Share

7. Pengawasan

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-02-27 22:02:30

Sudah dipaksakan, tapi tetap rasa kantuk itu tidak datang. Ivanka tidak tidur lagi malam ini. Setiap kali ia mencoba menutup mata, ia merasa ada sesuatu yang memandanginya.

Ivanka menatap lensa itu sinis. Dia mengacungkan jari tengahnya, lalu menutupi semua tubuhnya dengan selimut tebal. “Sialan. Dasar mesum,” umpatnya.

Pagi datang terlalu cepat. Jam menunjukkan pukul 07:58, ketika pintu kamar diketuk dua kali. Rasanya Ivanka baru tidur selama setengah jam saja. Matanya masih lengket dan juga berat sekarang.

Ivanka menyenbulkan wajahnya ketika melihat pengawal wanita itu masuk. “Tuan Byakta sudah menunggu.”

“Biarkan dia menunggu,” katanya. “Aku tidak peduli.”

Ivanka beranjak dari tempat tidurnya dengan malas. Dia tetap membersihkan diri dan mengenakan gaun indah yang sudah disiapkan. “Apa dia selalu menunggu?” gumam Ivanka pelan.

Ia turun ke ruang makan. Meja panjang sudah tertata rapi. Byakta duduk di ujung meja dengan tablet di tangannya. Matanya yang di hiasai kacamata tipis, membuat penampilannya jauh lebih dewasa dan sexy. Ivanka bahkan sampai menelan ludah beberapa kali.

Tanpa menyapa atau mengalihkan pandangannya, Byakta berkata, “Anda tidak tidur?”

Ivanka mendengus malas. “Menurut Anda, apa saya harus bisa tidur ketika ada mata yang menatap saya sepanjang malam?”

Byakta tidak menjawab. Namun bungkamnya seperti sebuah pengakuan untuk Ivanka. Perlahan, Byakta menatap Ivanka yang masih berdiri. “Anda gelisah,” bisiknya.

Ivanka membeku sepersekian detik. “Ba-bagaimana Anda tahu?”

Byakta meletakkan tabletnya, melepas kacamata, lalu kembali menatap Ivanka dengan mata elangnya. “Karena saya tahu ritme napas orang yang sedang gelisah.”

Ivanka mendengus. Itu adalah jawaban halus yang sangat memuakkan untuknnya. Dia menggeser kursi, untuk kemudian duduk dengan anggun. Tatapan Byakta tidak teralihkan dari gerak geriknya. Byakta bahkan sempat mengulas senyum samar beberapa detik.

“Cukup, jangan perhatikan saya sepanjang malam. Saya juga ingin istirahat dan tidur dengan nyaman.”

Byakta tetap tidak menyangkalnya. “Saya tidak tertarik melihat Anda tidur,” katanya akhirnya. “Saya hanya memastikan Anda aman atau tidak.”

“Aman dan terkendali itu beda-beda tipis, Tuan Bagaspati.”

Byakta terkekeh pelan. Dia senang, karena akhirnya Ivanka sudah bisa menyesuaikan diri dengan dirinya. Selalu mendapat ucapan kasar dan sindiran seperti ini, justru membuat Byakta senang dan puas. “Anda mulai belajar dengan baik,” gumamnya.

Acara sarapan pagi ini seperti sebuah negosiasi dingin. Setiap kata seolah memiliki arti ganda. Dan setelah itu, Ivanka memutuskan sesuatu tanpa sepengetahuan Byakta. Dia berjalan menuju lift, tapi tetap saja aksesnya ditolak. Ia mencoba menuruni tangga darurat seperti orang gila, namun dua pengawal sudah berdiri di sana.

“Anda tidak bisa keluar tanpa jadwal.”

Ivanka menoleh tajam pada dua pengawal itu. “Siapa yang memuat jadwal? Orang sialan itu?”

“Jaga ucapan Anda. Beliau adalah, Tuan Byakta.”

Ivanka kembali keruang utama dengan langkah besar. Dan Byakta sudah berdiri di dekat jendela bersama dengan Rival disampingnya.

“Anda menguji saya?” tanya Byakta tanpa menoleh pada berkas yang sedang ia baca.

“Tidak,” jawab Ivanka cuek. “Saya hanya sedang menguji batas.”

Byakta menyerahkan dokumen itu pada Rival. Melihat Bosnya sudah menyunggingkan senyum, Rival langsung mengerti. Dia membungkuk lalu pergi meninggalkan keduanya.

Byakta menoleh menatap Ivanka dengan tatapan penasaran. “Apa hasilnya?”

“Anda tidak marah?”

Byakta berjalan mendekat, ia membelai wajah Ivanka dengan jemari kekarnya. “Orang yang mudah marah adalah orang yang kehilangan kendali.”

“Jadi siapa yang mengendalikan siapa disini?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Ivanka melangkah melewatinya dan tanpa sengaja dia melihat lorong kecil di balik panel dinding yang tadi sempat tertutup. Dia berhenti di depan lorong itu. “Apa itu?”

Byakta tidak langung menjawab. Dan itu membuat Ivanka semakin penasaran. Dia berjalan masuk sebelum dicegah. Lorong itu mengarah pada ruang gelap. Saat lampu menyala otomatis, napasnya langsung tercekat.

Semua dindingnya penuh layar. Peta kota, CCTV dari berbagai sudut, pelabuhan, gedung-gedung, jalan utama, dan zoom ke arah Obsidian Central ke penthouse, dahkan ke dirinya sendiri beberapa menit yang lalu ketika berdiri di tepi jendela.

Ivanka menoleh dengan leher yang sudah kebas. “Ini bukan cuma tentang saya.”

Bykta masih berdiri di ambang pintu. Dia mengangkat kedua bahunya malas. “Tidak pernah.”

“Anda mengawasi seluruh kota?”

Byakta mengangguk samar, dengan langkah perlahan. “Saya hanya menjaga untuk tetap stabil.”

“Karena Anda terlalu takut?”

“Ini hanya untuk kontrol.”

Ivanka menatap layar besar itu sekali lagi. Rasa dingin kembali menjalar dilehernya. Kini, dia akhirnya mengerti, kalau Byakta bukan hanya pengusaha gelap, dia juga seorang srsitek sitem gila. Dan sekarang, Ivanka baru saja dipindahkan ke pusatnya.

Salah satu layar tiba-tiba berbunyi alarm kecil. Zoom otomatis memperlihatkan distrik pelabuhan. Disana seseorang sedang memotret gedung ini dari kejauhan, dan lensa kamera itu mengarah tepat ke jendela penthouse.

Byakta menyentuh pundak Ivanka, dia sedikit menuntun Ivanka untuk menunduk, kedua mata mereka kini sudah saling bertemu. Bykata tersenyum. “Sepertinya mereka sudah tahu Anda disini.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   122. Orang yang Selalu Rela Mati

    Kaveri menatap Byakta beberapa detik. Tatapan itu bukan sekadar dokter pada pasien—melainkan seorang ayah yang sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang harus dia sampaikan.“Kita butuh ruang operasi utama. Sekarang,” ujarnya tegas. “Dan donor darah yang kompatibel. Kehilangan darahnya terlalu banyak.”Ivanka langsung menegang. Dia menatap sang ayah lebih dalam. “Golongan darahnya apa?”“O negatif,” jawab Kaveri cepat. “Dan stok kita menipis. Apa kita bawa dia ke rumah sakit—”“Tidak mungkin!” potong Byakta. “Ini terlalu beresiko. Lagi pula, peralatan di ruang operasi kita juga sudah lengkap.”Byakta langsung berdiri lebih tegak, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. “Ambil punyaku. Darahku sama dengan Rival.”Kaveri langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa. Kondisimu tidak stabil. Tekanan darahmu turun, dan—”“Aku bilang ambil,” potong Byakta dingin. “Jangan pernah membantah di situasi seperti ini.”Nada itu membuat beberapa orang di lorong langsung diam. Namun Kaveri tida

  • Obsesi Sang Penguasa   121. Aku Tidak Butuh Belas Kasihan

    “Kamu ingat Rendra?” tanya Byakta. Ivanka tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. “Dia bahkan mencari jawaban itu. Dia terus mencari obat penawar dari mereka. Tapi apa yang dia dapatkan? Dia hanya diperbudak untuk bisa mendekatiku. Mengambil semua sistem yang ada di kepalaku. Dan mati sia-sia.” Byakta melangkah mendekat. Dia memiringkan wajahnya dengan mata yang masih tetap tajam. “Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu tidak tanyakan saja pada Kaveri,” ujar Byakta. “Kamu bahkan tidak mempercayai ayahmu sendiri. Dan lebih percaya pada orang baru?” “Dan kalau tidak dilepas?” tanya Ivanka. Byakta menghela napas panjang. Dia lupa kalau wanita di depannya memang selalu saja penasaran. “Aku mati,” tukasnya. “Aku akan mati, Ivanka. Itu lebih baik daripada hidup menjadi orang bodoh dan cacat mental.” Jawabannya sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya rumit. Ivanka menunduk. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Jadi kamu memilih

  • Obsesi Sang Penguasa   120. Siapa Yang Harus Dia Percaya?

    “Sedang apa?” Ivanka tahu itu suara milik siapa. Namun dia enggan untuk menoleh. Byakta kini sudah berdiri di sampingnya. Menatap lurus ruang medis tempat Rival sedang ditangani. “Masih merasa bersalah?” tanya Byakta dingin. “Rasanya percuma kalau harus merasa bersalah sekarang.” “Aku sudah bilang, kamu tidak tahu medan apa yang kamu injak, dan siapa yang kamu hadapi,” lanjutnya. “Tapi lihat… kamu tetap egois dan merasa paling benar. Dengan alasan ingin menolongku?” Byakta terkekeh hambar. Dia menggelengkan kepala tak percaya. “Aku bingung, sampai kapan kamu akan terus egois seperti ini?” Ivanka menarik napas panjang. Dia tidak mau membantah. Karena semua yang dikatakan Byakta memang benar. Kalau saja dia Rival tidak datang dan mengorbankan dirinya, mungkin yang akan hancur adalah mereka berdua. Yang akan terparing atau bahkan mati, adalah mereka berdua. Dia memejamkan mata cukup lama. “Kalau memang aku egois, kamu apa?” tanya Ivanka membuat Byakta mengernyit samar.

  • Obsesi Sang Penguasa   119. Kumohon Jangan Mati

    “Jadi benar,” gumamnya pelan. Ivanka langsung menegang. “A-apa maksud—” “Kamu di sini karena anakku. Kamu di sini karena kamu mencintai Byakta? Kamu berbuat sejauh ini karena kamu mencintai Byakta?” Kalimat itu jatuh seperti vonis. Ivanka tidak bisa menyangkal. Tidak bisa juga mengiyakan. Karena bahkan dia sendiri belum sepenuhnya memahami perasaannya. Bagaspati menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya pelan. “Masalahnya,” lanjutnya, “anakku bukan orang yang bisa kamu selamatkan. Dan anakku sulit untuk kamu gapai. Kamu tidak akan sanggup.” Ivanka menatapnya lebih lama. Dia tahu kalau kasta mereka mungkin berbeda. Dan mungkin itu maksud dari ucapan Bagaspati. Entah kenapa, dia tidak peduli. “Aku tidak mencoba menyelamatkan dia,” balasnya cepat. “Aku—” “Jangan boho

  • Obsesi Sang Penguasa   118. Aku Tidak Meminta Dimaafkan

    Sentuhan di pundaknya terasa berat. Bukan hanya karena kekuatan tangan itu—tapi karena tekanan yang ikut datang bersamanya. Ivanka menegang. Perlahan, dia menoleh. Dan disanalah pria itu berdiri. Bagaspati dengan tubuh tegap dan rahang tegasnya. Wajahnya penuh amarah yang tertahan. Dan dia tahu untuk siapa kemarahan itu. Ivanka refleks menahan napas kala Bagaspati turun menatapnya. Tubuhnya yang besar, seolah mengukung pergerakan Ivanka, walau dia belum melakukan apa-apa. “Kamu yang menyebabkan semua ini, iya kan?” ujar Bagaspati pelan. Bukan pertanyaan. Bukan sapaan. Lebih seperti penilaian. Tatapan itu turun dari kepala hingga ujung kaki Ivanka, seolah menimban apakah semua kekacauan ini layak terjadi hanya karena dirinya. Ivanka menegakkan tubuhnya, meski jantungnya berdebar tidak karuan. Dia berusaha menahan gejolak asing di dadanya. Ini sudah masuk. Dia tidak bisa keluar lagi. “Iya,” jawabnya pelan. Sunyi merambat dalam sekejap. “Masih hidup juga ternyata,” lanjut

  • Obsesi Sang Penguasa   117. Kemarahan Bagaspati

    “Ayah,” suaranya rendah. “Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat masalah itu—” “Justru ini waktu yang tepat!” balas Bagaspati tanpa menahan diri. “Kamu pikir ini permainan? Kamu pikir semua orang bisa kamu korbankan hanya karena keputusan emosionalmu?!” Tatapan Byakta menggelap. Tangannya yang menekan luka Rival semakin kuat, seolah menyalurkan seluruh amarahnya ke sana. “Aku tidak mengorbankan siapa pun,” desisnya. “Aku menyelamatkan orangku.” “Dengan cara menghancurkan setengah pasukan kita?!” potong Bagaspati. “Kamu bahkan tidak menunggu instruksi. Kamu bergerak sendiri. Itu bukan strategi, Byakta. Itu kebodohan!” Ivanka menelan ludah. Tangannya masih mencengkeram setir, tapi kini pikirannya mulai terpecah. Kata-kata Bagaspati menusuk lebih dalam dari yang dia kira. Ini semua karena dia. Bukan semata-mata keteledoran Byakta. “Ayah,” Byakta kembali bersuara, kali ini jauh lebih dingin. “Kalau aku tidak bergerak sekarang, dia sudah mati di sana.” “Dan sekarang?” Bagaspati

  • Obsesi Sang Penguasa   65. Hubungan Yang Sulit Diakhiri

    Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi.

  • Obsesi Sang Penguasa   15. Sisi Rapuh Byakta Yang Tak Terlihat

    Tubuh Byakta berada tepat di depannya, tindakan yang cukup protektif dan tanpa keraguan. Ia berdiri sedikit menyamping, seolah menjadi penghalang antara Ivanka dengan ruangan gelap di depannya. “Generator akan aktif dalam tiga puluh detik,” katanya rendah. “Tidak usah takut.” Suara langkah peng

  • Obsesi Sang Penguasa   19. Luka Yang Tersamarkan part 2

    Ivanka kembali menatap Byakta. Membelai rambut pria itu yang sudah sedikit basah oleh keringat. Napasnya masih berat meski sudah lebih stabil. Tanpa sadar, Ivanka mengambil tisu dari meja kecil dan menyeka keringat di dahinya. Gerakan itu membuat Rival menaikkan sebelah alis. Dia tida

  • Obsesi Sang Penguasa   48. Obat Penawar Untukmu, Byakta

    Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa nyeri yang menyiksa. Ini adalah cinta pertamanya. Dan kegagalan pertamanya juga. Pintu lift terbuka. Tepat ketika kakinya hendak melangkah, Byakta langsung bertemu tatap dengan Ivanka yang memang sudah menunggu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status