LOGIN
Wajahnya memerah padam pun dua matanya yang memejam erat. Lengan kirinya mengepal erat ujung bantal sementara tangan kananya menahan dada bidang yang memompa naik turun di atas tubuhnya.
Tubuh sintal itu bergetar hebat merasakan sensani panas bak terbakar pada seluruh aliran darahnya. Keringat bercucuran membasahi pelipisnya yang berantakan oleh anak-anak rambut yang jatuh tak beraturan. Di dalam ruangan yang megah pun luas. Dua sejoli tengah bergumul di atas ranjang. Di dalam kegelapan malam tanpa pencahayaan, dan hanya disinari redup oleh cahaya bulan. Lenguhan-lenguhan nikmat dihasilkan oleh keduanya. Erangan serta suara napas yang saling bertabrakan memburu tidak beraturan seolah menjadi backsound di malam yang sunyi. Tubuh kekar nan berotot, dada bidang serta perut yang sispax sempurna. Tetap indah saat disentuh meskipun banyak luka sayat menghiasinya. Bergoyang lihai pinggulnya enggan menurunkan ritme permainan. Membuat sang wanita yang berada di bawah kukungannya menggeliat hingga membusungkan dada merasakan menikmatan pada inti tubuhnya. Tangan ramping serta pergelangan tangan yang rapuh nyaris patah sebab terus menahan dada bidang yang tengah memompa naik dan turun. Sang pria alihkan lengan itu pun mencengkramnya tepat di atas kepala sang wanita, lalu sengaja ia lajukan hentakan pada pinggulnya. "Hah! Hah! Hah!" Benda besar pun panas itu semakin menusuk ke dalam tubuhnya. Menghentak amat kencang dalam-dalam hingga terasa perih pun ngilu di dalam sana. Wanita itu tidak bisa menahan hujaman kuat yang menguras tenaga serta oksigen di dalam dirinya. Dirinya dibuat sekacau mungkin oleh pria bertubuh tegap yang selama satu tahun ini telah menyandang status sebagai suaminya. "Call my name!" titah sang pria dengan suara baritonya yang begitu berat. Suara yang selalu membuat bulu tubuh berdiri saat mendengarnya. Suara yang hanya bisa didengar tanpa bisa dilihat sosoknya. "Se—senor uh~” Wanita cantik ini membuka bibirnya pun mengeluarkan suara. "Isaac. Isaac!" Hentakan pada inti tubuhnya semakin kencang. Lengan kekar pria bernnama Isaac itu merengkuh tubuh ramping milik istrinya—Nora. Suara lembut Nora saat menyebutkan namanya semakin membuat Isaac bergairah pun meninggi hasratnya. Kontan pria itu semakin menghujam ke dalam inti tubuh istrinya. Penyatuan tubuh mereka terlepas saat Isaac menarik batangnya keluar dari liang panas milik Nora. Memegang benda panjang berurat itu pun sedikit memijatnya hingga keluar semua cairan kental berwarna putih ke atas perut rata istrinya. Isaac beranjak turun dari ranjang mengambil mantel lalu ia kenakan. Melangkah lebar pria itu hendak meninggalkan ruangan. "Se—senor ...." Nora memanggilnya hingga langkah kaki pria itu seketika terhenti. Dirinya telah duduk di atas ranjang seraya menutupi tubuhnya dengan selimut. Dari balik kegelapan sosok Isaac berdiri membelakanginya. Tinggi pun besar nan gagah perawakan pria itu seperti seorang algojo. Sosok agung yang tak pernah Nora lihat sekalipun selama pernikahan mereka. Bahkan bentuk wajah pria tersebut belum pernah Nora lihat. Seperti apa wajah di balik sosok yang selalu berada di dalam kegelapan, wajah pria dibalik suara yang dingin pun berat itu, pun bagaimana ekspresinya ketika ia berbicara atau bahkan menatapnya dari atas ketika mereka bersenggama. Nora sama sekali tidak pernah tahu tentang semua itu. "Aku akan membuka kedai teh baru besok, akankah kau menghadirinya?" tanya Nora. Suara kecilnya bergetar halus. "Kau terbiasa tanpa diriku, Nora. Tidak perlu bertanya hal yang kau sendiri tahu seperti apa jawabanya." Tertegun nora pun langsung terdiam terkatup rapat bibirnya. Menunduk dalam-dalam wajah cantik itu. Tidak berani ia menjawab, melayangkan pertanyaan lainnya, atau sampai memprotes. "Sí, Señor." "Tidurlah dan beristirahat, Nora, kau pasti sangat lelah." "Sí." Berderap suara langkahnya yang berat menjauh keluar ruangan. Bayangan gagah dari sosok agung itu menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup rapat. Di atas ranjang, Nora menghela napasnya dalam-dalam. Memasok kembali oksigen ke dalam paru-parunya yang telah terkuras habis. Setelah melilitkan selimut pada tubuhnya ia beringsut turun dari ranjang. Melangkah pergi menuju balkoni kamarnya. Di bawah sana terparkir tiga mobil hummer besar berwarna hitam pekat dengan mesin yang menyala. Beberapa orang pria bertubuh tegap berdiri masing-masing pada sisi pintu mobil. Siap siaga membukakan pintu untuk sang empu yang baru saja muncul dari dalam mansion dengan pakaiannya yang telah rapih kini. Bisa Nora lihat sosok tegap suaminya yang masuk ke dalam mobil. Melaju mobil besar itu tak kalah gagah dari sosok agung yang dibawanya. Menderu sangar suara mesinnya yang mulai melaju keluar meninggalkan area mansion. Suara pintu yang diketuk membuyarkan lamunan Nora akan membayangkan sosok gagah Isaac. Segera ia berjalan kembali duduk di atas ranjang, menyelimuti tubuhnya yang masih polos menggunakan selimut tebal. "Selamat malam, Senora." Abigail—seorang dokter keluarga menyapanya. Masuk dokter pria itu bersama asisten wanitanya yang bernama Salma. "Ini sudah termasuk dini hari, Abigail," timpal Nora. Mengeluarkan satu tanganya dari dalam selimut untuk Abigail periksa. Kini waktu telah menunjukan pukul dua dini hari. Sudah sangat larut dan dokter itu masih terjaga hanya untuk datang memeriksanya. Abigail selalu datang sesaat setelah Isaac mengeksekusi Nora di atas ranjang. Ini dasar permintaan Isaac yang menginginkan Nora diperiksa setelah melakukan hubungan seksual denganya. "Aku masih hidup, Abigail. Hanya saja detak jantungku sepertinya berdetak dua kali lebih cepat," seloroh Nora mencarikan kecanggungan suasana di dalam kamar itu. Abigail melepaskan alat untuk memeriksa tensi darah pada lengan Nora. "Apa Anda berbicara dengan senor?" "Ya. Aku bertanya apakah dia akan datang ke pembukaan kedai teh baruku besok siang." "Lalu apa jawaban yang senor berikan?" tanya Abigail seraya menyiapkan obat ke dalam suntikan. "Seperti biasa, dia tidak memiliki waktu untuku." "Senor merupakan orang yang sibuk, Senora," timpal Salma. "Aku tahu itu, Salma." Kemudian, suasana kembali menjadi hening. Hanya terdengar beberapa alat medis yang tengah digunakan oleh Salma untuk mengobati luka pada tubuh Nora. Setelah semua luka telah siap diobati, Salma membantu Nora untuk mengenakan pakaian. "Kami pamit, Senora. Selamat beristirahat." Dua orang itu membungkuk memberi salam. Abigail dan Salma bersama-sama keluar dari ruangan nyonya mereka. Keduanya berjalan pada lorong mansion dengan samar-samar pencahayaan. Wajah keduanya terlihat lesu, pun mereka saling menghela napas satu sama lain. "Kenapa dia selalu terluka setiap kali suaminya pulang?" celetuk Salma. Ekspresinya menunjukan rasa iba. "Itu bukan pertanyaan yang pantas kita pertanyakan." Abigail menekankan. Menatap Salma memberitahu jika asistennya itu tidak berhak berkata seperti itu. "Aku merasa kasihan kepadanya." Salma menghela, begitupula dengan Abigail. "KIta tidak bisa berbuat apa-apa dengan hal itu. Cukup lakukan pekerjaanmu dengan baik." . . . Bersambung ...."Wanitaku ...."Javolla berbaring di tengah-tengah Isaac dan Nora. Menghalangi kedekatan dua orang tuanya yang ia sengajai. Tidak suka pria kecil itu ada orang lain yang dekat dengan mama Nora selain dirinya.Lengan kecilnya terus mengusak-ngusak wajah Nora dengan penuh sayang. Genit bibirnya berucap mengatakan Noraku, cintaku, wanitaku. Membuat Isaac menatap datar ke arahnya.Watak siapa yang Jav tiru? Isaac bukan pria genit dan juga Nora bukan wanita yang mudah berbicara terus terang seperti itu. Lantas, sifat siapa yang bocah kecil itu turuni? Heran ....Nora yang telah terbiasa menanggapi sifat Jav hanya tersenyum terkekeh-kekeh geli. Ia lucu kepada Jav, dan juga pada Isaac yang cemburu menatap Jav sekaligus heran. Nora tidak ingin mengatakan sifat siapa yang Jav turuni, karena tentunya itu hanya akan membuat Isaac semakin kesal.Sejak bayi hingga sebesar itu, Jav berada di dalam asuhan Damon dan Pablo Dolze. Seluruh pria di keluarga itu memiliki sifat genit yang terang-terangan
"Javolla Enrique Vargas, katakan hallo pada Papa.""Hallo, Papa."Isaac Mallen Vargas bersimpuh di hadapan putra kecilnya. Memeluk erat serta mencium puncak kepalanya penuh sayang. Untuk kali pertama Isaac bertemu dengan buah hatinya, putra kandungnya tercinta yang tak pernah ia sangka dapat hadir di dunia.Javolla benar-benar diukir Tuhan sama persis seperti dirinya. Bentuk wajah, hidung, tatapannya yang tajam serta bibirnya. Vargas junior tentunya yang akan menguasai seluruh wilayah serta keuasaan papanya.Keluarga kecil itu berada pada sebuah restoran di Mexico. Pertemuan pertama antara Isaac dan putranya yang memanglah diatur atas persetujuan Nora.Nora juga tidak pernah berniat menyembunyikan sosok papa dari putranya, ia selalu menyimpan foto pria itu untuk kapanpun Javolla kenali. Meskipun hubungan rumitnya bersama Isaac, Nora juga tak pernah mencoba membuat putranya membenci Isaac.Javolla kembali ke sisi Mama nya ketika Isaac melepaskan pelukan. Memegang lengan Nora erat sera
Nora POVHari itu, hari di mana aku mendapatkan secarik surat yang cukup mengejutkanku mengenai fakta yang sangat membuatku tidak pernah menyangkanya sedikitpun.Surat yang datang dari manusia-manusia berani yang mengkhianati senor mereka sendiri. Berbalik arah yang entah apa yang dijanjikan sehingga mereka mampu berbuat seperti itu.Secarik surat yang di dalamnya dituliskan sebuah permintaan untuk diriku agar mau datang pada sebuah tempat yang mereka pinta, yang ternyata itu adalah ruang bawah tanah. Sebuah tempat yang aku sendiripun tidak tahu jika tempat itu benar-benar ada.Aku sengaja melemparkan lampu tidurku untuk mengalihkan perhatian para penjaga. Setelah mereka berhambur untuk mendatangi kamarku, aku sudah pergi. Pergi ke ruang bawah tanah dibantu oleh dokter yang memberikanku secarik kertas tersebut."Senora ... Pergilah menuju sel paling ujung, maka akan Anda temukan seseorang di sana,” kata dokter itu seraya mendorong tubuhku masuk ke dalam dinding yang ternyata pintu.“S
Satu tangkai mawar hitam itu tergeletak di atas meja yang mana ia tidak ada di sana sebelumnya. Netra sang pemilik ruangan segera beredar menilik pada setiap sudut. Menelisik mencari sesuatu yang mungkin saja datang tanpa diundang.Tangannya bergerak cepat membereskan berkas pekerjaan. Merapikan barang-barang lalu memasukannya ke datam tas. Namun seketika, gerak tangannya terhenti ketika ujung matanya menangkap siluet seseorang. Bayangan gelap yang datang mendekat.Nora tidak ingin melihatnya lebih jelas. Terus mengabaikan dan berpura-pura tidak tahu atau tidak melihat. Cepat-cepat kaki jenjangnya melangkah menggapai pintu hingga tiba-tiba kembali terhenti saat 'dia' memanggil namanya."Nora ...."Suara yang gelap nan kelam seperti alarm kematian bagi tubuh Nora. Membuat seluruh darahnya berdesir pun detak jantung yang berpacu dua kali lipat. Reaksi tubuh yang sudah lama tak ia rasakan. Ketakukan yang mutlak serta, rasa gugup pun rasa cemas yang spontan melingkup memeluk jiwanya.Perl
Mexico City"Buenos días, Nora."(Selamat pagi, Nora)Berdiri wanita cantik ini di depan cermin rias di dalam kamarnya. Menatap wajah tampan yang baru saja mengucapkan selmaat pagi padanya dari balik cermin, sembari tersenyum tipis dan menggeleng samar."Selamat pagi, sayangku," timpal Nora. Ia berbalik untuk menggapai ranjang, memberikan ciuman selamat pagi untuk lelaki tampan kesayangannya."Tolong buatkan aku sarapan pagi masakan terbaikmu, aku mencintaimu. Aku akan mandi," katanya seraya membalas ciuman Nora di pipi.Beringsut dia turun dari ranjang, melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meninggalkan Nora sendiri di dalam kamar yang tak lama ia juga beranjak keluar dari kamar.Rumah sederhana yang hanya terdapat dua kamar, dua kamar mandi, satu dapur serta satu ruang tamu. Kecil namun nyaman dan hangat. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan tinggal di kediaman besar namun kesepian.Nora pergi ke dapur untuk membuat sarapan favorit kekasih hatinya berupa Tostada.
Rembulan tidak muncul. Menyisakan awan gelap di langit yang sesekali memaparkan kilatan amarahnya. Suara gemuruh dari angin yang berhembus kencang disertai rintik air yang terbawa entah dari mana.Pria itu berada di balkon kamar. Menatapi rimbunnya pepohonan hutan nan gelap. Dada bidangnya yang dibiarkan terbuka basah oleh hujan tepat mengenai bekas luka jahitan yang ia tutupi dengan sebuah tato.Cerutu di sela jemarinya perlahan padam, lantas ia jatuhkan ke bawah begitu saja. Membuangnya sebab tak berguna lagi.Pria ini mengeker senapannya ke dalam hutan. Menembakan satu peluru panas yang tepa mengenai seekor burung gagak yang sedang bertengger di ranting pohon. Jatuh dan tewas seketika.Kawanan burung hitam yang tidak terima kelompok mereka dibunuh lantas terbang untuk menyuarakan ketidaksukaannya. Terbang berputar-putar pada atas pohon yang tinggi sembari terus berteriak memekik.Kembali ia tembaki kawanan burung gagak hitam yang sedang berputar-putar berisik. Terus ia tembak satu







