LOGINBenar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan.
Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan mengutuk si pengecut itu. Tapi dasarnya setan itu memang tak tahu diri, dia malah datang mendekati Ica yang sedang berdiri di samping motor Tata, sedangkan Tatanya sendiri pamit ke kamar kecil sebentar. Ica ingin pergi menghindar, tapi buat apa coba, dia nggak salah kok lagi pula ini tempat umum bukan punya dia. Meski hatinya masih sakit tapi dia sudah coba ikhlaskan. Anggap saja hama. “Hon.” Itu memang panggilan sayang Adam untuk Ica, tapi karena sekarang Adam tidak ada lagi hubungan dengannya, Ica nggak mau kegeeran itu masih panggilan untuknya. “Ica, honey.” Ica juga belum menoleh dia masih sibuk dengan ponselnya. Baru setelah merasa seseorang memegang pundaknya dia mengangkat kepala. “Apa?” tanya Ica datar saja. Baru tadi pagi pria ini datang ke rumahnya untuk membatalkan pernikahan mereka, dan sekarang seolah merasa tak bersalah menghampirinya dan mengesankan mereka masih memiliki hubungan seperti dulu. Tak salah sih kalau Tata mengatainya lugu-lugu bego, dulu dia memang sebuta itu. Anehnya Adam sendirian sekarang, dimana cewek yang dia rangkul itu? “Ca, benar kamu mau menikah dengan petani pete teman bapakmu?” Ica tak menjawab, tapi pandangan matanya dari atas ke bawah mengesankan dia sedang berkata, ‘apa hubungannya denganmu.’ Dengan salah tingkah Adam berdehem. “Aku masih mencintaimu, Ca. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Aku melakukannya karena ibu yang memaksaku.” Ica menyesal tadi tidak membungkus sambel di dalam. Lumayan untuk membungkam mulut Adam. “Ca, jangan menikah dengannya karena kecewa padaku, aku akan mencari cara supaya kita bisa-“ “ Adam, aku cari-cari juga kenapa di sana! Lho Ica! Ngapain kamu dengan pacarku?” Ica menaikkan alisnya mendengar itu. Nova Elera. Anak pak Mamat yang rumahnya di ujung jalan, usianya dua tahun di atas Adam dan tahun lalu baru lulus jadi bidan PNS di salah satu puskesmas di kecamatan sebelah. Seingatnya dia sama sekali tak ada dendam dengan Nova, dan cewek ini jelas tahu kalau Adam menjalin hubungan dengannya, bahkan ibu cewek ini juga datang saat acara lamarannya dengan Adam waktu itu. “Ooo pacar ya mbak, selamat ya, jaga pacarnya agar tidak mendekati mantan. Risih tahu.” “Halah, jangan sok, Ca. kamu pasti sedang merayu Adam untuk balikan lagi. Kalian itu nggak level tahu nggak.” “Ya jelaslah, mbak. Adam nggak selevel sama Ica. Dia hanya parasit. Yuk, Ca. kita ke salon perawatan manja dulu.” Tata tiba-tiba muncul menarik Ica duduk di motornya, apalagi orang-orang sudah pada keluar melihat keributan ini, beberapa juga menyalakan ponselnya siap live berita. “Kayaknya aku kasih tahu bu RT nggak perlu upload foto di group,” kata Ica di tengah deru mesin motor Tata. “Kenapa?!” tanya Tata. “Banyak yang live tadi aku nggak perlu ikut campur dan di sana juga ada mbk Jum tadi, kamu tahukan tukang gosip kampung,” sahut Ica tenang. Tata tak menjawab tapi tawa kencangnya sudah cukup menjelaskan semua. *** Ica mengibaskan rambutnya yang sudah harum. Tubuhnya juga jadi lebih rileks setelah dipijat di salon tadi. Hatinya boleh panas setelah bertemu mantan, tapi dia tidak boleh mengabaikan perintah ibunya, bisa dikutuk nanti kalau tidak nurut. “Benar kan apa kata ibu, kamu lebih cantik dan segar sekarang,” kata ibu sambil mengelus rambut Ica. “Harusnya tadi ibu juga ikut.” “Wong ibu nggak dandan saja bapakmu sudah nempel terus apalagi ibu dandan, sudah kamu tidur dulu besok masih banyak acara.” Begitu Ibu menutup pintu dan mematikan lampu, pandangan mata Ica menerawang, air mata yang sejak tadi mati-matian dia tahan akhirnya mengalir juga. Dia juga manusia, punya rasa sakit hati, apalagi sudah diperlakukan setidak adil ini. Ica sudah berkali-kali membujuk hatinya, kalau om Saka, jauh lebih baik dari pada Adam. Dia percaya dengan penilaian ibu dan bapak, tapi tetap saja semuanya runtuh saat Adam dengan tak tahu malu menggandeng wanita lain disaat seharusnya mereka akan menikah. Sakit banget rasanya. Ingin rasanya Ica tadi membuat Adam babak belur, setidaknya dia bisa melampiaskan rasa sakit hatinya pada orang yang tepat, untungggg saja akal sehat Ica masih jalan. Tok…tok…tok… Ica menoleh ke arah pintu kamarnya. Bukan… ini bukan bunyi ketukan kamarnya ini bunyi… “Siapa?!” tanyanya agak takut. Ini sudah malam, meski banyak saudara yang menginap tapi sebagian besar sudah tidur, hanya para bapak yang ada di teras depan sedang nonton bola, masalahnya letak kamarnya yang di belakang. “Ica, honey.” Ica langsung bangun mendengar suara itu, apa dia sedang berhalusinasi saking kesalnya pada Adam. “Ca, tolong buka jendelanya sebentar aku perlu bicara denganmu.” Ica menggosok telinganya, ternyata dia memang tidak salah dengar. Setelah apa yang dia dan ibunya lakukan padanya berani Sekali Adam datang ke sini, pake diam-diam kayak maling lagi. “Pergilah, diantara kita sudah selesai,” jawab Ica dingin. Kalau sampai ada yang tahu bisa geger lagi dan ujung-ujungnya Ica yang disalahkan, apalagi dia sudah setuju menikah dengan orang lain. “Tidak bisa begitu, Ca. aku cinta kamu. Nova hanya pilihan ibu. Aku perlu meyakinkan ibu pelan-pelan kalau kamu memang pilihanku, kita bisa menjalin hubungan diam-diam dulu. Batalkan pernikahanmu. Aku yakin kamu juga tidak mencintai pria itu.” Ica beranjak bangkit dari ranjangnya, dengan tergesa dia menyambar cardigannya, tapi bukannya membuka jendela seperti keinginan Adam, Ica malah membuka pintu kamarnya dan berlari cepat keluar rumah, tak dipedulikannya salah satu saudara yang menegur. “Hon. Akhirnya aku tahu kamu memang mencintai-“ “Makan tuh cinta!” Ica yang sudah kesal sampai ke ubun-ubun langsung mengambil pasir di dekatnya dengan tangan, tanpa banyak kata dia langsung menarik rambut Adam dan pasir di tangan dia tumpahkan di kepala Adam sekalian. “Aku bantu kamu keramas biar otakmu bener.” “Akhhh!!!” Keributan itu memancing semua kerabat yang ada di rumah bahkan bapak dan ibu juga langsung berlari keluar. “Ca!!! astaga ada apa ini!!! lho Adam!!!” Meski banyak orang datang, Ica bahkan tak berniat melepaskan rambut Adam yang sudah penuh dengan pasir. Barulah ketika bapak memeluknya dari belakang, Ica melepaskan cengkeraman tangannya. “Dia sudah gila, Pak. Masak mau aku jadi simpananannya!!!” Suara Ica yang keras itu membuat Adam tertunduk malu, sedangkan bapak yang masih memeluk Ica melotot tak terima. “Pergilah!!! Jangan pernah ganggu anakku.” Wajah murka bapak yang biasanya tenang, cukup untuk membuat Adam lari terbirit-birit. “Dia sudah pergi, Ca. tenanglah.” Ibu dan beberapa kerabat juga ikut menenangkan Ica dan menuntunnya kembali ke kamar. “Pak, ibu tidur sama Ica saja malam ini, boleh?” Bapak menghela napas lalu mengagguk. “Memang sebaiknya begitu, bu.” Ibu menggandeng Ica kembali ke kamarnya, tapi sebelum membuka pintu kamar Ica, ibu menghentikan langkahnya. “Tunggu, Ca. kamu cuci kaki dan tangan dulu. Pasir di sampingkan banyak bunganya.”“Sudah jadi orang kaya beneran sekarang kamu!” “Mau nggak?!” “Nggak nolak dong… tapi ini beneran. Di sana mahal lho.” “Ckkk bawel banget sih, jemput dalam sepuluh menit.” Dengan gemas Ica menutup panggilan teleponnya. Dia baru saja ulang tahun lho, nggak ada gitu keinginan suaminya bersikap manis padanya. Dikiiit saja. Ica nggak menuntut banyak kok. Makan malam mereka kemarin ya berlangsung biasa saja, habis makan. Ica ke kamar diri membersihkan diri lalu tidur dah gitu saja. Dia capek makan hati. Mana sampai sekarang Saka sama sekali tak minat untuk memberinya kado. Iya sih ica sadar kalau uang bulanannya bahkan lebih besar dari pendapatan orang tuanya saat ini, dan itu hanya untuk jajan Ica, sedangkan untuk keperluan rumah Saka langsung memberikan uang cas padanya, tapi masak iya Ica beli kado untuk dirinya sendiri, dibungkus sendiri lalu dia buka lagi bungkusnya. “Mau kemana?” Ica menghela napas, dia lupa sejak tadi suaminya juga ada di kamar ini sedang sibuk dengan pons
Kali ini dia mendapat hadiah sebuah tumbler cantik yang memang sudah lama dia inginkan. Sejak hamil dia jadi doyan banget minum air putih. Kalau di rumah sih dia biasa disiapin bu Mirah teko besar, jadi begitu haus langsung tuang, tapi kalau sedang keluar rumah, nggak mungkinkan dia nenteng-nenteng teko begitu. Ica pernah ingin minta tolong pada Saka untuk belikan, tapi ya itu banyak masalah yang terjadi akhir-akhir ini jadi dia lupa. Memang sih bawa air mineral dalam botol menjadi solusinya. Entah bagaimana orang yang orang tuanya katakan sebagai sahabat mereka itu tahu apa yang dibutuhkan Ica. “Wah syukurlah akhirnya aku punya tumbler,” kata Ica sengaja mengeraskan suaranya, dan ekspresi wajahnya juga dibuat seberbinar mungkin. Maksudnya sih mau nyindir suaminya, tapi pria itu mana peka dengan sindiran istrinya. “Mas nggak masalah aku terima hadiah dari pria lain?” tanya Ica yang kecewa dengan reaksi suaminya yang lempeng saja. Selama mereka menikah, dia yang lebih sering
Benarkan sesuai prediksi Ica, nasi kuning masih menjadi idola di acara ulang tahunnya. “Katanya nanti mau ajak makan malam.” Ini piring kedua dan isinya bukan ala isi piring model internasiol tapi sama dengan porsi kuli. Luar biasa bukan Ica sejak tadi cemberut karena hari ulang tahunnya tetap tak ada yang istimewa. Tapi nasi kuning ibu memang istimewa sih mau bagaimana lagi. “Ini masih sore, bu. Makan malam ya nanti saat malam,” kata Ica sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. “Ya sudah, nduk. Makan yang banyak. Kamu kan makan untuk dua orang,” kata bapak membela Ica. Sedangkan Saka yang duduk di samping bapak hanya menatap sejenak. “Memangnya kamu nggak ngidam, Ca?” tanya ibu masih takjub dengan porsi makan Ica. Dia tahu Ica memang doyan makan sejak dulu, apalagi masakannya. Tapi kata Saka tadi sejak hamil Ica makannya sulit. “Ngidamnya Ica nggak ngrepotin kok,” jawab ica cuek sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. “Memangnya kamu ngidam apa?” tanya sang ibu. “Marta
Ngambek sama Saka itu malah membuatnya cepat tua. Bayangkan saja, ica sudah makan hati eh Saka malah cuek saja seolah tak terjadi apa-apa. “Malam minggu nanti kita nginap di rumah bapak, Ca,” kata Saka tenang seperti biasa, saat Ica yang masih menampilkan wajah kesal duduk di meja makan di samping pria itu. “Ada apa di sana?” tanya Ica datar. Kalau saja tidak ada bu Mirah yang sedang mencuci piring di dapur tentu Ica akan menjawab ucapan suaminya dengan ketus. Tapi jelek-jelek begini dia masih tahu tata krama.Bagaimanapun kesalnya dia pada Saka, pria itu tetap suaminya. kepala keluarga yang harus dia hormati dan juga sayangi. “Kamu lupa itu hari ulang tahunmu.” Ica terdiam. Selama ini hari ulang tahunnya selalu dia lewati dengan… biasa saja. Tidak ada yang istimewa selain dia membantu ibu menyiapkan nasi kuning yang akan mereka bagikan untuk tetangga kanan kiri dan juga makan bersama mereka. Bahkan saat berpacaran dengan Adam, hari ulang tahun tak ada yang berbeda untuknya.
Rasanya Saka akan gila. Ica istrinya yang cantik, ceria dan keras kepala kini bersikap seperti patung lilin padanya. Dia tidak tahu apa salahnya. Seingatnya setelah pesta itu mereka tidak bertengkar, meski ica sedikit tak setuju dengan usulnya untuk meminta maaf pada Sita. Akan tetapi setelah dijelaskan, Ica setuju bahkan menemaninya ke rumah Sita. Di sana juga tidak terjadi apa-apa, mereka makan martabak buatan Sita yang enak. Saka memang sengja mengajaknya karena dia ingat Sita pernah bilang membuka warung di depan rumahnya dan salah satunya memjual martabak. Bisa saja sih sebenarnya Saka meminta bu Mirah untuk membuatkannya untuk mereka, tapi pesta kemarin sudah membuat wanita paruh baya itu kelelahan, dia tak sampai hati memberinya pekerjaan lagi. Saka menggeleng. Tak tahu apa yang salah sebenarnya. Ica sempat berteriak tadi yang membuatnya panik, tapi itu karena hanya jarinya yang tak sengaja menyentuh wajan panas dan Ica juga tidak jatuh atau terbentur sesuatu, dia sudah
Ica kesal pada dirinya sendiri. Ngapain sih dia repot-repot bikin martabak sendiri, padahal sejak tahu Saka memuji martabak buatan mantan istrinya itu, Ica sudah ogah makan-makanan itu. Tapi lihatlah hari ini pagi-pagi sekali dia sudah minta bu Mirah untuk berbelanja bahan untuk membuat martabak telur tak tanggung-tanggung, bu Mirah juga beli telur bebek sekalian katanya biar martabaknya makin enak. Ica sih nurut saja, semoga saja memang martabak buatannya nanti lebih enak dari pada martabak buatan mbak mantan, jadi suaminya tak perlu lagi pake alasan minta maaf hanya untuk mencicipi masakan buatan mantan istrinya itu. “Mbak Ica duduk saja biar saya saja yang buatin,” kata bu Mirah tak tega melihat Ica yang berjuang memecahkan telur dengan kaku. Kalau bu Mirah yang buatkan ini judulnya buatan bu Mirah bukan buatannya. “Ibu duduk saja, lihatin apa nanti yang salah,” kata Ica. “Si dedek kalau sudah besar mau jadi tukang masak kok mbak Ica ngidamnya masak melulu.” Masak mel
“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah







