Share

Obsesi Gila Suami Mafiaku
Obsesi Gila Suami Mafiaku
Author: Aphrodite

TRAGEDI

Author: Aphrodite
last update Huling Na-update: 2025-10-17 11:22:06

Trigger Warning

Harap diperhatikan bahwa cerita ini mengandung konten yang mungkin membuat beberapa pembaca terganggu, seperti penyebutan tentang kematian keluarga dekat, serta deskripsi yang sangat grafis mengenai kekerasan, penyiksaan, dan adegan berdarah.

****

Lima belas tahun lalu

Langkah Dominic bergema pelan di halaman rumah mereka yang luas, setiap kerikil berderak di bawah sepatu kulitnya. Malam itu sunyi, hanya diselingi suara dedaunan pohon mahoni yang berbisik ditiup angin dinihari. Jam tangannya menunjukkan pukul dua lewat seperempat. Ia pulang larut. Lagi. Dominic menarik napas dalam, membayangkan wajah ibunya yang akan mengerut sebelum mengomel panjang lebar begitu tahu putra sulungnya pulang di jam segila ini.

“Suatu hari, kau akan membuat aku dan ayahmu terkena serangan jantung,” suara ibunya terngiang jelas di telinganya.

Tangannya menyentuh gagang pintu kayu jati yang dingin, menariknya dengan hati-hati sebelum menutupnya sepelan mungkin. Ia berbalik—berhenti mendadak saat melihat ayahnya, Ivan, duduk di kursi berlengan di ruang tamu, menatapnya tajam dengan mata setajam elang.

“Kau tahu bahaya apa yang bisa terjadi saat kau berkeliaran di luaran tanpa pengawal?” suara ayahnya dingin, menusuk kulit Dominic seperti pisau es.

Dominic menghela napas. “Ayah, aku bisa menjaga diri sen—“

“Kau tidak akan berkata seperti itu saat kepalamu sendiri yang dipenggal dan dijadikan pajangan oleh musuh kita.”

Dominic ingin menyahut bahwa kalau kepalanya dipenggal, ia bahkan tidak akan bisa mengatakan apa pun, tapi mengingat suasana hati ayahnya yang sedang buruk, Dominic menelan kembali kalimat itu.

“Ivan, sudahlah,” tegur ibunya, Maria. Ia berdiri di antara keduanya, mengenakan gaun tidur sutra berwarna lavender, wajahnya memancarkan keletihan dan kasih sayang yang sama besarnya.

“Dia sudah pulang dengan selamat. Itu yang penting.”

Dominic menatap ibunya kemudian berkedip kecil, berusaha mencairkan suasana tegang. Maria tertawa pelan, senyumnya menghangatkan hati Dominic.

“Suatu hari nanti kau akan membuatku dan ayahmu—“

“Serangan jantung,” sambung Dominic otomatis. “Iya, Bu, Domi tahu.”

Ivan yang duduk di sofa kulit mahal memutar mata melihat interaksi istrinya dengan putra sulung mereka.

“Kalau kau terus membelanya seperti itu, putra kita tidak akan pernah menurut, Zayka.”

“Domi!”

Ketiganya mendongak ke tangga. Lucia muncul di ujung pegangan, matanya mengantuk, tapi berbinar saat menatap kakaknya. Rambutnya yang panjang dan bergelombang acak-acakan, memeluk erat boneka beruang cokelat yang Dominic hadiahkan di ulang tahunnya yang ke tujuh.

Dominic tertawa pelan. “Hallo Little Princess. Kenapa belum tidur?”

“Aku menunggu Kakak. Ayah marah lagi ya?”

Ivan menggelengkan kepala, suaranya lebih lembut sekarang. “Tidak marah, Little Princess. Hanya bicara dengan kakakmu.”

Maria tersenyum, mengulurkan tangan ke arah Lucia. “Ayo, tidur lagi Sayang, nanti Kakakmu akan menyusul.”

Tapi, sebelum salah satu dari mereka sempat bergerak lebih jauh, dentuman kecil terdengar dari balik dinding, seperti suara benda jatuh. Kening Dominic berkerut. Instingnya berteriak ada sesuatu yang tidak beres. Sebelum ia sempat bertanya, ledakan keras memekakkan telinga menghantam ruang tamu dari arah dapur. Gelombang panas menyapu ruangan, melemparkan perabotan mahal ke segala arah seperti mainan. Dalam sekejap, kekacauan menghantam dalam gelombang yang membutakan.

Dominic terhempas ke belakang, punggungnya menghantam lantai marmer yang dingin dan keras. Asap pekat dan bau hangus memenuhi ruangan, menusuk paru-parunya hingga ia batuk tersengal. Matanya berair, penglihatannya mengabur. Ia bisa mendengar jeritan ibunya yang memilukan, ketakutan bercampur dengan teriakan Ivan yang berusaha melindungi istrinya.

“Maria! Lucia!”

Dominic merangkak bangun, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Api sudah menjilat dinding dan mulai menutupi jalan ke tangga, kobarannya merah menyala menghalangi pandangan. Ia melihat siluet ayahnya berusaha meraih Lucia yang masih di atas tangga—ketakutan dan kebingungan terpancar jelas di wajahnya. Lucia menjerit, saat kobaran api menjalar ke arahnya.

“Lu…cia!” Dominic berteriak, suaranya parau karena asap dan ketakutan. Ia mencoba maju, tapi panas menyengat kulitnya, membakar lengan dan wajahnya. Luka bakar mulai terbentuk di pipinya, daging melepuh dan nyeri menusuk hingga ke tulang.

Ledakan kedua mengguncang lantai, lebih dahsyat dari yang pertama. Tubuh Ivan terhempas ke dinding dengan bunyi gedebuk yang mengerikan, dan suara ibunya menjerit memanggil namanya sebelum kobaran api memutus semua suara. Ledakan terakhir meledakkan jendela besar di belakangnya. Gelombang tekanan menghantamnya, melempar tubuhnya keluar rumah seperti boneka kain. Ia jatuh di halaman, keras, dengan tubuh penuh luka dan wajah yang terbakar. Napasnya terengah dan putus-putus, setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang mengiris paru-parunya.

Dominic mencoba bangkit, tapi tubuhnya menolak. Air mata bercampur darah mengalir di pipinya, meninggalkan jejak merah di kulitnya yang hangus. Ia memandang dengan perasaan hancur saat menatap rumah keluarganya runtuh perlahan tanpa sisa, menjadi tumpukan bara dan abu. Menelan segala yang ada di dalamnya.

Ia meraung, meski suara yang terdengar tidak lebih dari bisikan yang menyayat jantung.

Gelap menelannya tak lama setelah itu, meninggalkan Dominic dalam kesunyian yang lebih mencekam daripada kegelapan, perasaannya hancur bersamaan dengan kebencian dan kemarahan yang mencakar dadanya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    Masakan Pertama

    “Pagi!” sapa Isabella ceria begitu melihat Grace masuk ke dapur.“Pagi,” balas Grace. Senyumnya lebar saat melihat apa yang dilakukan Isabella.“Untuk Dominic?”Isabella mengangguk, kembali sibuk menyiapkan makanan untuk Dominic.“Menurutmu dia akan menyukainya?”Grace tersenyum misterius. “Percayalah, dia akan memakan apa pun yang kau siapkan bahkan peluru sekali pun.”Isabella tertawa, berusaha mengabaikan perasaan hangat yang mengaliri tubuhnya. Ia menyiapkan semuanya di atas nampan, bersiap membawanya ke kamar mereka.Dominic masih tidur saat ia masuk ke kamar mereka. Ia meletakkan makanannya di atas meja samping tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Pandangannya jatuh pada wajah Dominic yang terlihat damai dalam tidurnya.Ia menatap bekas lukanya. Sekarang Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan bekas luka itu darinya. Dan ia senang karena itu berarti Dominic tidak merasa perlu menyembunyikan diri darinya.Tangannya tanpa sadar menyentuh bekas luka di punggungnya.Pasti sakit.

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    SISI LAIN DOMINIC

    “Tidak! Tidak! Tidak! Berhenti!” Isabella berlari bertelanjang kaki di atas rumput sambil mengawasi kelincinya yang berlari, seolah ingin menantang Isabella untuk menangkapnya. Isabella membungkuk, menumpu kedua tangan di atas lutut dengan napas ngos-ngosan. “Pika! Jika aku menangkapmu... ini tidak akan berakhir baik,” ancam Isabella. Ia mencoba meniru bariton rendah dan nada dingin milik Dominic. Namun, alih-alih terdengar mengancam, suaranya justru terdengar seperti rengekan yang lucu. Isabella meringis, merasa malu pada dirinya sendiri. Sial. Bagaimana Dominic bisa membuat orang gemetar hanya dengan satu kata? Jika saja ia punya satu persen karisma suaminya, mungkin kelinci itu sudah bersimpuh meminta ampun sekarang. Isabella terkikik geli. Yah, lagipula ia memang tidak berbakat menjadi orang jahat. “Ada masalah, Ma’am?” Isabella tersentak kecil dan mengumpat dalam hati. Ia lupa ada Sin—bayangan setinggi dua meter yang selalu mengikutinya. “Semua baik-baik saja, Sin,” sahut

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    Ty Moi Mir

    Isabella harus menahan diri agar tidak mengumpat. Ia berusaha keras, sungguh. Tatapannya yang waspada berpindah antara Dominic dan pria bertubuh raksasa di depannya—tipe pria yang tampak sanggup merobohkan pohon ek hanya dengan tangan kosong.Puas setelah percintaan panas di dapur, Dominic membawanya ke ruang tamu hanya untuk disambut pemandangan itu. Isabella tidak punya petunjuk, kecuali satu dugaan masuk akal.“Dia pengawal baruku?” tebak Isabella.Dominic, yang kini sudah kembali rapi dengan setelan formal berkelasnya, mengangguk singkat. Isabella mengamati pria itu lebih lama. Postur tubuhnya kaku, tatapan matanya kosong tanpa emosi—aset sempurna untuk pekerjaannya—tapi hal itu justru membuat Isabella merinding. Pengawal barunya tidak tampak seperti manusia; dia seperti senjata berjalan.“Dia akan mengawalmu ke mana pun, melakukan apa pun yang diperlukan untuk memastikan keamananmu. Kau tidak boleh menemui siapa pun sebelum Sin memastikan areanya steril,” ujar Dominic dingin.“S

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    RENCANA VITTORIO

    Vittorio tidak bergerak, hanya duduk dan menatap. Layar di depannya menunjukkan video rekaman saat gudangnya dibakar. Dominic tersenyum padanya. Puas dan penuh kemenangan. Ia terus memutar rekaman itu, menit demi menit, melihat senapan-senapan mahalnya menjadi rongsokan tak berguna, melihat gudangnya menjadi lautan merah yang melahap segalanya.Vittorio diam. Sejenak, hanya suara detak jam dinding yang mengisi ruangan itu. Lalu sebuah suara keluar dari tenggorokannya, tawa kecil yang kering—tawa yang lebih menakutkan dari ledakan granat.Gelas kristal di tangannya bergetar hebat. Cairan ambar di dalamnya berguncang, mencerminkan rona merah dari kobaran api yang tertangkap kamera sebelum semuanya berubah menjadi abu-abu.“Dominic….” desis Vittorio. Suaranya mengandung kebencian dari neraka terdalam.Vittorio tidak berteriak. Baginya, amarah adalah emosi murahan milik amatir. Ia lebih suka menghancurkan. Menyingkirkan masalah. Vittorio kembali menyesap minumannya. Rasa pahit meninggalka

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    LUKA DIBALIK TATO

    Isabella menatap suaminya dengan seulas senyum kecil yang tertahan. Jemarinya yang bebas mengusap perut Dominic yang rata dan keras—merasakan tekstur otot yang kuat di bawah kulitnya. Kehangatan sisa percintaan mereka masih menyelimuti ranjang, namun pikiran Isabella tertambat pada hal lain. “Mau menceritakan apa yang terjadi?” tanya Isabella lembut. Ia memperhatikan rahang Dominic yang mengeras sesaat. Isabella tahu dia sedang menekan tombol berbahaya. Pria ini adalah sebuah branias, luka-lukanya tersembunyi di balik jas mahal dan tato phoenix yang megah. Melihat bekas luka yang merusak kulit punggung Dominic tadi benar-benar membuatnya syok, seolah-olah dunia baru saja ditarik dari bawah kakinya. “Aku tidak ingin memaksamu. Kau tidak harus menjawabnya,” lanjutnya lagi, mencoba memberi ruang bagi Dominic untuk bernapas. Isabella membungkuk, mendaratkan ciuman penuh kasih di dada pria itu. Ia bisa merasakan jantung Dominic berdetak kuat di bawah bibirnya. Saat ia mendongak, ma

  • Obsesi Gila Suami Mafiaku    KEBUTUHAN MEMBARA

    Isabella menahan napas, jari-jarinya ragu di udara, hampir menyentuh kelopak mawar yang berduri itu, tapi Isabella menarik diri di saat terakhir. Bibir wanita itu bergetar tapi dia tidak mengatakan apa pun selain membuka kotak P3K dengan tangan yang sama gemetarnya. "Tidak apa-apa, ini hanya luka menyerempet." Isabella tidak mengatakan apa pun, hanya terus merawat luka Dominic. Selama semua itu tidak ada satu pun yang berbicara. Dominic terus menatap istrinya—terkejut saat melihat air mata membasahi wajahnya. "Malyshka...." Dominic berusaha menghapusnya tapi saat tangannya hendak menyentuh wajah cantik istrinya, Isabella menghindar. Dominic menghela napas. “Aku sudah selesai,” katanya pelan, suaranya lembut tapi tidak cukup untuk menyembunyikan ketakutan di dalamnya. Isabella bergerak mundur, berdiri perlahan dari lututnya di lantai, tangannya membersihkan noda darah di jari-jarinya dengan kain. Dominic bangkit juga, nyeri di bahu membuat gerakannya kaku. Dia berbalik

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status