dia dan ibunya lakukan padanya berani Sekali Adam datang ke sini, pake diam-diam kayak maling lagi.

“Pergilah, diantara kita sudah selesai,” jawab Ica dingin.

Kalau sampai ada yang tahu bisa geger lagi dan ujung-ujungnya Ica yang disalahkan, apalagi dia sudah setuju menikah dengan orang lain.

“Tidak bisa begitu, Ca. aku cinta kamu. Nova hanya pilihan ibu. Aku perlu meyakinkan ibu pelan-pelan kalau kamu memang pilihanku, kita bisa menjalin hubungan diam-diam dulu. Batalkan pernikahanmu. Aku yakin kamu juga tidak mencintai pria itu.”

Ica beranjak bangkit dari ranjangnya, dengan tergesa dia menyambar cardigannya, tapi bukannya membuka jendela seperti keinginan Adam, Ica malah membuka pintu kamarnya dan berlari cepat keluar rumah, tak dipedulikannya salah satu saudara yang menegur.

“Hon. Akhirnya aku tahu kamu memang mencintai-“

“Makan tuh cinta!” Ica yang sudah kesal sampai ke ubun-ubun langsung mengambil pasir di dekatnya dengan tangan, tanpa banyak kata dia langsung menarik rambut Adam dan pasir di tangan dia tumpahkan di kepala Adam sekalian.

“Aku bantu kamu keramas biar otakmu bener.”

“Akhhh!!!”

Keributan itu memancing semua kerabat yang ada di rumah bahkan bapak dan ibu juga langsung berlari keluar.

“Ca!!! astaga ada apa ini!!! lho Adam!!!”

Meski banyak orang datang, Ica bahkan tak berniat melepaskan rambut Adam yang sudah penuh dengan pasir.

Barulah ketika bapak memeluknya dari belakang, Ica melepaskan cengkeraman tangannya.

“Dia sudah gila, Pak. Masak mau aku jadi simpananannya!!!”

Suara Ica yang keras itu membuat Adam tertunduk malu, sedangkan bapak yang masih memeluk Ica melotot tak terima.

“Pergilah!!! Jangan pernah ganggu anakku.”

Wajah murka bapak yang biasanya tenang, cukup untuk membuat Adam lari terbirit-birit.

“Dia sudah pergi, Ca. tenanglah.”

Ibu dan beberapa kerabat juga ikut menenangkan Ica dan menuntunnya kembali ke kamar.

“Pak, ibu tidur sama Ica saja malam ini, boleh?”

Bapak menghela napas lalu mengagguk. “Memang sebaiknya begitu, bu.”

Ibu menggandeng Ica kembali ke kamarnya, tapi sebelum membuka pintu kamar Ica, ibu menghentikan langkahnya.

“Tunggu, Ca. kamu cuci kaki dan tangan dulu. Pasir di sampingkan banyak bunganya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 53

    Hari ini bu Mirah punya usul makan pagi yang kesiangan bersama di gazebo belakang rumah, supaya tidak bosan katanya. Ica tahu sih bu Mirah mungkin terlalu peka saja dengan wajahnya yang sejak tadi pagi tertekuk kesal. Mana suami nggak notice lagi. “Mbak Ica suka perkedelnya?” tanya bu Mirah saat Ica mengambil dua buah perkedel sekalian. “Iya, bu, perkedel buatan ibu enak,” jawab Ica sambil tersenyum lebar. Keputusan bu Mirah memang tepat, semilir angin dan juga bunyi gemerisik dedaunan membuat suasana hati Ica yang tadinya suram jadi lebih baik. Mereka berlima duduk melingkar di atas gazebo besar yang biasanya digunakan untuk nobar Saka bersama para pegawainya. Memang tidak terlalu besar sih hanya cukup sekitar sepuluh orang tapi bagi Ica sudah terasa mewah banget. Iya mereka memang duduk melingkar berlima. Bu Mirah dan pak Sarmin duduk berhadapan dengan Ica dan Saka, sedangkan Adri duduk di ujung. Cowok yang sebentar lagi akan lulus SMA itu lebih memilih agak menjauh dari ya

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 52

    “Sudah pulang,” sapa Saka yang ternyata sudah pulang dari pasar. Ica hanya mengangguk dan tersenyum singkat pada tamu yang sedang duduk di teras bersama Saka. “Ini istrimu, Nak Saka?” “Benar pak, namanya Ica.” Dengan ramah Ica menyodorkan tangannya, tapi pria itu tak langsung menyambut uluran tangan Ica. “Ternyata istrimu masih sangat muda.” Akhirnya tangan Ica disambut juga, tapi meski salaman pandangannya seolah enggan menatap Ica. “Iya, Ica baru dua puluh satu tahun. Belum lulus kuliah.” “Hah!! Aku kira masih SMA.” Apa wajahnya semuda itu. “Kok kelihatannya masih labil.” Astaga ternyata pria ini sejenis dengan Saka yang suka membuat orang sebal ucapannya pantas saja mereka bisa berteman. Eh mereka teman kan? masa iya bertamu ke rumah musuh. “Saya permisi dulu buat minuman di belakang,” pamit Ica sopan, yang dijawab Saka dengan anggukan kepala tapi si tamu justru nyeletuk. “Nggak usah, paling juga yang buat bu Mirah, anak muda sepertimu mana bisa pekerjaan kayak gitu.” A

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 51

    “Oh ini toh yang katanya nyonya besar itu, tumben belanja di sini.” “Iya katanya nyonya besar yang apa-apa tinggal perintah, masa belanja sendiri di warung.” “Halah bukan, paling juga nggak percaya sama bu Mirah, takut uang belanjanya diembat.” Ica mengerutkan kening saat mendengar nama bu Mirah di sebut-sebut. Tadi saat ibu-ibu itu bergunjing dengan yang lain, Ica sama sekali tak peduli, dia hanya tersenyum ramah dan memilih jajanan yang dia inginkan, kebetulan sekali di sebelah warung sayuran ada penjual jajanan pasar. Bu Mirah tadi memang sudah bilang warung yang akan mereka datangi cukup lengkap kalau pagi. Mereka menggunjingkan dirinya? Nyonya besar? Astaga memang kapan dia bersikap seperti nyonya besar.Ica sih tidak heran lagi dengan sikap orang-orang seperti ini yang suka sekali menuduh sembarangan tanpa tahu fakta yang sebenarnya. “Mbak Ica-“ bu Mirah berbisik lirih dia merasa tak enak hati pada Ica khawatir kalau istri majikannya itu berpikir kalau dia yang mengataka

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 50

    Bolak-balik Ica melirik bu Mirah yang sedang membuat bumbu soto. Hari ini rencananya mereka akan membuat soto ayam, makanan favorit Saka yang lain, tentu saja itu kata bu Mirah, meski dia tidak tahu benar atau salah. Kalau Ica tanya apa makanan favorit Saka, pria itu selalu menjawab aku makan apa saja asal tidak haram dan kotor. Jawaban khas orang yang tidak mau ribet. Awas saja kalau nanti tiba-tiba bilang nggak suka makanan yang dia masak. “Mbak Ica butuh sesuatu?” Ica melongo sejenak tapi kemudian memaksakan sebuah senyum. “Enggak bu, memang kenapa?” “Oh saya kira mau ngomong sesuatu sama saya, mbak Ica sejak tadi lirik-lirik saya. Atau mbak Ica mau coba halusin bumbunya?” tanya bu Mirah sambil menyodorkan cobek dan ulekan di depannya. Ica meringis. Kenapa sih nggak ibunya nggak bu Mirah suka sekali pake ulekan untuk menghaluskan bumbu padahal sudah ada alat namanya blender atau copper yang bisa digunakan untuk menghaluskan bumbu, tanpa perlu capek-capek ngulek tinggal pen

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 48

    “Kok pintunya kamu kunci, Ca.” Itulah kata pertama yang dikatakan Saka begitu keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ica hanya bisa menahan dongkol. “Lupa.” “Oh tadi aku panggil-panggil nggak bangun.” “Kan sudah tidur.” Kenapa sih Ica harus menjelaskan kayak gini, memangnya Saka nggak ngerti kalau dia ngambek karena ditinggal sendiri. “Oh aku kira marah.” Tuh tahu sebenarnya Cuma pura-pura bego saja. “Marah kenapa?” Ica menoleh saat beberapa saat Saka hanya diam tak menjawab omonganya. Pria itu mengerutkan keningnya, gestur sederhana yang Ica tahu saat suaminya itu sedang berpikir keras. Ishhh kalau sama dia saja sok-sokan nggak peka. “Karena terganggu aku nonton bola dengan pak Sarmin?” tanya pria itu dengan wajah ragu. “Suaranya nggak kedengeran dari sini,” jawab Ica datar. Ica sih memang berharap bisa pillow talk dengan suaminya setiap hari sebelum mereka tidur, tapi nggak gini juga kali modelnya. “Oh iya benar juga.” Ica maunya melengos dan gak peduli lagi pada suamin

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 47

    Ini sudah hampir tengah malam tapi Saka belum masuk kamar juga. Tadi setelah makan malam Ica memang masuk lebih dulu ke kamar untuk menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Saka entah melakukan apa di luar sana, yang jelas suaminya itu masih ada di dalam rumah, setidaknya selama menjadi suaminya Saka selalu bilang kalau mau pergi kemanapun meski hanya, “Aku pergi.” Gitu saja. Tak ada cium tangan atau pelukan mesra, padahal Ica pingin lho sekali-sekali mengantar suaminya berangkat kerja. Dia cium tangan suaminya lalu dibalas cium kening lalu menyerahkan perlengkapan kerja su-Cium tangan dan cium keningnya memang romantis saat dibayangkan, tapi saat ingat Saka pergi kerja bukan bawa tas tapi bawa sabit rasanya kok agak horor. Masak iya dia harus bawa-bawa sabit buat ngejar suaminya.Ica menendang selimut dan menghambur ke arah pintu kamarnya. Kalau Saka berniat tidur larut malam lagi dia siap-siap dengan segala omelannya. Ngomongnya mau pernikahan mereka langgeng tapi dekat-dekat istr

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 6

    Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 4

    Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 3

    Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status