Masuk"Iya, Anastasya?"
Samuel menjawab singkat, responsnya tidak memberikan kelegaan pada Anastasya. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana mata suaminya menghindari tatapannya, seolah-olah takut terlalu lama berhadapan. "Samuel, aku rasa kamu belum siap menjawab," kata Anastasya dengan suara yang terdengar kecewa. Samuel mengalihkan pandangannya, mencari alasan untuk tidak melanjutkan pembahasan. Ia masih terjebak dalam kebimbangan, hatinya terpecah antara Anastasya dan Alesha. "Maaf, Anastasya, aku pikir lebih baik kita istirahat," ucap Samuel, mencoba menghindari topik yang membuatnya gelisah. Anastasya mengangguk pelan, memilih menahan perasaan daripada memperpanjang masalah di hadapan Samuel. Namun di dalam hati, ia tahu bahwa lawannya sangat berat, istri sah dari suaminya sendiri. Mereka berbaring untuk beristirahat di dalam kamar, tetapi pikiran Anastasya terus berkecamuk. Ia belum bisa menerima jika cintanya harus dibagi untuk Alesha. Tidurnya terganggu, matanya menolak terpejam, dan pikirannya yang gelisah membuat perutnya terasa sedikit keram. "Aku harus bertemu dengan Alesha, aku yakin dia belum tidur," gumam Anastasya lirih, memastikan Samuel yang sudah tertidur pulas tidak mendengarnya. Hampir satu jam telah berlalu sejak percakapannya dengan Samuel, dan kini ia berjalan menuju kamar Alesha. Tanpa terkunci, pintu kamar itu terbuka sedikit, memperlihatkan Alesha yang sedang termenung memandang keluar jendela malam itu. "Untuk apa kamu ke sini?" tanya Alesha dengan nada dingin. Ia sudah dapat mengenali langkah kaki Anastasya meskipun datang dengan perlahan. "Alesha, aku datang ke sini untuk meminta satu hal darimu." "Apa?" "Lepaskan Samuel!" Alesha menoleh perlahan, memastikan bahwa ia tidak salah dengar. Namun wajah serius Anastasya kian memastikan bahwa permintaan itu nyata. Anastasya ingin dirinya melepaskan pria yang sangat dicintainya. "Tidak akan pernah! Sam adalah suamiku, dan kamu tidak akan pernah bisa memiliki Sam sepenuhnya," jawab Alesha lugas dan penuh ketegasan. Kemarahan membuncah di hati Anastasya. Tatapan tajam mereka bersilang, tak ada niat menyerah dari keduanya. Kemudian, tangan Alesha mulai bergerak, mencengkeram lengan Anastasya sebagai bentuk perlawanan terhadap keberadaannya di sana. Namun Anastasya lebih tangguh, dengan gerakan cepat ia menarik rambut Alesha dengan keras hingga cengkraman itu terlepas, sementara Alesha mencoba sekuat tenaga melepaskan genggaman di rambutnya. "Kamu wanita gila! Lepaskan aku!" pekik Alesha kesakitan. "Aku tidak akan melepaskan mu sampai kamu serahkan Samuel padaku," balas Anastasya penuh emosi sambil menarik rambut Alesha lebih kuat lagi. Meskipun sedang mengandung, keadaan yang penuh ancaman ini memberi Anastasya kekuatan yang mengejutkan dirinya sendiri. Ia tak peduli pada kondisinya sejauh ini mencengkeram penuh keyakinan untuk mengusir Alesha dari hidup Samuel. "Aku katakan tidak! Sam adalah milikku selamanya, aku tidak akan melepaskannya, kamu tidak akan pernah bisa menggantikan ku, meskipun kamu memiliki anak dengan Sam, karena aku lebih memahami Sam dibandingkan siapa pun," jawab Alesha dengan penuh keyakinan. Anastasya tiba-tiba terdiam, teringat betapa ragu suaminya ketika ditanya tentang pilihan antara dirinya dan Alesha. "Samuel hanya terpesona oleh pesona luar kamu! Dia akan menyadari sifat aslimu yang sebenarnya!" "Kalau begitu, apa yang kamu lakukan sekarang? Kamu juga hanya berpura-pura baik di hadapan Sam, tapi lihat apa yang aku dengar saat ini? Kamu menunjukkan sosok yang berbeda, bahkan menyerang orang yang seharusnya kamu anggap saudari, apakah itu tidak akan menghancurkan Sam di masa depan?" Alesha menatap yakin bahwa pada akhirnya Samuel akan meninggalkan Anastasya dan kehidupannya yang dulu akan kembali. Anastasya menjadi semakin sunyi, ia menyadari bahwa dirinya memiliki kondisi mental yang cukup sensitif saat memikirkan keluarganya, terutama saudarinya. "Kamu benar, mungkin suatu saat Samuel akan mengetahui tentang aku, tetapi yang jelas, dia paham bahwa aku adalah anak yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuaku dan saudariku yang bahkan tidak pernah mengenal aku," jawab Anastasya dengan raut wajah kecewa yang terlihat di depan saudarinya. Alesha yang hingga kini belum mendapat kepastian dari kedua orang tuanya, menjadikan Anastasya ragu akan cerita pendek tentang mereka yang kembar. "Jadi, ini semua memang rencanamu? Merampas setiap kebahagiaanku! Apa kamu ingin kedua orang tuaku dan suamiku juga?" Anastasya tersenyum, melihat Alesha yang mulai menunjukkan tanda-tanda ketakutan. "Betul, itu memang tujuanku, dan aku tidak akan membagikannya padamu meskipun itu sedikit, aku akan membuatmu menjauh dari mereka karena hanya aku yang berhak berada di sini, bersamaku, hanya aku, bukan kamu, Alesha!" Dengan penuh keyakinan, Anastasya siap melakukan apa saja untuk mewujudkan rencananya yang telah dia siapkan sebelum masuk ke dalam hidup Samuel. "Aku sudah merasa seperti itu! Kamu bukan wanita yang baik! Kamu seorang penipu, atau mungkin, kamu adalah orang yang tidak ragu melakukan apa saja, termasuk mengubah penampilanmu agar terlihat seperti aku, hanya demi mendapatkan harta orang tuaku dan suamiku," kata Alesha yang semakin curiga. Anastasya merasa puas melihat rasa cemas pada wajah Alesha, jelas bahwa orang di hadapannya sangat ingin tahu tentang dirinya dan apa yang ia inginkan. "Jadi kamu mengira wajahku yang serupa denganmu ini tidak asli?" Ia melangkah perlahan mendekati jendela besar yang memiliki tirai putih tipis yang sangat lembut. "Tentu saja, wajahmu bukan yang asli, bahkan cerita tentang saudari kembar hanyalah omong kosong, aku bisa melaporkanmu karena penipuan, kamu telah menipu Sam dan aku," jawab Alesha dengan keberanian yang mulai tumbuh kembali setelah merasa sedikit lega bahwa Anastasya bukan saudarinya. Anastasya menepuk-nepuk tangannya beberapa kali, dia tercekat mendengar ucapan Alesha yang masih belum mempercayai dirinya. "Coba saja! Kamu tidak akan menemukan bukti yang kuat jika aku melakukan operasi plastik yang kamu tuduhkan itu," ucap Anastasya sangat senang dengan obrolannya bersama Alesha sekarang ini. Alesha memalingkan wajahnya ke arah lain, ekspresi pada sudut bibirnya menunjukkan ketidaksenangan yang semakin jelas terhadap ucapan Anastasya. "Baik! Aku akan membuktikan semuanya, dan aku pastikan kamu tidak akan lagi memiliki tempat di hidupku, sebaiknya kamu keluar dari kamar ini sebelum aku benar-benar bertindak lebih kasar terhadap calon anak yang sedang kamu kandung," ancam Alesha dengan nada tegas kepada Anastasya yang masih berdiri teguh di hadapannya. Namun, Anastasya hanya tersenyum tipis, "Tampaknya kamu masih meragukan ku, sudahkah kamu mencoba menanyakan semuanya pada orang tuamu yang begitu mencintaimu? Meski begitu, kurasa mereka tidak akan bisa mengingat siapa Alesha yang sebenarnya, mereka hanya tahu bahwa Alesha adalah wanita yang bersama Samuel, jadi, aku ragu mereka akan mau memberikan jawaban," balasnya dengan penuh keberanian, melangkah maju selangkah untuk menatap mata Alesha lebih dekat. Alesha tidak lagi mampu menahan luapan emosinya, "Ya, semua ini karena kamu! Segalanya hancur! Mereka tak lagi mengenali aku karena ulahmu, wanita ular!" teriaknya, melampiaskan amarah yang tertahan. Anastasya menikmati setiap detik dalam situasi tersebut. Melihat Alesha kehilangan kendali sepenuhnya membuatnya semakin senang. Rasa puas meresapi dirinya, mendorong keinginannya untuk mempermainkan saudaranya lebih jauh, menekan hingga semua milik Alesha menjadi miliknya. "Kamu tahu betul, semua yang terjadi ini karena aku, jangan lupa, aku juga bisa mengambil nyawamu kalau aku mau, dan percayalah, tidak ada seorang pun yang mampu menolong mu, termasuk Samuel, dia ada di kamarku sekarang, dan dia akan tetap bersamaku, selamanya, aku dan anak kami akan menjadi dunianya kini dan nanti," ujar Anastasya dengan penuh provokasi, sengaja semakin menyulut bara amarah dalam diri Alesha. Alesha menjauh dari Anastasya, ucapannya terdengar seperti bukan sekadar ancaman, tetapi juga sebuah peringatan baginya, terlebih lagi karena Alesha menyadari kekuatan mertuanya yang kini mendukung Anastasya. "Diam! Pergi dari sini!" Alesha berteriak sekali lagi, berusaha mengusir Anastasya. Dengan suara yang agak rendah, Anastasya menoleh ke arah pintu dan berkata, "Aku tahu kamu ketakutan sekarang, bersiap-siap saja, jika kamu tetap di sini untuk menjaga Samuel, hanya kamu yang akan menderita, dia tidak akan pernah menjadi milikmu." Saat Anastasya melangkah keluar dari kamar Alesha, Alesha sangat marah dan membuang semua barang di sekitarnya sembarangan, berbeda dengan Anastasya yang mengusap perutnya sambil berkata, "Kamu telah mendengar semua yang kami bicarakan, tapi jangan khawatir, Ayahmu tidak akan hilang, dia adalah milik kita berdua." Begitu Anastasya selesai berbicara kepada calon anaknya, Anastasya merasakan ada tangan menepuk bahu kanannya, "Anastasya," panggil suara tersebut.Anastasya langsung menangis sambil memeluk Christina, "Aku minta maaf, Ibu, ternyata aku tidak mampu menghadapi pernikahan ini, Samuel tidak benar-benar menginginkanku, dia hanya mau Alesha," kata Anastasya dengan penuh isak tangis.Hans merasa sangat marah karena putrinya diperlakukan seperti ini, "Jika kamu mau, Anastasya, Ayah akan berbicara dengan Len Artama," ucap Hans sambil menawarkan.Anastasya menatap Hans dengan serius, "Jangan, Ayah, Papa Len tidak boleh tahu tentang ini, Samuel bilang aku selalu tergantung pada Papa Len ketika ada masalah, dia merendahkan diriku karena itu, dan aku tidak ingin Samuel berpikir seperti itu lagi."Christina pun langsung melihat ke arah Hans, "Ikuti saja permintaan Anastasya, biarkan ini menjadi masalah kami berdua sebagai orang tuanya, tidak apa-apa jika Len Artama tidak tahu tentang ucapan kasar Samuel kepada Anastasya, nanti aku yang akan berbicara dengan Samuel jika dia masih mengganggu putriku," tegas Christin
Alesha terus memperhatikan cara mereka berbicara dengannya dengan sangat kasar. Salah satu dari mereka memegang ponsel seperti saat awal penculikan, yang pasti berarti ada yang sedang menghubungi atasan mereka."Hey, apakah aku akan tetap di sini?" tanya Alesha.Mereka tak memberikan jawaban, membiarkan Alesha terus bertanya dengan tatapan dan mulut yang terbuka, hanya tangan dan kakinya yang terikat.Di tempat lain, Anastasya sedang membersihkan wajahnya menggunakan pembersih yang aman untuk ibu hamil. Ia melakukannya secara teratur setiap malam sebelum tidur.Sementara itu, Samuel di rumahnya sudah menutup matanya karena merasa pusing memikirkan kedua istrinya.Malam ini terasa sangat panjang bagi ketiga mereka. Alesha pun akhirnya terlelap karena matanya tidak tahan, membiarkan para penculik tetap menjaganya di tempat itu.Ketika pagi menjelang dan Anastasya terbangun, ia menemukan panggilan masuk dari Hans yang tidak terjawab
"Papa, Samuel! Tolong hentikan semuanya, Mama tidak suka dengan sikap kalian, kalian tidak menghargai waktu, sudah malam, kalian tahu apa yang seharusnya dilakukan saat malam, yaitu beristirahat, tapi kalian malah mengganggu tetangga!"Len melihat Elisa, "Jangan bicara, Elisa! Masuk ke kamar!" perintahnya agar istrinya tidak membela anak mereka di saat ini.Elisa tidak dapat berbuat lebih, dia pergi dari situ bukan karena tidak ingin membela anaknya, tetapi saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa agar Samuel dan suaminya bisa kembali berdamai seperti biasanya."Pa, jangan bersikap kasar pada Mama!"Perlakuan tidak baik Papanya terhadap Mamanya membuat Samuel marah dan ingin melawan Papanya saat itu juga."Cukup, Samuel! Ini bukan masalah Mama! Ini menyangkut pernikahanmu, jadi jangan libatkan Mama Elisa dalam hal ini, biarkan kita selesaikan masalah ini berdua secara laki-laki, apa kamu tidak malu membicarakan ini di depan mamamu?
Anastasya menarik tangannya dari Samuel yang tadi menghalanginya, "Maaf, aku tetap ingin pulang, jika kamu terus bersikap seperti ini, aku tidak ingin berada di sini," katanya pelan sambil tidak menoleh sedikit pun.Hans dan Christina berjalan di samping Anastasya, sementara Samuel berusaha mengejar mereka. Namun, ada tangan yang menahannya, "Samuel! Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya dengan penuh kekecewaan, suaminya mengeluh bahwa dia ingin Anastasya tetap tinggal di rumah.Samuel, melihat Alesha di hadapannya, mengeluh bahwa dia menahan Anastasya pergi, "Aku hanya ingin Anastasya tetap di sini. Dia mengandung anakku, kamu tahu itu, jangan menyangkal hakku, karena dia akan melahirkan anakku," katanya, mengabaikan Alesha.Alesha berusaha menahan tangan Samuel dengan sangat kuat hingga membuatnya tidak bisa bergerak, "Aku tidak mau kamu pergi! Jangan tinggalkan aku di sini! Aku tidak rela kamu bersama Anastasya!"Samuel merasa tidak berdaya keti
"An, apa kamu benar-benar tidak ingin Alesha ada di rumah ini? Kamu di sini karena awalnya menggantikan Alesha, Papa yang membawamu ke sini, pasti hal itu membuatku jadi curiga, Alesha tidak punya bukti, tetapi aku yakin dia tidak berbohong, aku tahu kamu sepertinya selalu ingin Alesha pergi, jadi kenapa seperti ini, Anastasya?"Samuel sekarang berbicara dengan suara lembut, meski nada tuduhannya kepada Anastasya tetap ada, menuduhnya sebagai otak di balik penculikan Alesha."Aku minta kamu keluar dari kamarku!" Anastasya berteriak dengan nada tinggi, tidak mau suaminya berada di tempat itu sampai dia benar-benar percaya padanya.Samuel ingin menggenggam tangan Anastasya, tetapi dia mundur, "An, tolong jangan lakukan ini," katanya."Cukuplah! Jangan paksaku menerima semua tuduhan mu atas kesalahan yang tidak pernah kulakukan, kamu bisa kembali ke kamar utama sekarang, Alesha sudah pulang, jadi aku tidak perlu menggantinya," jawab Anastasya dengan nada sinis kepada suaminya.Akhirnya,
Anastasya berharap Samuel lebih mempercayainya dibandingkan Alesha, "Samuel, percayalah padaku," katanya, sambil memegang tangan suaminya.Dengan kasar, Samuel melepaskan tangan Anastasya, "Lepaskan! Perilakumu terhadap Alesha sangat tidak bisa diterima!" teriaknya.Len Artama mulai berbicara, tidak peduli dengan apa yang dikatakan anaknya, "Cukup! Sikapmu dan Alesha sudah membuatku muak! Aku percaya Anastasya, bukan perempuan yang kamu banggakan itu, Samuel, ingatlah satu hal, jika kamu menyakiti Anastasya, kamu juga menyakiti Papamu, jika kamu tidak meminta maaf padanya sekarang, kamu bisa kehilangan segalanya, rumah, uang, jabatan, dan mobilmu, apakah kamu sanggup? Dan wanita yang kamu banggakan itu akan menerimamu setelah kamu tidak memiliki apa-apa?"Alesha terjebak oleh kata-katanya sendiri. Jika Samuel jatuh miskin, dia tidak akan bisa membeli barang-barang bagus atau menikmati kehidupan mewah lagi, "Sam, sebaiknya minta maaf pada Anastasya, kamu su







