LOGINTap
Tap Tap Langkah kaki yang terdengar jelas sebab ujung heelsnya yang bertemu dengan lantai keramik membuat banyaknya para Maid yang berkerja di sebuah Mension mewah kini berbaris menyambut kedatangan seorang wanita cantik berwajah dingin yang menjadi majikan mereka "Selamat datang Nona muda" ucap para Maid sembari menunduk hormat dan seperti biasanya tidak ada jawaban yang terdengar dari wanita dewasa itu "Dimana nenek tua itu?" Tanya wanita dingin yang tak lain adalah Ruby Queenza Alvaughan "Nyonya besar Revana menunggu anda di ruang keluarga, nona" jawab mereka membuat Ruby melangkah begitu saja menuju tempat yang maid itu sebutkan Revana Alvaughan adalah seorang wanita lanjut usia yang menjadi tertua di keluarga bermarga Alvaughan, Revana dulunya memiliki seorang suami yang telah lama tiada bernama Adipta seorang pria biasa yang lahir dari keluarga miskin dan besar di sebuah pedesaan dan dari pernikahan pasangan itu mereka memiliki satu orang putra bernama Arlend Alvaughan ayah kandung dari Ruby Arlend Alvaughan awalnya menikah dengan seorang wanita yang membintangi dunia modeling, wanita yang sengaja di jodohkan dengannya oleh kuasa Revana, wanita itu bernama Kanaya Roderick ibu kandung Ruby yang menjadi salah satu keturunan keluarga kaya raya bermarga Roderick namun sayang Kanaya meninggal saat usia Ruby menginjak tujuh tahun dan sejak saat itu Ruby gadis yang selalu ceria berubah menjadi pendiam dan dingin Hingga saat ini Arlend telah memiliki istri lain yang ia nikahi enam bulan setelah meinggalnya Kanaya, wanita itu bernama Linda wanita sederhana yang menjadi cinta pertama Arlend dari pernikahan keduanya Arlend kembali di karuniai dua orang anak, anak pertama mereka yang bernama Raven Alvaughan laki-laki berusia dua puluh tahun yang kini sedang berkuliah dan anak kedua mereka bernama Nala Caleria Alvaughan gadis ceria berusia tujuh belas tahun yang kini duduk di bangku SMA kelas akhir Kisah hidup Ruby begitu mirip dengan kisah hidup Algarrel laki-laki tampan dengan banyak luka dalam hidupnya yang hanya bisa ia pendam "Selamat malam" sapa Ruby dengan suara tegas dan wajah datarnya "Kenapa kamu begitu lama, Queen?" Tanya Revana sang nenek yang memanggil ruby dengan panggilan sayangnya yang ia ambil dari nama tengah Ruby "Tentu saja karena saya sibuk oma" jawab Ruby santai membuat Revana menghela nafasnya pasrah "Duduk lah ada yang ingin oma bicarakan pada mu", jelas Revana membuat Ruby pasrah sepertinya ada hal penting yang ingin neneknya katakan karena saat ini di ruang keluarga bukan hanya dirinya dan sang nenek yang berada disana melainkan ayah, ibu tiri dan seorang gadis yang menjadi adik tirinya juga berada di sana kecuali adik tiri lelakinya yang tak terlihat karena sepertinya ia belum tiba di negara ini "Kakak duduk di sebelah aku yah" pinta Nala adik tirinya Tanpa menjawab Ruby memilih duduk di sofa single yang sedikit berjarak dari ayah dan ibu tirinya membuat tatapan kecewa terlihat jelas di wajah Nala "Ruby bisakah kau bersikap baik pada adikmu" tegur Arlend sang ayah "Itu hak ku" balas Ruby datar membuat Arlend menghela nafasnya berat "Permisi, Nona muda maafkan saya menyela saya hanya ingin menginformasikan jika Tuan Muda Raven sudah tiba" jelas kepala pelayan bernama Bi Sari Raven cowok berandal berwajah tampan yang menjadi adik tiri Ruby yang baru saja pulang dari Prancis setelah enam bulan lamanya ia tinggal bersama orang kepercayaan Revana dan tentu saja atas paksaan Revana dan campur tangan Ruby karena Raven yang sulit diatur hingga membuat keluarga Alvaughan merasa malu karena tingkahnya "katakan padanya untuk langsung bergabung disini" titah Arlend "Baik Tuan" jawab Bi Sari dan berbalik pergi Raven memasuki Mension keluarganya dengan wajah malasnya tak berniat untuk bergabung bersama keluarganya yang terlihat sedang berkumpul bersama "Raven kemari dan duduk lah" pintah Arlend namun sayang Raven seakan tuli tak berniat untuk mematuhi ucapan ayahnya hingga satu suara yang terkesan dingin memasuki indera pendengarannya "Duduk di tempat mu" titah Ruby penuh penekanan membuat adik tirinya berdecak sebal namun mematuhinya dengan terpaksa "Ck" decak Raven namun tubuhnya tetap mematuhi kakak tirinya yang memegang kuasa terbesar di Mension ini selain sang nenek "Bagaimana kabar mu nak?" Tanya Linda lembut pada putranya "Aku baik mah " balas Raven seadanya "Apa yang ingin oma katakan?" Tanya Ruby to the point "Oma akan menjodohkan mu dengan cucu kerabat jauhku", jelas Revana terdengar mutlak "Ck, sudah saya katakan berulang kali Oma, saya tidak akan pernah menerima perjodohan apapun yang Oma rencanakan" balas Ruby datar "Usiamu sudah cukup matang untuk menikah Queen, usiaku sudah terlalu tua dan tubuhku tidak sesehat dulu bahkan kematian akan segera mendatangi ku dalam waktu dekat ini, turuti lah kemauanku sekali saja" pinta Revana dengan wajah sedihnya membuat Ruby hanya bisa berdecak sebal dalam diam mendengar drama sang nenek "Siapa pria itu?" Tanya Ruby akhirnya namun dia takkan mudah menerima semuanya "Besok siang Oma akan mengirimkan mu alamat sebuah restaurant bintang lima, dia akan menemui mu disana " jawab Revana cepat dengan semangat, fikirannya sudah tak sabar untuk menimang cicit "Apa ada lagi yang ingin Oma katakan?", tanya Ruby lelah "Hm, ini tentang kedua anakmu Arlend" ucap Revana berubah serius "Maksud ibu?" Tanya Arlend bingung "Ingatkan ini pada anak lelakimu, jika sekali lagi dia berbuat ulah yang akan mempermalukan nama baik keluarga ini jangan menyalahkan ku yang akan kembali mengirimnya ke Prancis dalam waktu yang lama dan juga untukmu Nala untuk kesekian kalinya aku dengar kau bermasalah di sekolah dengan beberapa temanmu sudah ku katakan berhenti membuat masalah, apa begitu sulit hu?" Geram Revana serius "T-tapi Oma, bukan aku yang memulainya mereka yang membully ku" cicit Nala dengan kepala tertunduk dan suara yang pelan di akhir katanya "Berhenti membuat alasan dan kau ajari kedua anakmu untuk bertingkah seperti seharusnya jangan membawa kebiasaan buruk keluarga mu di kediamanku" sinis Revana pada Linda sang menantu "Bu ini bukan salah Linda" bela Arlend "Lalu salah siapa?, salah ku, hu?" Sanggah Revana tegas "Maafkan anak-anakku bu" ucap Linda mengalah "Ini bukan salah mama kenapa mama meminta maaf" sela Raven membela sang ibu "Kau juga tahu itu, maka ucapkan permintaan maafmu sendiri" Celetuk Ruby dingin dengan tatapan tajam menghunus ke mata penuh amarah milik Raven "Kenapa diam?, kau tidak ingin meminta maaf tapi tak terima saat ibumu mewakilimu, kau terlalu kekanak-kanakan" cibir Ruby dengan smirknya yang terlihat jelas Brakk... Raven memukul meja begitu kuat sembari berdiri dari duduknya dan menatap kakak tirinya penuh permusuhan "Ada apa?, kau ingin mengatakan sesuatu ,hm?" Tanya Ruby yang tau jika adik tirinya ini sudah kalah telak dengan ucapannya yang penuh kebenaran "Raven sudah, jangan melawan kakakmu" peringat Linda lembut namun tak di hiraukan oleh putranya yang sudah termakan amarah Ruby berdiri dari duduknya, melangkah sedikit lebih dekat dari adik tiri laki-lakinya yang menatapnya kesal "Saya tidak mengatakan ini untuk membela ibumu karena kau pun juga tahu saya tidak pernah menerima mu dan juga ibumu dalam kehidupanku tapi dengar ini Raven sekali lagi kau membuat malu nama baik keluargaku akan ku pastikan kau akan menerima hukuman dariku, ahh dan satu lagi...jika kau tak terima ibumu mengatakan maaf karena mewakili mu maka biasakan dirimu untuk meminta maaf atas kesalahanmu karena kau tahu apa yang bisa ku lakukan terhadapmu jika kau terus saja mengujiku" jelas Ruby dingin "Saya ke kamar" pamit Ruby pergi begitu saja karena merasa lelah Raven hanya bisa mengepalkan tangannya kuat ia memang bersalah dan sialnya lagi dia selalu berada di bawah kekuasaan kakak tirinya bahkan ayahnya seakan tak memiliki kuasa lebih pada kakaknya membuatnya merasa semakin marah dengan kehidupannya dalam keluarga ini .....Tok Tok Ceklek "Bang Garrel?" Panggil Kaizen yang memasuki kamar Algarrel begitu saja dan melihat kakak tirinya itu sedang mengganti pakaiannya "Ada apa?" Tanya Algarrel dingin "Gue obatin punggung lo yah bang" ucap Kaizen "Tidak perlu" jawab Algarrel dingin "Tapi bang luka lo akan semakin parah jika tidak segera diobati" sahut Kaizen lagi Algarrel mengenakan jaketnya sebagai pelengkap penampilannya dan segera melangkahkan kakinya mendekati adik tirinya itu "Berhenti untuk peduli ke gue, karena lo dan keluarga lo itu hanya orang asing di hidup gue" ucap Algarrel penuh penekanan dan berlalu begitu saja meninggalkan Kaizen yang hanya bisa menghela nafasnya pasrah "Padahal gue senang punya kakak keren seperti lo bang" lirih Kaizen Algarrel mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi seakan jalanan yang macet karena berakhirnya jam kerja bagi semua karyawan bukan menjadi hambatan untuknya tiba di Markas mereka bahkan rasa perih di punggungnya hanya bisa ditaha
Beep... "Nona Ruby" panggil Lexa yang baru saja tiba di lokasi yang Ruby katakan, Lexa turun dari mobilnya dengan pakaian kantornya yang sudah terlihat rapi Ruby memang dengan sengaja meminta Lexa untuk menjemputnya di depan gedung apartemen mewah yang menjulang tinggi itu "Langsung ke perusahaan" titah Ruby masuk lebih dulu ke dalam mobil Lexa, sedangkan Lexa masih menatap bingung gedung mewah di hadapannya ini "Kenapa hanya diam?" tanya Ruby dengan suara tegasnya membuat Lexa kembali dalam kesadarannya dan segera masuk ke kursi kemudi "Apa yang ingin kau katakan?", tebak Ruby saat menyadari gerak-gerik Lexa yang seperti ingin mengatakan sesuatu "Bukan apa-apa, Nona muda" jawab Lexa ragu "Sudah ku katakan Lex, jangan bersikap formal jika kita hanya berdua" jengah Ruby "Ya udah kalau gitu gue to the point, semalam lo mabuk berat kan?, lalu tadi apartemen siapa?, karena gue sangat tahu itu bukan apartemen lo" Tanya Lexa beruntun "Salah satu teman gue" jawab Ruby bohon
Eungh... Lenguhan seorang wanita cantik yang terlihat baru saja terbangun dari tidurnya, terdengar ringisan kecil yang kembali keluar dari bibir ranumnya ssshhh... "Aish, kepalaku sangat pusing" keluh Ruby wanita cantik yang baru saja tersadar dari mabuk beratnya yang berhasil membuatnya tak sadarkan diri semalam Ruby mendudukkan tubuhnya sembari terus memegangi kepalanya yang terasa tak nyaman, pandangannya perlahan mengedar melihat setiap sudut kamar yang saat ini di tempatinya Sebuah kamar dengan warna dominan hitam yang di padukan dengan Dark Grey dan sedikit serta aroma mint maskulin yang tercium dari kamar itu membuat alis Ruby mengernyit bingung "Ini bukan kamarku" gumam Ruby terdiam namun kesadarannya kembali begitu cepat saat suara gemercik air terdengar dari sebuah pintu yang ada di dalam kamar itu membuat Ruby dengan cepat memeriksa tubuhnya sendiri, dan...
Di tempat lain tepatnya di sebuah Club besar yang sangat terkenal di kota itu, berbeda dengan keadaan di lantai dasar club yang terdengar ramai di penuhi para lelaki dan wanita yang menikmati musik serta minuman beralkoholnya, di lantai atas lebih tepatnya di sebuah ruangan VIP dalam Club mewah itu terdapat seorang Wanita cantik yang tak lain adalah Ruby ia terlihat sedang duduk angkuh di sofa single sembari memutar kecil segelas whisky di tangannya, Wanita cantik berwajah datar itu terlihat menikmati sensasi setiap teguk minuman beralkohol yang melewati tenggorokannya "Selamat malam Nona muda Ruby" sapa Lexa yang baru saja masuk ke dalam ruangan VIP tempat bosnya berada "Duduk Lex dan bicara lah dengan santai gue hanya butuh teman" ucap Ruby lirih "Ada masalah?", tanya Lexa serius "Hahaha memangnya Kapan hidup gue jauh dari masalah" balas Ruby tersenyum miris dan hanya Lexa yang bisa melihat itu, selama ini Ruby selalu bersikap sebagai wanita kuat walau sebenarnya dia hanya l
Malam semakin larut dan Algarrel baru saja tiba di markas Darknez setelah menghadiri pertemuan keluarganya bersama keluarga Alvaughan bahkan hingga saat ini Algarrel masih di kuasai amarah yang sejak tadi di tahannya "Lo dari mana Rel?" Tanya Lucas saat melihat kehadiran Algarrel, saat ini seperti biasanya mereka sedang berada di ruang tengah Markas untuk bermain game bersama "Jangan ganggu gue di ruang latihan" titah Algarrel dingin dengan wajah mengeras menahan amarah "Tuh anak ngapa dah balik-balik kelihatan emosi gitu" celetuk Kafa "Biarkan dia melampiaskan emosinya lebih dulu" ucap Vaska yang di setujui lainnya Brakkk "Anj*ng, SANTAI WOI GUE KAGET" teriak Kafa yang merasa terkejut saat pintu markas kembali terbuka begitu keras "Lo juga ngapa dah datang-datang bikin
Di sisi lain Ruby yang baru saja membuka pintu toilet dan hendak keluar harus terhenti saat laki-laki tampan yang terlihat lebih muda darinya dengan cepat mendorong pelan tubuhnya kembali masuk ke dalam toilet hingga punggung Ruby terbentur pelan pada dinginnya dinding toilet, Algarrel bahkan dengan cepat mengunci pintu toilet itu Algarrel Killian laki-laki tampan dengan tatapan tajamnya yang kini sedang mengukung wanita yang lebih dewasa darinya dengan kedua tangan laki-laki tampan itu yang berada di kedua sisi tubuh sang wanita Awalnya Ruby merasa terkejut namun sekarang wanita itu terlihat kembali tenang terlebih lagi laki-laki di hadapannya menutup semua cela untuknya keluar dan karena tubuh Algarrel lebih tinggi darinya membuat Ruby harus sedikit mengangkat wajahnya agar bisa menatap laki-laki itu begitupun Algarrel yang harus sedikit menunduk untuk menikmati wajah cantik wanita di hadapannya "Katakan apa maumu?" Tanya Ruby dengan tatapan







