Share

DIJUAL

Author: Aphrodite
last update Huling Na-update: 2025-10-17 11:47:21

Dua bulan kemudian

“Siapa pria itu?” Dominic menunjuk ke arah seorang pria tua yang sedang tertawa terbahak-bahak ditengah kerumunan. Suaranya keras, kasar dan mengganggu. Orang-orang disekitarnya hanya menatap dengan pandangan bosan, beberapa bahkan berpaling.

“Dia belum pernah ke sini,” ujar Dominic datar. Ia hapal setiap wajah yang datang ke klubnya, dan pria itu bukan salah satunya.

“Namanya Richard,” jawab Victor dari belakangnya. “Dan dia punya uang.”

Dominic mendengus pendek. “Tapi tidak punya otak.”

Ia memperhatikan pakaian pria itu sekilas. Bukan pakaian mewah, tapi dari ekpresinya, laki-laki tua itu terlihat seperti orang yang memiliki segalanya. Dominic sama sekali tidak menyukainya.

“Awasi dia. Aku tidak ingin ada kekacauan malam ini.”

Victor mengangguk. Dominic hendak melangkah keluar ketika suara keras menggelegar dari balik punggungnya.

“Malam ini aku akan mentraktir kalian!”

Sorakan dan tawa meledak. Dominic berhenti sejenak, menatap wajahnya lebih lama. Laki-laki tua itu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi, wajahnya memerah karena alcohol, membuatnya terlihat lebih bodoh. Dominic menggelengkan kepala, bersiap pergi, saat teriakan memecah keributan.

“Ayah! Ayah! Jangan lakukan ini!”

Dominic hampir jatuh saat tubuhnya ditabrak. Ia cepat pulih lalu menoleh. Seorang perempuan berlari ke arah lelaki tua itu.

“Ayah! Tolong, jangan—“

PLAK

Tamparan keras terdengar, menarik perhatian semua orang.

“Diam! Kau memalukan!”

“Ayah, kumohon, aku tidak mau—“

PLAK

Tamparan kedua menyusul. Lebih keras. Membuat wanita itu terhuyung, memegangi pipinya yang memerah.

Dominic menatap Victor tajam. “Usir mereka. Sekarang.”

Victor segera bergerak. Dominic menekan rahangnya kuat-kuat. Ia benci kekacauan. Ia benci suara tangisan dan lebih dari itu, Dominic sama sekali tidak suka drama. Tepat saat Dominic hendak turun tangan, wanita itu mengangkat wajah—dan waktu mendadak berhenti berputar.

Wajah itu.

Dominic tidak akan pernah melupakan wajah itu. Setiap hari, wajah itu menyiksa pikirannya, merampas ketenangannya. Ia bertahan dengan meyakinkan diri kalau gadis seperti itu tidak ditakdirkan untuknya. Untuk dirinya yang dikelilingi kegelapan.

Tapi sekarang…..

Dominic membeku saat lelaki tua itu menyeret putrinya yang menangis dan memohon. Tangannya terkepal erat. Dorongan untuk menghancurkan tengkorak pria itu menguasainya.

“Caritahu apa yang dilakukan pria itu dan kenapa wanita itu datang menangis, Victor,” gumamnya dingin begitu menyadari wakilnya berdiri di belakangnya.

“Beri aku waktu. Aku akan—”

“Satu jam. Aku ingin informasinya dalam satu jam Victor.”

Dominic keluar tanpa menunggu jawaban.

Satu jam kemudian Dominic duduk di kursinya, membaca berkas dari Victor. Semakin banyak ia membaca semakin besar keinginan untuk melenyapkan lelaki tua itu.

“Dia menjual putrinya.”

“Sepertinya begitu.” Victor duduk di depan dengan meja memisahkan mereka.

“Laki-laki itu terlibat hutang dan seperti yang ditebak tidak mampu membayar. Sebagai gantinya, putri mereka dijual pada rentenir.”

“Dan rentenir itu berencana menjualnya pada mucikari.” Dominic memijit pelipisnya saat darahnya mendidih oleh kemarahan yang begitu besar.

Brengsek.

Sudah lama ia tidak merasakan kemarahan seperti sekarang. Begitu kuat dan berbahaya.

“Kau tahu alamatnya?”

“Ada di berkas.”

Dominic menemukannya saat itu juga. Rahangnya mengeras, mengabaikan wajah keheranan Victor, Dominic meninggalkan ruangannya. Jika ia tidak mendapatkan gadis itu. Milik-nya. Laki-laki tua itu akan membayar sangat mahal untuk kekacauan yang dia timbulkan.

Dua jam kemudian Dominic berada di rumah pelacuran paling eksklusif di New York. Ia memindai ruangan, jari-jari mengetuk lengan sofa. Beberapa menatapnya penuh minat, yang lain berusaha menyembunyikan ketakutannya.

Dominic menyembunyikan seringainya.

“Anda ingin menemuiku?”

Dominic mendongak dan melihat wanita tua gemuk dengan wajah yang sudah terlalu sering berurusan dengan operasi bedah menatapnya penuh minat. Matanya berbinar seperti orang yang baru memenangkan lotre.

“Aku menginginkan gadis yang baru masuk hari ini. Berapa yang kau inginkan?” tanyanya langsung.

Semua keriangannya menguap, sekarang wanita itu tampak waspada, sedikit kesal.

“Saya tidak me—“

“Namanya Isabella, usia 21 tahun, rambut cokelat gelap, panjang, tinggi 165 cm, mata amber. Dia masuk ke tempat ini mengenakan gaun polkadot hitam. Kau membelinya dari seorang pria tua sialan. Kau butuh dekskripsi lebih spesifik dari itu?” tanyanya tenang.

Sekarang wanita itu terlihat gelagapan. “Ma-maaf, aku ti—“

“Aku tidak butuh maafmu,” balasnya dingin, matanya berkilat penuh ancaman.

“Kau akan menjualnya atau aku akan membakar tempat ini kurang dari 1 jam.”

Wanita itu pasti menyadari keseriusannya karena dia ketakutan sekarang. Matanya bergerak liar seolah menunggu bantuan untuk menyelamatkannya dari situasi ini.

“Jangan bodoh. Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu jika aku memutuskan untuk membunuhmu.”

Wanita itu menelan ludah. “Dia barang bagus. Aku membelinya—“

Dominic berdiri, menatap jam tangannya. “Waktumu 15 menit, putuskan atau tempat ini hancur.”

“Tu-tunggu!” wanita itu buru-buru berdiri, mendekatinya. Dominic mengambil langkah mundur, mengirim peringatan.

“Bawa dia ke mobil hitam yang diparkir di depan, maka Victor akan membayarmu dengan harga pantas.”

Dominic meninggalkan tempat itu, masuk dengan cepat ke mobilnya. Begitu duduk nyaman dibalik kemudi, Dominic mengeluarkan ponselnya.

“Anthony, aku perlu kau melakukan sesuatu untukku,” ucapnya tegas. Tanpa membuang waktu Dominic mengatakan semua perintahnya.

“Ya, aku akan mengirimnya sekarang. Sisanya akan kuurus. Apa? Tidak, jangan la—”

Aroma bunga menusuk hidungnya, menghentikan semua kalimat yang ingin ia ucapkan saat Isabella masuk dan duduk. Tubuhnya gemetar hebat, isak tangisnya terdengar memilukan, dan entah kenapa itu membuatnya sangat marah.

“Jangan menangis.”

Wanita itu tidak mendengarkan.

Sialan.

“Kau lebih suka kembali ke tempat itu?”

Ancaman itu menghentikan tangisnya, meski tidak sepenuhnya. Dominic menyalakan mobil, mengemudi dalam diam. Setelah beberapa menit ia berkata tanpa menoleh,

“Kita akan menikah.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    Masakan Pertama

    “Pagi!” sapa Isabella ceria begitu melihat Grace masuk ke dapur.“Pagi,” balas Grace. Senyumnya lebar saat melihat apa yang dilakukan Isabella.“Untuk Dominic?”Isabella mengangguk, kembali sibuk menyiapkan makanan untuk Dominic.“Menurutmu dia akan menyukainya?”Grace tersenyum misterius. “Percayalah, dia akan memakan apa pun yang kau siapkan bahkan peluru sekali pun.”Isabella tertawa, berusaha mengabaikan perasaan hangat yang mengaliri tubuhnya. Ia menyiapkan semuanya di atas nampan, bersiap membawanya ke kamar mereka.Dominic masih tidur saat ia masuk ke kamar mereka. Ia meletakkan makanannya di atas meja samping tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh pada wajah Dominic yang terlihat damai dalam tidurnya.Ia menatap bekas lukanya. Sekarang Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan bekas luka itu darinya. Dan ia senang karena itu berarti Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan diri darinya.Tangannya tanpa sadar menyentuh bekas luka di punggungnya.Pasti sakit.

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    SISI LAIN DOMINIC

    “Tidak! Tidak! Tidak! Berhenti!” Isabella berlari bertelanjang kaki di atas rumput sambil mengawasi kelincinya yang berlari, seolah ingin menantang Isabella untuk menangkapnya. Isabella membungkuk, menumpu kedua tangan di atas lutut dengan napas ngos-ngosan. “Pika! Jika aku menangkapmu... ini tidak akan berakhir baik,” ancam Isabella. Ia mencoba meniru bariton rendah dan nada dingin milik Dominic. Namun, alih-alih terdengar mengancam, suaranya justru terdengar seperti rengekan yang lucu. Isabella meringis, merasa malu pada dirinya sendiri. Sial. Bagaimana Dominic bisa membuat orang gemetar hanya dengan satu kata? Jika saja ia punya satu persen karisma suaminya, mungkin kelinci itu sudah bersimpuh meminta ampun sekarang. Isabella terkikik geli. Yah, lagipula ia memang tidak berbakat menjadi orang jahat. “Ada masalah, Ma’am?” Isabella tersentak kecil dan mengumpat dalam hati. Ia lupa ada Sin—bayangan setinggi dua meter yang selalu mengikutinya. “Semua baik-baik saja, Sin,” sahut

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    Ty Moi Mir

    Isabella harus menahan diri agar tidak mengumpat. Ia berusaha keras, sungguh. Tatapannya yang waspada berpindah antara Dominic dan pria bertubuh raksasa di depannya—tipe pria yang tampak sanggup merobohkan pohon ek hanya dengan tangan kosong.Puas setelah percintaan panas di dapur, Dominic membawanya ke ruang tamu hanya untuk disambut pemandangan itu. Isabella tidak punya petunjuk, kecuali satu dugaan masuk akal.“Dia pengawal baruku?” tebak Isabella.Dominic, yang kini sudah kembali rapi dengan setelan formal berkelasnya, mengangguk singkat. Isabella mengamati pria itu lebih lama. Postur tubuhnya kaku, tatapan matanya kosong tanpa emosi—aset sempurna untuk pekerjaannya—tapi hal itu justru membuat Isabella merinding. Pengawal barunya tidak tampak seperti manusia; dia seperti senjata berjalan.“Dia akan mengawalmu ke mana pun, melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan keamananmu. Kau tidak boleh menemui siapa pun sebelum Sin memastikan areanya steril,” ujar Dominic dingin.“S

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    RENCANA VITTORIO

    Vittorio tidak bergerak, hanya duduk dan menatap. Layar di depannya menunjukkan video rekaman saat gudangnya dibakar. Dominic tersenyum padanya. Puas dan penuh kemenangan. Ia terus memutar rekaman itu, menit demi menit, melihat senapan-senapan mahalnya menjadi rongsokan tak berguna, melihat gudangnya menjadi lautan merah yang melahap segalanya.Vittorio diam. Sejenak, hanya suara detak jam dinding yang mengisi ruangan itu. Lalu sebuah suara keluar dari tenggorokannya, tawa kecil yang kering—tawa yang lebih menakutkan dari ledakan granat.Gelas kristal di tangannya bergetar hebat. Cairan ambar di dalamnya berguncang, mencerminkan rona merah dari kobaran api yang tertangkap kamera sebelum semuanya berubah menjadi abu-abu.“Dominic….” desis Vittorio. Suaranya mengandung kebencian dari neraka terdalam.Vittorio tidak berteriak. Baginya, amarah adalah emosi murahan milik amatir. Ia lebih suka menghancurkan. Menyingkirkan masalah. Vittorio kembali menyesap minumannya. Rasa pahit meninggalka

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    LUKA DIBALIK TATO

    Isabella menatap suaminya dengan seulas senyum kecil yang tertahan. Jemarinya yang bebas mengusap perut Dominic yang rata dan keras—merasakan tekstur otot yang kuat di bawah kulitnya. Kehangatan sisa percintaan mereka masih menyelimuti ranjang, namun pikiran Isabella tertambat pada hal lain. “Mau menceritakan apa yang terjadi?” tanya Isabella lembut. Ia memperhatikan rahang Dominic yang mengeras sesaat. Isabella tahu dia sedang menekan tombol berbahaya. Pria ini adalah sebuah branias, luka-lukanya tersembunyi di balik jas mahal dan tato phoenix yang megah. Melihat bekas luka yang merusak kulit punggung Dominic tadi benar-benar membuatnya syok, seolah-olah dunia baru saja ditarik dari bawah kakinya. “Aku tidak ingin memaksamu. Kau tidak harus menjawabnya,” lanjutnya lagi, mencoba memberi ruang bagi Dominic untuk bernapas. Isabella membungkuk, mendaratkan ciuman penuh kasih di dada pria itu. Ia bisa merasakan jantung Dominic berdetak kuat di bawah bibirnya. Saat ia mendongak, ma

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    KEBUTUHAN MEMBARA

    Isabella menahan napas, jari-jarinya ragu di udara, hampir menyentuh kelopak mawar yang berduri itu, tapi Isabella menarik diri di saat terakhir. Bibir wanita itu bergetar tapi dia tidak mengatakan apa pun selain membuka kotak P3K dengan tangan yang sama gemetarnya. "Tidak apa-apa, ini hanya luka menyerempet." Isabella tidak mengatakan apa pun, hanya terus merawat luka Dominic. Selama semua itu tidak ada satu pun yang berbicara. Dominic terus menatap istrinya—terkejut saat melihat air mata membasahi wajahnya. "Malyshka...." Dominic berusaha menghapusnya tapi saat tangannya hendak menyentuh wajah cantik istrinya, Isabella menghindar. Dominic menghela napas. “Aku sudah selesai,” katanya pelan, suaranya lembut tapi tidak cukup untuk menyembunyikan ketakutan di dalamnya. Isabella bergerak mundur, berdiri perlahan dari lututnya di lantai, tangannya membersihkan noda darah di jari-jarinya dengan kain. Dominic bangkit juga, nyeri di bahu membuat gerakannya kaku. Dia berbalik

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status