LOGINSudah dipaksakan, tapi tetap rasa kantuk itu tidak datang. Ivanka tidak tidur lagi malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang memandanginya.
Ivanka menatap lensa itu sinis. Dia mengacungkan jari tengahnya, lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut tebal. “Sialan. Dasar mesum,” umpatnya. Pagi datang terlalu cepat. Jam menunjukkan pukul 07:58, ketika pintu kamar diketuk dua kali. Rasanya Ivanka baru tidur selama setengah jam saja. Matanya masih lengket dan juga berat sekarang. Ivanka menyenbulkan wajahnya ketika melihat pengawal wanita itu masuk. “Tuan Byakta sudah menunggu.” “Biarkan dia menunggu,” katanya. “Aku tidak peduli.” Ivanka beranjak dari tempat tidurnya dengan malas. Dia tetap membersihkan diri dan mengenakan gaun indah yang sudah disiapkan. “Apa dia selalu menunggu?” gumam Ivanka pelan. Ia turun ke ruang makan. Meja panjang sudah tertata rapi. Byakta duduk di ujung meja dengan tablet di tangannya. Matanya yang di hiasai kacamata tipis, membuat penampilannya jauh lebih dewasa dan sexy. Ivanka bahkan sampai menelan ludah beberapa kali. Tanpa menyapa atau mengalihkan pandangannya, Byakta berkata, “Anda tidak tidur?” Ivanka mendengus malas. “Menurut Anda, apa saya harus bisa tidur ketika ada mata yang menatap saya sepanjang malam?” Byakta tidak menjawab. Namun bungkamnya seperti sebuah pengakuan untuk Ivanka. Perlahan, Byakta menatap Ivanka yang masih berdiri. “Anda gelisah,” bisiknya. Ivanka membeku sepersekian detik. “Ba-bagaimana Anda tahu?” Byakta meletakkan tabletnya, melepas kacamata, lalu kembali menatap Ivanka dengan mata elangnya. “Karena saya tahu ritme napas orang yang sedang gelisah.” Ivanka mendengus. Itu adalah jawaban halus yang sangat memuakkan untuknnya. Dia menggeser kursi, untuk kemudian duduk dengan anggun. Tatapan Byakta tidak teralihkan dari gerak geriknya. Byakta bahkan sempat mengulas senyum samar beberapa detik. “Cukup, jangan perhatikan saya sepanjang malam. Saya juga ingin istirahat dan tidur dengan nyaman.” Byakta tetap tidak menyangkalnya. “Saya tidak tertarik melihat Anda tidur,” katanya akhirnya. “Saya hanya memastikan Anda aman atau tidak.” “Aman dan terkendali itu beda-beda tipis, Tuan Bagaspati.” Byakta terkekeh pelan. Dia senang, karena akhirnya Ivanka sudah bisa menyesuaikan diri dengan dirinya. Selalu mendapat ucapan kasar dan sindiran seperti ini, justru membuat Byakta senang dan puas. “Anda mulai belajar dengan baik,” gumamnya. Acara sarapan pagi ini seperti sebuah negosiasi dingin. Setiap kata seolah memiliki arti ganda. Dan setelah itu, Ivanka memutuskan sesuatu tanpa sepengetahuan Byakta. Dia berjalan menuju lift, tapi tetap saja aksesnya ditolak. Ia mencoba menuruni tangga darurat seperti orang gila, namun dua pengawal sudah berdiri di sana. “Anda tidak bisa keluar tanpa jadwal.” Ivanka menoleh tajam pada dua pengawal itu. “Siapa yang memuat jadwal? Orang sialan itu?” “Jaga ucapan Anda. Beliau adalah, Tuan Byakta.” Ivanka kembali keruang utama dengan langkah besar. Dan Byakta sudah berdiri di dekat jendela bersama dengan Rival disampingnya. “Anda menguji saya?” tanya Byakta tanpa menoleh pada berkas yang sedang ia baca. “Tidak,” jawab Ivanka cuek. “Saya hanya sedang menguji batas.” Byakta menyerahkan dokumen itu pada Rival. Melihat Bosnya sudah menyunggingkan senyum, Rival langsung mengerti. Dia membungkuk lalu pergi meninggalkan keduanya. Byakta menoleh menatap Ivanka dengan tatapan penasaran. “Apa hasilnya?” “Anda tidak marah?” Byakta berjalan mendekat, ia membelai wajah Ivanka dengan jemari kekarnya. “Orang yang mudah marah adalah orang yang kehilangan kendali.” “Jadi siapa yang mengendalikan siapa disini?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Ivanka melangkah melewatinya dan tanpa sengaja dia melihat lorong kecil di balik panel dinding yang tadi sempat tertutup. Dia berhenti di depan lorong itu. “Apa itu?” Byakta tidak langung menjawab. Dan itu membuat Ivanka semakin penasaran. Dia berjalan masuk sebelum dicegah. Lorong itu mengarah pada ruang gelap. Saat lampu menyala otomatis, napasnya langsung tercekat. Semua dindingnya penuh layar. Peta kota, CCTV dari berbagai sudut, pelabuhan, gedung-gedung, jalan utama, dan zoom ke arah Obsidian Central ke penthouse, dahkan ke dirinya sendiri beberapa menit yang lalu ketika berdiri di tepi jendela. Ivanka menoleh dengan leher yang sudah kebas. “Ini bukan cuma tentang saya.” Bykta masih berdiri di ambang pintu. Dia mengangkat kedua bahunya malas. “Tidak pernah.” “Anda mengawasi seluruh kota?” Byakta mengangguk samar, dengan langkah perlahan. “Saya hanya menjaga untuk tetap stabil.” “Karena Anda terlalu takut?” “Ini hanya untuk kontrol.” Ivanka menatap layar besar itu sekali lagi. Rasa dingin kembali menjalar dilehernya. Kini, dia akhirnya mengerti, kalau Byakta bukan hanya pengusaha gelap, dia juga seorang srsitek sitem gila. Dan sekarang, Ivanka baru saja dipindahkan ke pusatnya. Salah satu layar tiba-tiba berbunyi alarm kecil. Zoom otomatis memperlihatkan distrik pelabuhan. Disana seseorang sedang memotret gedung ini dari kejauhan, dan lensa kamera itu mengarah tepat ke jendela penthouse. Byakta menyentuh pundak Ivanka, dia sedikit menuntun Ivanka untuk menunduk, kedua mata mereka kini sudah saling bertemu. Bykata tersenyum. “Sepertinya mereka sudah tahu Anda disini.” ***Langkah Byakta tidak terhenti. Bahkan ketika bayangan masa lalu berusaha menariknya mundur, dia justru melangkah lebih dalam. Setiap sudut bangunan itu terasa terlalu familiar—lorong sempit, dinding lembab, bau logam yang samar. Semua masih sama. Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak. “Sebar,” perintahnya singkat. “Jangan sampai ada akses untuk keluar.” Orang-orangnya langsung bergerak menyusuri lorong dari dua arah. Suara langkah kaki mereka menggema, berpadu dengan ketegangan yang semakin menebal. Rival tetap di belakang Byakta. Tatapannya waspada, tangannya tidak jauh dari senjata. “Bos… hati-hati. Mereka tidak akan diam saja,” gumamnya. “Mereka pasti sudah lebih dulu tahu kedatangan kita.” Byakta tidak menjawab. Pistol di tangannya sudah siap. Tatapannya lurus ke depan, dingin dan fokus. Sementara itu, di dalam ruangan utama, suasana sudah berubah total. Beberapa orang bersiap di posisi masing-masing. Senjata mulai dikeluarkan. Tidak ada lagi kesan santai seperti se
Rival tidak membuang waktu lagi. Tangannya langsung bergerak cepat, menghubungi beberapa orang kepercayaan. Suaranya berubah tegas, jauh dari biasanya yang tenang. “Semua unit, siaga. Kirim tim ke titik koordinat yang saya kirim sekarang. Jangan bergerak sebelum ada perintah lanjutan.” Panggilan terputus. Mobil kembali melaju, kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Jalanan malam terbelah oleh cahaya lampu depan yang tajam. Tidak ada yang berbicara. Namun suasana di dalam mobil terasa seperti bom waktu. Byakta masih menatap layar. Titik lokasi itu tidak bergerak. Tetap di sana. Di tempat yang seharusnya tidak pernah lagi dia datangi. Rahangnya mengeras. “Berapa lama?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan. “Sepuluh menit, kalau jalanan lancar,” jawab Rival cepat. “Lima menit.” Rival melirik sekilas, lalu mengangguk. “Baik.” Tanpa bertanya lagi, dia langsung mempercepat laju mobilnya. Sementara itu, di dalam ruangan gelap itu, seorang pria mendekat dengan sebuah alat
Mobil hitam yang ditumpangi Ivanka berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota. Lampu-lampunya redup. Tidak terlalu mencolok. Tapi jelas bukan tempat biasa. Ivanka turun perlahan. Dan Davian sudah menunggunya di sana. “Cepat juga,” ujarnya santai. Ivanka tidak membalas. Dia hanya menatap sekitar. Untung menghafal setiap inci dari tempat itu. Dia tahu kalau sesuatu yang buruk pasti akan terjadi kapanpun, dan dia sudah punya solusi kalau itu semua terjadi. “Gugup?” tanya Davian, sambil memindai wajah Ivanka yang begitu tenang. “Tidak.” Pria itu mengangguk, lalu menyentuh dagu Ivanka tanpa ragu. “Kamu begitu cantik malam ini.” Ivanka meliriknya tajam. “Aku tidak datang untuk diuji.” Davian terkekeh hambar. Penampilannya yang santai, hanya mengenakan sweater dan jeans, memang sangat berbeda dengan Byakta yang selalu tampil formal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Ivanka lebih menyukai penampilan Davian yang seperti ini. “Ikut saja. Dan jangan banyak bicara.”
Malam datang lebih cepat dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa seperti itu bagi mereka yang sedang dikejar waktu. Ivanka berdiri di depan cermin. Gaun hitam sederhana melekat di tubuhnya, membentuk siluet yang lebih dewasa dan lebih dingin dari biasanya. Rambutnya dibiarkan terurai, dan sedikit bergelombang. Riasannya tipis, tapi cukup untuk menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Dia menatap pantulannya lama. ‘Jangan jadi dirimu.’ Ucapan Davian terngiang lagi. Ivanka menghela napas pelan, lalu memejamkan mata sejenak. Saat membukanya kembali, sorot matanya berubah lebih tajam. Dua sudah siap dengan semuanya. Dia mengambil tas kecilnya, memastikan sesuatu di dalamnya masih ada. Jarum kecil. Obat penenang dosis ringan. Dan sebuah alat perekam mini. “Sekali masuk tidak ada jalan mundur,” gumamnya. “Tenang Ivanka. Di sini, hanya kamu manusia yang waras.” Di lantai bawah, suasana rumah terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Byakta duduk di ruang tamu. dengan satu tang
“Ini pasti menyakitkan,” bisiknya. Perlahan dia mengangkat wajahnya, lalu menatap Ivanka lebih dalam. “Pergi?” tanya Byakta dingin, kemudian tersenyum. “Kamu pikir ini tempat yang bisa kamu tinggalkan begitu saja?” Ivanka tidak menjawab. Tapi sorot matanya tidak berubah. Dan itu cukup untuk mengatakan kalau dia tidak ragu sedikitpun. “Aku bahkan sudah memintamu pergi, dulu,” katanya. “Dan kamu kembali dengan sendirinya. Tanpa ku minta, tanpa ku tahan.” Dia memiringkan wajahnya, lalu mengernyit samar. “Lalu… siapa yang menahan siapa, sekarang?” Ivanka mendengus kasar. “Aku ingin istirahat, Byakta,” ujarnya. “Bukan pergi dari tempat ini. Aku ingin pergi dan menyudahi perdebatan kita. Aku lelah.” Byakta menatap Ivanka beberapa detik lebih lama. Sorot matanya masih tajam, tapi ada sesuatu yang perlahan berubah di sana—bukan lagi sekadar curiga, tapi juga kelelahan yang sama. Dia menghela napas pelan, lalu melepaskan pergelangan tangan Ivanka sepenuhnya. “Aku tidak melihat
Ivanka tidak menghindar. Karena dia tahu, sedikit saja dia bergerak menjauh atau menghindari tatapan Byakta. Pria itu pasti akan tahu kebohongannya. Dia tetap berdiri di tempatnya, menatap Byakta dengan tenang. “Kalau kamu ingin tahu detailnya,” ujarnya datar, “kamu bisa tanya langsung. Tidak perlu menyindir. Aku tidak suka disindir seperti itu.” Dia sudah meninggikan suaranya. Bukan karena benar-benar marah. Byakta berhenti tepat di depannya. Jarak mereka kini terlalu dekat. Tatapannya turun perlahan, hingga berhenti di pergelangan tangan Ivanka yang terluka. Hening kembali menyapa keduanya. Udara terasa menegang, bahkan detik jam seolah ikut berhenti. Tangan Byakta tiba-tiba bergerak cepat. Mencengkram pergelangan tangan Ivanka dengan sangat kuat. Refleks, Ivanka sedikit terkejut. Tapi dia tidak menarik tangannya. “Apa ini?” suara Byakta rendah. “Siapa yang melukaimu?” Ivanka menahan napas sejenak, lalu berusaha melepaskan cengkraman Bykata yang mulai mengeras. “Lepa
Alih-alih marah atasannya dikatai, Rival justru ikut tersenyum, seperti ikut mendukung perkataan Ivanka. “Keberuntungan hanya berpihak pada mereka yang cukup gila untuk terus mengejarnya, Bos,” kata Rival seraya tersenyum. “Biarlah orang lain menyebut kita gila. Sebab mempertahankan milik kita selal
Keduanya masih bertahan menatap ponsel yang menyala itu. Siaran live tetap berlangsung di sana. Dan masih menampilkan seorang pria duduk di kursi dengan tangan diikat ke belakang. Wajahnya babak belur, mulutnya disumpal kain hitam, dengan mata yang setengah terbuka dan tatapannya juga tampak kosong.
Pesan itu datang ketika mereka sudah kembali ke penthouse. Ponsel Ivanka yang sebelumnya tidak memiliki jaringan luar, tiba-tiba menyala dengan satu notifikasi. Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya koordinat lokasi dan waktu: ‘Besok pukul 23:30.’ Beserta satu kalimat yang datang m
Untuk memenuhi rasa penasaran yang sudah membabi buta, Ivanka berjalan mendekati salah satu kontainer yang terbuka itu. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat kilau logam di dalam peti. Dia yakin kalau itu adalah senjata, tapi bukan itu yang membuatnya tercengang. Melainkan jumlah dari senjata i







