Share

8. Peringatan

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-02-28 13:03:06
Pesan itu datang ketika mereka sudah kembali ke penthouse. Ponsel Ivanka yang sebelumnya tidak memiliki jaringan luar, tiba-tiba menyala dengan satu notifikasi. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya koordinat lokasi dan waktu: ‘Besok pukul 23:30.’ Beserta satu kalimat yang datang menyusul: ‘Anda ingin tahu kebenaran tentang ibunya? Datanglah sendiri.

Byakta yang kini sudah berdiri di bar mini, sudah memperhatikan peubahan wajah Ivanka dengan sangat jeli. “Apa yang sudah Anda
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   106. Kemarahan Byakta

    Langkah Byakta tidak terhenti. Bahkan ketika bayangan masa lalu berusaha menariknya mundur, dia justru melangkah lebih dalam. Setiap sudut bangunan itu terasa terlalu familiar—lorong sempit, dinding lembab, bau logam yang samar. Semua masih sama. Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak. “Sebar,” perintahnya singkat. “Jangan sampai ada akses untuk keluar.” Orang-orangnya langsung bergerak menyusuri lorong dari dua arah. Suara langkah kaki mereka menggema, berpadu dengan ketegangan yang semakin menebal. Rival tetap di belakang Byakta. Tatapannya waspada, tangannya tidak jauh dari senjata. “Bos… hati-hati. Mereka tidak akan diam saja,” gumamnya. “Mereka pasti sudah lebih dulu tahu kedatangan kita.” Byakta tidak menjawab. Pistol di tangannya sudah siap. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan fokus. Sementara itu, di dalam ruangan utama, suasana sudah berubah total. Beberapa orang bersiap di posisi masing-masing. Senjata mulai dikeluarkan. Tidak ada lagi kesan santai seperti se

  • Obsesi Sang Penguasa   105. Tempat terkutuk

    Rival tidak membuang waktu lagi. Tangannya langsung bergerak cepat, menghubungi beberapa orang kepercayaan. Suaranya berubah tegas, jauh dari biasanya yang tenang. “Semua unit, siaga. Kirim tim ke titik koordinat yang saya kirim sekarang. Jangan bergerak sebelum ada perintah lanjutan.” Panggilan terputus. Mobil kembali melaju, kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Jalanan malam terbelah oleh cahaya lampu depan yang tajam. Tidak ada yang berbicara. Namun suasana di dalam mobil terasa seperti bom waktu. Byakta masih menatap layar. Titik lokasi itu tidak bergerak. Tetap di sana. Di tempat yang seharusnya tidak pernah lagi dia datangi. Rahangnya mengeras. “Berapa lama?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan. “Sepuluh menit, kalau jalanan lancar,” jawab Rival cepat. “Lima menit.” Rival melirik sekilas, lalu mengangguk. “Baik.” Tanpa bertanya lagi, dia langsung mempercepat laju mobilnya. Sementara itu, di dalam ruangan gelap itu, seorang pria mendekat dengan sebuah alat

  • Obsesi Sang Penguasa   104. Masuk Ke Sarang Musuh

    Mobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”

  • Obsesi Sang Penguasa   103. Menghadapi Kecurigaan Byakta

    Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa seperti itu bagi mereka yang sedang dikejar waktu. Ivanka berdiri di depan cermin. Gaun hitam sederhana melekat di tubuhnya, membentuk siluet yang lebih dewasa dan lebih dingin dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan sedikit bergelombang. Riasannya tipis, tapi cukup untuk menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Dia menatap pantulannya lama. ‘Jangan jadi dirimu.’ Ucapan Davian terngiang lagi. Ivanka menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah lebih tajam. Dua sudah siap dengan semuanya. Dia mengambil tas kecilnya, memastikan sesuatu di dalamnya masih ada. Jarum kecil. Obat penenang dosis ringan. Dan sebuah alat perekam mini. “Sekali masuk tidak ada jalan mundur,” gumamnya. “Tenang Ivanka. Di sini, hanya kamu manusia yang waras.” Di lantai bawah, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Byakta duduk di ruang tamu. dengan satu tang

  • Obsesi Sang Penguasa   102. Kepergok

    “Ini pasti menyakitkan,” bisiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Ivanka lebih dalam. “Pergi?” tanya Byakta dingin, kemudian tersenyum. “Kamu pikir ini tempat yang bisa kamu tinggalkan begitu saja?” Ivanka tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Dan itu cukup untuk mengatakan kalau dia tidak ragu sedikitpun. “Aku bahkan sudah memintamu pergi, dulu,” katanya. “Dan kamu kembali dengan sendirinya. Tanpa ku minta, tanpa ku tahan.” Dia memiringkan wajahnya, lalu mengernyit samar. “Lalu… siapa yang menahan siapa, sekarang?” Ivanka mendengus kasar. “Aku ingin istirahat, Byakta,” ujarnya. “Bukan pergi dari tempat ini. Aku ingin pergi dan menyudahi perdebatan kita. Aku lelah.” Byakta menatap Ivanka beberapa detik lebih lama. Sorot matanya masih tajam, tapi ada sesuatu yang perlahan berubah di sana—bukan lagi sekadar curiga, tapi juga kelelahan yang sama. Dia menghela napas pelan, lalu melepaskan pergelangan tangan Ivanka sepenuhnya. “Aku tidak melihat

  • Obsesi Sang Penguasa   101. Interogasi

    Ivanka tidak menghindar. Karena dia tahu, sedikit saja dia bergerak menjauh atau menghindari tatapan Byakta. Pria itu pasti akan tahu kebohongannya. Dia tetap berdiri di tempatnya, menatap Byakta dengan tenang. “Kalau kamu ingin tahu detailnya,” ujarnya datar, “kamu bisa tanya langsung. Tidak perlu menyindir. Aku tidak suka disindir seperti itu.” Dia sudah meninggikan suaranya. Bukan karena benar-benar marah. Byakta berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini terlalu dekat. Tatapannya turun perlahan, hingga berhenti di pergelangan tangan Ivanka yang terluka. Hening kembali menyapa keduanya. Udara terasa menegang, bahkan detik jam seolah ikut berhenti. Tangan Byakta tiba-tiba bergerak cepat. Mencengkram pergelangan tangan Ivanka dengan sangat kuat. Refleks, Ivanka sedikit terkejut. Tapi dia tidak menarik tangannya. “Apa ini?” suara Byakta rendah. “Siapa yang melukaimu?” Ivanka menahan napas sejenak, lalu berusaha melepaskan cengkraman Bykata yang mulai mengeras. “Lepa

  • Obsesi Sang Penguasa   36. Arti Sebuah Panggilan Part 1

    “Mereka benar-benar menyalakan apinya.” Rival memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Tatapannya masih tertuju pada pintu kamar perawatan Byakta. Dari celah kecil itu, ia bisa melihat Ivanka yang masih duduk di sisi ranjang, sementara Byakta tampak jauh lebih tenang dibanding beberapa hari

  • Obsesi Sang Penguasa   35. Hal Yang Tidak Pernah Diminta

    Tiga hari berlalu sejak malam penembakan itu. Koridor Obsidian Central masih saja dingin, bersih, dan terlalu sunyi. Mereka semakin waspada. Dan Direktur Keamanan yang masih mejadi tersangka utama, kini sudah di amankan di ruang penjara yang hanya Byakta dan mereka yang tahu. Sedangkan Rendra

  • Obsesi Sang Penguasa   34. Langkah Ivanka

    “Bos, tenang,” bujuk Rival seraya menggenggam kedua tangan Byakta yang sudah gemetar. Suara monitor detak jantung masih berbunyi tidak stabil, lampu di ruang perawatan menyala redup, hanya menyisakan cahaya putih dari beberapa pealatan medis yang terus bekerja tanpa henti.

  • Obsesi Sang Penguasa   33. Jejak Trauma

    Ivanka menyilangkan tangan di depan dada. Tak ada sedikitpun rasa takut terpancar di wajahnya. Sempat menghadapi bahaya yang mengancam nyawa, rupanya membuat dia lebih berani. “Lucu sekali,” ujar Ivanka seraya terkekeh hambar. “Saya hampir mati malam ini. Dan dia juga hampir mati karena saya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status