Share

Bab 36

Penulis: Ajeng padmi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 17:54:41

Hidup bersama Saka, sepertinya Ica harus mempersiapkan diri supaya tidak terserang darah tinggi dan jantungan.

Banyak sekali kelakuan aneh Saka yang kadang membuatnya tak habis pikir. Solusi yang ditawarkan pria itu untuk permasalahan yang mereka hadapi memang sangat tidak biasa, tapi untungnya sejauh ini sama sekali tidak menimbulkan masalah.

Ica kasihan sebenarnya pada Farah. Oh dia tetap tidak suka pada wanita itu yang menyelinap diam-diam dalam pernikahannya, tapi tetap saja sebagai perem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Raisa Kalyna
hadewww wes mbuhlah wkwkwk
goodnovel comment avatar
Nunyelis
ya ampun ca banyakin stok sabarmu ca... duda keren tajir tp gk nyambung diajak ngomong bisa2 stress kamunya,...
goodnovel comment avatar
Mohamadhaidaraltap
kalau aku jadi Ica ,aku dah jadi orang stres.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 47

    “Mas mau mandi mau aku siapkan air hangat?” Nah Ica sudah mulai melancarkan aksinya. Bukannya menerima begitu saja kebaikan hati Ica, Saka malah menatap aneh padanya. “Kamu kenapa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan menyentuh dahi Ica. “Nggak demam.” “Ih… aku nawarin mas yang mandi air hangat, ini sudah mau malam.” Ini nih yang bikin Ica gondok. Diperhatikan bukannya terima saja dengan senang hati, suaminya malah menatapnya seolah Ica baru saja kerasukan. Padahal sejak dulu dia juga orangnya baik dan perhatian. Ica melirik jam dinding di ruang tengah, sudah menunjukkan pukul lima lewat. Bahkan bu Mirah sudah kembali ke rumah kecil yang dibangun Saka untuk mereka. Saka yang biasanya siang sudah sampai rumah, karena tadi ada sedikit masalah soal panen petainya terpaksa ke kebun lagi untuk memeriksa, tapi jam segini baru pulang. Memang sih lama-lama dia sudah terbiasa dengan keadaan rumah ini, dan tak takut lagi meski di rumah sendiri, kalau siang hari tapi. “Ini baru mau magr

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 46

    “Udah bener setelah nikah kamu harusnya bikin anak banyak-banyak, Ca. jangan pikirin yang lain.” Inginnya sih Ica curhat pada orang terpercaya, yang sudah nikah dan tidak akan mengomelinya. Meski syarat pertama terpenuhi, Syarat kedua jelas enggak banget. Ica tahu itu, tapi bodohnya dia tetap saja menelpon dan menceitakan semua ganjalan di hatinya. Temannya memang seuprit dan hanya satu dua orang saja yang bisa dikatakan dekat, tapi yang selalu dia jadikan tong sampah ya Cuma Tata, meski kadang bukan solusi yang dia dapatkan justru malah tambah kesal. “Anak apaan sih aku masih muda, dan masih sibuk skripsi.” “Ya Tuhan yang maha besar. Kok ada wanita dodol kayak kamu ini!!!” Tuh dengerin siapa juga yang nggak godok, belum-belum dia sudah mendapat omelan. Padahal ya Tata saja macaran masih putus nyambung sok sokan nasehatin Ica supaya punya anak banyak. Mulai bikin saja belum. “Ckkk….Ya kan aku nggak mau terlalu tergantung sama suami, kalau nanti ada apa-apa aku masih punya m

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 45

    “Memangnya mas nggak cemburu? Atau marah?” “Pada siapa?” tanya Saka tenang. Sejak tadi pertanyaan itu sudah ingin Ica katakan tapi dia tidak ingin membuat keributan di kamar rawat Adri. Malu. Jadi sekaranglah saatnya dia mencecar suaminya. oh tidak kalau perlu dia akan mengintrogasinya. Ica hanya tahu Sedikiiit tentang masa lalu suaminya, itupun hanya sepotong-potong dan kebanyakan bukan dari mulut Saka sendiri dan menurut Ica inilah waktu yang tepat saat mereka dalam perjalanan ke hotel tempat mereka menginap dengan Saka yang kembali memegang kemudi. Setelah dari rumah sakit, Saka memang mengajari Ica menyetir sebentar, tentu saja dengan memilih jalanan yang tidak terlalu ramai. Meski agak canggung awalnya tapi Saka ternyata guru yang baik dan telaten, Ica jadi cepat belajar. Meski hanya berani dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam. Tapi bagi orang kayak Ica itu merupakan prestasi tersendiri. “Ya pada mbak Sita.” “Buat apa?” Ica rasanya ingin menggetok kepala pria d

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 44

    Saka dan Ica harus menunggu satu jam untuk mendapatkan pesanan buah tangan mereka. Ada buah dan juga cemilan kesukaan anak bu Mirah yang tentu saja dibeli setahu Saka. Semoga saja nggak salah sih. “Mbak Farah apa sudah ada di sana ya, mas?” tanya Ica penasaran, dia kebagian menenteng tas berisi camilan sedangkan suaminya membawa parcel buah dan juga tas berisi nasi box yang dipesan Saka tadi. Ica sih sudah menawarkan diri untuk membawakan nasi box itu, karena parcel yang mereka beli cukup besar dan pastinya berat, tapi Saka dengan santainya bilang “Kamu bawa camilan saja, nanti nasinya habis kalau kamu yang bawa.” Ih menyebalkan!! Padahal tadi Ica Cuma icip dikiiiit banget lho. soalnya bau harum masakan membuatnya lapar lagi, lagian mereka beli enam box dan di sana hanya ada tiga orang jadi sisanya bisa untuknya. “Maaf.” “Maksudnya?” tanya Ica gagal paham kenapa suaminya tiba-tiba minta maaf dia tanya tentang Farah lho. “Dia ngatain kamu, kamu pasti sakit hati.” Ica mengang

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 43

    “Kamu ingat nggak, Ka. Dulu kita sering ke kota saat bolos sekolah dan kita gantian nyetir motor.” “Iya,” jawab Saka singkat. “Warung yang dulu kita sering singgah masih ada nggak ya, Ka?” “Kamu kan sering lewat sana, masak tidak tahu.” Farah memang akhirnya menyetir mobil Ica, dengan Ica yang duduk di kursi belakang, sambil kakinya dia selonjorkan di atas pangkuan Saka. Ini Saka sendiri yang minta lho, Ica sudah berusaha menolak tapi suaminya itu ternyata keras kepala juga kalau sudah mau. Ica akhirnya menurut, tapi dia senang juga sih melihat reaksi Farah. Disuruh nyetiri, dipaksa melihat Saka yang begitu perhatian memijat pelan kaki Ica bahkan meniup lukanya tadi meski kaki Ica sudah tidak sakit lagi, tapi kapan lagi suaminya yang kayak kulkas berjalan ini bisa perhatian padanya. Kalau Farah marah lalu mengamuk, tentu Ica akan sangat senang, tapi wanita itu punya cara paling licik untuk melampiaskan rasa marahnya. Apalagi kalau membicarakan kenangan mereka berdua. Ica? Y

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 42

    “Kamu kan tahu, Ka. Aku mabuk kalau duduk di belakang.” Ica menatap sang suami sambil menaikkan alisnya. Bisa-bisanya ya nih wewe gombel mengatakan hal itu sudah numpang merepotkan lagi. Ica sih sama sekali nggak ngajak ya, Saka juga tidak, suaminya itu hanya mengatakan dengan jujur kalau mereka akan ke kota kecamatan untuk menjenguk anak bu Mirah dan dengan tak tahu malunya Farah bilang ingin ikut sekian mereka bisa makan makanan buatannya di sana. Sebenarnya bukan masalah bagi Ica asal wanita itu tidak bersikap genit pada suaminya dan menganggapnya tak kasat mata. “Tanya saja, Ica. Dia yang punya mobil.”“Lho pak Tarso bilang kamu beli cas di dealernya.” “Aku beli untuk Ica,” jawab Saka kalem, sambil menatap sang istri yang sudah menatapnya geram tapi seperti biasa, pria itu kan tidak peka. “Ya berarti ini mobil kamu wong kamu yang bayar,” jawab Farah ngeyel. Ica masih berdiri memperhatikan dua orang itu. “Boleh,” jawab ica kalem.“Mas pergi saja sama mbak Farah aku nanti

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 6

    Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pas

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 5

    Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 1

    “Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status