Accueil / Romansa / Obsesi Dingin Sang Komandan / Bab 116 Kalimat Termanis

Partager

Bab 116 Kalimat Termanis

last update Date de publication: 2026-10-11 21:54:26

.

.

.

Bab 116

Ryuga memegang kedua bahu Dara, sedikit mendorongnya agar perempuan itu bisa menatap lurus ke dalam matanya yang memancarkan keseriusan.

“Nggak penting kamu lahir dari keluarga seperti apa.” Ryuga memulai dengan tegas. “Untuk saya dan Zio nggak ada orang lain yang lebih pantas di sini selain kamu.”

Ada luka yang menganga lebar jelas tampak pada sepasang mata sendu Dara. Perkataan mantan mertua Ryuga mungkin tak seberapa. Dara sudah terbiasa mendengarnya.

Yang lebih mengoyak hatiny
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 123 Bukan Lagi Orang Yang Sama

    ...Bab 123Dara mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang terdengar seperti ungkapan ketidakpercayaan itu.“Iya, Dirga yang menolong aku dari pria jahat yang mencegat dan pukul aku sampai pingsan.”“Kalau memang dia nolong kamu kenapa nggak dibawa ke rumah sakit aja? Kenapa harus ke appartemen pribadinya?”Lama-lama Dara merasa seperti tengah diinterogasi atas sebuah kesalahan yang tak pernah dia lakukan. Ryuga bukan sedang bertanya, nada bicaranya lebih ke menuduh, bagi Dara.“Katanya jalanan di sana semalam cukup kacau karena ada penggerbekan oleh polisi. Dia cuma reflek aja bawa aku ke appartemen. Sumpah dia nggak sentuh aku, Mas. Aku juga udah diperiksa Dokter semalam,” jelas Dara tanpa diminta.Ryuga menghela napas berat. Ia ingin mendebat tentang ponsel Dara yang mati semalaman, tentang alasan Dirga yang kurang masuk akal. Tetapi, melihat wajah pucat istrinya membuat kata-kata itu tertelan kembali dan ia simpan lagi untuk sementara.“Kita mampir ke rumah sakit dulu, sia

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 122 Kelakuan Mantan

    ... Bab 122Dirga mencuri pandang dari balik meja bar dapur.Dara masih terpaku pada layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat scroll layar ponselnya. Sesekali, ia tampak menggigit bibir bawahnya, jelas tengah diliputi rasa bersalah.Senyum miring terbit di sudut bibir Dirga. Lalu, mengeluarkan ponselnya mengetikkan sesuatu.“Lihat! Gue bisa selalu ada buat dia. Ada di mana lo semalam?”Pesan itu Dirga kirimkan pada nomor Ryuga, bersama dengan foto yang ia ambil diam-diam. Yaitu, foto Dara tengah duduk di tepian ranjang sambil memainkan ponselnya.Masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam, tampak lelah dan sedikit berantakan karena memang baru bangun tidur.Dirga tidak hanya sekedar membuktikan bahwa Dara tengah bersamanya sekarang. Lebih dari itu, senyum Dirga mengembang penuh kemenangan karena berhasil selangkah lebih maju untuk menjaga Dara dari pada Ryuga.“Aku harus pulang sekarang.”Dirga mengangkat wajahnya, ponselnya segera ia masukan kembali ke saku.“Iya, bol

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 121 Bermalam Dengan Dirga

    ...Bab 121Di tengah kesadarannya yang mulai mengabur, suara geraman itu masih sempat Dara dengan sayup-sayup.Pria yang menghadang Dara sigap melepas cengkeramannya pada setang motor Dara. “Dia melihat kita.”“Biar gue yang urus, kalian bawa motornya. Pastikan nggak ada yang liat,” tegas Dirga, sembari menopang tubuh Dara agar tak jatuh dari motornya.“Sorry, sayang.” Dirga berucap lirih.Ia mengangkat tubuh Dara dengan hati-hati, lalu membawanya menuju mobil yang terparkir tersembunyi di halaman rumah warga. Dirga tak bisa membiarkan perempuan itu tetap berada di jalan, terlebih ketika situasi di sana jelas bahaya untuknya.Orang-orangnya masih berkeliaran di sekitar. Mereka harus merubah strategi karena terjadi penggerebekan. Dan, salah satu dari anak buahnya sudah tertangkap.Dirga tidak peduli, jika setelah sadar nanti Dara akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dari kecerdasannya tidak mungkin Dara langsung percaya Dirga berada di lokasi secara kebetulan.Appartemen prib

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 120 Dandelion

    ...Bab 120“Siapa, Mas?”Tak ingin membuat istrinya was-was, Ryuga kembali fokus padanya. “Udah mulai gelap, kita lanjut di rumah aja hadiahnya.”“Oke.”Mereka kembali terdiam beberapa saat sebelum Ryuga bertanya,“Kalau masih lapar, kita cari makan dulu aja. Kamu pengin apa?”“Aku pengin burnt cheesecake blueberry di sana tadi.” Dara melengkungkan bibirnya ke bawah, sedih sekali melihat dessert manis, lembut yang berpadu dengan lelehan selai blueberry itu terlewat begitu saja.Semua gara-gara Dira!Mendengar betapa inginnya Dara mencicipi makanan itu Ryuga meneliti ruko-ruko yang dilewatinya, berharap ada salah satu bakery di sana.“Kita balik lagi? Atau mau cari sekitar sini, di depan ada bakery kayaknya.”Dara menurut, meski mungkin tidak mirip dengan yang di resto tadi yang penting dia bisa memakannya hari ini. Kalau tidak pasti akan kepikiran sampai nggak bisa tidur nanti malam.Dari depan pintu bakery aroma manis vanilla dan butter menguar lembut menyambut tiap pelanggan yang

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 119 Hadiah Untuk Dara

    ...Bab 119Ryuga menolehkan kepalanya cepat. Mengerjapkan matanya, lalu kembali menatap jalanan sambil memijat keningnya.“Benar, Mas?”“Nggak Dara,” sanggah Ryuga. “Saya pernah beberapa kali operasi karena kecelakaan tugas. Itu cuma di bagian punggung sama kaki. Bagian lain nggak pernah tersentuh. Saya, nggak segila itu sampai melakukan vasektomi.”Dara cukup yakin kalau memang ucapan Dira cuma mengada-ada, meski sejujurnya hampir percaya juga. “Terus kamu bilang apa?” lanjut Ryuga yang terlanjur terpancing emosinya.“Nggak ada,” jawab Dara, malas. “Aku kan, nggak tahu kenyataannya gimana. Kalau tadi belain kamu dan faktanya kamu emang pernah vasektomi gimana? Mau ditaruh di mana muka aku?”Ryuga menyandarkan punggung, tangannya menyugar rambut. “Tapi, kenapa kalian tiba-tiba ngomongin saya?”Dari gelagatnya, kelihatan sekali bagaimana Dara enggan membahas pembicaraan mereka di tempat arisan tadi.Matanya diam-diam melirik, lalu kembali mengalihkan pandang saat tatapan mereka be

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 118 Dira dan Dara

    ...Bab 118Dara tetap tenang, memasang senyum tipis meski dalam hatinya bergemuruh hebat. Sama sekali tidak menunjukan kepanikan.“Hm, gimana, ya?” kata Dara sambil menyampirkan rambut ke belakang telinga. Dia tersenyum kecil. “Sebenernya topik seperti ini kan, privasi kita sebagai pasangan, ya? Jujur aku nggak menyangka akan diungkit di tempat umum begini. Apalagi pas makan.”Dara kembali menoleh menyapu pandangannya pada beberapa wajah yang begitu penasaran akan reaksinya.“Bisa kita ganti topik?”Sekilas Dara melirik Dira, sebelum tersenyum lagi dan menyesap air putih di depannya.“Iya, sih. Ini masalah sensitif banget. Cukup pasangannya aja yang tahu,” timpal Vera.“Maaf Bu Komandan,” Anggi menunduk penuh penyesalan. “Aku nggak maksud menyinggung.”“Oh, nggak masalah.” Dara beralih menatap Anggi yang juga menatapnya dengan canggung. “Sebenarnya sejauh ini, saya dan suami saya nyaman dengan keluarga kami yang sekarang. Kami sudah punya Zio. Tapi, kalau nanti kami berubah pikiran

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status