LOGINSepanjang perjalanan pulang, tak ada sepatah kata pun yang melintas di antara mereka.Mahesa bergeming di balik kemudi, memaku pandangannya lurus pada garis jalanan malam. Sesekali Ellena melirik paras suaminya dari samping, memendam dorongan untuk mencairkan hening yang kian pekat.Namun tiap kali bibirnya hendak terbuka, keberaniannya menciut kembali.Hingga akhirnya, sedan hitam itu menepi tepat di pelataran rumah.Atmosfer kaku itu tak juga terurai.Bahkan sebelum sapuan mesin mati sepenuhnya, Mahesa sudah mendahului dorong pintu. Ia melangkah keluar dan berjalan masuk tanpa sekali pun memutar badan.Tak ada gestur manis seperti biasa saat ia membukakan pintu untuk Ellena. Tak ada pula sapaan hangat yang memecah dingin.Pria itu membawa kebekuannya masuk lebih dulu.Ellena hanya sanggup mematung beberapa saat di dalam kabin, sebelum akhirnya menyeret langkahnya turun, mengekor masuk ke dalam rumah yang mendadak terasa hampa.Di dalam kamar utama, keheningan yang sama kembali membe
Mahesa melangkah makin dalam membelah ruang kerja Ellena.Ellena hanya bisa membeku di pijakannya. Matanya membelalak polos, berjuang meyakinkan diri bahwa sosok tegap yang berdiri di hadapannya malam ini memang nyata suaminya.Lebih dari lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga, Mahesa tak pernah sekali pun sudi menjejakkan kaki di gedung NTV. Bukan lantaran dilarang, melainkan karena pria itu amat teguh memancangkan batas antara urusan domestik dan peta persaingan bisnis mereka.Namun malam ini, batas kaku itu luruh oleh tangannya sendiri."Mas... kamu?" Suara Ellena meluncur lirih, nyaris terendam hening ruangan.Mahesa tak membuang kata. Ia meraih jas yang tersampir di sandaran kursi, lalu menyambar tas tangan Ellena dari atas meja kerja."Ayo pulang."Hanya dua kata, datar namun menyisakan ketegasan yang tak membukakan ruang bantahan.Ellena masih bergeming. Tatapannya mengekor di setiap pergerakan Mahesa; kehadiran pria itu terlampau mendadak untuk sanggup dicerna kepalanya ya
Sedan hitam Mahesa berhenti tepat di area parkir gedung NTV.Bahkan sebelum putaran mesin memadam sepenuhnya, jemari Mahesa sudah meremas gagang pintu, mendorongnya terbuka.Ia melangkah turun.Selama beberapa detik, Mahesa bergeming di samping mobilnya. Tatapannya terangkat menatap gedung pencakar langit yang menjulang kokoh di hadapannya.NTV.Bertahun-tahun lamanya, ia tak pernah sekali pun menjejakkan kaki di tempat ini. Bukan karena tak ada undangan yang mampir, melainkan karena ia selalu menolak.Bagi Mahesa, NTV adalah rival terbesar ALTV. Menjaga jarak profesional bukan sekadar formalitas baginya, melainkan prinsip yang ia genggam erat-erat.Namun malam ini...Prinsip kaku itu runtuh oleh tangannya sendiri.Mahesa meloloskan napas pelan, merapikan letak kerah kemejanya, lalu mengayunkan langkah mantap menembus pintu kaca utama.Begitu ia melintasi area lobi, beberapa pasang mata lekas berpaling. Seorang karyawan yang sedang berjalan melintas bahkan seketika menghentikan langka
Seusai rapat dibubarkan, Ellena tak lantas berkemas pulang.Alih-alih menyuruh sopirnya menyalakan mesin, ia justru memutar langkah kembali ke ruang kerja, menenggelamkan diri di antara tumpukan dokumen.Satu lembar berkas selesai disisir.Laporan berikutnya lekas menyusul.Lalu draf proyeksi bisnis menyita fokusnya kembali.Tanpa disadari, malam telah merayap ke titik paling larut.Lampu-lampu di sebagian besar lorong gedung NTV mulai dipadamkan satu demi satu. Namun dari balik dinding kaca ruang direksi, pendar lampu kerja Ellena masih memancar terang, memotong kegelapan malam.Ia bergeming di balik meja kayu mahoni. Sesekali jemarinya membubuhkan catatan kecil di margin kertas, lalu pandangannya melompat kembali meneliti rentetan angka di layar komputer jinjing.Untuk sementara waktu, membiarkan pikiran disesaki beban pekerjaan terasa jauh lebih menenangkan.Ia tak ingin memberi ruang untuk memikirkan Mahesa.Sementara di kediaman mereka, Mahesa baru saja menjejakkan kaki di ambang
Semenjak malam itu, renggang di antara Ellena dan Mahesa perlahan menjelma jarak yang makin nyata. Tak ada benturan adu argumen. Tak ada nada suara yang memuncak. Hanya ada dua insan yang sama-sama membiarkan ego membentang kaku di tengah jalinan mereka. Mahesa kian larut menghabiskan waktunya dalam rentetan perjumpaan bersama Malhera. Sementara Ellena memilih menyibukan diri, menenggelamkan seluruh fokusnya pada proyek baru—sebuah rencana peluncuran platform digital yang digadang-gadang mampu memperluas daya jangkau NTV. Sore itu, atmosfer di ruang rapat utama NTV terasa sarat ketegangan. Ellena duduk dikelilingi jajaran direksi dan tim pengembang digital. Beberapa layar lebar di sisi depan ruangan menyajikan bentangan data serta proyeksi komersial yang tengah mereka bedah. Seorang pria di samping meja utama bangkit berdiri, membuka sesi presentasinya. "Sebelum kita menyisir detail teknis..." ucapnya dengan nada tenang namun berbobot. "Saya ingin kita mengunci persepsi menda
Riak pertemuan sore tadi rupanya tak murni mengendap pada Mahesa seorang.Di dalam kabin sedan yang melaju halus melintasi malam, Malhera menyandarkan bahunya rapat-rapat, membuang pandang menembus gemerlap lanskap kota di balik kaca jendela.Simpul senyum tipis masih tertinggal di sudut bibirnya."Mahesa..." gumamnya, mengeja nama itu.Irama percakapan mereka kembali berputar di benak. Cara pria itu memimpin ritme, ketenangannya saat membedah kalkulasi bisnis, hingga gestur berbobot dalam menanggapi tiap opsi argumen tanpa sedikit pun tampak tergesa."Dia... tergolong pria yang impresif."Malhera terkekeh pelan, lalu menggelengkan kepalanya halus."Aku sudah memantau pergerakannya cukup lama dari kejauhan." Tatapannya kembali menyapu jalanan yang lengang. "Sayang sekali... ruang itu sudah terisi oleh seorang istri."Mobil terus melaju tenang, memangkas jarak dan membawa Malhera kian jauh dari arena negosiasi mereka.Sementara itu, tirai malam telah menyelimuti kediaman Mahesa secara







