تسجيل الدخول...Bab 10Dara menarik napas. “Aku memang istri kamu, Mas. Tapi aku juga tetap Dara, aku punya penghasilan sendiri,” Dara menggigit bibirnya. “Aku menikah sama kamu bukan supaya semua kebutuhan hidupku dibayar,” lanjut Dara.Dada Ryuga bergerak naik turun. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah lain. Tangannya mengusap wajah pelan, mencoba menyingkirkan amarah yang mulai memenuhi pikirannya.“Saya juga bukan sedang membeli kamu, Dara.”Seketika Dara diam.“Kamu belanja untuk orang serumah, saya hanya sedang menjalankan tanggungjawab saya,” imbuh Ryuga.Dara memandangi uang itu, tangannya tidak bergerak. Ruangan menjadi sunyi, sampai Dara mengutarakan sesuatu yang mengejutkan Ryuga.“Kalau aku menerima uang itu, apa itu artinya mulai sekarang semua keputusan dalam hidup aku juga harus minta izin kamu?”Ryuga mencondongkan tubuhnya, cukup dekat untuk membuat harum aroma sabun mandi yang menguar dari tubuhnya menggelitik hidung Dara.“Ada yang salah?” bisiknya, tepat di samping
...Bab 9Dua menit, lima menit, Dara menunggu tidak ada balasan dari Ryuga.“Ya sudah. Anggap saja setuju,” ucap Dara, meyakinkan dirinya sendiri dengan konyol.Dara melangkah tergesa keluar dari toko bunga, tangannya sibuk mengutak-atik layar ponsel untuk memesan taksi online. Tidak butuh waktu lama aplikasi di layar ponselnya menunjukan adanya notifikasi mendapatkan driver.Tepat saat itu bersamaan dengan terdengarnya deru mesin mobil yang menghampiri Dara. Sebuah SUV Fortuner hitam yang tadi pagi mengantar Dara berhenti tepat di depannya sekarang.Dari dalam mobil gagah itu keluar sosok Yudha dengan seragam PDL-nya yang rapi.“Siang, Bu Dara,” sapa Yudha, langsung mengitari kap mobil dan membukakan pintu penumpang bagian belakang. “Mari, Bu.”Dara tak bergeming di tempatnya berdiri. Melongo, mengerjap bingung. “Yudha, kok kamu bisa di sini?”Yudha mengulas senyum tipis yang sopan. “Bapak yang meminta saya menjemput Ibu di sini.”“Tapi saya nggak minta jemput. Saya udah pesan t
...Bab 8“Zio anak yang cukup kooperatif, Bu. Jarang membuat masalah,” kata Guru. Menjeda sejenak untuk menarik napas.Sedikit sungkan menyampaikan, tetapi sebagai Guru dia memang sudah seharusnya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Zio di sekolah.Dara mengangguk, memang dari yang ia lihat sejak awal bertemu Zio, anak itu termasuk anak yang penurut.“Namun, belakangan memang ada sedikit masalah,” lanjut Sang Guru, merendahkan suaranya.“Ada beberapa anak yang sering mengejek Zio tidak punya Ibu. Awalnya memang Zio biasa saja, tapi lama kelamaan mungkin dia tidak bisa diam lagi. Zio sempat memukul beberapa teman sekelasnya yang mengejek dan orang tua mereka tidak terima,” ungkap Guru Zio, lebih jauh.Diam-diam tangan Dara mengepal. Dada kirinya berdenyut ngilu.“Apa Zio menangis, Bu?” tanya Dara, suaranya sedikit bergetar.Guru wanita itu menggeleng. “Tidak, hanya saja sejak beberapa orang tua murid itu menegur Zio langsung tanpa sepengetahuan kami, Zio jadi terus murung se
...Bab 7Tidak banyak bicara lagi, Ryuga menarik pergelangan tangan Dara hingga tubuh keduanya saling merapat. Dalam jarak sedekat itu, indra penciuman Dara dapat menghirup jelas aroma woody yang maskulin dan elegan menguar dari tubuh Ryuga.Sialnya, Dara menyukai aroma itu dan ingin terus menghirupnya. Sampai-sampai ia lupa untuk segera menjauhkan diri, lebih terkesan menikmati posisi mereka saat ini.Ryuga mendengus pelan, menahan kekehan geli saat menyadari kalau istrinya tidak lagi memberontak.“Suka, parfumnya?” bisik Ryuga rendah, tepat di telinga Dara. “Betah banget peluk saya?”Dara tersentak mundur, nyaris tersedak ludahnya sendiri. Hendak menjauhkan badan, tubuh perempuan itu lebih dulu ditahan oleh Ryuga.Ryuga menahan pinggang Dara dengan satu tangan. Memajukan sedikit tubuhnya hingga mengikis habis jarak yang tersisa.“Siapa juga yang peluk. Kan, kamu yang narik aku?” bantah Dara.Sudut bibir Dara berkedut. Baru semalam Ryuga memperingatinya tentang melanggar batas, se
...Bab 6Tidak mau repot-repot merengek pada Ryuga untuk minggir, Dara hampir membalikkan badannya. Mengalah, menunggu lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri.“Bunda sama Ayah lagi apa?” celetuk Zio.Mbak Fitri sedang menggandeng Zio, datang dari arah kamar mandi.“Bunda?” kening Ryuga mengerut dalam. Mengalihkan pandang pada Zio penuh tanda tanya.Anak itu lantas menjawab dengan santai. “Iya, Bunda. Zio sekarang boleh kan, panggil Bunda.”Rahang Ryuga mengeras. Sorot matanya beralih kepada Dara, seolah tengah memperingatinya.“Eum, Zio mau sarapan apa?” sela Dara cepat-cepat. Ia tidak mau membiarkan kejadian yang sama terjadi lagi, seperti saat Ryuga murka tentang panggilan untuknya hari itu.“Susu sama sereal. Tapi Zio mau bawa bekal,” sahut Zio, riang.Dara sengaja menggeser tubuhnya untuk menghalangi pandangan Ryuga dari Zio. “Oke, Bunda buatin bekal yang enak buat Zio.”Ryuga mengembuskan napas pelan. Bibirnya mengatup kembali, tidak jadi menegur. Namun, jelas ia masih bel
...“Ada apa?” suara dingin Ryuga menyentak kesadaran Dara.Mengerjap beberapa kali, Dara baru menjawabnya. “Ah, iya. Aku mau bicara sesuatu.”Tangan Ryuga yang semula menahan pintu terlepas, ia bergeser pelan membuka hampir setengah pintu kamarnya. Secara tidak langsung mengizinkan Dara untuk masuk ke ruang kerjanya.“Di dalam?” tanya Dara, taky akin.Ryuga tidak menunjukan ekspresi apa-apa. Dan, Dara kelimpungan takut lelaki itu menangkap maksud lain dari ucapannya.“Mm, bukan apa-apa. Maksud aku, apa boleh aku masuk?” ujar Dara, canggung dan menyesali Keputusan gilanya.Lagi-lagi Ryuga tak bereaksi apa pun yang berarti. Dia mengedikkan kepalanya ke samping, menunjukan kalau sepertinya tidak masalah jika dirinya masuk ke dalam.Ryuga menutup pintu saat istrinya sudah masuk sepenuhnya ke dalam, menatap punggung kecil itu dari belakang.Mata Dara menyisir keseluruhan sudut ruang kerja Ryuga yang minim pencahayaan. Tidak tahu bagaimana pria itu bekerja dalam ruangan temaram seperti







