LOGIN"Alina ada apa?" Tanya Kaiden dengan alis mengerut. Alina terdiam sejenak, ia mengigit bibir bawahnya. "Apakah mungkin Kaiden sudah sembuh, makanya dia mau menikah lagi?" Gumam Alina dalam hatinya. Ia malah diam mematung. Kaiden semakin bingung, "padahal aku bahas tentang Risma dan berniat mau bantu. Kenapa ekspresi Alina seperti itu? Apa dia nggak suka kalau aku ikut campur?" Gumamnya dalam hati. Kaiden akhirnya memutuskan untuk menikmati malam bersama Alina dan tidak berniat untuk membahas hal lain. Karena malam ini, adalah malam yang sangat ia nantikan. Alina mau di dekati tanpa penolakan. "Alina ... " Panggil Kaiden lembut. Alina masih diam. "Alina ... " Suara Kaiden kalo ini lebih keras. Akhirnya Alina menoleh. Tatapan keduanya beradu, namun ekspresi Alina terlihat begitu pucat. Kaiden ingin sekali memegang tangan Alina atau mengusap pipi Alina. Namun ia teringat akan Camelia yang menjadi guru cintanya. Selain menjadi guru cintanya, Camelia juga menjadi dokter priba
Alina mengusap air mata yang luruh dari kedua pelupuk mata Kaiden tanpa sadar. Kaiden mati-matian menahan rasa tak nyaman dan tertekan. Baru kali ini ia merendahkan harga dirinya, apalagi menunjukkan sisi menyedihkan di depan banyak orang selain Alina. Selain Dylan, ada beberapa pengawal Kaiden dan agen mata-mata yang baru debut di bawah kepemimpinan Vino. Sungguh sekarang ini, ia merasa harga dirinya sedang turun. "Nggak papa-lah, demi Alina apapun itu akan aku lakukan," gumamnya dalam hati. Ia sangat berharap Alina benar-benar menghargai pengorbanannya. Alina menenangkan Kaiden yang sedang sedih. "Kamu nggak perlu merasa sedih dan juga sendiri, karena ada aku disini." "Tapi ... " Kilah Kaiden manja dengan suara mirip anak kecil. Alina mengusap kepala Kaiden, "pasti seharian kamu belum makan kan. Ayo kita makan malam bersama." Sebelum Alina memberitahu Dylan, agar asisten Kaiden itu menyiapkan makanan. Kaiden lebih dulu melirik ke arah Dylan. Alina tahu k
Alina menatap jam di pergelangan tangannya dengan cemas, jarum jam sudah menunjuk larut malam. Percakapannya dengan Vino begitu intens hingga ia lupa waktu, matahari yang semula cerah kini tergantikan oleh langit yang gelap pekat. Di dalam mobil yang terparkir di depan rumah duka megah itu, keduanya berbicara dengan suara rendah namun penuh tekad."Aku harus ambil Risma dari rumah sakit Victor, apapun caranya," tegas Vino dengan tatapan tajam yang mengisyaratkan keseriusan.Walaupun sebelumnya, ia pernah berpikir untuk mengambil Risma dari Victor. Vino masih merasa ragu, mengingat sikap jahatnya sebelumnya pada Risma. Walaupun bisa saja saat menculik Risma, posisinya Risma tak sadarkan diri, tapi ia tidak memiliki kepercayaan diri itu. Apalagi ada tembok yang begitu tinggi menunggunya, Nolanlah yang selalu membuatnya ragu. Bagaimana pun juga, sekarang Nolan adalah wali dah dari Risma. Namun, setelah sekian lama berbicara dengan Alina. Akhirnya Vino bisa dengan yakin mengambil k
Bohong kalau Alina sampai tidak tersentuh dengan sikap Kaiden yang menyedihkan sekarang ini. Apalagi ucapan Kaiden seperti menyentuh sesuatu di dalam hatinya, yaitu tentang kesendirian karena telah ditinggalkan oleh keluarga yang dicintai. Padahal baru sebulan tidak melihat wajah pria itu, Alina merasa seperti sudah lama tak bertemu. Dengan hembusan napas kasar, ia pun berkata, "nanti malam aku akan menemanimu ... Mm, sebagai seorang teman." Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba Alina menutup mulutnya. Kaiden bersusah payah untuk menyembunyikan rasa senangnya. Bagaimana pun juga, sekarang ia sudah memiliki ide untuk mendekati Alina. "Ya ... Terimakasih ... " sahut Kaiden sopan. Setelah itu Alina memilih untuk duduk di kursi tamu, tidak ingin menciptakan gosip di tengah suasana duka. Matanya tajam melihat ke arah sekeliling, sekarang ini ia sedang mencari Vino. Tapi Alina sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan pria itu. Prosesi pemakaman berjalan lancar sampai p
Di rumah duka. Kaiden menekuk lututnya di samping peti mati berlapis kayu mahoni yang mengilap, tangannya mencengkeram erat bingkai kayu itu seolah ingin menahan dunia agar tak runtuh. Matanya merah membara, napasnya berat dan terengah-engah oleh amarah yang menggelegak tanpa henti. Di dalam hatinya, dendam merayap seperti api yang melalap, karena racun itu telah merenggut nyawa ibunya dengan kejam, tanpa ada sedikit pun belas kasihan. Ia menatap kosong ke arah sekeliling ruangan yang megah dan sunyi, ruang duka mewah yang seharusnya menjadi tempat penghormatan, kini berubah menjadi saksi bisu luka yang tak terobati. Bayangan wajah ibunya yang tersenyum lembut dulu terus menghantui, membuat dadanya sesak oleh rasa kehilangan yang belum sempat ia lawan.Ia masih ingat dengan jelas, janjinya pada ibunya untuk memberikan cucu. Dylan, asistennya, mendekat dengan langkah hati-hati. "Tuan Nolan datang bersama dengan nona Alina," ucapnya pelan, suara berat penuh beban. Kaiden menoleh
Melihat keadaan Risma yang semakin memburuk, Alina memutuskan untuk pergi menemui Vino.Walaupun selama sebulan ia sudah mencari tahu, tentang pasien gagal sembuh yang di rawat di rumah sakit ini.Bagi Alina, semuanya nampak memiliki kondisi yang sama.Mereka yang gagal sembuh, akan mati dalam dua sampai enam bulan.Bahkan semua gejala penyakit mereka juga menunjukkan reaksi yang begitu mirip."Ini sungguh tidak masuk akal." Gumam Alina seraya berjalan meninggalkan ruang inap Risma.Saking kalutnya dengan pikirannya sendiri, Alina sampai tidak menyadari, jika dari tadi Nolan mengikutinya."Alina bisakah kita berdua bicara sebentar?" Tanya Nolan sopan, walaupun sebulan ini keduanya sering menghabiskan waktu bersama karena Risma.Tapi hubungan keduanya malah semakin canggung, Nolan sendiri semakin menyadari jika perasaannya untuk Alina sulit untuk dihilangkan.Tapi, karena tanggung jawabnya pada Ghea, di tambah Alina yang sama sekarang ini sama sekali tak memiliki perasaan terhadapnya.
Keke duduk termenung di kursi goyang kayu ukir yang mengisi sudut kamar mewahnya, lampu kristal di langit-langit memantulkan kilauan redup di sekelilingnya. Matanya tak lepas menatap layar televisi yang menayangkan wawancara putranya, Kaiden. Suara Kaiden yang tenang tapi tegas mengisi ruangan, m
Dada Kaiden naik turun, hatinya begitu sakit karena sikap Alina, hal itu sontak membuatnya kehilangan akal. Tiba-tiba Kaiden merunduk mendekat, tanpa peringatan, bibirnya menekan bibir Alina dengan paksa. Detak jantung Alina melonjak liar, wajahnya membara merah, tubuhnya berusaha keras menolak
Di bawah sinar rembulan yang temaram, cahaya lembut menari di permukaan kaca ruang super VVIP, menciptakan bayangan samar yang menambah sunyi suasana malam. Alina duduk tangannya gemetar mengelus perutnya, seolah mencoba merasakan keajaiban kecil yang tersembunyi di dalam dirinya. Matanya merah
Kedua bola mata Risma membulat sempurna, saat melihat pemandangan di depannya. Sementara Vino juga ada disana, cuman pria itu sedang asyik bertukar telepon dengan temannya. Jadi Vino tidak melihat interaksi yang di lakukan Alina dan Dika. Dika menjauhkan tubuhnya dari Alina, lalu pura-pura menan







