بيت / Romansa / Obsesi Gila Leon / 25. Saling Mencabik

مشاركة

25. Saling Mencabik

last update تاريخ النشر: 2026-05-17 11:04:46

Simona masuk dengan wajah masam, menutup hidung saat mencium bau apek yang menyeruak dari dalam kamar. Ia menatap jijik kasur dengan sprei kusam itu sebelum melemparkan tas mahalnya di atas kursi kayu yang sudah goyang.

"Kau gila, Matteo! Mengajak bertemu di motel yang harganya lebih murah dari harga sebuah lipstik refill Ch**el-ku!" omel Simona. Matanya berkeliling, membandingkan kamar itu dengan ruangan kucing Ivanna yang jauh lebih layak dan wangi.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Obsesi Gila Leon   29. Berteriak Sepuasmu

    Tangan Leon yang besar kini beralih ke ritsleting di punggung gaun Ivanna. Dengan satu tarikan halus, kain itu melonggar, jatuh perlahan menyingkap kulit punggung Ivanna yang mulus. Leon melepaskan ciumannya sejenak, hanya untuk memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang garis rahang dan leher Ivanna, menghirup aroma parfum yang bercampur dengan feromon wanita itu."Tadi kau menantangku di butik, Iv," bisik Leon parau, tangannya kini menyelinap ke balik kain gaun yang mulai merosot, membelai lekuk pinggangnya dengan sentuhan yang membakar. "Sekarang, tunjukkan padaku seberapa berani kau saat hanya ada kita berdua di sini."Ivanna melenguh pelan, jemarinya meremas rambut gelap Leon, menarik pria itu lebih dekat seolah kulit mereka yang bersentuhan saja tidak pernah cukup. Leon mulai menuntun Ivanna perlahan menuju ranjang besar di tengah ruangan, matanya tak lepas menatap Ivanna dengan tatapan predator yang siap melahap mangsanya dengan sangat lembut, namun

  • Obsesi Gila Leon   28. Tersedak

    Beberapa kali Ivanna tersedak hingga kehabisan napas. "Kau gila, Leon! Aku bisa mati kehabisan napas," ucapnya sambil menahan milik Leon agar tidak masuk lebih dalam lagi. "Kita cari hotel dekat sini. Jujur, aku tidak nyaman di sini. Bagaimana jika pelayan toko itu masuk?""Biarkan saja mereka masuk dan melihatmu melayaniku. Tapi baiklah, bersiaplah karena di hotel nanti aku tidak akan memberimu napas.""Tapi aku belum selesai belanja!" Ivanna menghentakkan kakinya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. "Kan tidak enak, kamu sudah meminta mereka mengosongkan butik ini tapi malah batal begitu saja."Ivanna menatap dua gaun yang tadi ia pilih, lalu beralih menatap Leon yang masih tampak berantakan dengan ritsleting terbuka. Meski atmosfer di antara mereka sudah terlampau panas, sisi wanita Ivanna tetap tidak ingin melewatkan koleksi musim panas yang sudah ia incar sejak pagi tadi.Leon terkekeh, lalu dengan cepat merapikan kembali celanan

  • Obsesi Gila Leon   27. Berbelanja

    Ivanna tidak lantas tersipu atau mundur. Alih-alih merasa terintimidasi, ia justru memutar tubuhnya perlahan di dalam kukungan lengan Leon, hingga mereka kini berdiri berhadapan dengan jarak yang nyaris tidak ada. Ivanna mendongak, menatap langsung ke mata tajam Leon dengan binar menantang yang berani. "Buka ritsleting? Kupikir kau sudah ahli melakukannya bahkan tanpa melihat, Leon," ucap Ivanna dengan nada menggoda. Ivanna meletakkan kedua summer dress itu di atas sofa, lalu melingkarkan lengannya di leher Leon. Jemarinya yang lentik mulai memainkan rambut di tengkuk pria itu, sementara senyum miring tersungging di bibirnya yang masih terasa manis sisa gelato tadi. "Tapi kenapa harus menunggu nanti malam jika butik ini sudah kau kosongkan untukku?" Ivanna berbisik tepat di depan bibir Leon, membiarkan napas mereka saling beradu. "Tidakkah kau ingin melihat 'koleksi' aslimu lebih dekat sekarang? Bukankah kau yang pali

  • Obsesi Gila Leon   26. Kencan Yang Normal

    Di sebuah mall besar di Milan, Italia, Ivanna dan Leon berkencan selayaknya orang normal. Di sebuah konter gelato, Ivanna menikmati pilihan gelato segar perpaduan wild berry, passion fruit, dan sorbet lemon, sedangkan Leon memilih kombinasi dark chocolate dan hazelnut. "Leon, kukira kamu akan terus menyembunyikanku di kamar dengan mengungkungku seperti yang sudah-sudah. Aku sempat berpikir aku kekasih rahasiamu karena kau sedang menjaga hati wanita lain," ucap Ivanna. Leon tersenyum miring, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Ivanna yang panjang tergerai dengan lembut, namun tatapannya tetap tajam mendominasi. "Menjaga hati wanita lain? Ivanna, kau tahu persis hanya ada satu wanita yang bisa membuatku gila hingga membelikan seekor Savannah F1 hanya dalam semalam," bisik Leon. "Aku tidak menyembunyikanmu karena wanita lain, tapi karena aku terlalu posesif untuk membiarkan pria lain melihat apa yang menjadi milikku s

  • Obsesi Gila Leon   25. Saling Mencabik

    Simona masuk dengan wajah masam, menutup hidung saat mencium bau apek yang menyeruak dari dalam kamar. Ia menatap jijik kasur dengan sprei kusam itu sebelum melemparkan tas mahalnya di atas kursi kayu yang sudah goyang. "Kau gila, Matteo! Mengajak bertemu di motel yang harganya lebih murah dari harga sebuah lipstik refill Ch**el-ku!" omel Simona. Matanya berkeliling, membandingkan kamar itu dengan ruangan kucing Ivanna yang jauh lebih layak dan wangi. "Aku tidak punya pilihan lain! Kartu kreditku dibekukan oleh Lorenzo Romano, tadi pagi dia mengomeliku habis-habisan," ucap Matteo membela diri sambil mengacak rambutnya yang kusut karena frustrasi. Simona mendengus kasar, ia berkacak pinggang di depan Matteo yang tampak menyedihkan. "Jadi sekarang kau miskin? Hebat sekali. Aku sudah mempertaruhkan reputasiku, dimaki ayahku, dan sekarang kau bahkan tidak mampu membayarku dengan makan malam yang layak?" Simona tertaw

  • Obsesi Gila Leon   24. Stt, diamlah

    Simona yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk omeletnya dengan kasar, akhirnya tidak tahan untuk tidak mencibir. Ia meletakkan garpunya, lalu menatap Ivanna dengan tatapan sinis."Ck, papa kucing katanya? Sepertinya lebih mirip majikan yang sedang menjinakkan hewan liar," nyinyir Simona sambil melirik Leon dengan sisa keberaniannya. "Hati-hati saja, Kak. Kucing mahal begitu biasanya punya insting buas. Sama seperti orang yang memberikannya, jangan-jangan nanti kau sendiri yang dicakar karena terlalu percaya diri bisa mengendalikan segalanya."Simona kemudian melirik Knox dengan ekspresi jijik yang dibuat-buat. "Lagi pula, rumah ini sudah seperti kebun binatang saja. Sangat tidak berkelas."Leon bahkan tidak menoleh ke arah Simona. Ia tetap tenang mengiris daging di piringnya, namun suaranya terdengar sangat tajam."Kucing ini memang hanya tunduk pada satu tuan, Simona. Berbeda dengan manusia yang rela mengemis perhatian pada pria yang sudah jel

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status