Share

OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU
OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU
Author: Ajeng padmi

Bab 1

Author: Ajeng padmi
last update publish date: 2026-05-28 12:58:49

“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”

Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mereka bukan terjalin satu-dua tahun.

Tapi lima tahun!

Memang belum selama KPR rumah yang biasanya lima belas tahun, tapi tetap saja sakitnya itu menancap di hatinya.

Apalagi saat Ica melihat ibunya hampir pingsan.

Awalnya, Ica kira Adam datang untuk membicarakan mahar pernikahan mereka. Ica bahkan sudah menyiapkan uang tabungannya jika Adam bilang uangnya tidak cukup untuk mahar yang layak.

“Tidak perlu, untung saja anak saya tidak jadi beristri perempuan tidak tahu cara menyambut tamu seperti kamu!”

Ibu Adam, dengan dandanan menor ala emak-emak sosialita, namun lehernya tetap terlihat hitam itu, mendengus seraya berdiri.

Wanita itu pun beranjak seraya mengetuk-ngetukkan sepatu hak tingginya. Bahkan ibu Adam masuk ke rumah Ica tanpa melepas alas kakinya!

Adam juga beranjak sambil menghela napas panjang, “Ca, aku harap hubungan kita tetep baik ya setelah ini…”

Hati Ica mencelos saat Adam dan ibunya benar-benar pergi.

Tidak terlihat ada penyesalan. Bahkan Adam berharap hubungan mereka baik-baik saja, setelah yang terjadi hari ini?!

“Ca!!!”

“Sabar buuu….” Bapak memeluk ibu yang menangis sesenggukan dengan lembut. “Jangan sampai ibu sakit karena emosi.”

Ica menatap orang tuanya dengan pandangan iri.

Enak ya kalau punya pasangan yang bisa selalu mengerti satu sama lain.

“Kita harus bagaimana, pak?”

Ibu memilih menenggelamkan tangisnya di bahu bapak.

Ica menggeser sedikit duduknya, tangannya gemetar hebat saat mengambil nastar yang tadinya disuguhkan untuk Adam dan keluarganya, memakannya sekaligus tiga.

Mengamuk dan memaki bukan gayanya. Dia marah. Dia kecewa, malu juga tapi dia sadar hal itu tak akan membuat Adam memilihnya lagi.

Pelaminan sudah terpasang di depan rumahnya, tinggal dua hari lagi seharusnya dia akan menjadi nyonya Adam Firmansyah, tapi semuanya…… BATAL.

Gila!!! Sakit banget rasanya.

Ica mengambil nastar kembali, rasanya enak. Ibu memang pintar membuat kue, apalagi ini hari istimewanya tentu saja sang ibu akan membuat yang terbaik meski akhirnya hari ini tak akan seistimewa kue buatan ibu.

Saking cepatnya dia makan remah-remah nastar berhamburan di kursi tapi dia tak peduli.

“Ca! kok kamu malah makan terus, ini bagaimana nasib pernikahanmu!”

“Mau bagaimana lagi, bu. Mau nggak mau ya harus kita batalkan.”

Bukan Ica yang menjawab tapi bapak.

Bapak memang tidak emosi seperti ibu tapi jelas saja ada kekecewaan yang nyata di mata beliau.

“Ica sedang memikirkan solusinya, bu, pak.”

“Solusi apa lagi, Ca. kamu mau minta Adam tidak membatalkan pernikahan? Tidak. Bapak sudah tidak mau punya mantu kayak dia.”

Rencana setelah menikah yang telah dia susun rapi hancur sudah.

“Bukan itu, pak.”

“Lalu apa solusimu?”

Ica hanya memberikan gelengan tak berdaya.

Otaknya benar-benar macet tak mau dia ajak untuk berpikir apalagi mencari solusi.

Dia tidak pingsan saja sudah bagus.

Sedangkan di rumahnya ini, semua persiapan pesta sudah hampir rampung, apalagi makanan sudah matang sebagian.

Masa iya, acara pernikahannya diganti acara syukuran.

Syukuran karena tidak jadi menikah dengan pria pengecut seperti Adam. Cocok juga sih.

Ah sial! Ternyata dia masih dalam kategori orang bodoh. Bayangkan saja semua biaya pernikahan ini orang tuanya yang menanggung.

Adam??

Boro-boro. Untuk hantaran waktu lamaran saja seuprit. Ica sampai harus nombok uang tabungannya supaya tidak malu-malu banget.

Calon suaminya PNS tapi hantaran cuma jajan pasar.

“Saya duda tanpa anak, usia tiga puluh enam tahun. Pekerjaan petani.”

Ica dan orang tuanya melongo.

Saat drama pembatalan oleh keluarga Adam tadi, semua tetangga yang membantu pesta memang memilih menyingkir. Hanya pria ini yang tetap diam di sudut ruangan, begitu tenang hingga keberadaannya nyaris tak disadari.

Kalau tadi tidak bicara Ica dan orang tuanya pasti masih mengira pria ini kursi.

“Maksudnya bagaimana?” bapak yang pertama sadar dari shocknya langsung bertanya.

Ah! Ini kali kedua pria ini datang ke rumahnya. Dia teman bapak dan seingatnya tadi mereka membicarakan lapak di pasar. Ica ingat betul. Meski tak tahu namanya tapi wajah tampan dan badan yang tinggi dan ramping membuat sosoknya tak mudah dilupakan.

"Apa putri pak Abdul mau menikah dengan saya?"

"Hah?!" Ica menggosok telinganya, takut salah dengar. Dia baru saja dibuang mantan, masa langsung dilamar om-om teman bapaknya? Mana mukanya datar kayak papan, tidak ada grogi-groginya sama sekali.

"Kamu serius, Sak?" tanya bapak penuh selidik. "Kamu tidak perlu kasihan pada kami. Lebih baik acara dibatalkan daripada Ica terpaksa menikah hanya untuk menutup malu."

"Saya butuh istri dan anak bapak butuh suami. Apa saya tidak pantas menjadi menantu bapak?" Jawabannya tegas, membuat bapak menghela napas lalu menatap Ica pasrah.

"Bagaimana, Ca? Kamu mau?"

Tatapan bapak terasa berat. Ica melirik ibunya yang masih bermata sembab. Pikirannya mendadak berputar liar, menghitung segala kemungkinan buruk jika dia menolak.

Kalau pesta ini batal, besok pagi satu kampung akan membicarakannya. Ibu pasti pingsan lagi. Bapak harus menanggung malu, belum lagi utang biaya sisa katering dan tenda yang sudah telanjur terpasang. Dia akan dicap sebagai perempuan malang yang dicampakkan H-2 pernikahan.

Tapi kalau dia menerima pria ini... setidaknya wajah orang tuanya terselamatkan. Urusan cinta? Persetan. Adam yang dicintainya lima tahun saja bisa berubah jadi bajingan karena SK PNS.

Ica mengatupkan rahang, mengepalkan tangan di atas lututnya yang gemetar.

"Baik, aku mau."

Semua orang seketika membeku. Ica menatap Bapak dan ibunya bergantian, menunjukkan jika keputusannya ini benar-benar matang.

“Tapi… ada syaratnya…”

"Syarat apa, Ca?" Bapaknya menelan ludah.

Ica berdehem, lalu tatapannya beralih ke Om-om sahabat bapak, "Om harus membayar semua biaya pesta ini sekarang juga. Sebagai bukti keseriusan."

Katanya cuma petani, kita lihat punya duit tidak, batin Ica menantang.

Tanpa sepatah kata, pria bernama Sak itu berdiri, merogoh saku belakang celananya, dan meletakkan sebuah kartu di atas meja.

Mata Ica nyaris melompat keluar melihat kartu debit platinum berlogo bank swasta ternama di hadapannya. Petani zaman sekarang simpan uangnya bukan di bawah bantal lagi?

"Kartu ini beneran milik Om, kan? Bukan hasil nyolong?"

Sak tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis misterius yang mendadak membuat bulu kuduk Ica meremang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 50

    Bolak-balik Ica melirik bu Mirah yang sedang membuat bumbu soto. Hari ini rencananya mereka akan membuat soto ayam, makanan favorit Saka yang lain, tentu saja itu kata bu Mirah, meski dia tidak tahu benar atau salah. Kalau Ica tanya apa makanan favorit Saka, pria itu selalu menjawab aku makan apa saja asal tidak haram dan kotor. Jawaban khas orang yang tidak mau ribet. Awas saja kalau nanti tiba-tiba bilang nggak suka makanan yang dia masak. “Mbak Ica butuh sesuatu?” Ica melongo sejenak tapi kemudian memaksakan sebuah senyum. “Enggak bu, memang kenapa?” “Oh saya kira mau ngomong sesuatu sama saya, mbak Ica sejak tadi lirik-lirik saya. Atau mbak Ica mau coba halusin bumbunya?” tanya bu Mirah sambil menyodorkan cobek dan ulekan di depannya. Ica meringis. Kenapa sih nggak ibunya nggak bu Mirah suka sekali pake ulekan untuk menghaluskan bumbu padahal sudah ada alat namanya blender atau copper yang bisa digunakan untuk menghaluskan bumbu, tanpa perlu capek-capek ngulek tinggal pen

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 48

    “Kok pintunya kamu kunci, Ca.” Itulah kata pertama yang dikatakan Saka begitu keluar dari kamar mandi. Sedangkan Ica hanya bisa menahan dongkol. “Lupa.” “Oh tadi aku panggil-panggil nggak bangun.” “Kan sudah tidur.” Kenapa sih Ica harus menjelaskan kayak gini, memangnya Saka nggak ngerti kalau dia ngambek karena ditinggal sendiri. “Oh aku kira marah.” Tuh tahu sebenarnya Cuma pura-pura bego saja. “Marah kenapa?” Ica menoleh saat beberapa saat Saka hanya diam tak menjawab omonganya. Pria itu mengerutkan keningnya, gestur sederhana yang Ica tahu saat suaminya itu sedang berpikir keras. Ishhh kalau sama dia saja sok-sokan nggak peka. “Karena terganggu aku nonton bola dengan pak Sarmin?” tanya pria itu dengan wajah ragu. “Suaranya nggak kedengeran dari sini,” jawab Ica datar. Ica sih memang berharap bisa pillow talk dengan suaminya setiap hari sebelum mereka tidur, tapi nggak gini juga kali modelnya. “Oh iya benar juga.” Ica maunya melengos dan gak peduli lagi pada suamin

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 47

    Ini sudah hampir tengah malam tapi Saka belum masuk kamar juga. Tadi setelah makan malam Ica memang masuk lebih dulu ke kamar untuk menyelesaikan skripsinya. Sedangkan Saka entah melakukan apa di luar sana, yang jelas suaminya itu masih ada di dalam rumah, setidaknya selama menjadi suaminya Saka selalu bilang kalau mau pergi kemanapun meski hanya, “Aku pergi.” Gitu saja. Tak ada cium tangan atau pelukan mesra, padahal Ica pingin lho sekali-sekali mengantar suaminya berangkat kerja. Dia cium tangan suaminya lalu dibalas cium kening lalu menyerahkan perlengkapan kerja su-Cium tangan dan cium keningnya memang romantis saat dibayangkan, tapi saat ingat Saka pergi kerja bukan bawa tas tapi bawa sabit rasanya kok agak horor. Masak iya dia harus bawa-bawa sabit buat ngejar suaminya.Ica menendang selimut dan menghambur ke arah pintu kamarnya. Kalau Saka berniat tidur larut malam lagi dia siap-siap dengan segala omelannya. Ngomongnya mau pernikahan mereka langgeng tapi dekat-dekat istr

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 47

    “Mas mau mandi mau aku siapkan air hangat?” Nah Ica sudah mulai melancarkan aksinya. Bukannya menerima begitu saja kebaikan hati Ica, Saka malah menatap aneh padanya. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan menyentuh dahi Ica. “Nggak demam.” “Ih… aku nawarin mas yang mandi air hangat, ini sudah mau malam.” Ini nih yang bikin Ica gondok. Diperhatikan bukannya terima saja dengan senang hati, suaminya malah menatapnya seolah Ica baru saja kerasukan. Padahal sejak dulu dia juga orangnya baik dan perhatian. Ica melirik jam dinding di ruang tengah, sudah menunjukkan pukul lima lewat. Bahkan bu Mirah sudah kembali ke rumah kecil yang dibangun Saka untuk mereka. Saka yang biasanya siang sudah sampai rumah, karena tadi ada sedikit masalah soal panen petainya terpaksa ke kebun lagi untuk memeriksa, tapi jam segini baru pulang. Memang sih lama-lama dia sudah terbiasa dengan keadaan rumah ini, dan tak takut lagi meski di rumah sendiri, kalau siang hari tapi. “Ini baru mau magr

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 46

    “Udah bener setelah nikah kamu harusnya bikin anak banyak-banyak, Ca. jangan pikirin yang lain.” Inginnya sih Ica curhat pada orang terpercaya, yang sudah nikah dan tidak akan mengomelinya. Meski syarat pertama terpenuhi, Syarat kedua jelas enggak banget. Ica tahu itu, tapi bodohnya dia tetap saja menelpon dan menceitakan semua ganjalan di hatinya. Temannya memang seuprit dan hanya satu dua orang saja yang bisa dikatakan dekat, tapi yang selalu dia jadikan tong sampah ya Cuma Tata, meski kadang bukan solusi yang dia dapatkan justru malah tambah kesal. “Anak apaan sih aku masih muda, dan masih sibuk skripsi.” “Ya Tuhan yang maha besar. Kok ada wanita dodol kayak kamu ini!!!” Tuh dengerin siapa juga yang nggak godok, belum-belum dia sudah mendapat omelan. Padahal ya Tata saja macaran masih putus nyambung sok sokan nasehatin Ica supaya punya anak banyak. Mulai bikin saja belum. “Ckkk….Ya kan aku nggak mau terlalu tergantung sama suami, kalau nanti ada apa-apa aku masih punya m

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 45

    “Memangnya mas nggak cemburu? Atau marah?” “Pada siapa?” tanya Saka tenang. Sejak tadi pertanyaan itu sudah ingin Ica katakan tapi dia tidak ingin membuat keributan di kamar rawat Adri. Malu. Jadi sekaranglah saatnya dia mencecar suaminya. oh tidak kalau perlu dia akan mengintrogasinya. Ica hanya tahu Sedikiiit tentang masa lalu suaminya, itupun hanya sepotong-potong dan kebanyakan bukan dari mulut Saka sendiri dan menurut Ica inilah waktu yang tepat saat mereka dalam perjalanan ke hotel tempat mereka menginap dengan Saka yang kembali memegang kemudi. Setelah dari rumah sakit, Saka memang mengajari Ica menyetir sebentar, tentu saja dengan memilih jalanan yang tidak terlalu ramai. Meski agak canggung awalnya tapi Saka ternyata guru yang baik dan telaten, Ica jadi cepat belajar. Meski hanya berani dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam. Tapi bagi orang kayak Ica itu merupakan prestasi tersendiri. “Ya pada mbak Sita.” “Buat apa?” Ica rasanya ingin menggetok kepala pria d

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 6

    Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 5

    Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 4

    Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 3

    Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status