Home / Romansa / Obsesi Dingin Sang Komandan / Bab 64 Ide Si Mulut Mesum

Share

Bab 64 Ide Si Mulut Mesum

last update publish date: 2026-09-04 18:58:09

.

.

.

Bab 64

Dara menenggelamkan wajahnya pada bantal. Bahunya bergetar, tergugu menahan tangis. Rangkaian pesan dari Ryuga semakin memastikan kalau memang Dara yang bersalah di sini.

Dia telah memarahinya habis-habisan tadi. Tidak hanya itu, Dara juga beberapa kali memotong kalimat Ryuga dengan nada tajam. Padahal, pria itu sudah menyempatkan waktunya untuk memasak sambil tetap mengurus pekerjaan di laptopnya.

Andai Dara mau sedikit saja mengerem emosinya, ia tidak akan menyesal sekarang. Dara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 122 Kelakuan Mantan

    ... Bab 122Dirga mencuri pandang dari balik meja bar dapur.Dara masih terpaku pada layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat scroll layar ponselnya. Sesekali, ia tampak menggigit bibir bawahnya, jelas tengah diliputi rasa bersalah.Senyum miring terbit di sudut bibir Dirga. Lalu, mengeluarkan ponselnya mengetikkan sesuatu.“Lihat! Gue bisa selalu ada buat dia. Ada di mana lo semalam?”Pesan itu Dirga kirimkan pada nomor Ryuga, bersama dengan foto yang ia ambil diam-diam. Yaitu, foto Dara tengah duduk di tepian ranjang sambil memainkan ponselnya.Masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam, tampak lelah dan sedikit berantakan karena memang baru bangun tidur.Dirga tidak hanya sekedar membuktikan bahwa Dara tengah bersamanya sekarang. Lebih dari itu, senyum Dirga mengembang penuh kemenangan karena berhasil selangkah lebih maju untuk menjaga Dara dari pada Ryuga.“Aku harus pulang sekarang.”Dirga mengangkat wajahnya, ponselnya segera ia masukan kembali ke saku.“Iya, bol

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 121 Bermalam Dengan Dirga

    ...Bab 121Di tengah kesadarannya yang mulai mengabur, suara geraman itu masih sempat Dara dengan sayup-sayup.Pria yang menghadang Dara sigap melepas cengkeramannya pada setang motor Dara. “Dia melihat kita.”“Biar gue yang urus, kalian bawa motornya. Pastikan nggak ada yang liat,” tegas Dirga, sembari menopang tubuh Dara agar tak jatuh dari motornya.“Sorry, sayang.” Dirga berucap lirih.Ia mengangkat tubuh Dara dengan hati-hati, lalu membawanya menuju mobil yang terparkir tersembunyi di halaman rumah warga. Dirga tak bisa membiarkan perempuan itu tetap berada di jalan, terlebih ketika situasi di sana jelas bahaya untuknya.Orang-orangnya masih berkeliaran di sekitar. Mereka harus merubah strategi karena terjadi penggerebekan. Dan, salah satu dari anak buahnya sudah tertangkap.Dirga tidak peduli, jika setelah sadar nanti Dara akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Dari kecerdasannya tidak mungkin Dara langsung percaya Dirga berada di lokasi secara kebetulan.Appartemen prib

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 120 Dandelion

    ...Bab 120“Siapa, Mas?”Tak ingin membuat istrinya was-was, Ryuga kembali fokus padanya. “Udah mulai gelap, kita lanjut di rumah aja hadiahnya.”“Oke.”Mereka kembali terdiam beberapa saat sebelum Ryuga bertanya,“Kalau masih lapar, kita cari makan dulu aja. Kamu pengin apa?”“Aku pengin burnt cheesecake blueberry di sana tadi.” Dara melengkungkan bibirnya ke bawah, sedih sekali melihat dessert manis, lembut yang berpadu dengan lelehan selai blueberry itu terlewat begitu saja.Semua gara-gara Dira!Mendengar betapa inginnya Dara mencicipi makanan itu Ryuga meneliti ruko-ruko yang dilewatinya, berharap ada salah satu bakery di sana.“Kita balik lagi? Atau mau cari sekitar sini, di depan ada bakery kayaknya.”Dara menurut, meski mungkin tidak mirip dengan yang di resto tadi yang penting dia bisa memakannya hari ini. Kalau tidak pasti akan kepikiran sampai nggak bisa tidur nanti malam.Dari depan pintu bakery aroma manis vanilla dan butter menguar lembut menyambut tiap pelanggan yang

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 119 Hadiah Untuk Dara

    ...Bab 119Ryuga menolehkan kepalanya cepat. Mengerjapkan matanya, lalu kembali menatap jalanan sambil memijat keningnya.“Benar, Mas?”“Nggak Dara,” sanggah Ryuga. “Saya pernah beberapa kali operasi karena kecelakaan tugas. Itu cuma di bagian punggung sama kaki. Bagian lain nggak pernah tersentuh. Saya, nggak segila itu sampai melakukan vasektomi.”Dara cukup yakin kalau memang ucapan Dira cuma mengada-ada, meski sejujurnya hampir percaya juga. “Terus kamu bilang apa?” lanjut Ryuga yang terlanjur terpancing emosinya.“Nggak ada,” jawab Dara, malas. “Aku kan, nggak tahu kenyataannya gimana. Kalau tadi belain kamu dan faktanya kamu emang pernah vasektomi gimana? Mau ditaruh di mana muka aku?”Ryuga menyandarkan punggung, tangannya menyugar rambut. “Tapi, kenapa kalian tiba-tiba ngomongin saya?”Dari gelagatnya, kelihatan sekali bagaimana Dara enggan membahas pembicaraan mereka di tempat arisan tadi.Matanya diam-diam melirik, lalu kembali mengalihkan pandang saat tatapan mereka be

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 118 Dira dan Dara

    ...Bab 118Dara tetap tenang, memasang senyum tipis meski dalam hatinya bergemuruh hebat. Sama sekali tidak menunjukan kepanikan.“Hm, gimana, ya?” kata Dara sambil menyampirkan rambut ke belakang telinga. Dia tersenyum kecil. “Sebenernya topik seperti ini kan, privasi kita sebagai pasangan, ya? Jujur aku nggak menyangka akan diungkit di tempat umum begini. Apalagi pas makan.”Dara kembali menoleh menyapu pandangannya pada beberapa wajah yang begitu penasaran akan reaksinya.“Bisa kita ganti topik?”Sekilas Dara melirik Dira, sebelum tersenyum lagi dan menyesap air putih di depannya.“Iya, sih. Ini masalah sensitif banget. Cukup pasangannya aja yang tahu,” timpal Vera.“Maaf Bu Komandan,” Anggi menunduk penuh penyesalan. “Aku nggak maksud menyinggung.”“Oh, nggak masalah.” Dara beralih menatap Anggi yang juga menatapnya dengan canggung. “Sebenarnya sejauh ini, saya dan suami saya nyaman dengan keluarga kami yang sekarang. Kami sudah punya Zio. Tapi, kalau nanti kami berubah pikiran

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 117 Vasektomi

    ...Bab 117Dara mendudukkan diri di samping Vera, sambil mengipaskan tangan ke wajahnya yang berkeringat.“Panas banget?” tanya Dara. “Perasaan pake AC, loh!”Vera memejamkan matanya menikmati angin dari kibasan tangan Dara.“Nggak tahu nih, hawanya emang panas terus. Bawaan baby kali.”“Ya udah, mau keluar aja? Aku temenin.”“Itu sih, kamu yang emang nggak betah di dalam,” cibir Vera, jenaka. Ia menangkup kedua pipi Dara dan menggerakannya gemas ke kanan dan kiri.“Make up aku longsor, Veraaaa!” geram Dara.Vera baru melepaskan tangannya setelah puas tertawa. “Makan aja, yuk! Banyak banget makanan enak. Jarang-jarang kita makan di tempat mewah gini, buffet pula!”Dara sudah memegang sebuah piring dan tengah memantau deretan menu makanan lezat di hadapannya. Daripada terus kesal melihat Dira, lebih baik melihat makanan saja. Mood-nya akan kembali naik pasti.“Nasi goreng apa nasi putih, Dar?”“Kalau bisa keduanya kenapa harus milih ,Ve?” balas Dara, santai.“Rese kamu, ya!”Keduany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status