Home / Romansa / Obsesi Dingin Sang Komandan / Bab 11 Bagaimana Rasanya Menikah?

Share

Bab 11 Bagaimana Rasanya Menikah?

last update publish date: 2026-07-31 17:11:05

.

.

.

Bab 11

“Bunda, Zio main di belakang boleh?” Zio berdiri di depan pintu di belakang meja kasir yang menghubungkan dengan kebun belakang. Menanti jawaban dari Dara yang masih sibuk membuatkan nota untuk pelanggan.

Sejak membuka toko bunganya tadi pagi, Dara terus mendapatkan pelanggan. Baik itu online maupun yang datang langsung ke toko.

Dara menatap putranya beberapa detik sebelum menjawab. Selain area perkebunan bunga yang tidak terlalu luas, di belakang sana juga ada kandang yang berisi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 44 Terjaga Semalaman

    ...Bab 44Melihat Riwayat obat yang sudah pernah dikonsumsi Dara, Ryuga jadi tidak yakin kalau dia akan memberinya obat sembarangan di apotek.“Nggak, Mas …”Begitu Ryuga kembali mendekat dan Dara melihat apa yang pria itu pegang, ia buru-buru menyambar botol obat tersebut dari genggaman suaminya.“I-ini udah lama banget. Aku … aku udah nggak minum itu, kok,” terang Dara gugup dan sedikit berbohong.Tangannya dengan gemetar menyembunyikan botol obat tersebut di bawah selimut. Habis sudah! Aibnya satu persatu terus terbongkar di hadapan Ryuga.“Jangan main-main sama kesehatan kamu, Dara.”Ryuga kali ini tidak lagi menggubris omongan Dara. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.“Dara, saya nggak tahu kapan kamu terakhir kali minum obat itu? Tapi, saya nggak mau ambil resiko kalau harus kasih kamu obat sembarangan dari apotek. Jadi sebaiknya biar dokter yang periksa saja.”Dara panik setengah mati. Jantungnya yang semula sudah tenang kini kembali berdebar tak karuan.

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 45 Penjelasan

    ...Bab 45Selesai makan, Ryuga menyimpan kembali mangkuk Dara ke atas nampan. Dia duduk menghadap istrinya. Memberikan tatapan lurus, menuntut kejelasan.“Kenapa nggak langsung pulang kemarin?”Dara menelan ludahnya. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah terkikis sejak semalam.“Oke, aku ceritain semuanya. Tapi Mas Ryu janji jangan marah, ya?”“Hm.”“Janji, Mas?”Ryuga mengangguk-angguk. “Iya, saya janji.”Dara menarik napas panjang-panjang sebelum mulai bercerita.“Jadi gini, aku memang udah niat mau tutup toko lebih awal kemarin. Aku capek banget Mas, ngerjain buket bunga sampai dua puluh empat itu. Ya, walaupun bukan buket yang besar-besar tetap aja aku ngerjain itu dua hari full sampai lembur, untung juga ada Dealova bantuin.” Dara menjeda untuk meminum teh hangatnya.“Terus, begitu urusan buket kelar udah dikirim semua aku inget ada janji mau ketemu calon pelanggan. Dia minta kita ketemu di coffeshop. Kita ngobrol cukup lama sampe akhirnya deal, hampir sejam

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 44 Terjaga Semalaman

    ......Bab 44Melihat Riwayat obat yang sudah pernah dikonsumsi Dara, Ryuga jadi tidak yakin kalau dia akan memberinya obat sembarangan di apotek.“Nggak, Mas …”Begitu Ryuga kembali mendekat dan Dara melihat apa yang pria itu pegang, ia buru-buru menyambar botol obat tersebut dari genggaman suaminya.“I-ini udah lama banget. Aku … aku udah nggak minum itu, kok,” terang Dara gugup dan sedikit berbohong.Tangannya dengan gemetar menyembunyikan botol obat tersebut di bawah selimut. Habis sudah! Aibnya satu persatu terus terbongkar di hadapan Ryuga.“Jangan main-main sama kesehatan kamu, Dara.”Ryuga kali ini tidak lagi menggubris omongan Dara. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.“Dara, saya nggak tahu kapan kamu terakhir kali minum obat itu? Tapi, saya nggak mau ambil resiko kalau harus kasih kamu obat sembarangan dari apotek. Jadi sebaiknya biar dokter yang periksa saja.”Dara panik setengah mati. Jantungnya yang semula sudah tenang kini kembali berdebar tak ka

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 43 Mengapa Tidak Marah Saja?

    ...Bab 43Beberapa menit di kamar mandi, Dara memanfaatkannya untuk introspeksi atas kesalahan apa yang sudah dilakukannya pada Ryuga. Akan lebih wajar kalau Ryuga marah padanya seperti biasa, karena dilihat dari sisi mana pun Dara bersalah.Harusnya sebelum bertemu dengan calon pelanggan lebih dulu Dara mengabari Ryuga. Seandainya dia jujur dari awal, mungkin Ryuga bisa mengerti dan dirinya tidak akan sepanik sekarang.“Dara bodoh! Kenapa juga harus kabur?” gerutunya sendiri di depan cermin kamar mandi.Setelah lebih tenang, Dara keluar dari kamar mandi dan segera memakai piyama tidurnya. Namun, saat kakinya melangkah keluar tubuhnya mendadak terhuyung, rasa pening yang mendera kepalanya makin bertambah.“Dara, kamu kenapa?”Ryuga baru saja masuk membawakakan teh hangat. Ia buru-buru meletakkan gelas di atas nakas, kemudian membantu memapah tubuh Dara untuk rebahan di atas tempat tidur.“Pusing?”“Mungkin karena kelamaan kehujanan tadi,” jawab Dara jujur.Wajah Dara memanas, deru

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 42 Hukuman Untuk Sebuah Kesalahan

    ...Bab 42Tanpa membalas apa pun lagi Dara langsung mematikan ponselnya. Dengan tergesa-gesa dia beralih menggulir aplikasi ojek online berharap segera mendapatkan driver di cuaaca yang tidak memungkinkan itu.Dara beruntung. Selang berapa menit saja dia sudah langsung mendapat driver. Tanpa memedulikan kondisi sekitar Dara melangkah cepat.Sialnya, lantai yang licin mendadak mempermainkannya, tubuh Dara hilang keseimbangan dan terpelanting di depan pintu kafe.Dengan sigap tangannya berusaha meraih apa pun yang bisa ia jadikan pegangan. Naas.. kali ini tak beruntung juga. Pot bunga kecil yang tergantung di dekat pintu masuk ikut jatuh menimpa punggung tangannya hingga berdarah.“Mbaknya nggak apa-apa?” Penjaga kasir yang sigap berlari menghampirinya.Dara hanya mengangguk seraya tersenyum, menunjukkan bahwa dia baik-baik saja. Sungguh malu bukan main.“Santai Dar, santai. Kamu cuma lupa buat izin, bukan lagi selingkuh.” Dara bergumam sembari mengatur napasnya agar kembali tenang.

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 41 Kamu Bohong!

    . . . Bab 41 Ryuga menarik dagu istrinya menggunakan jari telunjuk. Dia harus membantah apa yang Dara ungkapkan dengan begitu yakin. “Dia itu aktivis volunteer PBB yang sering ke daerah-daerah terpencil di luar negeri. Kita hanya pernah beberapa kali bekerja dalam satu proyek kemanusiaan yang sama.” “Terus?” “Ya udah gitu doang. Memangnya kamu mau cerita yang kayak gimana? Hm.” Dara terima penjelasan itu. Kemudian kembali bertanya. “Mas, seandainya kamu belum nikah terus diberi kesempatan dijodohin sama Nadia lagi kamu bakal tetep nolak atau terima?” Ryuga bergumam panjang membuat Dara was-was. Ia menggigit bibirnya menanti jawaban. Dara sampai merubah posisi duduknya menghadap pria itu sepenuhnya. “Gimana?” desak Dara. Cari penyakit memang. Untuk apa Dara harus bertanya seperti itu? Dari durasinya berpikir saja, Dara harusnya sudah tahu kalau Ryuga tengah ragu dengan jawabannya sendiri. “Saya akan tetap menolak perjodohan itu, Dara.” Dara tertegun mendengat j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status