LOGINSepasang manik abu-abu Arseny menatap Lena dengan dingin, memancarkan aura intimidasi kejam. Ia menunukkan jati dirinya sebagai seorang Don. Arseny menaikkan sebelah alisnya, bersiap memarahi pelayan sekaligus pengawal setia putra kecilnya itu."Kau mau dipindahkan ke pos perbatasan perbatasan Veronia, Lena?" ancam Arseny dengan nada suara berat yang membekukan udara di sekitarnya.Sebelum Lena sempat menunduk panik, Elara bergerak lebih cepat. Wanita itu merangkul pelan lengan Arseny, lalu meraih jemari besar suaminya dan menggenggamnya erat. Elara mendongak, menatap Arseny dengan binar mata sebiru es yang memancarkan peringatan manis."Jangan mengomel, Don Arseny." Tangan Elara bergerak sangat lembut. "Bukankah ini hari liburmu, dan Lena bicara benar. Anak kita mirip denganmu. Sudah, ya. Jangan merusak suasana."Seketika itu juga, Arseny mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Raut wajah intimidatif yang ditakuti seluruh klan mafia seketika luntur. Pria itu menghembuskan napas panjang,
Enam bulan berlalu. Usia kandungan Elara kini menginjak tiga puluh satu minggu saat petaka yang ditakutkan itu mendadak mengintai di tengah malam. Elara mencengkeram kain piyaman Arseny sangat kuat. Darah segar mengalir membasahi gaun tidurnya, menandakan komplikasi serius yang mengancam nyawa.Arseny tersentak dan bangun. Begitu sepasang manik abu-abunya menangkap cairan merah di atas sprei, kepanikan yang tak pernah dirasakannya sepanjang hidup seketika menerjang. Tanpa memedulikan protokoler klan atau pakaian formalnya, sang Don melompat dari ranjang, lekas saja ia membopong tubuh rentan Elara ke dalam rengkuhannya, lalu berlari kencang menerobos koridor mansion menuju ruang operasi darurat."Dokter! Buka pintunya sekarang!" raung Arseny, suaranya menggelegar menggetarkan dinding lorong.Para medis berlarian membuka pintu. Begitu membaringkan Elara di atas ranjang operasi, Arseny langsung mencengkeram kerah jas putih ketua tim dokter klan. Urat-urat di leher pria tegap itu menega
Dua minggu berlalu di bawah pengawasan medis yang luar biasa ketat. Ketika dokter klan akhirnya memberikan laporan bahwa kondisi fisik Elara telah stabil dan berangsur sehat, Arseny tidak mengukur waktu. Hari yang dinanti itu tiba tanpa publikasi eksternal. Katedral pribadi yang berdiri kokoh di dalam wilayah teritorial Romanov disulap menjadi tempat pemberkatan yang teramat megah. Ratusan bunga seruni putih menghiasi altar, kontras dengan barisan pengawal berjas hitam dan bersenjata lengkap yang bersiaga di setiap sudut luar bangunan. Tamu yang diizinkan menginjakkan kaki di sana hanyalah para petinggi klan dan sekutu inti yang kesetiaannya telah teruji dengan darah.Prosesi janji suci berlangsung sangat singkat dan privat. Kala cincin tersemat dan sumpah suci selesai diucapkan, Arseny tidak membiarkan Elara berdiri terlalu lama. Pria itu pun lekas memberikan kode dengan lambaian tangan yang selalu melindungi wanitanya."Bawa Nyonya Romanova ke ruang VIP di lantai atas aula jam
Arseny menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran, menatap datar kepada asisten pribadinya yang berdiri tegap di seberang meja. "Ambil alih seluruh operasional klan untuk beberapa minggu ke depan, Viktor," perintah Arseny, suaranya bariton lambat, tidak menerima bantahan. "Batalkan semua jadwal pertemuan dengan kartel barat. Aku tidak mau sejengkal pun urusan bisnis ilegal mengusik ketenanganku." Viktor sempat terpaku sejenak, kedua matanya sedikit melebar di balik kacamata tipisnya. Selama bertahun-tahun mengabdi, ia tidak pernah sekalipun melihat sang Don meninggalkan takhta kepemimpinannya demi apa pun, bahkan saat peluru bersarang di bahunya. Namun beberapa hari ini Arseny memang lebih nyaman berada di mansion. "Tapi, Don, pertemuan dengan perwakilan Aliansi tidak bisa ditunda begitu saja tanpa alasan yang—" "Aku tidak butuh alasan untuk cuti dari urusanku sendiri," sela Arseny tajam, sepasang manik abu-abunya mengunci pergerakan Viktor hingga pria itu seketika membeku
Angin malam Oakheaven berembus menyapu dedaunan pinus di bawah sana, membawa hawa sejuk yang pekat. Namun, Elara tidak merasakan dingin sedikit pun, tubuh mungilnya terlindung sempurna dalam balutan jubah rajut tebal, ditambah dekapan protektif dari balik punggungnya.Arseny melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang Elara, menarik punggung gadis itu agar menempel rapat pada dada bidangnya. Ia menyandarkan dagunya samar di puncak kepala Elara, membiarkan aroma familier dari rambut gadis itu menenangkan benaknya. Perlahan, salah satu telapak tangan besarnya yang hangat bergerak turun, mengusap lembut permukaan perut Elara yang masih datar. Karena di dalam sana, sebutir benih kehidupan yang membawa darah dagingnya sendiri tengah bersemi. Mereka bergeming, melemparkan pandangan lurus pada hamparan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam, larut dalam keheningan yang teramat nyaman.Elara sedikit mendongak, jemarinya bergerak di udara membentuk tanya yang lambat.
Pintu paviliun terbuka dengan derit berat, membelah kesunyian yang menggantung di ruangan pengap itu. Arseny melangkah masuk, diikuti Viktor yang menenteng map dokumen hitam. Udara dingin ikut menyusup bersama mereka, membekukan apa yang tersisa dari keberanian Dmitri.Pria muda itu duduk membungkuk di kursi kayu, pakaiannya kusut dan bernoda. Begitu matanya menangkap sosok pamannya, sesuatu di dalam dadanya runtuh seketika. Aura yang dibawa Arseny bukan sekadar wibawa, melainkan ancaman yang berbahaya.Dmitri gemetar. Ia mencoba menegakkan punggung, tetapi gagal. Matanya berpindah cepat ke map hitam di tangan Viktor, lalu kembali ke wajah pamannya yang datar tanpa emosi. Justru ketiadaan ekspresi itulah yang paling menakutkan.Tak ada yang perlu diucapkan.Viktor melangkah maju, melempar dokumen pembatalan pernikahan itu ke atas meja. Kertas-kertas itu meluncur, berhenti tepat di depan Dmitri. Arseny tidak repot-repot membuka mulut. Ia hanya mengeluarkan pena mewah dari saku jasnya
‘Astaga, Don Arseny! Apa yang kau lakukan?!’ Ingin sekali Elara berteriak, tetapi ia hanya mampu membuka mulut tanpa suara.Dengan rambut yang masih basah, Elara cepat-cepat bertekuk lutut di samping perapian itu. Tangannya terulur nekat, mencoba menyelamatkan sisa kertas perjanjiannya dari lidah a
‘Don Arseny? Bagaimana mungkin dia … menyelamatkanku?’ batin Elara. Tatapannya masih terkunci pada dagu lancip berjanggut tipis itu.Arseny melirik sekilas padanya, membuat debar jantung Elara menggila. Tanpa sadar, ia meremas erat bahu kokoh pria itu. Entah apa yang akan terjadi padanya, tetapi ya
Napas Elara tercekat saat Dmitri berjalan menuju pintu. Setiap hentakan langkah pria itu seperti mendekatkannya pada titik kehancuran. Dirundung ketakutan, Elara menyeret tubuhnya mundur hingga punggungnya membentur nakas hitam, membuat lampu tidur bergoyang pelan.Pintu terbuka.Elara tidak bisa m
“Tanda tangani surat perjanjian ini sekarang!” bentak pria berjas putih itu. Suaranya menggelegar di dalam kamar kedap suara ini, membuat seorang wanita bergaun pengantin putih tersentak. Ia melempar sebuah amplop ke pangkuan istrinya.Wanita itu, Elara Volkova menunduk dalam, memperhatikan amplop







